Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Satu minggu setelah perjamuan mewah yang mengukuhkan status Arjuna Wiratama sebagai putra mahkota, rumah besar itu kembali ke rutinitasnya yang sunyi namun menindas.
Kinanti duduk di ruang kerjanya yang berdinding kaca, menatap keluar ke arah taman belakang yang dirawat dengan presisi militer. Tidak ada bunga liar yang diizinkan tumbuh di sana, sama seperti tidak ada emosi liar yang diizinkan mengacaukan rencananya.
Di atas mejanya, tergeletak sebuah akta kelahiran asli yang masih baru. Jari-jarinya yang mengenakan cincin berlian besar mengusap nama yang tertera di sana, Ibu Kinanti Wiratama.
"Identitas adalah apa yang tertulis di atas kertas, bukan apa yang terjadi di dalam rahim," gumamnya pelan.
Pintu ruangan terbuka. Arkan masuk tanpa mengetuk, sesuatu yang belakangan sering ia lakukan sebagai bentuk pemberontakan kecil yang tidak berarti. Ia mengenakan setelan jas kantor, siap untuk berangkat, namun wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia sebenarnya.
"Aku sudah memeriksa rekening rahasia yang kamu siapkan untuk Arjuna. Semuanya sudah beres," ujar Arkan, suaranya datar. "Sekarang, aku mau tanya satu hal terakhir kalinya. Apakah kamu benar-benar tidak akan pernah membiarkan aku mengirimkan uang bantuan kepada Alana? Setidaknya agar dia tidak mati di jalanan?"
Kinanti mengalihkan pandangannya dari akta itu, menatap Arkan dengan mata yang tajam dan dingin. "Arkan, kamu masih saja tidak mengerti. Memberinya uang adalah memberinya harapan. Dan harapan adalah penyakit yang akan membawanya kembali ke sini. Aku tidak membayar sepuluh juta itu untuk sebuah jeda, aku membayarnya untuk sebuah titik."
"Dia ibunya, Kin! Dia yang melahirkannya dalam kesakitan!"
"Dan aku adalah wanita yang menyelamatkan nyawa bayi itu saat ibunya tidak punya apa-apa untuk diberikan selain air mata," balas Kinanti, suaranya naik satu oktav namun tetap terkendali. "Jangan pernah bahas itu lagi. Sekarang, fokuslah pada presentasi proyek di Surabaya. Aku ingin kita menunjukkan pada dunia bahwa keluarga Wiratama tetap solid dan tidak tergoyahkan oleh gosip murahan."
Sementara itu, di sebuah sudut pasar yang becek di kota pengasingannya, Alana berdiri di depan sebuah cermin kecil yang retak di kamar kosnya. Ia sudah tidak menangis lagi. Air matanya seolah-olah sudah mengering bersama dengan rasa sakit di tubuhnya.
Uang sepuluh juta dari Kinanti telah ia gunakan dengan sangat hemat. Ia menyewa sebuah kios kecil di pinggir pasar untuk berjualan pakaian murah. Tidak ada lagi sutra, tidak ada lagi tas branded. Kini jemarinya yang dulu halus mulai kasar karena sering mengangkat karung pakaian.
Setiap malam, Alana menatap satu-satunya foto yang sempat ia ambil secara diam-diam di rumah kontrakan dulu, foto kaki bayi yang mungil sebelum Kinanti membawanya pergi. Ia mencium foto itu setiap kali sebelum tidur.
"Kamu sedang apa, Nak? Apakah kamu sudah bisa tersenyum? Apakah wanita itu memelukmu?" bisiknya dalam gelap.
Alana tahu ia sedang membangun hidup dari nol. Namun, di balik kerendahhatian hidupnya sekarang, ada sebuah bara yang ia jaga agar tetap menyala. Ia mulai menabung setiap rupiah yang ia hasilkan.
