Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Jembatan di Atas Kecurigaan
Setelah melewati lorong terpanjang dan paling mematikan di makam kuno ini sebuah koridor sempit yang dipenuhi oleh ribuan Prajurit Serangga Beracun yang siap melahap siapa saja yang berani mendekat mereka akhirnya mencapai sebuah ruangan besar di lantai enam. Udara di ruangan itu terasa tebal, namun menawarkan aura lega yang sangat dibutuhkan. Suasana yang tadinya penuh ketegangan kini sedikit mengendur, digantikan oleh kelelahan dan gema tetesan air yang menenangkan.
Jack, yang wajahnya masih pucat karena pengalaman nyaris mati, segera melangkah mendekat ke sisi Aura. Matanya menatap wanita itu dengan perpaduan rasa terima kasih dan keheranan yang besar.
“Bubuk yang kamu berikan ternyata sungguh berguna, Aura,” kata Jack, suaranya sedikit bergetar karena emosi. Ia mengusap sisa-sisa keringat dingin di pelipisnya. “Tapi, bubuk apa itu sebenarnya? Bagaimana bisa para prajurit serangga beracun itu sama sekali tidak mendekati kita saat kita melewati lorong? Mereka bahkan tampak jijik.”
Aura, yang bersandar tenang di dinding batu dingin, memandang Jack dengan wajah polos yang tak menunjukkan emosi berarti. Di tangannya, ia memegang kantong kain kecil yang kini kosong.
“Ah, itu hanya bubuk herbal biasa, Kak Jack,” jawab Aura, nadanya santai seolah ia baru saja membicarakan resep masakan. “Aku hanya iseng membuatnya saat ada waktu luang, karena bosan saja saat di rumah. Tidak menyangka bisa berfungsi sedahsyat itu.” Ia tersenyum tipis, senyum yang entah mengapa terasa sedikit misterius. “Tapi baguslah kalau bubuk itu bisa digunakan. Jadi, usahaku membawanya jauh-jauh ke sini tidak sia-sia.”
Di sisi ruangan yang berlawanan, Falix dan Kieran berdiri berdekatan. Mereka tidak ikut berbincang, tetapi mata mereka tidak lepas dari Aura dan Jack. Pembicaraan yang terdengar santai itu justru memicu alarm merah di benak mereka. Kieran, yang biasanya tenang, kini terlihat gelisah.
Falix mencondongkan tubuhnya, berbisik pelan agar hanya Kieran yang mendengar. Wajahnya diselimuti kecurigaan yang mendalam.
“Apa kamu merasa ini hanya kebetulan saja, Kieran?” tanya Falix, nadanya penuh keraguan. “Lorong itu... kita semua tahu betapa mematikannya. Tidak ada yang pernah melewatinya tanpa korban. Tapi dia? Dengan bubuk iseng? Itu terlalu mudah.”
Kieran menghela napas, pandangannya mengamati setiap detail gerak-gerik Aura. Dia adalah seorang ahli strategi yang sangat sulit dibohongi, dan sikap Aura yang terlalu tenang itu justru mengganggunya.
“Aku juga tidak tahu harus berkata apa, Falix,” jawab Kieran, suaranya rendah dan serius. “Hanya saja, wanita itu… dia seperti menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari pengetahuan yang dia tunjukkan. Sesuatu yang melampaui pemahamannya tentang makam ini.”
“Tapi, tidak ada nama dia dalam daftar resmi penjelajah makam dunia mana pun, kan?” Falix menyambung, dahinya berkerut. “Seorang wanita dengan pengetahuan kimia dan herbal setinggi itu, yang bisa mematikan ribuan Prajurit Serangga, tidak mungkin tidak tercatat!”
Kieran menggelengkan kepalanya, menegaskan bahwa Aura adalah sosok misterius di mata dunia eksplorasi makam. “Aku sudah memeriksa semua data. Dia tidak ada.”
Falix merenung sejenak, tinjunya terkepal. Emosi curiga berubah menjadi kebutuhan akan kejelasan. “Bagaimana kalau kita minta Kenzo Baki Barir untuk mencari identitas Aura?” usul Falix, menyebut nama seorang ahli intelijen kelas dunia. “Jika ada yang bisa membongkar latar belakangnya, itu pasti Kenzo.”
Kieran mengangguk, menyetujui. "Lakukan itu segera. Kita tidak bisa bergerak maju dengan bom waktu di tengah tim kita."
Selesai beristirahat sejenak untuk memulihkan energi yang terkuras baik fisik maupun mental mereka menyadari waktu terus berjalan. Mereka harus segera melanjutkan perjalanan, kembali memasuki lorong lain yang dijanjikan akan penuh bahaya.
Ketika mereka melangkah maju, mereka tiba di sebuah ruangan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Namun, suasana di sini terasa lebih dingin dan lebih menekan. Ruangan itu dipenuhi oleh ratusan Patung Prajurit Serangga Beracun yang berukuran seolah hidup. Patung-patung batu itu disusun dalam formasi tempur yang rumit, dan meskipun mereka tahu itu hanyalah batu, mata mereka yang kosong seolah menatap setiap gerakan tim.
Jack bergidik. “Ruangan ini… rasanya berbeda. Apakah patung-patung ini juga bisa bergerak?”
