NovelToon NovelToon
Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi / Time Travel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Calista F.

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Profesor Rowan membawa Freya keluar dari lorong bawah tanah beberapa menit setelah area itu akhirnya dinyatakan aman.

Atau setidaknya… cukup aman untuk tidak langsung meledak lagi.

Langkah kaki mereka bergema pelan di koridor batu akademi yang sunyi. Udara malam masih terasa dingin. Dan semakin lama mereka berjalan, semakin tidak nyaman perasaan Freya.

Karena di sepanjang perjalanan, Profesor Rowan hanya diam membisu.

Dan diamnya profesor tua itu jauh lebih menyeramkan daripada ceramah panjang.

"...Profesor," panggil Freya hati-hati.

"Hm?"

"Apa saya akan dikeluarkan dari akademi?"

Profesor Rowan meliriknya datar. "Kenapa kesimpulanmu langsung ke sana?"

"Karena biasanya kalau karakter mulai punya kekuatan misterius, hidupnya langsung hancur."

"...Aku tidak mengerti maksud setengah dari perkataanmu."

"Itu normal."

Freya memeluk dirinya sendiri pelan sambil berjalan.

Kepalanya masih sedikit sakit sejak kilasan memori tadi muncul. Dan semakin ia mencoba mengingatnya… semakin samar semuanya terasa.

Api merah.

Tangisan.

Langit gelap.

Dan suara perempuan itu.

"Jangan biarkan api itu memakanmu."

Freya menggigit bibir bawahnya pelan.

Crimson Valkyrie yang tergantung di pinggangnya tiba-tiba bersinar redup. "Kau takut."

Freya menghela napas kecil dalam hati. 'Ya iyalah.'

"Bagus."

'Kenapa semuanya bilang takut itu bagus sih?'

"Karena orang yang tidak takut pada kekuatan besar biasanya berakhir bodoh."

'...Masuk akal.'

Dan itu menyebalkan.

Tidak lama kemudian, Profesor Rowan berhenti di depan sebuah pintu besar di bagian terdalam akademi.

Pintu itu berbeda dari ruangan lain. Terbuat dari logam hitam tua dengan ukiran lingkaran sihir rumit di seluruh permukaannya.

Freya langsung merinding sedikit. "...Ini tempat apa?"

"Arsip lama Starfell."

Profesor Rowan mengangkat tangannya.

WHOOOOSH.

Lingkaran sihir perak muncul di pintu sebelum perlahan terbuka.

CREAK.

Udara dingin langsung menyambut mereka. Freya melangkah masuk perlahan. Dan matanya langsung membelalak kecil.

Ruangan itu sangat besar. Rak-rak buku tinggi memenuhi seluruh dinding. Gulungan kuno, dokumen tua, dan artefak lama tersimpan rapi di mana-mana.

Di tengah ruangan berdiri bola kristal besar yang memancarkan cahaya biru redup.

Dan entah kenapa… tempat itu terasa sangat tua.

Profesor Rowan berjalan pelan menuju salah satu rak paling belakang.

"Keluarga Vane," katanya tiba-tiba.

Freya langsung menegang.

"Adalah salah satu keluarga tertua di kerajaan."

"...Aku tahu bagian itu."

"Tapi yang tidak diketahui banyak orang..." Profesor Rowan menarik sebuah buku tua tebal dari rak. "...adalah alasan keluarga itu ditakuti."

Freya menelan ludah.

Buku tua itu diletakkan di meja besar depan mereka. Debunya langsung beterbangan.

Freya batuk kecil. "Buku ini lebih tua dari trauma saya."

Profesor Rowan mengabaikannya lalu membuka halaman demi halaman perlahan. Dan di salah satu halaman, Freya membeku.

Karena ada lambang yang sama persis dengan simbol api di Crimson Valkyrie.

Api merah dengan bentuk menyerupai sayap.

"The Crimson Flame," ujar Profesor Rowan pelan.

Suasana ruangan langsung terasa lebih berat.

"Itu bukan sekadar elemen api biasa."

Tatapan pria tua itu serius sekarang.

"Itu adalah api pemusnah corruption."

DEG.

Jantung Freya berdetak sedikit lebih cepat.

Profesor Rowan melanjutkan.

"Ratusan tahun lalu, saat corruption pertama kali muncul di benua ini… keluarga Vane menjadi garis pertahanan terdepan."

Freya diam mendengarkan.

"Api Crimson mampu membakar corruption sampai ke inti mana mereka. Itulah alasan monster-monster tadi bereaksi pada apimu."

Freya menatap buku tua itu pelan.

"...Kalau itu kekuatan bagus… kenapa semua orang terdengar takut saat menyebutnya?"

