NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkas Rahasia dari Masa Lalu

​Keheningan malam di mansion Upper-Chrome terasa lebih mencekam setelah kepergian Prilly yang penuh amarah. Geovani tidak berada di kamarnya, melainkan mengurung diri di ruang kerja yang terhubung langsung dengan server pusat Rumah Sakit Etheria. Cahaya biru dari monitor memantul di kacamata peraknya, mempertegas garis wajahnya yang kaku dan penuh konsentrasi.

​Jemarinya menari di atas papan ketik virtual, menembus lapisan keamanan siber yang berlapis-lapis. Sebagai kepala bedah saraf sekaligus pemegang saham besar, ia memiliki otoritas akses yang luas, namun arsip medis dua puluh tahun lalu tetaplah area yang sensitif. Ia sedang mencari satu nama spesifik yang terus menghantui pikirannya sejak melihat reaksi emosional Briella tempo hari.

​"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu di balik sejarah medis distrik bawah ini, Adijaya," gumam Geovani dengan suara rendah yang bergetar karena ambisi.

​Matanya menangkap sebuah folder terenkripsi dengan kode "Alpha-Sub-6" yang tersimpan di arsip terdalam laboratorium patologi. Folder itu terkunci dengan otorisasi ganda yang hanya bisa dibuka oleh direksi utama. Dengan keahlian teknis yang presisi, Geovani memasukkan kunci digital pribadinya dan memanipulasi protokol bypass sistem.

​Layar monitor berkedip sejenak sebelum menampilkan sederet dokumen digital yang menguning secara virtual. Judul dokumen itu membuat napas Geovani tertahan: Laporan Autopsi dan Analisis Genetik Pasien 099 Elena Adijaya. Itu adalah nama ibu kandung Briella, wanita yang selama ini dianggap sebagai aib keluarga oleh lingkaran sosial mereka.

​"Elena Adijaya. Diagnosis resmi: Gagal saraf progresif akibat komplikasi kehamilan," Geovani membaca baris pertama dengan kening berkerut.

​Ia terus menggulir layar ke bawah, menembus rincian teknis yang membosankan hingga ia menemukan lampiran tes DNA yang dilakukan saat Briella lahir. Ada sebuah catatan kecil di pojok kanan bawah berkas tersebut, sebuah tanda tangan digital yang sangat ia kenali. Itu adalah tanda tangan ayah Prilly, direktur utama yang mengawasi laboratorium patologi saat itu.

​Geovani memperbesar grafik sekuens DNA dalam laporan tersebut dan membandingkannya dengan data terbaru yang ia ambil dari darah Briella. Matanya yang terlatih segera menangkap kejanggalan yang sangat mencolok. Ada perbedaan pola alel pada lokus tertentu yang secara biologis tidak mungkin berubah seiring bertambahnya usia manusia.

​"Ini tidak mungkin. Data DNA dalam arsip ini menunjukkan Briella bukan anak kandung Elena dengan suaminya," bisik Geovani sambil memijat pelipisnya.

​Namun, saat ia meneliti lebih dalam pada log perubahan data, ia menemukan jejak akses ilegal tepat dua jam sebelum laporan itu dipublikasikan dua dekade lalu. Seseorang telah masuk ke dalam sistem dan melakukan penyuntingan manual pada baris kode genetik tersebut. Ini bukan sekadar kesalahan medis, melainkan sebuah manipulasi sistematis yang sangat rapi.

​Suara langkah kaki yang pelan di koridor membuat Geovani segera menutup jendela pencarian tersebut. Ia mematikan monitor utama tepat saat pintu ruang kerja terbuka sedikit. Briella berdiri di sana dengan jubah tidur tipis, wajahnya masih menyisakan bekas lebam yang mulai membiru akibat tamparan Prilly siang tadi.

​"Kau masih bangun? Kenapa kau tidak beristirahat?" tanya Geovani, suaranya kembali datar dan dingin seolah tidak terjadi apa-apa.

