Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Warisan di Malam Hujan
Langit sore di Kabupaten Cikampek, Jawa Barat, tampak lebih merah dari biasanya. Matahari yang hampir tenggelam menyapu atap-atap rumah sederhana dan sawah-sawah yang mulai menguning. Arkan Wijaya melangkah keluar dari gerbang SMA Negeri 1 Cikampek dengan langkah ringan, tangannya memegang secarik kertas ijazah yang masih terasa hangat. Senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Tubuhnya yang kekar—hasil dari rutin berolahraga dan latihan basket—membuat seragam SMA-nya terlihat sedikit ketat di bagian dada dan lengan.
“Akhirnya lulus juga,” gumamnya sambil menarik napas dalam-dalam. Udara sore yang bercampur aroma tanah basah setelah hujan siang tadi terasa menyegarkan. Teman-temannya sudah ramai berfoto dan berpelukan di halaman sekolah, tapi Arkan memilih pulang lebih dulu. Ia ingin merayakan bersama orang tuanya. Ayah dan ibunya selalu mendukungnya, meski kadang terasa ada rahasia yang mereka simpan rapat-rapat.
Rumah mereka berada di pinggir jalan kecil, tidak terlalu jauh dari pusat kabupaten. Sebuah rumah sederhana bercat putih dengan halaman kecil yang ditanami bunga mawar kesayangan ibunya. Arkan membuka pagar besi yang biasanya berderit kecil, tapi kali ini hanya sunyi. Pintu depan terkunci. Lampu teras mati.
“Bu? Pa?” panggilnya sambil memutar kunci cadangan yang selalu ia simpan di tas.
Rumah kosong.
Tak ada aroma masakan. Tak ada suara televisi yang biasa menyala di ruang tamu. Arkan berjalan ke setiap ruangan, hatinya mulai berdegup kencang. Kamar orang tuanya rapi, tapi lemari pakaian kosong sebagian. Di meja makan, hanya ada secarik kertas putih yang ditempel dengan gelas kosong.
Dengan tangan sedikit gemetar, Arkan mengambil kertas itu.
*Arkan, kamu sudah dewasa. Carilah jalanmu sendiri. Kami tidak bisa terus menjagamu. Ada kewajiban yang harus kami lakukan. Suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti. Maafkan kami, Arkan.*
Air mata langsung menggenang di mata Arkan. Ia membalik kertas itu berkali-kali, mencari petunjuk lain, tapi nihil. Di samping kertas, tergeletak sebuah cincin emas berat. Bentuknya seperti kepala naga yang sedang mengaum, dengan dua permata kecil merah berkilau di tempat mata. Cincin itu terasa hangat saat disentuh, seolah memiliki denyut sendiri.
“Apa ini…?” bisik Arkan. Suaranya pecah. Ia duduk di kursi makan, menatap cincin itu lama. Air matanya jatuh ke permukaan meja. Selama delapan belas tahun, orang tuanya adalah segalanya. Ayah yang tegas tapi penyayang, ibu yang selalu memasak makanan kesukaannya. Dan sekarang mereka pergi begitu saja?
Malam mulai turun. Hujan gerimis kembali turun. Arkan merasa sesak di dada. Ia memutuskan keluar mencari udara segar. Sebelum berangkat, tanpa sadar sepenuhnya, ia memasang cincin itu di jari telunjuk kanannya. Cincin itu pas sekali, seolah dibuat khusus untuknya.
Gang sempit di belakang kompleks perumahan biasanya sepi di malam hari. Lampu jalan berkedip-kedip karena sering mati. Arkan berjalan sambil menunduk, pikirannya kacau. Tiba-tiba terdengar teriakan wanita dari ujung gang.
“Tolong! Lepaskan aku!”
Arkan mendongak. Dua pria bertubuh besar sedang menyeret seorang gadis muda ke dalam sebuah mobil hitam. Gadis itu berpakaian sederhana—kaos putih dan celana jeans—tapi wajahnya cantik luar biasa. Rambutnya yang hitam panjang acak-acakan, matanya penuh ketakutan. Tubuhnya yang ramping namun berlekuk indah berusaha memberontak.
Tanpa pikir panjang, Arkan berlari mendekat.
“Hei! Lepaskan dia!” teriaknya keras.
Salah satu pria menoleh, tersenyum sinis. “Anak kecil mau jadi pahlawan? Minggir!”
Arkan bukan petarung. Ia hanya remaja biasa yang pintar dan suka olahraga. Tapi sifat tegas dan dominannya muncul. Ia meninju pria pertama yang mendekat. Tinju itu mendarat, tapi balasan pria itu jauh lebih keras. Pukulan bertubi-tubi menghantam perut, dada, dan wajah Arkan. Ia merasakan tulang rusuknya retak. Rasa sakit yang luar biasa membuat penglihatannya kabur.
“Arghh!” Arkan jatuh berlutut. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya.
Gadis itu menjerit. “Jangan! Tinggalkan dia!”
