Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Oke, terus mau nya papa apa sekarang?" ujar Clara lemah menyangkut rahasia yang ada di tangan sang papa.
"Nah, gitu dong, papa mau kamu bantuin papa cari tempat buat pertemuan keluarga nanti, terserah kamu di mana yang penting suasana nya nyaman dan aman, papa juga mohon sama kamu agar kamu bersikap baik dengan nya jangan buat dia takut untuk menikah dengan papa, papa sangat mencintainya," ungkap sang papa membujuk putrinya untuk mengatur segala urusan pertemuan keluarga.
"Pah, kenapa harus aku? Papa tau sendiri kan perasaan aku kayak gimana? Jujur aku masih gak siap buat punya mama tiri pa, mama kandung aja sejahat itu ningalin aku, apalagi mama tiri," bulir bening yang sedari tadi berusaha di tahan oleh gadis sok kuat itu tiba-tiba lolos dari mata indahnya.
Sang papa seketika terdiam dan menatap wajah putri nya, ia meraup wajah mungil itu dengan kedua tangan nya." Nak, justru papa melakukan ini agar kamu bisa merasa lebih dekat dengan nya, papa juga tau perasaan mu namun papa benar-benar tidak bisa terus sendirian tidak ada yang mengurus papa kelak di saat kau menemukan pendamping hidup mu,"
Deg ...
Hati Clara terasa terguncang mendengar ucapan sang papa, selama ini ia begitu egois dengan keinginan nya sendiri, ia bahkan telah beberapa kali menolak dan membuat para wanita yang dekat dengan sang papa menajuh hanya karena sebuah trauma, ia selalu mengatakan kalau mama kandung saja jahat dengan nya apalagi mama tiri.
Karena itu Clara tidak pernah mengijinkan papa nya untuk menikah lagi, namun sang papa begitu baik ia tidak pernah marah kepada sang anak karena berusaha mengerti perasaan anak satu-satunya itu.
Tapi kali ini karena Clara sendiri yang berjanji kepadanya untuk setuju ia dengan penuh harapan menagih janji sang putri.
Dalam beberapa bulan ini ia karena ngambek dengan putrihnya, memutuskan untuk melanjutkan mengurus bisnis di luar negri, namun saat sang putri menelpon meminta nya kembali dengan bujukan maut ia segera kembali dan meninggalkan semua pekerjaan yang ada di sana.
"Maafin aku ya pa, aku udah egois banget," ujar Clara yang kemudian memeluk sang papa. Hati nya luluh setelah bujukan sang papa, ia juga memikirkan bagaimana papa nya selalu menuruti semua keinginan yang ia inginkan sementara satu keinginan sang papa selalu terhalang karena dirinya.
Papa nya tersenyum dan membalas pelukan hangat sang anak. Setelah itu mereka pun mulai kembali berdiskusi untuk acara pertemuan keluarga di malam Minggu yang akan datang sebentar lagi.
Dua hari pun segera berlalu, kini tibalah saatnya di mana waktu yang di tentukan telah tiba.
Saat ini Clara dan papa nya sedang dalam perjalanan menuju tempat pertemuan yang telah di atur Clara.
"Kamu yakin dia bakal suka kalau makan di dekat pantai?" tanya sang papa yang kini fokus mengemudikan mobil.
"Yakin pa, aku mau tes dia, dia mau sama papa karena harta atau emang cinta sama papa jadi gak perlu ke tempat mewah untuk pertemuan awal gini." Clara di sebelahnya asik memainkan ponselnya, dan menjawab sang papa tampa menatap wajah sang papa.
Papa nya mengangguk, putrinya memang benar-benar tidak bisa di anggap remeh dalam hal apapun, ia bahkan lebih pintar dari sang papa.
Sementara itu di sisi lain.
"Kamu gak marah sama mama kan Ja?" tanya seorang wanita cantik ia duduk si sebelah seorang laki-laki tampan yang saat itu sedang fokus mengemudi mobil.