Falix mengangkat senternya, menyinari patung terdekat. “Mungkin tidak. Tapi coba lihat lantai di antara patung-patung itu. Ada jebakan gravitasi tersembunyi. Jika salah langkah, kita akan hancur terhimpit di bawahnya.”
Kieran menyimpulkan dengan nada tegang, “Kita tidak bisa melewatinya. Formasi patung ini dirancang untuk menghalangi jalan dan memastikan setiap orang yang mencoba melangkah di antara mereka akan terbunuh. Kita harus mencari jalan lain.”
Keputusasaan mulai menyelimuti Jack, dan bahkan Falix terlihat frustrasi.
Saat yang lain sibuk memikirkan cara menonaktifkan jebakan lantai, Aura mengangkat kepalanya. Ia tidak fokus pada bahaya di depan, melainkan pada struktur di atas mereka. Mata tenangnya melihat celah dan kekuatan yang diabaikan orang lain.
“Aku punya solusi,” kata Aura, suaranya menarik perhatian semua orang. Aura melihat ke arah dinding batu di atas patung-patung itu. “Dinding di atas sana terlihat stabil dan aman, tanpa ada tanda-tanda jebakan gravitasi atau sihir. Bagaimana kalau kita membuat jalan lewat dinding atas itu?”
Aura merogoh tas pinggangnya dan mengeluarkan gulungan tali rami yang sangat kuat, yang ujungnya terikat pada jangkar kait lipat yang kecil namun padat.
“Dengan tali ini, kita bisa menciptakan jembatan gantung sementara,” jelas Aura. “Kita kaitkan jangkar ini di celah batu di sisi sana, lalu kita pasang tali melintasi ruangan. Kita akan melayang di atas bahaya.”
Jack memandang tali itu dengan tidak yakin. “Apa bisa, Aura? Itu ketinggian sekitar lima belas meter, dan talinya terlihat tipis untuk menahan berat kita berempat.”
“Percayalah,” kata Aura, matanya bertemu dengan Jack. Dalam tatapan itu, ada keyakinan yang mutlak yang menular.
Kieran dan Falix saling pandang, keraguan mereka masih ada, terutama melihat solusi brilian yang keluar dari wanita yang mereka curigai. Namun, ini adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal dan praktis. Rasa kewaspadaan beradu dengan kebutuhan untuk bergerak maju.
“Baiklah, kita setuju,” kata Kieran, mengambil alih komando. “Falix, kamu yang paling kuat. Ambil jangkar itu dan gunakan alat penembak gravitasi kita untuk melemparkannya. Pastikan kaitannya sempurna.”
Tanpa membuang waktu, mereka segera bertindak. Falix mengambil tali dan kait dari Aura. Meskipun curiga, ia mengakui kejeniusan solusi ini. Ia mengaktifkan alat bantu lemparnya dan dengan kekuatan presisi yang luar biasa, ia menembakkan jangkar kait itu.
Kring!
Jangkar itu menancap kuat pada celah di dinding sisi seberang, mengeluarkan suara berdentang keras yang memecah kesunyian ruangan patung.
Kieran dan Falix segera bekerja sama, mengamankan tali rami itu di dinding tempat mereka berdiri. Tali itu membentang melintasi ruangan, menjadi sebuah jembatan gantung yang tipis, melayang di atas ratusan patung batu yang mematikan.
Jack menatap tali itu dengan sedikit gentar. Aura menepuk bahunya lembut.
“Aku duluan,” kata Aura. Ia dengan cekatan melilitkan tali pengaman di pinggangnya, dan tanpa ragu, ia mulai melangkah di atas tali tipis itu, bergerak ringan dan seimbang.
Jack menyaksikan Aura meluncur di atas tali itu dengan ketenangan seorang penari. Itu bukan lagi langkah seorang penjelajah amatir; itu adalah gerakan yang menunjukkan latihan bertahun-tahun dalam kondisi ekstrem.
Kieran dan Falix mengikuti di belakang. Saat mereka menyeberang, kecurigaan Falix kembali berbisik di telinganya,”Wanita ini tidak mungkin se-polos yang dia tunjukkan. Dia adalah misteri yang harus dipecahkan.”
Satu per satu, mereka berhasil melewati ruangan yang dipenuhi jebakan lantai mematikan itu. Ketika mereka mencapai sisi seberang, kelegaan bercampur dengan ketegangan baru. Mereka telah lolos dari lorong beracun dan jebakan patung, tetapi mereka kini semakin yakin bahwa bahaya terbesar dalam makam ini mungkin bukan datang dari patung atau serangga, melainkan dari misteri yang dibawa oleh rekan mereka sendiri: Aura.
“Aura,” panggil Kieran setelah dia mencapai sisi aman, suaranya kembali datar dan profesional, menyembunyikan badai keraguan di dalam dirinya. “Jalan selanjutnya sepertinya menuju ke bawah. Apakah kamu memiliki ‘bubuk iseng’ atau ‘solusi santai’ lain untuk lantai tujuh?”
Aura menoleh, senyum misterius kembali merekah di wajahnya, tatapannya menyiratkan pemahaman penuh atas kecurigaan Kieran.