Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Pertemuan Besar di Pulau Hitam
Pulau Hitam muncul seperti mimpi buruk di tengah laut yang gelap. Kabut hitam pekat mengelilingi pulau tersebut, dan aura energi gelap menekan dada siapa pun yang mendekat. Armada Paviliun Naga Emas berhenti di jarak dua mil dari pantai. Dua belas kapal tempur siap dalam formasi serangan.
Arkan Wijaya berdiri di haluan kapal utama. Tubuh kekarnya dibalut baju tempur hitam terbaik, Pedang Raja Naga terhunus di tangan kanannya. Foundation Establishment Tingkat 4 awal-nya memancarkan aura dominan yang membuat seluruh pasukan merasa tenang di tengah ketegangan.
Sela Juanda berdiri di sampingnya, pakaian tempurnya ketat membalut tubuh seksi dan cantiknya. Rambutnya diikat tinggi, matanya penuh tekad. “Kita sudah siap,” katanya tegas.
Arkan mengangguk. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. “Semua pasukan! Ini adalah pertempuran penentu! Hari ini kita hancurkan Naga Hitam atau mati mencoba! Maju!”
Sorak sorai membahana di seluruh armada. Kapal-kapal melaju menembus kabut hitam.
Begitu mendarat di pantai Pulau Hitam, ribuan pasukan Naga Hitam sudah menunggu. Bendera hitam berkibar di mana-mana. Di tengah pasukan musuh berdiri Pemimpin Tertinggi Naga Hitam — seorang pria tua berjubah hitam keemasan bernama Lord Void. Aura Core Formation Tingkat 12-nya menekan seluruh pulau.
“Pewaris kecil,” suara Lord Void menggelegar. “Kau berani datang ke sarangku. Serahkan cincin itu, maka aku beri kematian yang cepat.”
Arkan melangkah maju sendirian. “Kau yang akan mati hari ini.”
Pertempuran besar meledak.
Arkan menjadi ujung tombak. Ia melesat ke tengah pasukan musuh seperti naga emas hidup. Pedang Raja Naga menebas tanpa ampun. Setiap ayunan merenggut nyawa puluhan orang. **Naga Emas Mengamuk** dilepaskan berkali-kali, bayangan naga raksasa menghancurkan formasi musuh.
Sela memimpin tim kanan. Gadis itu bertarung dengan penuh semangat. Teknik **Jiwa Naga Bersatu** yang Arkan ajarkan membuatnya mampu berbagi kekuatan dengan Arkan dari jarak jauh. Setiap kali Arkan terdesak, Sela mengirimkan Qi penyembuhan dan serangan pendukung.
“Lindungi sayap kiri!” teriak Sela pada timnya. Ia sendiri menghadapi dua elder Core Formation Tingkat 5. Tubuhnya bergerak lincah, serangannya tepat dan mematikan. Meski terluka di lengan, Sela tidak mundur sedikit pun.
Juanda Hartono memimpin tim pengepungan dari laut, menghancurkan pertahanan pantai musuh. Orang tua Arkan mengawasi dari belakang, menyembuhkan yang terluka dengan pil dan teknik penyembuhan.
Arkan menerobos langsung ke Lord Void. Dua elder Tingkat 10 mencoba menghalangi, tapi Arkan menebas mereka dalam waktu singkat. Lord Void akhirnya turun tangan sendiri.
“Anak kecil sombong!” raung Lord Void. Ia melepaskan **Telapak Naga Hitam Mahakarya** — telapak tangan raksasa hitam pekat yang membawa kekuatan penghancur.
Arkan balas dengan **Raja Naga Turun ke Dunia**. Dua jurus pamungkas bertemu di udara. Gelombang energi dahsyat menghancurkan pepohonan dan batu di sekitar. Arkan terdorong mundur puluhan meter, tapi ia segera bangkit.
“Kau kuat,” kata Arkan sambil tersenyum dingin. “Tapi aku lebih cepat.”
Pertarungan antara Arkan dan Lord Void menjadi pusat pertempuran. Setiap benturan membuat pulau berguncang. Arkan menggunakan seluruh teknik warisannya — Tubuh Naga, Pedang Naga, Teknik Jiwa, bahkan Formasi sederhana untuk mengganggu lawan.
