NovelToon NovelToon
Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Langit Jakarta sore itu tidak berwarna biru, melainkan abu-abu pekat, tertekan oleh lapisan polusi yang bercampur dengan awan mendung pembawa hujan. Di lantai empat puluh gedung perkantoran kaca di kawasan Sudirman, AC berdengung halus, menciptakan suhu dingin yang artifisial, kontras dengan panasnya kemacetan yang terlihat jelas dari balik jendela floor-to-ceiling.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Sidang Pertama dan Cahaya di Lorong Gelap

Fajar menyingsing di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan Khusus Tahanan KPK. Bagi sebagian besar penghuni, pagi hari adalah momen paling suram; lonceng besi berdentang nyaring pukul 04.30, menandai berakhirnya istirahat dan dimulainya rutinitas yang kaku: bangun, merapikan tempat tidur lipat, antre ke kamar mandi umum yang bau pesing, hingga baris untuk apel pagi.

Namun, di sel nomor 402, suasana terasa sedikit berbeda. Arya Wiguna sudah bangun sejak sebelum subuh. Ia tidak menunggu lonceng berbunyi. Dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan Pak Gunawan yang masih mendengkur halus, Arya mengambil wudu di keran air dingin di sudut sel. Air itu begitu dingin hingga membuat giginya bergemeretak, tapi justru itulah yang membuatnya merasa segar. Rasanya seperti kembali ke masa-masa ia masih menjadi santri muda di Jombang, mandi di sungai deras sebelum pergi mengaji.

"Subhanallah," gumam Arya sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang sudah tipis. "Dinginnya nikmat sekali."

Saat azan Subuh berkumandang dari speaker masjid kecil di kompleks penjara, Arya membangunkan teman-teman sekamarnya dengan lembut. "Bang Damar, Rio, Kek Darmo... ayo bangun. Saatnya ngobrol sama Yang Di Atas sebelum ngobrol sama manusia."

Mereka bangun dengan wajah masih mengantuk, tapi tanpa protes. Semalam, setelah obrolan hangat hingga larut, ada ikatan batin aneh yang terbentuk antara si mantan CEO, pengedar narkoba, pencuri, dan penggelap dana desa. Mereka bergerak kompak menggelar sajadah seadanya di lantai semen yang dingin. Arya menjadi imam, suaranya yang biasanya lantang memberi perintah di ruang rapat, kini melantunkan ayat-ayat suci dengan getaran emosi yang dalam, menyentuh relung hati para makmumnya yang beragam latar belakang dosa itu.

Setelah salat, mereka duduk melingkar lagi. Kali ini, Pak Gunawan yang biasanya diam saja, tiba-tiba berbicara. "Mas Arya, semalam aku bermimpi bertemu ayahmu. Beliau tersenyum, Mas. Katanya, 'Gunawan, akhirnya kamu pulang juga'. Aku terbangun sambil menangis. Aku rasa... ini awal yang baik."

Arya tersenyum, menepuk pundak pria tua itu. "Itu pertanda bagus, Pak. Hati Bapak sudah mulai bersih. Hari ini kita hadapi sidang praperadilan dengan kepala tegak. Apapun hasilnya, kita sudah menang di hadapan diri sendiri."

Pukul 07.00, petugas datang menjemput mereka. "Wiguna! Gunawan! Siap-siap mau digiring ke pengadilan!" teriak seorang petugas berseragam cokelat.

Prosesi pengeluaran tahanan selalu menjadi tontonan. Rantai kaki yang dikalungkan, tangan yang diborgol di depan (karena mereka kooperatif, tidak perlu diborgol belakang), dan iring-iringan mobil tahanan berwarna oranye yang dikelilingi polisi pengawal. Saat mereka keluar gerbang utama, puluhan wartawan sudah menunggu seperti burung nasar yang mencium bangkai. Flash kamera menyala-nyala, menerangi wajah-wajah lelah mereka.

"Pak Arya! Apakah Anda takut dihukum berat?"

"Apakah Nadia akan hadir di sidang?"

"Ada pesan untuk Presiden?"

Arya berhenti sejenak saat akan naik ke mobil. Ia menatap para wartawan itu, bukan dengan tatapan marah, melainkan dengan pandangan iba. "Saya tidak takut hukuman, karena saya tahu saya pantas mendapatkannya atas kesalahan masa lalu. Tapi saya berharap hukum bisa berjalan adil, tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Dan ya, Mbak Nadia pasti akan datang. Dia adalah kekuatan saya."

