NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

Wajah Meilan tampak sangat buruk, sehitam dasar panci. Ia mengertakkan gigi dan berkata, "Tuan Muda, bukankah tadi Anda bilang masih ada urusan?"

Jika itu di masa lalu, Meilan tidak akan pernah berani mengucapkan kata-kata yang tidak tahu aturan seperti itu. Namun hari ini, ia kehilangan akal sehatnya karena terbakar api cemburu melihat sikap Jaiden yang hampir lembut terhadap Zoya. Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, Meilan langsung merasa menyesal.

Meskipun dia telah menjadi kekasih Jaiden, pada hubungan mereka hanyalah suam-suam kuku… bahkan tidak lebih baik dari sekadar hubungan transaksional biasa. Terlebih lagi, ia belum menjadi bintang besar lewat film ini. Saat ini, ia hanyalah aktris kelas dua; jika bukan karena dukungan Jaiden, ia bahkan tidak lebih baik dari artis kelas tiga.

Begitu kalimat Meilan selesai, wajah Jaiden seketika mendingin. Ia menoleh menatap Meilan, pupil matanya yang sehitam obsidian bergetar pelan di kelopaknya. Tatapannya setajam pedang yang menusuk langsung ke dada Meilan. Meilan ingin segera meminta maaf, namun saat melihat Zoya yang masih duduk santai di hadapan Jaiden, kata-kata maaf itu tertahan di tenggorokannya.

Zoya telah menggoda Jaiden, duduk di sana menikmati kelembutan pria itu, sementara dirinya… yang sebagai kekasihnya… malah harus berdiri di samping seperti pelayan dan meminta maaf. Memikirkan hal ini, hati Meilan terasa sangat pahit hingga ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Jaiden bukanlah pria sejati (gentleman). Jika bukan karena latar belakang keluarganya yang kuat, sejak lama ia pasti sudah dicap sebagai bajingan.

Terlebih lagi, Jaiden memang sudah berniat menarik garis tegas dengan Meilan. Jadi, saat melihat wanita itu masih tidak tahu diri, sudut bibirnya langsung terangkat membentuk senyum sinis.

“Bukannya tadi kau sangat berani?” ujarnya dingin. “Sekarang kenapa diam saja? Apa kau sudah bisu?”

Suara rendah Jaiden dipenuhi aura kekerasan yang menyesakkan. Bukan hanya Meilan yang langsung pucat, staf di sekitar mereka pun ikut menahan napas.

Jaiden memang bukan tipe pria yang peduli pada orang lain. Jika suasana hatinya sedang buruk, jangankan memukul seseorang, menghancurkan tempat ini pun bukan hal yang mustahil baginya.

Memikirkan hal itu, tatapan orang-orang kepada Meilan perlahan berubah dipenuhi rasa tidak senang.

Lahan syuting ini dibangun dengan biaya besar dan membutuhkan waktu setengah bulan untuk menyelesaikannya. Jika Jaiden benar-benar mengamuk dan menghancurkan tempat ini, mereka harus membuang waktu setengah bulan lagi untuk membangunnya kembali. Tidak ada yang berani menentangnya, jadi satu-satunya orang yang bisa disalahkan hanyalah Meilan, penyebab kemarahannya.

Melihat Jaiden murka, hati Meilan terasa pahit luar biasa. Ia tahu cara terbaik untuk meredakan amarah pria itu adalah segera meminta maaf. Namun setiap kali melihat Zoya masih duduk di sana, kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya.

Tiba-tiba Jaiden berdiri. Ia menatap Meilan tajam sambil mengeluarkan tawa sinis.

“Heh.”

Saat pria itu baru saja membuka bibir tipisnya yang kemerahan untuk berbicara, Zoya mendadak ikut berdiri.

Kata-kata yang hampir keluar dari mulut Jaiden langsung tertelan kembali. Wajahnya yang semula dipenuhi amarah berubah seketika menjadi lembut. Tatapannya melunak saat menatap Zoya.

“Ada apa?” tanyanya dengan suara rendah. “Apakah dia mengganggumu?”