Sela yang melihat Arkan kesulitan melawan Lord Void berlari mendekat. Ia melepaskan seluruh Qi-nya untuk mendukung Arkan melalui ikatan jiwa mereka. Energi Sela mengalir ke tubuh Arkan, memberinya kekuatan tambahan.
“Denganmu, aku tak terkalahkan!” teriak Arkan.
Ia melepaskan jurus gabungan baru — **Naga Emas dan Ratu Naga**. Bayangan naga emas raksasa dan bayangan naga betina muncul bersamaan. Serangan ganda itu menghantam Lord Void telak.
Pemimpin Naga Hitam itu terpental jauh, darah menyembur dari mulutnya. “Mustahil… kau baru Foundation…!”
Arkan tidak memberi kesempatan. Ia melompat dan menusuk Pedang Raja Naga tepat ke dada Lord Void. Pedang itu menembus tubuh pria tua tersebut hingga ke tanah.
Lord Void tersenyum lemah sebelum mati. “Kau… terlambat… Naga Hitam Sejati… sudah terbangun…”
Tanah pulau berguncang hebat. Dari tengah pulau, sebuah aura mengerikan muncul. Naga Hitam Sejati — roh naga raksasa hitam pekat — terbangun dari kedalaman. Matanya merah menyala, aura Destruction Realm-nya menekan seluruh pulau.
Arkan mencabut pedang dari tubuh Lord Void dan berdiri di depan pasukannya.
“Ini belum selesai!” serunya. “Semua pasukan mundur ke pantai! Aku yang akan hadapi naga itu!”
Sela menolak mundur. “Aku ikut!”
Arkan memeluk Sela sebentar. “Bersama kita.”
Mereka berdua melompat ke tengah pulau menghadapi Naga Hitam Sejati. Makhluk raksasa itu meraung keras, meniupkan hembusan angin hitam beracun.
Arkan dan Sela bertarung bahu membahu. Arkan menyerang dengan pedang, Sela mendukung dengan formasi dan serangan jarak jauh. Ikatan jiwa mereka bekerja sempurna — mereka bisa merasakan niat satu sama lain tanpa kata.
Pertarungan melawan Naga Hitam Sejati berlangsung sangat sengit. Arkan terluka parah di dada, Sela patah tangan kirinya. Tapi mereka tidak menyerah.
Dengan sisa kekuatan, Arkan melepaskan jurus pamungkasnya yang paling kuat — **Pewaris Naga Emas Sejati**. Seluruh Qi-nya, ditambah dukungan Sela, membentuk proyeksi naga emas raksasa yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Proyeksi itu bertabrakan dengan Naga Hitam Sejati. Ledakan dahsyat mengguncang seluruh pulau. Naga Hitam Sejati meraung kesakitan dan akhirnya hancur menjadi kabut hitam yang tersapu angin.
Arkan jatuh berlutut, tubuhnya penuh luka. Sela langsung memeluknya sambil menangis.
“Kita… menang,” bisik Arkan sambil tersenyum lemah.
Pasukan Paviliun Naga Emas yang tersisa berlari mendekat dan bersorak kemenangan. Pulau Hitam jatuh ke tangan mereka.
Malam harinya, di pantai yang sudah dibersihkan, Arkan dan Sela duduk berpelukan di bawah bintang. Luka mereka sudah diobati dengan pil terbaik.
“Kita berhasil,” kata Sela sambil menyandarkan kepala di dada Arkan.
Arkan mencium keningnya. “Ini baru permulaan. Masih ada kekuatan lain di Nusantara. Tapi hari ini… kita rayakan kemenangan kita.”
Mereka berciuman di bawah langit malam Pulau Hitam. Ikatan mereka semakin kuat, jiwa mereka semakin menyatu.
Paviliun Naga Emas telah memenangkan pertempuran besar pertama. Nama Arkan Wijaya semakin harum di seluruh Nusantara.
Dan cerita Pewaris Naga Emas masih jauh dari akhir.