NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 Janji Baru di Bawah Bulan

Kehidupan di rumah Wijaya kembali berwarna dan hangat seperti sedia kala. Namun kali ini, ada perbedaan yang sangat terasa. Arga benar-benar menepati janjinya. Ia belajar membagi waktu dengan sangat bijaksana.

Pekerjaan yang menumpuk dan rapat yang tak ada habisnya kini ia atur sedemikian rupa. Ia mulai mendelegasikan tugas kepada orang-orang kepercayaannya, dan memastikan bahwa pukul enam sore, ia sudah harus berada di rumah.

"Sayang, Ayah pulang!!" teriak Arga riang begitu membuka pintu utama, suaranya terdengar dari depan garasi.

Dari ruang keluarga, Kirana dan Arka yang sudah bisa merangkak cepat langsung menyambut.

"Wah, Ayah pulang tepat waktu hari ini!" seru Kirana tersenyum lebar, wajahnya berseri-seri melihat suaminya berjalan mendekat dengan langkah ringan dan wajah ceria.

"Pasti dong! Kan ada janji yang harus ditepati," jawab Arga bangga, lalu ia langsung berjongkok dan membuka kedua tangannya lebar-lebar ke arah putranya. "Coba sini Nak! Sini peluk Ayah! Si ganteng!"

Arka tertawa renyah, lalu merangkak secepat kilat menuju ayahnya dan langsung memeluk kaki besar itu.

"Hahaha... gemes banget sih anak Ayah!" Arga mengangkat tubuh mungil itu tinggi-tinggi lalu memeluknya erat, mencium pipi gembil itu berkali-kali sampai Arka tertawa kegirangan.

Pemandangan itu adalah pemandangan paling indah bagi Kirana. Hatinya damai, rasa sepi dan kesal yang dulu ada kini telah hilang berganti dengan rasa cinta yang meluap-luap.

"Mandi dulu sana, Yang. Udah siapin air hangat," kata Kirana lembut sambil merapikan kerah kemeja suaminya.

"Iya Bu Bos! Siap laksanakan!" jawab Arga manis, lalu ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir istrinya singkat namun penuh makna tepat di depan Arka. "Cium dulu sama Ibu cantik."

Kirana tersenyum malu-malu, pipinya memerah padam. "Ih, depan anak lho."

"Gak apa-apa. Biar Arka tahu kalau Ayah sama Ibu itu saling sayang," jawab Arga santai lalu tertawa lebar masuk ke kamar mandi.

 

Malam harinya, setelah makan malam bersama yang penuh tawa dan cerita, Arga mengajak Kirana duduk di teras belakang seperti dulu. Arka sudah tidur lelap di dalam kamar karena kelelahan bermain.

Suasana malam itu sangat tenang. Angin sepoi-sepoi bertiup membawa kesejukan, dan bulan purnama bersinar terang menerangi wajah mereka berdua.

Arga menggenggam tangan istrinya erat-erat, lalu menatap wajah itu dalam-dalam.

"Ran..."

"Ya?"

"Makasih ya..." ucap Arga pelan tiba-tiba.

"Makasih buat apa?" tanya Kirana bingung.

"Makasih sudah sabar sama aku. Makasih sudah ngingetin aku kalau yang paling penting itu kita, bukan harta atau jabatan," jawab Arga tulus, matanya berbinar di bawah cahaya bulan. "Aku sadar banget, kalau bukan karena kamu yang tegas dan mau pergi waktu itu, mungkin aku bakal terus jadi suami yang buruk dan nggak peka."

Kirana tersenyum, mengusap punggung tangan suaminya.

"Kita sama-sama belajar kan, Ar. Aku juga minta maaf kalau kadang aku emosian dan suka ngambek."

"Enggak, itu hak kamu. Dan itu bikin aku sadar diri," potong Arga cepat. "Tapi aku janji sama kamu, mulai hari ini dan seterusnya. Aku akan jadi suami dan Ayah nomor satu. Prioritas utamaku cuma keluarga ini."

Arga lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru satin dari saku jasnya.

"Nah, ini buat kamu. Tanda kalau aku serius janjinya."

Kirana terbelalak. "Itu apa lagi? Jangan-jangan perhiasan mahal lagi? Kita kan udah janji mau hemat waktu?" goda Kirana tapi matanya tertuju pada kotak itu.

"Bukan perhiasan sembarangan. Ini simbol," kata Arga sambil membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sepasang gelang emas yang sangat indah. Gelang untuk Kirana dan gelang yang lebih besar dan kokoh untuk Arga. Desainnya saling melengkapi, dengan ukiran huruf 'A & K Forever' di bagian dalamnya.

"Ini... gelang couple?" tanya Kirana takjub.

"Iya. Biar setiap kali kita lihat tangan kita, kita ingat janji kita. Kita satu sama lain selamanya," jelas Arga, lalu ia mengambil gelang yang kecil dan memakaikannya ke pergelangan tangan putih istrinya dengan sangat hati-hati.

