Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Menahan Diri
Restu benar-benar menahan diri sekuat tenaga. Ia membiarkan semua hujatan dan sikap tidak sopan anak-anaknya yang meluncur begitu saja, seolah air yang mengalir di atas daun talas.
Maya, si bungsu yang manja, mendengus kesal sambil melempar tasnya ke sofa sambil melihat papanya ini
"Dasar Papa pelit! Kenapa sih Papa tidak punya mobil sendiri?! Kemarin-kemarin Maya disuruh naik ojek online, sopirnya galak kalau Maya minta tunggu atau minta belikan es krim! Kalau diantar Papa kan enak, Maya bisa marah-marah, bisa bentak-bentak kalau jalannya lambat, bisa suruh beli ini itu sesuka hati! Papa tuh tidak ngertiin keinginan anak sendiri!"
"Oh begitu ya?, jadi niatmu begitu ya"
Restu memijat pelipisnya. Hati mana yang tidak perih mendengar ucapan anak kandung sendiri menganggap ayahnya lebih rendah dari ojek online, hanya karena bisa dibentak-bentak seenaknya.
'Ternyata selama ini aku dianggap seperti itu...'
Batin Restu perih, namun ia tetap diam. Ia tidak membalas sepatah kata pun dan hal ini malah membuatnya tidak ingin membeli motor atau mobil untuk sementara ini agar anaknya bisa belajar untuk menghargai orang lain mulai dari sekarang
Belum selesai urusan dengan Maya, Meisya mendekat dengan wajah cemberut yang lebih parah. Ia meletakkan ponselnya di meja tepat di hadapan Restu.
"Pa, transfer lagi dong 3 juta. Teman-teman sekelas pada mau touring ke luar kota, aku mau ikut. Lagian tadi kan Papa transfer uang UKT lancar banget, berarti Papa kan ada uang lebih kan?"
"Tapi Mei... itu kan uang khusus buat bayar kuliah...jadi apapun ceritanya akan papa usahakan dengan cara berhutang tapi untuk kebutuhan selain kuliah maka papa tidak bisa....."
coba Restu bersuara pelan mencoba mengingatkan anaknya tentang apa arti kebutuhan walaupun pelan tapi sudah membuat Meisya kesal
"Ah apa sih Pa! Paling juga cuma minta dikit! Papa kan bilang honor naik! Masa buat anak sendiri pelit banget sih?! Orang tua lain pada royal, masa Papaku cuma pelit! Pokoknya aku mau uangnya sekarang juga! Kalau tidak ada, berarti Papa pelit dan tidak sayang sama aku!"
Paksa Meisya dengan nada meninggi, matanya melotot tak hormat layaknya memerintah pembantu.
Restu menghela napas panjang. Ia tahu, kalau ia melawan atau marah sekarang, pasti ia yang akan dianggap papa yang durhaka, dianggap ayah yang tidak bertanggung jawab, dan dianggap yang paling salah di rumah ini. Jadi ia memilih untuk tetap menelan pil pahit itu sendirian. Diam adalah cara terbaik untuk saat ini.
Tiba-tiba Rina, istrinya, datang dengan wajah curiga dan tajam. Ia duduk tepat di hadapan Restu, menatap lekat-lekat.
"Pa, sekarang kamu jujur sama aku. Uang sebanyak itu dari mana sebenarnya? Jangan bilang cuma naik jabatan doang! Aku tahu gaji karyawan biasa seperti kamu segimana jadinya. Tiba-tiba bisa transfer jutaan, bisa naik taksi mahal, kamu ini sebenarnya ngapain di kantor? Kamu mencuri? Atau kamu ikut judi online atau kamu sampai berhutang banyak dengan orang lain?!"
Restu menatap istrinya pelan seperti tidak menyangka kalau itu keluar dari kata-kata istrinya sendiri hingga dia harus membantahnya walaupun sebenarnya dalam hal ini sudah jujur kalau jabatannya sudah naik jadi Pemilik Perusahaan.