​Briella melangkah masuk, aroma lavender dari sabun mandinya memenuhi ruangan yang biasanya berbau kertas dan kopi. "Aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat wajah Prilly dan mendengar kata-katanya. Apa yang sedang kau cari di tengah malam begini?"

​"Hanya beberapa laporan rumah sakit yang tertunda karena drama siang tadi," jawab Geovani sambil menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang mewah.

​Briella mendekat ke meja kerja, matanya yang tajam menatap ke arah monitor yang kini gelap. "Kau berbohong. Kau selalu berbohong untuk menutupi sesuatu yang besar. Apakah ini ada hubungannya dengan investigasi medis terhadap ibuku yang kau katakan kemarin?"

​Geovani terdiam, menimbang-nimbang apakah ia harus memberitahu Briella tentang temuannya sekarang atau menunggu hingga ia mendapatkan bukti yang lebih konkret. Ia menatap Briella, melihat kemarahan yang masih berkobar di balik matanya yang letih. Gadis ini membutuhkan sesuatu untuk menghancurkan musuhnya, dan berkas ini adalah kuncinya.

​"Duduklah, Briella. Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang arsip rumah sakit yang baru saja kubongkar," ujar Geovani akhirnya, memberikan isyarat agar Briella duduk di kursi di depannya.

​Briella duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. "Apa yang kau temukan? Apakah itu tentang penyakitnya? Atau tentang alasan kenapa keluarga Adijaya memperlakukannya seperti sampah?"

​"Lebih dari sekadar penyakit. Aku menemukan catatan medis ibumu yang dikunci di arsip terlarang Upper-Chrome. Ada kejanggalan fatal dalam tes DNA masa lalu yang menentukan statusmu sebagai 'darah kotor' di keluarga itu," jelas Geovani dengan nada yang sangat serius.

​"Kejanggalan? Apa maksudmu? Ayah Prilly sendiri yang membawa hasil tes itu dan mengusir kami ke gudang bawah tanah," suara Briella mulai bergetar, bayangan masa kecilnya yang kelam kembali muncul.

​Geovani memutar monitor kembali ke arah Briella dan menampilkan grafik yang tadi ia temukan. "Hasil tes DNA yang digunakan untuk mengusirmu telah dimanipulasi. Seseorang mengubah data aslinya di server laboratorium agar kau terlihat seperti anak dari hasil perselingkuhan ibumu."

​Briella menatap grafik itu dengan pandangan kosong, otaknya mencoba memproses informasi yang baru saja ia dengar. "Jadi ... ibuku tidak pernah mengkhianati keluarganya? Dia mati dalam kehinaan karena sebuah laporan palsu?"

​"Sepertinya begitu. Dan orang yang melakukan otorisasi pada perubahan data tersebut adalah ayah Prilly sendiri. Dia memiliki kendali penuh atas laboratorium patologi saat itu," tambah Geovani, memperhatikan reaksi Briella dengan saksama.

​Air mata mulai mengalir di pipi Briella, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena kemarahan yang meledak-ledak. Ia menggenggam pinggiran meja mahogani itu hingga buku jarinya memutih. Kebenaran ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan mana pun yang pernah ia terima dari Prilly.

​"Mereka membunuhnya. Mereka menghancurkan hidupnya dan hidupku hanya demi sebuah posisi di keluarga Adijaya!" teriak Briella, suaranya pecah di tengah kesunyian ruangan.

​"Tenanglah, Briella. Teriakkanmu tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi dua puluh tahun lalu," tegur Geovani, meski ia bangkit dan berjalan ke arah Briella untuk menenangkan gadis itu.

​"Bagaimana aku bisa tenang? Selama ini aku hidup dalam rasa malu karena mengira ibuku adalah wanita yang tidak setia! Aku membiarkan mereka menyiksaku karena aku merasa pantas mendapatkannya!" Briella berdiri dan mulai mondar-mandir di ruangan tersebut.

​Geovani menangkap lengan Briella, menghentikan gerakannya yang tidak stabil. "Gunakan kemarahan ini untuk rencana kita. Berkas ini adalah bukti awal bahwa ada konspirasi besar yang melibatkan ayah Prilly. Jika kita bisa membuktikan manipulasi ini secara hukum, posisi mereka akan hancur."