"Pilihan mama, mau ngomong apa lagi, aku juga gak bisa lihat mama kalau punya masalah nangis sendiri," jawab laki-laki tersebut sambil tersenyum tipis.
Mama nya megengam erat tangan sang anak,ia tau betapa susah nya menerima keputusan mama untuk menikah lagi setelah sekian lama menjada, ia juga sebenarnya telah beberapa kali menceritakan hubungan ia dan calon suami kepada anak laki-laki nya itu, meskipun anak nya sedikit cuek dan dingin namun ia tau sang anak selalu bersikap dewasa dan memikirkan kebahagiaan sang mama.
"Tapi kamu setuju kan sayang?" ujar sang mama penuh harapan.
"Apa yang engak buat mama, asal mama janji kalau sampai dia nyakit mama, aku bakal hajar dia habis-habisan," pinta nya sambil tersenyum miring.
Mau tidak mau mama nya itu mengganguk kan kepala karena takut akan sang anak.
Tidak lama kemudian, mereka pun akhirnya tiba di suatu tempat, sang anak memarkirkan mobil nya dan kemudian turun bersama mama nya.
"Ma, aku cari toilet dulu, mama masuk ke dalam duluan, soalnya kebelet," ujar laki-laki tampan itu segera meninggalkan sang mama berlari mencari toilet.
"Anak itu, ini kan restoran tingal masuk aja ke dalam ada toilet, darimana datang bego nya?" ungkap sang mama yang mengeleg kepala namun tetap berjalan masuk ke dalam restoran.
Restoran tersebut sangat lah sederhana, ya lebih cocok di sebut rumah makan biasa yang letaknya tidak terlalu jauh dari pantai, sehingga siapapun yang makan di sana bisa merasakan keindahan dari pemandangan yang ada.
"Clara, itu orang nya, ayo sapa dia," perintah papa nya Cery segera menyenggol pundak sang putri.
Clara yang sedang memainkan ponselnya segera mengarah kan pandangan ke arah seseorang yang berjalan mendekati meja makan mereka, ia menyimpan ponsel tersebut ke dalam tas dan kemudian berdiri.
"Malam tante, silahkan duduk di sini," ucap Clara dengan senyum tipis segera meminta perempuan yang akan segera menjadi mama nya itu duduk di kursinya. Tepat di sebelah sang papa.
Sementara dirinya berpindah posisi menjadi berhadapan dengan mereka.
Papa nya hampir terkena serangan jantung ketika mendapat kan perilaku tersebut dari sang anak.
Ia benar-benar tidak menyangka, Clara yang galak bisa selembut ini.
"Mas Tian, ini anak mu yang sering kau ceritakan itu?" ucap perempuan itu sambil duduk di samping papa nya Clara namun matanya tertuju ke pada Clara.
Papa Tian segera mengangguk kan kepalanya untuk mengiyakan.
"Kenalin tante,aku Clara," uajar Clara yang mengulur kan tangan nya.
"Ah Iya sayang, nama tante Tara. Kau sangat cantik," ujar calon istri papa nya Tara yang ternyata bernama Tara.
Mereka pun mulai saling mengobrol, papa Tian tidak kecewa karena sang anak benar-benar bersikap baik dan tidak mengingkari janji.
Beberapa menit kemudian, seseorang masuk ke dalam restoran sambil melihat sekeliling dengan bingung.
"Sayang! Di sini!" ujar Tara sambil melambaikan tangan nya.
Ya saat ini giliran anak nya Tara yang datang dari toilet.
Clara sontak kebingungan dan menoleh ke belakang, karena ia memang membelakangi pintu masuk restoran.
Terlihat seorang laki-laki tampan yang berjalan masuk ke dalam restoran melangkah ke arah mereka.
Deg ... Deg ...
Jantung Clara berdegup kencang, saat melihat seseorang yang tak asing baginya mendekat ke arah mereka.
"Maaf ma aku telat," ujar nya masih tidak memperhatikan siapa yang menatap nya saat ini.