Bukan untuk kemewahan, tapi untuk sebuah perjalanan kembali suatu hari nanti. Ia sadar, ia tidak bisa melawan Kinanti dengan kekuatan sekarang. Ia harus menjadi bayangan yang sabar.
"Nikmati kemenanganmu, Kinanti. Rawatlah anakku dengan uang harammu itu. Aku akan menunggu hingga dia dewasa, hingga dia bisa melihat sendiri siapa wanita yang sebenarnya memeluknya dengan kasih sayang palsu," Alana mematikan lampu minyak di kamarnya, membiarkan dendam menjadi selimutnya.
Kembali ke kediaman Wiratama, malam itu Arkan pulang lebih awal. Ia langsung menuju kamar bayi. Di sana, ia melihat Arjuna sedang berada di boksnya, ditunggui oleh Bi Ijah.
"Den Arjuna anteng sekali, Pak. Mirip sekali dengan Bapak waktu kecil," ujar Bi Ijah sambil mencoba tersenyum, meski matanya menunjukkan rasa kasihan.
Arkan mengambil Arjuna, mendekapnya erat. Ia menghirup aroma bayi itu, aroma susu dan bedak yang mahal. Di saat itulah, Kinanti masuk. Ia tidak bicara, hanya berdiri di ambang pintu, memperhatikan suami dan bayi itu.
"Dia harus mulai terbiasa tidur sendiri, Arkan. Jangan terlalu sering digendong," ujar Kinanti.
Arkan tidak meletakkan Arjuna. Ia justru menatap Kinanti dengan keberanian yang mendadak muncul. "Dia butuh detak jantung manusia, Kin. Bukan hanya susu formula dan pengasuh berseragam. Kalau kamu memang ingin menjadi ibunya, belajarlah untuk memeluknya."
Kinanti terdiam sejenak. Ia melangkah mendekat, ragu-ragu mengulurkan tangan ke arah pipi Arjuna. Namun, tangannya berhenti di udara. Ada sebuah tembok yang tidak bisa ia tembus, sebuah pengakuan di dalam hatinya bahwa bayi ini adalah bukti pengkhianatan yang paling nyata.
"Aku mencukupinya dengan materi, Arkan. Itu lebih dari cukup untuk dunia yang keras ini," sahut Kinanti sebelum berbalik dan pergi.
Malam itu, Kinanti berdiri di balkon, menatap langit Jakarta yang penuh polusi. Ia merasa telah mencapai puncak kekuasaannya. Alana telah terusir, Arkan telah tunduk, dan ia memiliki seorang ahli waris.
Namun, di tengah kemenangan mutlak itu, ada sebuah kehampaan yang mulai menggerogoti. Ia memiliki segalanya, tapi ia menyadari bahwa ia sedang tinggal di dalam sebuah monumen kebohongan yang ia bangun sendiri.
Ia tahu, suatu hari nanti, prasasti kebohongan ini mungkin akan retak. Tapi bagi Kinanti, retakan itu adalah masalah masa depan. Untuk saat ini, ia adalah ratu yang memegang kendali atas dua nyawa yang hancur, dan satu nyawa yang baru tumbuh dalam kepalsuan.
...----------------...
To Be Continue ....

Blurb -
Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel \=> Arumi.
By - Miss Ra
~~
Yuk guys mampir dikarya Arumi, si Janda tangguh yang tidak mudah dijatuhkan oleh kekejaman dunia, ini kisah nyata seorang janda yang sukses tanpa bantuan siapapun...
Tidak dianggap oleh keluarga sendiri, dijauhi oleh semua teman, bahkan sulit untuk mencari pekerjaan demi sesuap nasi, Arumi mampu membuat semua orang bungkam dengan kesuksesan yang dia jalani dalam diam.
Yang penasaran bagaimana kisah nyata si janda ini, yuk mampir dikarya Miss Ra yang tak kalah hebat nya dari kisah yang lain...
Okey, selamat membaca semuanya, semoga suka dengan ceritanya..
See You....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.