Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sintia masih berdiri di tempatnya. Ponsel di tangannya terasa semakin dingin, meski layar itu sudah gelap, jantungnya mendadak bergetar ketakutan, ini merupakan sesuatu yang di luar dugaannya.
"Tidak ... ini tidak boleh terjadi, Adinda tidak boleh tahu," ucapnya dengan sarkas.
Langkahnya mundur satu, lalu satu lagi hingga punggungnya menyentuh dinding. Tangannya mencengkeram kain bajunya sendiri, seolah mencoba menahan sesuatu yang hampir runtuh dari dalam.
Selama ini, semua sesuatunya bisa terkendali selama itu pula, ia merasa aman. Karena ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
Seseorang yang memastikan semua tetap rapi dan terkunci seolah masalah itu terkubur dalam dan tidak bisa digali kembali. Tapi siapa sangka sepertinya takdir mulai senang mengulik masalalu itu untuk muncul kembali, dan kali ini Sintia merasa benar-benar ketakutan.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan tiba-tiba terdengar dari pintu depan. Sintia langsung menoleh cepat. Jantungnya berdegup lebih kencang.
Tidak ada jadwal tamu hari ini, jika pun itu tamu anak-anaknya biasanya tidak malam-malam seperti ini, Sintia sedikit berpikir dan mencoba lebih tenang akan tetapi ketakutan di dalam hatinya tidak bisa dihindari begitu saja.
Apa lagi saat ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih pelan tapi jelas.
Tok… tok…
“Siapa?” suaranya keluar hampir berbisik.
Tidak ada jawaban dari depan sana, namun situasi seperti ini justru membuat suasana semakin mencekam. Dengan langkah ragu, Sintia mendekat. Tangannya sempat terangkat, lalu berhenti di gagang pintu.
Ia menelan ludahnya sendiri mencoba mengatur deru nafasnya yang tidak teratur, lalu perlahan mulai membukanya.
Ceklek.
Pintu terbuka sedikit, dan di sana tengah berdiri seorang wanita dengan senyum tipis. Usianya tidak jauh dari Adinda. Wajahnya tenang… tapi sorot matanya tajam, seolah ingin memberi suatu peringatan, membuat Sintia langsung membeku.
“Kamu…” suaranya tercekat.
Wanita itu tersenyum tipis, tidak ada kehangatan sama sekali dari raut wajahnya.
“Lama gak ketemu,” ucapnya santai.
Deg.
Sintia mundur satu langkah tanpa sadar. “Ngapain kamu ke sini?”
Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah masuk tanpa diundang, seolah rumah itu bukan tempat asing baginya.
Langkahnya pelan… tapi penuh percaya diri. Lalu pintu ditutup kembali dari dalam dengan suara yang terasa lebih keras dari seharusnya.
“Aku pikir…” wanita itu mulai bicara sambil menyapu ruangan dengan tatapannya, “…kamu bakal lebih siap dari ini.”
Sintia menatapnya tajam. “Langsung ke inti aja.”
Wanita itu berhenti. Lalu menoleh. Dia mulai cari tahu, ya?”
Kalimat itu membuat napas Sintia langsung tertahan. “Kamu tahu dari mana?” tanyanya cepat.
Wanita itu mengangkat bahu ringan. “Aku gak butuh banyak usaha buat tahu hal kayak gitu.”
Ia melangkah mendekat. Kini jarak mereka hanya beberapa langkah. “Yang jadi masalah…” lanjutnya pelan, “…kamu panik.”
Sintia mengepalkan tangannya. “Aku gak panik.”
“Benarkah?” wanita itu tersenyum tipis lagi. “Kalau gak panik… kamu gak bakal terlihat sekacau ini.”
Kalimat itu seperti tamparan, Sintia seolah ketangkap basah, karena memang saat ini ia tidak punya kendali apapun.
Sintia menahan rahangnya. “Kalau kamu cuma datang buat ngejek, mending keluar.”
Wanita itu terdiam sebentar. Lalu tawanya keluar pelan.
“Kamu masih sama,” ucapnya. “Selalu merasa bisa ngatur semuanya… padahal tanpa Ibu, kamu gak ada apa-apanya.”
Deg.
Nama itu tidak disebut. Tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih berat, dan kebencian di dalam hatinya kini lebih memuncak, kenapa masalah ini harus muncul lagi disaat kondisi sedang tidak baik-baik saja, keadaan anaknya yang sekarang jarang dapat kontrak kerja, ekonomi semakin melemah, hidup seakan menertawakan dirinya.
Sintia menatapnya dengan sorot mata berubah. “Jangan bawa-bawa dia.”
“Kenapa?” balas wanita itu cepat. “Takut?”
Sintia tidak menjawab ia lebih memilih diam dengan wajah kesalnya. Lalu wanita itu menghela napas pelan, seolah menahan sesuatu.
“Aku gak datang buat ribut,” ucapnya akhirnya. “Aku datang karena satu hal.”
Diam sejenak, Sintia terlihat sibuk dengan pemikirannya sendiri, sementara wanita itu mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Masalah ini… bukan cuma urusan kamu lagi.”
Jantung Sintia berdetak keras, antara takut dan lega, tapi masih belum bisa menyimpulkan. “Maksud kamu?”
Wanita itu menatap lurus. “Kalau dia ingat semuanya…” ucapnya pelan, “…yang hancur bukan cuma kamu.”
Kalimat itu jatuh pelan. Tapi dampaknya langsung terasa. Sintia tidak berkutik hanya bisa menunggu jawaban itu lagi.
Wanita itu melanjutkan, kali ini lebih rendah. “Nama Mama bisa ikut naik lagi ke permukaan, dan aku tidak mau jika ini benar-benar terjadi pada keluargaku."
Dan hal itu— Adalah hal yang paling mereka hindari.
🍀🍀🍀🍀🍀
Beberapa detik tidak ada suara hanya napas yang saling beradu di antara ketegangan, Sintia akhirnya bersuara, lebih pelan.
“Kamu maunya apa?”
Wanita itu tersenyum, kali ini bukan sinis tapi dingin. “Aku gak mau apa-apa,” ucapnya. “Aku cuma gak mau semua yang sudah dikubur… digali lagi.”
Sintia menatapnya lekat. “Terus?”
Wanita itu mengangkat satu alisnya. “Kita beresin sebelum dia tahu semuanya.”
Deg!
Kalimat itu menggantung tapi cukup membuat jantung Sintia tidak jauh lebih aman, sebenarnya ia merasa sudah cukup lelah dengan semua ini, tapi dirinya sudah terlanjur memasuki jurang itu.
Dan kali ini Sintia tidak langsung menolak karena di dalam hatinya— Ia tahu ia tidak bisa menghadapinya dengan sendirian.
Bersambung .....
Pagi semoga suka tipis dulu ya