Kalimat itu singkat, tapi langsung menjadi headline di berbagai portal berita daring dalam hitungan menit.

Perjalanan menuju Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta macet total. Klakson kendaraan bersahut-sahutan, menambah stres suasana. Namun, di dalam mobil tahanan yang tertutup jendela kaca buram, Arya justru menikmati kemacetan itu. Ia membayangkan di luar sana, ribuan orang sedang berjuang hidup: ojek online yang mengejar target, ibu-ibu yang belanja ke pasar, anak-anak yang terlambat sekolah. Hidup mereka nyata, keras, dan penuh warna. Berbeda dengan hidupnya tiga bulan lalu yang hanya berkutat di antara AC dingin, angka-angka abstrak, dan ego sektoral.

"Saya rindu kebebasan, Mas," bisik Pak Gunawan tiba-tiba, menatap jalanan yang hanya terlihat samar. "Rindu bisa beli koran sendiri, rindu memilih mau makan apa, rindu memeluk cucu saya."

"Nikmati prosesnya, Pak," jawab Arya tenang. "Kadang kita harus kehilangan kebebasan fisik untuk menemukan kebebasan jiwa. Lihat saya, Pak. Dulu saya 'bebas' punya uang triliunan, tapi saya terjebak dalam ketakutan akan kehilangan semuanya. Sekarang saya tidak punya apa-apa, bahkan handuk saja pinjam, tapi hati saya lebih bebas dari sebelumnya."

Mobil akhirnya tiba di halaman pengadilan. Suasana di sana jauh lebih mencekam daripada di penjara. Pengamanan diperketat, barikade besi dipasang untuk memisahkan massa pendukung dan pendemo. Teriak-teriak terdengar dari kejauhan. "HUKUM PENIPU!", "JERAT KORUPTOR!".

Saat turun dari mobil, Arya melihat sosok familiar berdiri di belakang barikade keamanan, dijaga oleh dua orang satpam pengadilan. Itu Nadia. Ia mengenakan gamis biru dongker sederhana, hijab putih, dan wajah pucat yang jelas kurang tidur. Matanya menyala saat melihat Arya turun.

"Nadia..." desis Arya, kakinya ingin berlari mendekat, tapi rantai di kakinya menahannya.

Nadia tidak peduli pada protokol. Ia menghampiri pagar pembatas, tangannya terulur sebisa mungkin. "Mas! Alhamdulillah kamu sampai dengan selamat. Kamu kelihatan sehat. Kurus sedikit, tapi matamu cerah."

Arya meraih tangan istrinya yang dingin melalui celah jeruji besi. Sentuhan itu mengirimkan aliran listrik hangat ke seluruh tubuhnya. "Aku baik-baik saja, Sayang. Jangan khawatir. Kamu nggak perlu datang tiap hari, nanti kamu sakit. Urusan kantor dan proyek gimana?"

"Beres semua, Mas. Hendra dan tim solid banget. Kemarin kita baru tanda tangan kontrak lanjutan dengan investor Malaysia. Mereka bilang, 'Integritas Pak Arya yang masuk penjara justru membuat kami makin yakin investasi kami aman'." Nadia tertawa kecil, tawa renyah di tengah ketegangan sidang. "Lihat kan? Allah itu Maha Pembolak-balik hati."

"Syukurlah," Arya menghela napas lega. "Terus, anak-anak santri di Green Valley?"

"Mereka kirim surat buat kamu, Mas," Nadia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna-warni. "Ini dari Irfan dan teman-temannya. Mereka gambar kamu pakai baju narapidana tapi punya sayap malaikat. Lucu sekali. Nanti kalau diperbolehkan, akan saya selipkan ke barang bawaanmu."

Air mata Arya menetes. "Terima kasih, Nd. Surat itu lebih berharga daripada dokumen kontrak apapun bagiku."

"Tahan sebentar lagi, Mas. Pengacara bilang kemungkinan besar hakim akan mengabulkan penahanan kota atau rumah dengan pengawasan ketat mengingat sikap kooperatif kita dan risiko penerbangan yang rendah. Kita punya harapan besar untuk keluar sore ini," bisik Nadia memberikan semangat.

"Jika belum rejeki keluar hari ini, itu artinya Allah masih ingin saya belajar banyak di sana. Saya pasrah," jawab Arya mantap.