​"Hukum? Hukum di Etheria berpihak pada mereka yang punya uang, Geovani! Kau tahu itu lebih baik dariku!" balas Briella sambil menepis tangan Geovani dengan kasar.

​"Itulah sebabnya kau memilikiku. Aku punya uang, aku punya pengaruh, dan sekarang aku punya bukti. Tapi aku butuh kau untuk tetap tenang dan mengikuti instruksiku," Geovani menatap tajam ke dalam mata Briella, mencoba menyalurkan otoritasnya.

​Briella mengatur napasnya, mencoba menekan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia menatap kembali ke layar monitor, melihat nama ibunya yang tercetak di sana. Rasa benci yang selama ini ia arahkan pada dirinya sendiri kini sepenuhnya berpindah kepada keluarga Adijaya.

​"Apakah ada lagi yang kau temukan? Tentang bagaimana ibuku benar-benar meninggal?" tanya Briella dengan nada yang lebih dingin dan terkontrol.

​Geovani kembali duduk di belakang mejanya. "Masih banyak data yang harus didekripsi. Tapi satu hal yang pasti, ada jejak zat kimia dalam laporan autopsinya yang tidak pernah dilaporkan ke publik. Aku menduga kematiannya bukan karena gagal saraf alami."

​"Racun? Apakah mereka meracuninya?" tanya Briella dengan nada yang penuh kengerian.

​"Aku belum bisa memastikannya tanpa data laboratorium yang asli. Tapi jangan khawatir, aku akan menemukan semuanya. Tidak ada rahasia yang bisa bersembunyi selamanya dari pisau bedahku, termasuk rahasia keluarga tunanganku," ujar Geovani dengan senyum tipis yang mematikan.

​Briella merasa seolah seluruh dunianya baru saja dijungkirbalikkan. Kebenaran tentang ibunya adalah senjata paling mematikan yang pernah ia pegang. Ia memandang Geovani bukan lagi sekadar sebagai penculik, melainkan sebagai sekutu gelap yang akan membantunya membakar seluruh kerajaan keluarga Adijaya.

​"Simpan berkas itu baik-baik, Geovani. Aku ingin mereka melihatnya tepat saat mereka merasa berada di puncak dunia," bisik Briella, suaranya terdengar seperti janji kematian.

​Geovani mengangguk, ia menyimpan kembali dokumen tersebut ke dalam drive terenkripsi yang sangat aman. "Kembalilah ke kamarmu. Kita akan melanjutkan ini besok. Ingat, jangan tunjukkan perubahan apa pun jika Prilly atau ayahnya mencoba menghubungimu."

​"Aku tidak akan menunjukkan apa pun kecuali kehancuran mereka," sahut Briella sebelum berbalik dan keluar dari ruangan tersebut dengan langkah yang lebih mantap.

​Geovani menatap pintu yang tertutup, lalu kembali menatap monitor yang kini sudah mati. Ia menyadari bahwa ia baru saja membuka kotak Pandora yang tidak hanya akan menghancurkan keluarga Adijaya, tetapi juga bisa menyeret dirinya sendiri ke dalam kegelapan. Namun, obsesinya pada Briella dan rahasia medis ini jauh lebih besar daripada rasa takutnya akan konsekuensi sosial.

​Di dalam kegelapan koridor, Briella bersandar di dinding, merasakan detak jantungnya yang penuh dengan rencana balas dendam. Berkas rahasia dari masa lalu itu telah memberinya alasan baru untuk bertahan hidup. Ia bukan lagi mahasiswi yatim piatu yang malang, ia adalah pewaris sah yang sedang menunggu waktu untuk merebut kembali segalanya.

​Malam itu, di bawah atap mansion mewah yang dingin, dua orang dengan ambisi yang berbeda namun tujuan yang searah mulai merajut benang-benang kehancuran bagi penguasa Etheria. Berkas medis yang menguning itu telah menjadi api yang siap melahap siapa saja yang berani bermain-main dengan kebenaran masa lalu.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!