Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: VONIS - NAMA SIAPA YANG SELAMAT?
Aula Ndalem Pusat. Jam 10.15. Satu ruangan nahan napas. Oksigen aja kayak mahal.
Kyai Sepuh ketok palu. "Keputusan Dewan Pengurus ..."
Tanganku dingin. Rayan genggam tanganku. Erat. Kayak takut aku ilang. Bunda Aisyah komat-kamit. Bu Romlah cs senyum menang. Ning Aliya nunduk. Tapi pundaknya naik-turun. Nangis? Atau nahan ketawa?
"Setelah mendengar keterangan, bukti, dan rekaman," kata Kyai Sepuh, "Dewan memutuskan tiga poin."
Satu aula diem. Bahkan cicak diem.
"Pertama," Kyai Sepuh ngelirik Kyai Zaid. "Dewan mencabut hak suara Kyai Zaid di Dewan Pengurus selama dua tahun. Karena terbukti menutup aib dan menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi."
JEDER.
Kyai Zaid berdiri. "INI NGGAK ADIL! SAYA KYAI SEPUH!"
"Duduk, Zaid," bentak Kyai Sepuh. "Atau saya tambah jadi lima tahun."
Kyai Zaid duduk. Banting badan. Mukanya merah kayak kepiting rebus.
Bu Romlah melongo. Spanduknya jatuh. "Loh... Loh kok?"
Aku bisik ke Rayan. "Tadz, kayaknya Ibu Romlah baru sadar dia demo buat orang yang salah."
Rayan nahan senyum. "Fokus, Zahra."
"Kedua," Kyai Sepuh lanjut. Nengok ke Ning Aliya. "Ning Aliya binti Zaid wajib meminta maaf secara terbuka ke Ustadz Rayan dan Ning Zahra. Karena terbukti menyebar fitnah dan memprovokasi kegaduhan. Serta wajib mondok lagi selama satu tahun di Ndalem Cabang, di bawah pengawasan Bu Nyai Fatimah. Biar belajar adab."
Ning Aliya angkat kepala. "Saya?! Mondok?! Di sana?!"
Bu Nyai Fatimah di pojok senyum. "Tenang, Nduk. Di tempat saya nggak ada gudang kitab buat khalwat. Adanya gudang singkong. Biar sekalian belajar buat keripik singkong."
Satu aula ngakak. Kecuali kubu Kyai Zaid. Ustadz Fadhil sampe batuk nahan tawa.
Aku bisik lagi. "Tadz, Bu Nyai Fatimah savage-nya udah level dewa."
"Ketiga," Kyai Sepuh ketok palu. Pelan. Tapi berat. "Nama Ustadz Rayan bin Abdullah bersih. Ndalem Pesantren Al-Hikmah tetap di bawah pengelolaan Ustadz Rayan. Para Dewan meminta maaf karena telah membuat gaduh tanpa tabayyun terlebih dahulu. Kasus ditutup."
Satu detik hening.
Dua detik hening.
Tiga detik...
"ALHAMDULILLAH!" Bunda Aisyah teriak pertama. Terus nangis. Mbak Yuni langsung sujud syukur di tempat. Kang Jono salto. Nggak tau gimana caranya pake sarung.
Aku? Aku lemes. Kayak abis lari maraton. Rayan narik aku berdiri. Dipeluk. Di depan 50 kyai. Di depan mantan demo. Di depan Ning Aliya yang mukanya udah kayak kesamber kulkas.
"Menang, Zahra," bisik Rayan. Suaranya serak. "Kita menang."
Aku mau nangis. Tapi malah ketawa. "Tadz, jenggot Tadz basah. Ingus apa air mata?"
Rayan ngelap jenggot. "Dua-duanya."
Kyai Zaid jalan ke depan. Semua tegang. Mau ngamuk?
Dia berhenti depan Rayan. Natap. Lama. Terus ngulurin tangan.
"Maaf," katanya. Pendek. Kayak berat banget keluar dari mulut. "Aku... khilaf. Sebagai bapak."
Rayan salaman. Nunduk. "Saya juga minta maaf, Kyai. Kalau cara saya keras."
Kyai Zaid nengok aku. Aku udah siap pasang kuda-kuda. Kalau disemprot, minimal bales pantun.
Tapi Kyai Zaid malah bilang, "Kamu... mentalmu kayak Kyai Abdullah muda dulu. Keras. Nggak bisa disetir. Pantes Rayan milih kamu."
Aku melongo. "Loh, Kyai. Ini pujian apa sindiran?"
Kyai Sepuh ketok palu. "Udah-udah. Salaman. Jangan bikin bab baru lagi."
Ning Aliya disuruh maju. Muka udah nggak karuan.
"Ma... maaf, Mbak Zahra," katanya. Lirih. "Maaf, Ustadz Rayan."
Aku liat dia. Tiga detik. Terus senyum. "Ya udah, Ning. Yang lalu biar lalu. Asal jangan diulang. Soalnya capek, Ning. Saya barista, bukan pemain sinetron. Kalau tiap bulan ada konflik, kopi di dapur bisa basi."
Satu aula ngakak lagi. Bahkan Kyai Zaid senyum tipis. Tipis banget. Kayak kerupuk masuk kena angin semaleman.
Sidang bubar.
Di parkiran, Bu Romlah nyamperin Bunda Aisyah. Nunduk.
"Bu Nyai... ngapunten. Kulo mboten ngertos. Kulo dijak rencang, diimingi sarung..."
Bunda Aisyah rangkul Bu Romlah. "Udah, Bu. Yang penting sekarang tau. Lain kali kalau mau demo, tabayyun dulu. Jangan mau dibayar sarung. Minimal kompor gas."
Aku sama Rayan ngakak dari dalem mobil.
---
Malam, Ndalem Al Hikmah rame lagi. Tapi rame syukuran. Bukan rame demo.
Tumpeng dari Bu Nyai Fatimah. Sate 200 tusuk dari Ustadz Fadhil. Humairah pidato: "Matur nuwun Bu Nyai Zahra udah ngusir orang jahat!"
Aku bisik ke Rayan. "Tadz, aku kok ngerasa baru aja lulus sidang skripsi, wisuda, sama ijab kabul kedua kalinya jadi satu."
Rayan nyuapin aku tumpeng. "Karena kamu emang hebat, Zahra. Kamu nggak cuma jagain aku. Kamu jagain nama Abah."
Aku kunyah tumpeng. Terus nengok Rayan. Serius.
"Tadz," kataku. "Janji ya. Ini konflik terakhir soal madu-maduan. Kalau ada Ning-Ning lagi yang deket, Tadz yang usir. Aku capek jadi satpam cinta."
Rayan ngakak. "Janji. Nggak akan ada Ning-Ning lagi. Adanya cuma Ning Zahra. Satu-satunya."
Di atas, bulan purnama. Terang. Kayak sengaja ikut ngerayain.
---