Mereka dipisahkan oleh petugas. "Terpidana dan tersangka segera masuk ruang sidang! Keluarga tinggal di luar!"

Arya menoleh sekali lagi, memberikan senyum terakhir pada Nadia sebelum digiring masuk ke dalam gedung pengadilan yang dingin dan megah. Ruang sidang Tipikor dipenuhi orang. Kursi penonton penuh sesak oleh mahasiswa, aktivis, wartawan, dan masyarakat umum yang penasaran. Sorotan mata ratusan orang tertuju pada Arya dan Pak Gunawan saat mereka berjalan tertatih menuju kursi terdakwa di tengah ruangan, diapit oleh pengacara mereka.

Hakim ketua, seorang pria paruh baya dengan wajah tegas dan kacamata tebal, mengetuk palu. "Sidang praperadilan mengenai sah atau tidaknya penetapan tersangka dan penahanan terhadap Sdr. Arya Wiguna dan Sdr. Gunawan Wijaya, dibuka. Sidang terbuka untuk umum."

Proses pembacaan dakwaan berlangsung alot. Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan pasal-pasal dengan nada datar namun menusuk, menekankan besarnya kerugian negara dan dampak sosial dari korupsi perizinan lahan tersebut. Setiap kata yang keluar seolah menghujam dada Arya, mengingatkan kembali pada dosa-dosa masa lalu yang pernah ia coba lupakan.

Namun, giliran pengacara Arya membacakan pledoi awal membawa angin segar. Dengan data dan argumen kuat, pengacara menegaskan bahwa klien mereka telah melakukan self-reporting, menyerahkan bukti lengkap, mengembalikan aset melebihi nilai kerugian, dan sama sekali tidak mencoba menghilangkan barang bukti atau melarikan diri.

"Majelis Hakim yang terhormat," seru pengacara itu lantang. "Menahan klien kami yang telah menunjukkan itikad baik luar biasa ini adalah tindakan yang tidak proporsional. Mereka bukan ancaman bagi masyarakat. Ancaman sesungguhnya adalah jika kita membiarkan budaya tutup-tutupan terus berlanjut. Dengan membebaskan mereka dengan pengawasan ketat, kita justru mengirim pesan bahwa kejujuran dihargai oleh hukum Indonesia."

Sesi berikutnya adalah keterangan saksi. Beberapa saksi ahli dari KPK dihadirkan, dan secara mengejutkan, mereka memberikan kesaksian yang menguntungkan Arya. "Tersangka Arya Wiguna sangat kooperatif. Tanpa bantuannya, kami mungkin butuh waktu tahunan untuk membongkar kasus ini. Sikapnya revolusioner dalam sejarah penanganan kasus korupsi korporasi," ujar salah satu penyidik senior.

Siang berganjing sore. Perut Arya mulai keroncongan, tapi pikirannya fokus pada vonis yang akan segera dibacakan. Pak Gunawan di sebelahnya tampak semakin gelisah, tangannya terus-menerus meremas ujung sarungnya.

"Mohon semua berdiri," perintah Hakim Ketua. Ruangan hening seketika. Bahkan para wartawan pun menahan napas, jari-jari mereka siap di atas tombol record ponsel.

"Dalam pertimbangan hukum..." suara Hakim bergema, "...Mahkamah menilai bahwa alasan penahanan sebagaimana diajukan oleh Termohon (KPK) telah berkurang signifikansinya mengingat sikap kooperatif Para Pemohon. Risiko pengulangan tindak pidana dinilai rendah. Oleh karena itu, Mahkamah mengabulkan gugatan praperadilan sebagian. Penahanan badan terhadap Sdr. Arya Wiguna dan Sdr. Gunawan Wijaya dinyatakan tidak sah lagi, dan diganti dengan Penahanan Rumah dengan pengawasan elektronik (house arrest) selama proses penyidikan berlanjut

BLAM! Palu diketuk.

Untuk sedetik, Arya tidak bereaksi. Otaknya seolah blank. Lalu, perlahan, realitas itu meresap. Ia tidak perlu kembali ke sel malam ini. Ia bisa pulang. Bisa memeluk Nadia tanpa kaca pembatas. Bisa tidur di kasurnya sendiri.

Pak Gunawan langsung jatuh terduduk, menangis tersedu-sedu sambil mengucapkan syukur berulang-ulang. Pengacara mereka saling berpelukan. Di bangku penonton, sorak sorai pecah. Tepuk tangan riuh rendah memenuhi ruangan, sesuatu yang sangat jarang terjadi di pengadilan tipikor.