"Bukan ma... Papa benar dapat kenaikan jabatan. Papa sekarang dapat posisi yang lebih tinggi, jadi bonus dan tunjangannya lebih besar. Memang tidak banyak, tapi cukup untuk kebutuhan kita."
"Kurang ajar! Kamu kira aku bodoh?!" bentak Rina tidak percaya hingga dia menatap suaminya dengan rasa tidak percayanya
. "Naik jabatan apa yang gajinya bisa meledak begitu?! Jangan-jangan kamu selingkuh sama janda kaya di kantor terus kamu dipelihara hah?!. Atau kamu terlibat tindakan kriminal?!"
"Mama, jangan menuduh sembarangan..."
"Aku tidak mau tahu! Kalau kamu tidak mau jujur, besok aku akan datang langsung ke kantormu! Aku akan tanya sama teman-temanmu, sama bosmu! Aku mau buktikan omonganmu itu bener atau bohong! Kalau sampai ketahuan kamu bohong, kita cerai saja!"
Ancam Rina dengan keras lalu masuk ke kamar dan membanting pintu keras-keras.
DOR!!
Suara pintu itu bergema, seakan menghantam kesabaran Restu yang membuat dirinya hanya menahan rasa yang ada di dadanya
"Kalau aku.yang bersikap begini, aku yakin mereka akan anggap aku melalukan KDRT tapi bagaimana kalau mereka yang berbuat ini pada ku maka semuanya akan dianggap biasa karena KDRT yang dilakukan oleh wanita"
Akhirnya Restu hanya bisa terduduk lemas di ruang tamu yang gelap sendirian. Hatinya hancur lebur. Dicurigai, dimaki, dituntut, dan tidak dihargai oleh orang-orang yang paling ia sayangi padahal dia berusaha menahan diri tapi akibatnya dia yang merasa tidak kuat
'Ternyata... kasih sayang dan pengorbananku selama puluhan tahun ini tidak ada artinya ya...'
Batinnya bergetar dengan apa yang dia hadapi saat ini hingga dia mau bicara jujur sama mereka tentang siapa dirinya sesungguhnya tapi kalau dia katakan saat ini maka Maya akan bersikap semakin tidak sopan begitu juga Meisya jadi dia merasa serba salah dalam hal ini selain mengambil waktu terbaik untuk menyampaikan sampai anak dan istrinya menyadari kesalahannya.
'Mereka hanya butuh uangku, tapi tidak butuh perasaanku, tidak butuh kasih sayang ku, yang teringat adalah tuntutan saja di hati mereka atau mereka menyalahkan ku"
Restu tersenyum miris. Air matanya hampir tumpah lagi, tapi ia hapus dengan kasar karena tidak ingin ada yang melihatnya apalagi anak-anaknya saat ini walaupun mereka sudah tidak ada di ruang tamu ini lagi
'Baiklah ma... baiklah anak-anakku... Kalau kalian ingin tahu... tunggu saja saatnya tiba. Saat kebenaran terkuak, kalian akan tahu siapa sebenarnya papamu ini. Dan saat itu terjadi... lihat saja nanti, siapa yang akan berlutut memohon maaf.'
Api dendam dan tekad di dadanya semakin membara. Ia tidak akan memberi tahu mereka sekarang. Ia akan membiarkan mereka terus bersikap seperti itu, sampai hari di mana ia melepas topeng tentang dirinya sebenarnya.
"orang miskin"
Ini mungkin tergambar di benak mereka tentang papa mereka yang sudah lebih tahunan bersama mereka dari kecil sampai mereka besar saat ini.
"Papa yang tidak berguna, pelit dan apa lagi yang bisa di ucapkan anak ku"
Restu merasa tidak sabar dengan keputusan yang dia ambil untuk menahan diri hingga dia merasa bimbang dan goncang dengan apa yang telah dia lakukan
"Ya mungkin ini tergambar di istri dan anak-anak ku hingga mereka selalu menyalahkan diriku tapi suatu hari nanti, aku akan memperlihatkan wujud asli ku sebagai Raja Bisnis! yang memiliki segalanya dan menguasai ekonomi di negara Nusantara ini"
tinggalkan jejak sobat ya
makasi