"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH SANG NAGA DATARAN TENGAH
Angin malam di Kota Seribu Awan berhembus lebih kencang dari biasanya, membawa aroma hujan dan sisa-sisa energi petir yang masih menggantung di udara. Han Feng berjalan dengan langkah yang tak lagi terdengar, jubah abu-abunya berkibar pelan saat ia melewati gerbang area seleksi. Ribuan mata masih menatapnya dengan campuran rasa takjub dan ngeri, namun ia tidak memedulikan mereka.
Sebelum ia mencapai jalan utama, sesosok bayangan putih mendarat dengan keanggunan seorang bangau. Tetua Bai, sang pengawas netral yang tadi membela Han Feng, berdiri di sana dengan senyum tipis yang penuh makna.
"Anak muda, kau telah mengguncang fondasi kota ini hanya dalam satu hari," ucap Tetua Bai, sambil menyodorkan sebuah plakat kristal bening. "Ini adalah undangan untuk masuk ke Akademi Langit Tertinggi tanpa tes. Pikirkanlah. Dunia ini luas, dan seorang naga butuh langit yang cukup lebar untuk terbang."
Han Feng menerima plakat itu dengan hormat, namun matanya tetap dingin. "Terima kasih, Tetua. Aku akan mempertimbangkannya."
Tetua Bai mendekat, suaranya merendah hingga hanya bisa didengar oleh Han Feng. "Hati-hati. Pedang Raksasa Hitam itu... itu adalah kunci yang dicari oleh orang-orang dari Dataran Tengah selama ratusan tahun. Kau baru saja menyalakan api di tengah gudang mesiu."
Han Feng hanya mengangguk singkat sebagai tanda mengerti, sebelum akhirnya menghilang di balik kerumunan gedung-gedung tinggi.
Han Feng berhenti di depan sebuah bangunan kayu tua yang tampak nyaris roboh di sudut kota yang paling kumuh. Inilah Penginapan 'Awan Merah'. Namun, di balik penampilannya yang merosot, Han Feng merasakan adanya formasi pelindung tingkat tinggi yang membungkus tempat ini.
Ia melangkah masuk ke sebuah ruangan di lantai dua yang dipenuhi asap dupa yang menenangkan. Di sana, duduk seorang pria tua dengan pakaian compang-camping, sedang menyesap arak murah dengan ekspresi puas. Kakek Bo.
Melihat Han Feng masuk dengan Pedang Raksasa Hitam di punggungnya, mata Kakek Bo berkilat tajam. Ia meletakkan cangkir araknya dan menghela napas panjang. "Akhirnya... pedang itu mengenali darah tuannya kembali."
Han Feng tidak langsung duduk. Ia melangkah maju, lalu membungkukkan tubuhnya dengan sangat dalam—sebuah penghormatan tulus yang jarang ia berikan pada siapa pun.
"Kakek Bo... terima kasih. Terima kasih atas semua bantuanmu selama ini. Tanpa teknik yang kau berikan dan arahanmu, aku mungkin sudah lama mati sebagai sampah di jalanan," ucap Han Feng dengan suara yang sedikit melunak.
Kakek Bo tertawa kecil, suara tawanya serak namun hangat. "Bangunlah, Nak. Aku hanya memberikan korek api; kaulah yang menyalakan apinya sendiri menjadi kebakaran besar. Tapi sekarang, saatnya kau tahu siapa dirimu yang sebenarnya."
Kakek Bo menuangkan secangkir arak lagi, namun kali ini ia memberikannya pada Han Feng. "Kau mungkin mengira margamu, Feng, hanyalah nama biasa. Tapi di Dataran Tengah, marga Feng adalah nama yang menggetarkan langit dan bumi."
Han Feng terdiam, mendengarkan dengan saksama.
"Keluarga Feng adalah klan misterius yang berkuasa di pusat dunia kultivasi. Mereka dikenal sebagai Klan Penjaga Langit. Di sana, anak muda seusiamu sudah bisa membelah gunung, dan persaingan di dalam internal klan sangatlah brutal. Para jenius di Marga Feng saling sikut dan bertarung satu sama lain untuk mendapatkan sumber daya. Itu adalah tempat di mana kasih sayang keluarga kalah oleh hukum rimba," Kakek Bo menjelaskan dengan nada serius.
"Lalu... siapa orang tuaku?" tanya Han Feng, jemarinya mencengkeram erat cangkir araknya.