Hening.

Profesor Rowan menutup bukunya perlahan. "Karena kekuatan itu akhirnya lepas kendali."

Bulu kuduk Freya langsung berdiri.

"Pemilik Crimson Flame terakhir..." suara Profesor Rowan sedikit lebih pelan sekarang. "...menghanguskan satu kota penuh."

Hening.

Freya membeku total. "...Hah?"

"Insiden itu dikenal sebagai Tragedi Vernholt."

Freya langsung merasa tenggorokannya kering.

"Ribuan orang meninggal."

"..."

"Dan sejak hari itu, Crimson Flame mulai dianggap kutukan."

Ruangan langsung terasa jauh lebih dingin. Freya perlahan menunduk melihat tangannya sendiri. Tangannya yang tadi mengeluarkan api merah itu.

"...Pemilik terakhirnya siapa?" tanyanya pelan.

Profesor Rowan diam beberapa detik. Lalu...

"Lyra Vane."

DEG.

Entah kenapa nama itu terasa familiar di dada Freya.

"Dia..." Profesor Rowan menatap Freya lurus. "...adalah bibimu."

Hening.

Freya langsung blank.

"...Bibiku?"

"Kakak perempuan ayahmu."

Freya menatap kosong beberapa detik. Lalu...

"Tunggu." Freya mengangkat tangan pelan. "Aku punya bibi final boss?"

Profesor Rowan memijat pelipisnya.

"Aku benar-benar tidak mengerti cara bicaramu."

Namun Freya sudah mulai panik sendiri. 'OH GILA. JANGAN-JANGAN FREYA ASLI MEMANG PUNYA GARIS KETURUNAN VILLAIN.'

Crimson Valkyrie bersinar redup. "Lyra bukan villain."

Freya langsung menegang sedikit. 'Kau kenal dia?'

"...Ya."

Untuk pertama kalinya… suara Crimson Valkyrie terdengar jauh lebih lembut dibanding biasanya. "Dia pemilikku sebelumnya."

Freya langsung membelalak. "HAAAAAH?"

Profesor Rowan mengernyit. "Kenapa kau berteriak?"

"Tidak ada apa-apa."

Freya langsung panik dalam hati. 'KENAPA BARU BILANG SEKARANG?'

"Kau tidak pernah bertanya."

'AKU GAK TAHU HARUS NANYA APA.'

Crimson Valkyrie diam beberapa detik. Lalu... "Lyra Vane bukan monster."

Freya sedikit membeku.

"Dia..." suara artefak itu terdengar jauh lebih pelan sekarang. "...orang yang sangat hangat."

Entah kenapa… dada Freya terasa sedikit sesak mendengar itu.

Profesor Rowan berjalan menuju jendela besar ruangan.

"Setelah tragedi Vernholt, keluarga kerajaan menyegel seluruh catatan tentang Crimson Flame."

Tatapannya tajam.

"Dan sekarang kekuatan itu muncul lagi padamu."

Freya menggigit bibir bawahnya pelan. "...Kalau aku kehilangan kendali juga?"

Pertanyaan itu keluar lebih pelan dari yang ia kira.

Hening memenuhi ruangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Freya benar-benar takut pada dirinya sendiri.

Profesor Rowan memperhatikannya beberapa saat. Lalu berkata tenang, "Itu tergantung padamu."

"..."

"Kekuatan tidak menentukan seseorang menjadi monster."

Tatapannya sedikit melunak. "Pilihan mereka sendiri yang menentukan."

Freya menunduk pelan. Dan anehnya… kalimat itu justru membuat dadanya terasa lebih berat.

Karena artinya semua benar-benar ada di tangannya sekarang.

TOK TOK TOK.

Ketukan pintu tiba-tiba memecah suasana.

Profesor Rowan mengangkat alis sedikit. "Masuk."

CREAK.

Pintu terbuka perlahan. Dan Freya langsung membeku.

Zevian masuk ke ruangan itu sambil membawa beberapa dokumen.

Rambut hitamnya masih sedikit berantakan dari pertarungan tadi. Mantel gelapnya juga terkena sedikit debu.

Namun seperti biasa… pria itu tetap terlihat terlalu sempurna untuk kesehatan mental Freya.

Tatapan biru gelap Zevian langsung jatuh pada Freya. "...Kau masih di sini."

Freya refleks duduk lebih tegak. "Aku juga baru tahu."

"...?"

"Tidak penting."

Zevian berjalan mendekat lalu menyerahkan dokumen pada Profesor Rowan. "Kami menemukan simbol yang sama di area segel bawah tanah."

Profesor Rowan langsung membaca cepat. Ekspresinya berubah lebih serius. "Seperti dugaanku..."