"Gak apa-apa duduk gih, di samping Clara sekalian kenalan," ujar mama Tara menujuk ke arah kursi yang ada di samping Clara.
Saat itu lah, ia menatap wajah Clara yang sedari tadi sudah kelihatan takut saat ia datang.
Ia mengerutkan keningnya, duduk di sebelah Clara, dengan cepat dirinya memegang pundak Clara dan menyingkirkan rambut yang sedari tadi menghalangi wajah Clara.
"Cery, ini Lo kan Cery?" tanya Raja sambil menatap dalam wajah calon adik tirinya itu.
Ya, siapa sangka anak nya Tara adalah Raja, ia Raja kalian tau Raja kan? Masa gak tau sih pasti gak ada yang nyangka deh. Oke lanjut.
"Kak, kamu salah orang deh kayaknya, aku Clara kenalin," ucap Clara berusaha tenang dan mengulurkan tangannya kepada Raja.
Papa Tian dan mama Tara seketika kaget melihat reaksi Raja yang seolah kenal dengan Clara sejak lama.
"Gak, Lo Cery sini gue lihat mata Lo mulut Lo gue kenal Lo," ucap Raja mengabaikan mama dan calon papa tiri nya dan membuat Clara seperti boneka ia memegang kedua pipi Clara mata dan juga rambut Clara.
"Papa tolong," lirih Clara tidak sanggup menahan keberutalan Raja.
Plak ...
Tiba-tiba mama Tara berdiri dari duduknya lalu kemudian memukul kepala Raja dengan tangan nya.
"Anak bodoh, apa yang kau lakukan kepada adik mu? Lepaskan dia, lancang sekali kau baru ketemu sudah buat masalah bernai-beraninya kau menyentuh nya seperti ini," omel sang mama sambil menjewer kuping Raja.
Semuanya pun seketika menjadi kacau balau hanya karena ulah Raja, semua orang yang ada di sana melihat ke arah mereka dengan tatapan bingung.
"Tante udah, jangan di jewer gak apa-apa kok," Clara membujuk Tara untuk kembali duduk dan melepaskan Raja.
Sementara papa Tian yang sudah bingung jadi tidak tau harus berkata apa-apa.
"Sebaiknya kita makan dulu, Raja dia bukan Cery dia Clara anak om," ujar papa Tian mencoba untuk menghapus kesalahpahaman ini.
Beberapa puluh menit pun berlalu, mereka akhirnya memilih untuk makan, sementara Raja yang hatinya berkecamuk tidak bisa menelan makanan jika tidak menatap wajah Clara, berbagai pertanyaan masuk ke dalam hati dan pikiran nya.
Satu jam kemudian.
"Clara, bagaimana kalau kalian jalan-jalan keluar dulu, papa dan Tante Tara mau ngobrol berdua, kalian juga pergilah untuk lebih mendekatkan diri sebentar lagi kita akan jadi kelaurga," ungkap papa Tian memohon kepada Clara dengan tatapan mengiba.
Sementara itu mama Tara menatap tajam Raja. Raja yang takut bergegas berdiri, ia juga sebenarnya menginginkan semua ini untuk bertanya kepada Clara.
"Ayo kak," uajar Clara yang kemudian menarik pinggiran baju Raja untuk mengajak nya keluar.
Mereka pun akhirnya keluar dari restoran, sementara papa Tian dan mama Tara yang melihat kedua anak mereka merasa sedikit furstasi, karena bayangan kalau kedua cecurut itu akan tiap hari bertengkar mulai terlintas di benak masing-masing.
"Matilah mereka tidak akan bisa akur," ujar mama Tara menepuk jidatnya.
"Sayang, kita sudah kenal lama mengapa harus takut? Kita pasti bisa membesarkan mereka, Raja butuh papa dan Clara butuh kamu sebagai mama," ujar papa Tian bersikap sangat bijaksana kepada calon istri nya.
Bersambung ....