Arya berdiri perlahan, kakinya masih gemetar. Ia menatap Hakim, lalu membungkuk hormat dalam-dalam. "Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih atas kepercayaan hukum pada niat baik kami."

Saat mereka digiring keluar ruang sidang, atmosfer di lorong pengadilan berubah total. Bukan lagi tatapan sinis atau marah, melainkan pandangan hormat dan lega. Wartawan menyerbu lagi, tapi kali ini pertanyaannya lebih positif.

"Pak Arya, apa rencana pertama Anda setelah bebas?"

"Akan lanjut kerja lagi?"

Arya tersenyum, keringat dingin di dahinya mulai mengering. "Rencana pertama saya adalah salat Syukur berjamaah dengan istri saya. Lalu, saya akan kembali bekerja, tapi dengan cara yang lebih hati-hati, lebih transparan, dan lebih bermanfaat. Korupsi adalah luka, dan kami sedang dalam proses penyembuhan. Mohon doakan lukanya cepat kering."

Di pintu keluar gedung, Nadia sudah menunggu dengan mata basah bahagia. Saat pintu terbuka dan Arya melangkah keluar (masih dengan rantai kaki dan pengawalan, tapi statusnya sudah berubah), Nadia tidak tahan lagi. Ia berlari kecil dan memeluk erat suaminya, mengabaikan protokol dan flash kamera yang mengabadikan momen haru itu.

"Alhamdulillah, Mas... Alhamdulillah..." isak Nadia di bahu Arya.

Arya membalas pelukan itu, menutup matanya, merasakan kehangatan tubuh istrinya yang selama ini ia rindukan. "Iya, Nd. Kita pulang. Kita pulang."

Mereka berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan, didampingi Pak Gunawan yang kini tampak jauh lebih ringan langkahnya. Di sepanjang jalan menuju parkiran, orang-orang yang mereka lewati—mulai dari satpam, petugas kebersihan, hingga pengunjung pengadilan—memberikan salam dan acungan jempol.

"Semangat, Pak Arya!" teriak seorang mahasiswa.

"Terima kasih sudah jadi contoh keberanian, Pak!" seru seorang ibu-ibu.

Arya mengangguk dan tersenyum pada mereka semua. Ia sadar, kemenangan hari ini bukan sekadar kebebasan fisik. Ini adalah kemenangan narasi. Bahwa di Indonesia, masih ada ruang untuk taubat. Bahwa hukum bisa memiliki wajah manusiawi bagi mereka yang berani jujur.

Saat mobil mulai melaju meninggalkan gedung pengadilan, Arya menatap ke belakang. Gedung megah itu perlahan mengecil di spion. Ia meninggalkan bagian gelap dari hidupnya di sana, di ruang sidang yang dingin itu. Kini, ia melangkah menuju babak baru: kehidupan di bawah pengawasan rumah, di mana ia harus membuktikan setiap harinya bahwa kebebasannya tidak disalahgunakan.

"Mau langsung ke rumah atau mampir ke masjid dulu untuk salat Syukur, Mas?" tanya sopir pengawal dengan ramah.

"Ke masjid dulu, Pak," jawab Arya tegas. "Kita harus uruskan hak Tuhan dulu sebelum hak manusia."

Mobil berbelok menuju masjid terdekat. Langit Jakarta sore itu berwarna ungu kemerahan, indah sekali. Arya menggenggam tangan Nadia erat-erat. Perjalanan mereka masih panjang. Proses hukum belum selesai, stigma masyarakat mungkin masih ada, dan tantangan membangun kembali kepercayaan akan sangat berat.

Tapi Arya Wiguna tidak gentar. Ia telah melewati api ujian, dan kini ia keluar sebagai emas yang murni. Bersama Nadia, bersama Pak Gunawan yang telah berubah, dan bersama dukungan rakyat kecil yang tulus, ia siap menulis bab-bab selanjutnya dari kisah hidupnya. Kisah yang bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang perjuangan terus-menerus untuk menjadi lebih baik.

Dan di sudut hatinya, Arya berjanji: kebebasan yang ia dapatkan hari ini akan ia gunakan sepenuhnya untuk menebus dosa-dosa masa lalu, satu kebaikan demi satu kebaikan, hingga napasnya yang terakhir.

[BERSAMBUNG]

1
Uking
semangat thor😍
Jesa Cristian: iya makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!