Freya langsung stres lagi. 'Aku gak suka kalimat itu.'

Zevian melirik Freya sekilas. Dan entah kenapa… tatapannya sedikit berubah saat melihat ekspresi gadis itu.

"...Kau pucat."

Freya langsung refleks menutupi wajahnya sendiri. "Aku habis dapat DLC trauma keluarga."

"...Aku tidak mengerti."

"Itu normal."

Untuk sepersekian detik… sudut bibir Zevian bergerak tipis. Kecil sekali. Namun Freya tetap melihatnya.

DEG.

Jantungnya langsung aneh lagi. 'YA TUHAN DIA HAMPIR SENYUM.'

Crimson Valkyrie langsung menyela datar. "Kendalikan dirimu."

'AKU SUDAH COBA.'

Sementara itu Profesor Rowan kembali berbicara serius. "Mulai sekarang, Freya akan berada dalam pengawasan khusus."

Freya langsung menoleh cepat. "...Hah?"

"Kalau corruption benar-benar memburumu karena Crimson Flame..." tatapan pria tua itu tajam. "...maka keselamatanmu juga menjadi keselamatan akademi."

Freya langsung merasa terbebani. "Jadi saya tahanan sekarang?"

"Bukan."

"...Semi tahanan?"

Profesor Rowan menghela napas panjang.

Zevian tiba-tiba bicara. "Aku akan mengawasinya."

Hening.

Freya membeku.

Profesor Rowan terlihat berpikir beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan. "...Baik."

Setelah itu Profesor Rowan pergi meninggalkan Freya dan Zevian berdua di ruangan itu.

Setelah kepergian Profesor Rowan, Freya baru sadar akan keterkejutannya dan langsung menunjuk dirinya sendiri panik. "TUNGGU. KENAPA JADI GINI?"

Zevian menatapnya datar. "Kau target utama corruption."

"Itu bukan alasan buat ngajak tinggal serumah kan."

"...Siapa yang bilang tinggal serumah?"

Freya langsung diam.

"...Oh."

Hening.

Anehnya… telinga Zevian terlihat sedikit merah sekarang.

Freya langsung panik dalam hati. 'ASTAGA AKU BARUSAN NGOMONG APA.'

Untungnya sebelum suasana makin memalukan...

BRAK.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka keras.

Ares muncul sambil membawa kantong makanan seperti biasa.

Dan seperti biasa… timing pria itu selalu buruk.

"Wah." Tatapannya langsung berpindah antara Freya dan Zevian. "Aku mengganggu sesuatu?"

"YA."

"Tidak."

Freya dan Zevian menjawab bersamaan.

Hening.

Lalu Ares tertawa kecil. "Aku suka dinamika kalian."

Freya langsung memegangi wajahnya sendiri. 'Aku ingin pindah dunia lagi.'

1
aku
lagi 😁
aku
😭😭 alasan nmr 83 😭😭 🤣🤣🤣no.1 nya cembokurr 🤣🤣
aku
mulai mekar kah bunga asmara pangeran?? 😁
aku
🤣🤣🤣🤣 jlebbb 🤣🤣🤣
aku
aduduh,ngabrut 🤣🤣🤣 seminar ekonomi 🤣🤣🤣
aku
jangan2 si ares kyk emaknya 🤣
frina ayu: faktor genetik kak 😭
total 1 replies
paijo londo
lyra dulu meninggal karena TDK ada yg membantu untuk menutup gerbangnya hingga mengambil nyawanya sedangkan Freya mulai banyak yg munyukainya hingga tanpa ragu berani mengorbankan nyawanya untuk Freya 💪freya
paijo londo
celetukan Freya bikin Ares suka ketawa
paijo londo
frey lucu ya kalo ngumpat dalam hati kita yg baca jadi ketawa ngakak 🤣🤣
aku
kok kesian sm monster2 nya 😭😭
aku
res, lu lama2 gue gibeng jg. bkin reader kepo maksimal. 😭😭 agk curiga tp jg menghibur 🤣
aku
ceileeeehhh terkesimo kah kau frey 😌😌
aku
ares, lama2 kau makin mengerikan 😭😭
aku
selamatkan jantungmu frey 🤣🤣
aku
bnr, tidak fantassttt ish ish ish 😌😌🤣🤣
aku
ceplas ceplos dn bar bar kah aslinya ra??? 🤣🤣🤣
frina ayu: asbun kak dia🤣
total 1 replies
aku
heh 🤣🤣 nyukurin yg asli mati duluan 🤣🤣 astagaa
frina ayu: takutnua kalo gak dimatiin nanti rebutan tubuh kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!