"Indah banget, Ar. Aku suka," kata Kirana bahagia memandang gelang itu di tangannya.

"Sekarang giliran kamu yang pasang ke tangan aku," pinta Arga sambil mengulurkan tangannya.

Kirana pun memakaikan gelang itu ke tangan besar suaminya. Pasangan gelang itu terlihat sangat serasi di tangan mereka.

"Nah, sekarang kita resmi terikat selamanya," kata Arga tersenyum lebar, lalu ia menarik tubuh Kirana ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya erat-erat, menghirup aroma wangi parfum yang sangat ia rindukan.

"Aku sayang banget sama kamu, Kirana. Lebih dari kata-kata bisa jelasin," bisik Arga di telinga istrinya.

"Aku juga sayang kamu, Arga. Sangat sayang," jawab Kirana lembut, memejamkan mata menikmati kehangatan itu.

Mereka berdua duduk berpelukan lama di bawah sinar bulan, menikmati kedamaian yang sulit didapatkan oleh orang lain. Semua masalah, semua rintangan, seolah menjadi cerita lama yang menguatkan ikatan mereka.

 

Waktu terus berlalu. Tahun demi tahun berganti dengan sangat cepat.

5 TAHUN KEMUDIAN...

"AYAAAAHHH!!! ARKA NAKAL!!!" teriak suara kecil tapi nyaring memecah keheningan pagi.

"HAHAHA... kejar dong! Kalau bisa tangkap Ayah kasih hadiah!" suara Arga tertawa lebar sambil lari mengelilingi meja makan, dikejar oleh seorang bocah laki-laki yang kini sudah berusia 5 tahun.

Bocah itu tinggi, gagah, dan sangat lincah. Wajahnya tampan persis miniatur Arga, tapi matanya yang ceria dan manja sangat mirip dengan Kirana. Itu adalah Arka Ganendra Wijaya yang kini sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sangat aktif.

"Udah ah kalian berdua! Sarapan mau dingin!" seru Kirana yang kini tampak makin cantik dan anggun dengan gaya berpakaian yang modis namun sopan. Ia kini bukan hanya ibu rumah tangga, tapi juga sering membantu Arga mengurus beberapa divisi di perusahaan.

Arga menghentikan larinya, lalu menggendong Arka yang merengek minta dikejar terus.

"Lihat tuh, Ibu marah nih. Sini kita minta maaf," kata Arga sambil mendekati istrinya. Ia mencium pipi Kirana kanan kiri. "Maaf ya Cantik, suami sama anakmu lagi olahraga pagi."

"Ih, Ayah ini. Besok-besok Arka sekolah lho, jangan dibiasain lari-lari gitu nanti kotor," celoteh Kirana sambil menyodorkan segelas susu hangat ke hadapan putranya.

"Arka mau sekolah sama Ayah!" seru Arka polos sambil meminum susunya.

"Kan sekolahnya sama Ibu yang anter. Ayah kan ke kantor," jawab Arga.

"Nggak mau! Arka mau ikut Ayah! Arka mau belajar jadi bos kayak Ayah!" kata Arka dengan wajah sok serius yang membuat Arga dan Kirana tertawa lebar.

"Wah, pinter nih anak. Ya sudah nanti Ayah anter sebentar terus lanjut sama Ibu ya," jawab Arga bangga, lalu ia menatap istrinya dengan tatapan dalam. "Lihat deh anak kita, dia hebat ya."

Kirana tersenyum bahagia mengangguk. "Iya, dia warisan terindah yang kita punya."

Namun, di tengah kebahagiaan ini, ada sesuatu yang berbeda pada wajah Kirana pagi itu. Ia sesekali memegang mulutnya seolah ingin muntah, dan wajahnya terlihat sedikit pucat.

Arga yang peka langsung menyadarinya.

"Sayang... kamu kenapa? Lagi mual lagi?" tanya Arga khawatir.

Kirana menatap suaminya, lalu tersenyum misterius sambil memegang perutnya yang masih rata.

"Kayaknya... Arka bakal punya teman main sebentar lagi, Ar..." bisiknya pelan.

BRUK!!!

Sendok yang dipegang Arga jatuh ke piring.

"Maksud kamu... KAMU HAMIL LAGI?!!" teriak Arga kaget tapi matanya langsung berbinar-binar cerah tak percaya.

Arka yang masih kecil ikut teriak heboh. "BENERAN?! ADA ADIK DI PERUT IBU?! HOREEE!!!"

Rumah besar itu kembali dipenuhi suara tawa dan kegembiraan yang lebih besar dari sebelumnya. Babak baru kehidupan keluarga Wijaya pun dimulai lagi, penuh dengan cinta, tawa, dan kebahagiaan yang tak terhingga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!