Perubahan sikapnya begitu drastis… dari badai petir menjadi angin sepoi-sepoi hanya dalam sekejap.

Meilan tercengang. Para staf di sekitar mereka pun ikut terpaku.

Zoya adalah orang pertama yang mampu meredakan amarah Jaiden secepat itu. Padahal semua orang tahu, sekali pria itu mengamuk, bahkan orang tuanya sendiri belum tentu bisa menghentikannya.

Zoya melirik Meilan sekilas sebelum menggeleng pelan kepada Jaiden.

“Tidak apa-apa. Urusanku di sini sudah selesai, aku ingin kembali beristirahat.”

“Kalau begitu, biar aku antar.”

Begitu mendengar Zoya ingin pulang untuk beristirahat, Jaiden langsung menawarkan diri dengan penuh antusias.

Menerima tatapan memohon dari para staf… yang jelas berharap ia membawa Jaiden pergi dari sini… Zoya akhirnya mengangguk kecil menyetujui tawaran itu.

Melihat Zoya setuju, suasana hati Jaiden langsung membaik. Dengan langkah ringan, ia segera mengikuti zoya pergi.

Punggung keduanya perlahan menjauh. Di belakang mereka, sekelompok pengawal tetap mengikuti dengan jarak tertentu.

Sikap Jaiden terhadap Zoya begitu perhatian dan lembut, membuatnya tampak seperti pria sejati yang sopan dan penuh tata krama.

Dan justru karena itulah, semua orang semakin terkejut.

Meilan berdiri mematung dengan perasaan hancur. Ia menundukkan kepala, api kecemburuan di hatinya kini berkobar hebat. Ia sangat berharap Zoya mati saja.

Sutradara Rahengga, yang awalnya mengira Jaiden akan mencari masalah dengan Zoya, menatap pemandangan itu sambil mengelus dagunya dengan heran. Ia menoleh ke arah Claeton dan bertanya dengan bingung: "Apakah dia salah minum obat?"

"Salah minum obat" yang dimaksud tentu saja merujuk pada Jaiden. Claeton pun hanya bisa menggelengkan kepala dengan bingung.

Setelah mengantar Zoya sampai ke depan hotel, Jaiden berkata dengan lembut, "Kapan kau ada waktu besok? Aku akan datang menjemputmu."

Ekspresi Jaiden begitu hangat, seorang kakak yang perhatian sangat wajar. Awalnya Zoya menyuruh orang ini jangan mengganggu urusannya, namun karena mengingat kakaknya ini adalah penggemar adik perempuan sejak kecil dan sudah terbiasa memanjakan adiknya, tidak akan puas jika di tolak dan bahkan jika di tolak ia akan melakukan beribu cara agar dia mau. Sudah dua tahun dia tidak bertemu kakak keduanya ini, jadi ia mengalah.

Mengingat jadwalnya besok, ia menjawab: "Adegan terakhirku besok adalah jam 6 sore. Aku mungkin butuh waktu untuk beres-beres, jadi sekitar jam 7:30 malam aku baru ada waktu."

"Jam 7:30?"

Mendengar waktu tersebut, wajah Jaiden sempat mendingin sejenak, namun ia segera menahannya saat melihat Zoya. Emosinya yang sulit dikendalikan membuat matanya sempat terlihat gelap, namun ia segera mengatupkan bibir dan berkata, "Aku akan datang jam 5 sore untuk melihatmu syuting. Aku akan menunggumu."

Setelah kepergian Jaiden, Meilan melanjutkan syutingnya. Namun entah karena terlalu tertekan oleh kejadian tadi, seberapa keras pun ia mencoba, tatapannya pada Claeton tetap terlihat seperti melihat musuh bebuyutan. Interaksi mereka sama sekali tidak menunjukkan kesan pasangan kekasih, malah penuh dengan kebencian yang mendalam. Hal ini membuat Rahengga sangat frustrasi hingga ingin memukul orang.

Hanya karena satu adegan Meilan, syuting terus tertunda hingga malam hari. Pada akhirnya, Rahengga sudah mati rasa… meskipun Meilan tidak memenuhi standarnya, ia langsung melambaikan tangan tanda adegan itu selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!