NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Gandraka melangkah masuk ke halaman rumah saat kegelapan benar-benar telah menyelimuti bumi. Di bawah temaram lampu minyak yang tergantung di ambang pintu, ia melihat kedua orang tuanya sudah menunggu dengan raut wajah yang tampak tegang dan cemas.

​"Kau lama sekali, Gandraka," ucap Ki Bagaskara. Suaranya berat, matanya menelisik sisa-sisa energi yang masih tertinggal di tubuh anaknya.

​"Tadi ada sedikit gangguan, Yah," jawab Gandraka singkat. Ia tidak ingin menceritakan detail permainannya dengan Nadi, namun aromanya yang terbawa angin tak bisa berbohong.

​"Tentu saja. Tak pernah tidak ada masalah setiap kali kau melangkah keluar dari pagar rumah ini," timpal Bagaskara sambil menghela napas.

​"Tapi semuanya bisa kuatasi, Yah. Tidak ada yang terluka."

​"Ayah percaya padamu. Tapi intinya bukan itu. Ini menyangkut kelanjutan hidup kita di desa ini," Ki Bagaskara beranjak dari duduknya, mendekat ke arah anaknya. "Kejadian tadi siang dengan Jayantaka sudah cukup membuat kita dalam sorotan. Jika kau terus memperlihatkan hal-hal ganjil di depan anak-anak desa, rahasia kita hanya akan bertahan sampai besok pagi."

​"Aku mengerti, Yah. Aku akan lebih berhati-hati lagi ke depannya," ucap Gandraka pelan, menyadari kecerobohannya yang terbawa suasana bermain tadi.

​Pada saat itulah, Nyai Lodra keluar dari balik pintu, memegang sebuah kain bersih. Ia menatap wajah anaknya yang tampak letih, lalu beralih ke suaminya, memberi isyarat agar pembicaraan berat itu dihentikan sejenak.

​"Sudahlah. Mandi dan bersihkan dirimu, lalu segera makan. Ibu sudah menyiapkan hidangan di dalam," potong Nyai Lodra lembut, namun nadanya tidak menerima bantahan.

​"Baik, Bu," jawab Gandraka patuh.

​Ia melangkah menuju sumur di belakang rumah, meninggalkan kedua orang tuanya yang kembali tenggelam dalam bisikan-bisikan tentang rencana pelarian atau pertahanan yang harus mereka siapkan jika waktu itu tiba.

Di kejauhan, hutan Bukit Wengker tampak seperti tembok hitam yang menyimpan ribuan mata, mengawasi setiap gerak-gerik keluarga kecil itu.

Malam itu, suasana kembali ke suasana asalnya—sunyi namun sarat akan aura mistis. Tak ada gangguan berarti bagi keluarga itu. Hanya suara lengkingan aneh yang sesekali menggema dari kedalaman hutan, sebuah nyanyian malam yang sudah menjadi bagian dari pendengaran mereka setiap harinya.

​Ki Bagaskara tak pernah sedikit pun beranjak ke peraduan sebelum rembulan tepat berada di puncaknya. Ia duduk bersila di pendapa, ditemani kepulan asap rokok lintingan dan aroma kopi hitam yang pekat. Matanya yang tajam tak sedetik pun lepas mengawasi tapal batas hutan di hadapannya.

​Pemandangan di depannya bukanlah untuk mereka yang lemah jantung. Di kejauhan, di antara rimbunnya pohon maja, sepasang mata merah saga sering kali berkedip menatapnya. Terkadang hanya satu, namun tak jarang jumlahnya mencapai puluhan, berderet seolah sedang mengintai mangsa.

Di atas tajuk-tajuk pohon, kabut hitam kerap membumbung tinggi, bergulung-gulung membentuk gumpalan menyerupai kepala raksasa yang menyeringai menyeramkan. Bahkan, sesekali ia melihat pohon-pohon besar bergetar tanpa angin, lalu perlahan-lahan berpindah tempat seolah memiliki kaki.