Kakek Bo menggeleng pelan. "Jujur saja, belum ada yang tahu orang tua mana dari garis keturunan utama yang melahirkanmu. Kau ditemukan dalam keadaan kritis saat bayi di wilayah pinggiran ini. Namun, dari kekuatan Darah Naga yang bangkit di tubuhmu dan bagaimana Pedang Raksasa Hitam itu tunduk padamu... tidak ada keraguan sedikit pun. Kau adalah darah asli dari inti Marga Feng."
Kakek Bo melanjutkan dengan suara yang lebih berat. "Marga Feng bukan hanya kuat, mereka berbahaya. Konon, garis keturunan Feng terlibat langsung atau merupakan bagian dari kunci menuju Dunia Atas—tempat para dewa yang sebenarnya. Itulah sebabnya banyak klan dan sekte besar lainnya yang mengincar setiap keturunan Feng. Keberadaanmu adalah berkah sekaligus kutukan."
"Waktumu di sini sudah habis, Han Feng," ucap Kakek Bo sambil mengeluarkan sebuah cincin berwarna perak gelap dengan ukiran naga kecil di sekelilingnya. "Ini adalah Cincin Ruang tingkat tinggi. Ruang di dalamnya jauh lebih luas dan stabil. Gunakan ini untuk menyimpan semua barang berhargamu, termasuk pedang barumu itu. Pedang itu terlalu mencolok; jika tidak digunakan, simpanlah di dalam sini."
Han Feng menerima cincin itu. Saat ia mengalirkan Qi-nya, ia terkejut merasakan dimensi yang begitu luas di dalamnya, jauh melampaui kantong penyimpanan yang ia miliki sebelumnya.
"Orang-orang kuat dari Dataran Tengah dan utusan Sekte Langit Abadi sudah mulai mengincarmu. Mereka akan mengepung kota ini dalam waktu singkat. Kau harus bersiap untuk pergi ke Dataran Tengah malam ini juga," perintah Kakek Bo.
Sebelum melangkah keluar dari penginapan untuk terakhir kalinya, Han Feng melihat sosok yang sudah menunggunya di bawah sinar rembulan yang redup. Su Yan.
Gadis itu berdiri di sana, tidak lagi dengan keangkuhan seorang dewi, melainkan dengan kerentanan seorang manusia biasa. Matanya sembab, dan wajahnya menunjukkan keletihan emosional yang mendalam.
Han Feng mendekat perlahan. Tidak ada niat membunuh, tidak ada aura dingin yang meledak-ledak. Yang tersisa hanyalah dua orang yang pernah berbagi masa kecil bersama.
"Kau akan pergi?" suara Su Yan bergetar.
"Ya. Tempat ini terlalu kecil untuk apa yang harus aku cari," jawab Han Feng tenang.
Su Yan menatapnya lama, lalu ia tersenyum pahit. "Aku selalu tahu kau berbeda, Han Feng. Aku hanya terlalu bodoh dan takut untuk mengakuinya. Maafkan aku atas semua yang telah terjadi."
Han Feng menatap langit malam sejenak. "Dendam hanya akan memperlambat langkahku, Su Yan. Apa yang terjadi di masa lalu... biarlah tertinggal di sini. Aku tidak lagi membencimu."
Mendengar itu, Su Yan tidak bisa lagi membendung air matanya. Tanpa diduga, ia melangkah maju dan memberikan sebuah pelukan hangat kepada Han Feng. Itu bukan pelukan nafsu atau cinta yang rumit, melainkan pelukan perpisahan bagi seseorang yang pernah berarti dalam hidupnya.
Han Feng tertegun sejenak, lalu perlahan menepuk bahu Su Yan sekali sebelum melepaskan diri. "Hiduplah dengan baik, Su Yan."
Tanpa menoleh lagi, Han Feng berjalan menembus kegelapan malam menuju perbatasan kota. Kakek Bo dan Mu Rong sudah menunggunya di sana. Dengan cincin baru di jarinya, Pedang Raksasa Hitam tersimpan aman di dalamnya, dan identitas sejati yang mulai terkuak, Han Feng melangkah menuju Dataran Tengah.
Naga itu tidak lagi mengamuk di kolam kecil; ia kini sedang menuju samudera luas untuk menelan dunia.
Di kejauhan, pegunungan raksasa Dataran Tengah tampak seperti taring-taring bumi yang menunggu penantangnya, dan Han Feng hanya memiliki satu tujuan: Puncak tertinggi.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