Penculik kedua menendang Arkan hingga tergeletak. Tapi suara langkah banyak orang mulai mendekat dari ujung gang. Warga mulai keluar rumah karena keributan. Para penculik saling pandang, lalu buru-buru naik mobil dan melarikan diri.
Gadis itu langsung berlutut di samping Arkan. Tangannya yang halus menyentuh wajah pemuda itu. “Kamu… kamu baik-baik saja? Maafkan aku… aku tarik kamu ke dalam masalah ini.”
Arkan tersenyum lemah meski tubuhnya sekarat. “Kamu… selamat… itu yang penting…”
Darah dari tangan Arkan yang terluka menetes ke cincin naga emas di jarinya. Seketika, permata merah di mata naga itu menyala terang. Darah itu terserap masuk seperti spons. Rasa hangat menyebar dari jari ke seluruh tubuh Arkan. Tulang yang retak berderak kembali ke tempatnya. Luka-luka luar tertutup dengan cepat. Di dalam tubuhnya, sesuatu yang baru terbentuk—sebuah pusaran energi kecil di bawah pusarnya, dantian.
Ribuan informasi membanjiri benak Arkan dalam sekejap. Teknik kultivasi dasar Naga Emas. Teknik Pedang Naga yang mematikan. Teknik Tubuh Naga yang membuat kulit sekeras baja. Teknik Penyembuhan Naga. Formasi array. Teknik Jiwa. Resep pembuatan pil… Semuanya menyatu rapi di ingatannya seolah sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lahir.
Tapi Arkan sudah tak sadarkan diri.
Sela Juanda—itulah nama gadis itu—panik. Ia menarik tubuh Arkan yang berat ke dalam mobilnya yang kebetulan diparkir tidak jauh dari situ. Meski tubuhnya lembut dan terlihat rapuh, Sela memiliki kekuatan batin yang tegas. Ia mengemudi secepat mungkin menuju Rumah Sakit Umum Daerah Cikampek.
Sesampainya di UGD, dokter dan perawat langsung menangani Arkan. Sela menunggu di luar dengan gelisah, tangannya masih berlumur darah Arkan. Ia sendiri baru saja lolos dari penculikan yang tak ia mengerti. Keluarganya kaya raya di kabupaten ini, tapi ada pihak yang mengincarnya akhir-akhir ini.
Setelah hampir dua jam, dokter keluar dengan wajah bingung.
“Pasien baik-baik saja. Hanya pingsan karena syok. Tidak ada luka serius, hanya memar ringan dan darah kering. Sungguh keajaiban, tadi katanya dipukuli habis-habisan.”
Sela menghela napas lega. “Boleh saya jaga dia malam ini, Dok?”
Dokter mengangguk. “Kamar nomor 305.”
Malam itu hujan semakin deras. Arkan terbaring di ranjang rumah sakit, napasnya teratur. Sela duduk di kursi samping, menatap wajah tampan pemuda yang menyelamatkannya. Meski polos, ada sisi dominan dan tegas dalam dirinya. Ia meraih tangan Arkan yang memakai cincin naga itu, merasakan kehangatan aneh dari logam tersebut.
“Kamu siapa sebenarnya…?” bisik Sela pelan.
Pagi harinya, sinar matahari menyusup melalui tirai jendela. Arkan membuka mata perlahan. Tubuhnya terasa ringan, penuh tenaga. Ia duduk tegak. Memori malam tadi membanjiri benaknya—catatan orang tua, cincin, perkelahian, dan… banjir pengetahuan aneh itu.
Ia menatap tangannya. Cincin naga emas masih di sana, matanya berkilau samar. Arkan merasakan aliran energi di dalam tubuhnya, seperti sungai kecil yang siap meledak kapan saja.
“Apa yang terjadi padaku?” gumamnya.
Pintu kamar terbuka. Sela masuk membawa bubur ayam hangat. Gadis itu tersenyum lembut, wajah cantiknya yang polos sedikit merona. Tubuhnya yang seksi tersembunyi di balik pakaian sederhana, tapi tak bisa disembunyikan sepenuhnya.
“Kamu sudah bangun,” katanya dengan suara lembut tapi tegas. “Aku Sela Juanda. Terima kasih telah menolongku semalam. Kamu… kamu baik-baik saja?”
Arkan menatap Sela lekat-lekat. Ada sesuatu dalam gadis ini yang membuat insting dominannya terbangun. Ia tersenyum, suaranya dalam dan mantap.
“Aku Arkan Wijaya. Dan ya… aku baik-baik saja. Bahkan lebih dari itu.”
Sela mendekat, meletakkan bubur di meja samping. Saat tangannya hampir menyentuh tangan Arkan, cincin naga itu bergetar pelan. Keduanya merasakan getaran aneh yang sama—seolah takdir baru saja mulai terjalin.
Di luar kamar, dunia masih sama. Tapi di dalam diri Arkan Wijaya, pewaris Naga Emas telah terbangun. Dan perjalanan yang jauh lebih besar dari sekadar mencari orang tua, baru saja dimulai.