​Namun, bagi Ki Bagaskara, semua kengerian itu tak lebih dari sekadar hiburan malam. Selama entitas-entitas itu tetap berada di balik batas hutan dan tidak mencoba mendekat ke arah rumahnya, ia hanya akan duduk diam, mengamati dalam ketenangan yang waspada.

Baginya, ada kesepakatan tak tertulis antara penghuni rumah dan penghuni hutan: saling menjaga jarak, atau salah satu dari mereka harus musnah.

Namun, malam itu ada sesuatu yang terasa ganjil. Keheningan hutan mendadak pecah oleh deru angin yang datang entah dari mana. Tepat di depan pagar halaman rumah, pusaran angin puyuh berwarna hitam pekat tiba-tiba tercipta, membumbung tinggi hingga setinggi pohon kelapa.

Ki Bagaskara perlahan membuang puntung rokoknya, mematikan apinya dengan injakan kaki. Ia bangkit, sorot matanya menajam saat ia berjalan tenang mendekati pusaran kabut yang menderu itu. Ia tahu persis siapa yang datang berkunjung selarut ini.

​Perlahan, pusaran angin hitam itu memudar, menyisakan hawa dingin yang menyesakkan paru-paru. Di balik kabut yang menipis, muncul sesosok pria tua yang tingginya di luar kewajaran manusia. Sosok itu tampak begitu menyeramkan; tangannya menggenggam sebilah tongkat yang terbuat dari susunan tulang belulang dan tengkorak manusia yang menghitam.

​Pemandangan yang paling mengerikan adalah sekujur tubuhnya. Kulit tuanya tak tertutup kain, melainkan dipenuhi oleh ratusan kelabang besar yang terus bergerak melata, saling tumpang tindih hingga tampak seperti jubah hidup yang berdenyut.

Wajahnya hanya terbungkus lapisan kulit tipis yang menonjolkan bentuk tengkoraknya, sementara rambut putihnya yang panjang menjuntai hingga ke tanah, menjadi sarang bagi ribuan kelabang kecil yang merayap di sela-sela helainya.

​Kehadiran sosok itu membuat udara di sekitar halaman rumah menjadi seberat timah. Ki Bagaskara berhenti tepat tiga langkah di depan makhluk itu, tanpa ada rasa takut sedikit pun di wajahnya.

"Ayah...!" sapa Ki Bagaskara datar, suaranya berat namun tetap menunjukkan hormat yang dalam.

​Makhluk yang disapa "Ayah" itu tidak langsung menjawab. Ia perlahan menjulurkan ujung kukunya yang panjang dan hitam ke arah gerbang rumah. Namun, sebelum jemari itu menyentuh pagar, udara di depannya mendadak bergetar. Sebuah perisai gaib menyala terang dengan warna kemerahan yang membara, menolak kehadiran energi gelap dari sang kakek.

​"Ah... perisai Gandraka semakin kuat, Bagas," ucap makhluk itu dengan suara yang terdengar seperti gesekan batu nisan. Ia menarik kembali tangannya, sementara ratusan kelabang di tubuhnya bergerak gelisah.

​"Aku bangga dengan cucuku. Ternyata ia mampu meresap makna dari kitab yang kuberikan jauh lebih cepat dari yang kupikirkan. Dia bukan hanya membaca, tapi dia mulai menyatu dengan isinya."

​Ki Bagaskara tetap bergeming, matanya menatap tajam sosok tua di hadapannya itu. "Kedatanganmu selarut ini bukan hanya untuk memuji kekuatan cucumu, bukan begitu, Ayah?"

Ilustrasi

1
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll...
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
saniscara patriawuha.
gasssss polllll
saniscara patriawuha.
🫰🫰🫰🫰🫰
saniscara patriawuha.
gasssdd...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!