NovelToon NovelToon
Kemampuan Tak Pernah Sama

Kemampuan Tak Pernah Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Geb Lentey

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

…“Beneran berubah ya…” gumamnya pelan sambil menatap ke arah kelas Kayla, meskipun dari tempatnya berdiri ia tidak bisa melihat jelas. Ada sesuatu yang terasa berbeda di dalam dirinya. Bukan sekadar kagum, tapi juga… penyesalan. Untuk pertama kalinya, Arga tidak hanya melihat Kayla sebagai seseorang yang menarik perhatiannya, tapi sebagai seseorang yang benar-benar berjuang dan mungkin pernah ia sakiti tanpa sadar.

Hari itu, Arga tidak langsung menghampiri Kayla. Ia hanya berdiri beberapa saat, lalu pergi. Namun sejak saat itu, sikapnya mulai berubah. Bukan perubahan yang langsung terlihat besar, tapi perlahan… dan konsisten.

Di latihan drumband berikutnya, Arga tetap menjalankan perannya sebagai mayoret seperti biasa. Tegas, fokus, dan disiplin. Namun ada satu hal yang berbeda ia tidak lagi terlalu sering mendekati Kayla secara pribadi. Ia menjaga jarak. Bukan karena tidak peduli, tapi justru karena mulai mengerti batasan.

Saat Kayla melakukan kesalahan kecil dalam gerakan, Arga tetap mengoreksi… tapi dengan cara yang sama seperti ke anggota lain. Tidak berlebihan. Tidak berbeda.

Kayla menyadari itu.

Awalnya ia mengira Arga hanya mulai menjauh. Tapi lama-lama… ia merasa ini berbeda. Ini bukan menjauh karena tidak peduli, tapi seperti… menghormati.

Suatu sore setelah latihan, hujan turun tiba-tiba. Banyak siswa berlarian mencari tempat berteduh. Kayla berdiri di pinggir lapangan, menunggu hujan sedikit reda sebelum pulang. Ia tidak membawa payung.

Tiba-tiba, seseorang berdiri di sampingnya.

Arga.

Ia tidak berkata apa-apa.

Hanya membuka tasnya, mengeluarkan payung… lalu meletakkannya di antara mereka.

“Pakai aja,” katanya singkat.

Kayla sedikit terkejut. “Kak… terus Kak Arga?”

Arga mengangkat bahu kecil. “Aku bisa nunggu.”

Kayla menatapnya sejenak. Tidak ada senyum berlebihan. Tidak ada nada menggoda seperti dulu. Hanya… tulus.

Namun Kayla menggeleng pelan. “Gak apa-apa, Kak. Kita tunggu aja sama-sama.”

Arga tidak memaksa.

Mereka pun berdiri di bawah atap kecil itu, mendengarkan suara hujan tanpa banyak bicara. Untuk pertama kalinya, keheningan di antara mereka tidak terasa canggung… tapi justru tenang.

Beberapa hari kemudian, sesuatu terjadi di kelas Arga. Seorang temannya bercanda dengan nada agak merendahkan.

“Eh, Ga… itu Kayla sekarang pinter banget ya. Dulu kan biasa aja.”

Arga yang biasanya mungkin hanya akan tertawa… kali ini tidak.

“Dia emang usaha,” jawab Arga singkat.

Temannya sedikit kaget. “Iya sih, tapi...”

“Dan dia lebih serius dari kebanyakan orang di sini,” potong Arga.

Suasana jadi hening sesaat.

Arga tidak marah, tapi jelas—ia tidak lagi ikut arus seperti dulu.

Perubahan itu kecil, tapi nyata.

Sementara itu, Kayla tetap fokus dengan dunianya. Belajar, latihan, dan mempersiapkan diri untuk lomba matematika yang akan datang. Ia tidak lagi memikirkan Arga seperti dulu, tapi juga tidak lagi merasa marah.

Sampai suatu sore, setelah sekolah selesai, Arga kembali menghampirinya.

“Kayla.”

Kayla berhenti, tapi tetap menjaga jarak.

“Iya, Kak?”

Arga terlihat lebih serius dari biasanya. Ia menarik napas sebentar sebelum bicara.

“Aku gak mau ganggu kamu… tapi aku mau bilang sesuatu.”

Kayla diam. Mendengarkan.

“Aku tahu aku pernah bikin kamu gak nyaman,” lanjut Arga. “Dan mungkin kamu punya alasan buat jaga jarak.”

Kayla tidak menyela.

“Aku juga gak akan maksa kamu berubah,” katanya lagi. “Tapi aku… lagi coba berubah juga.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi jujur.

Kayla menatapnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar melihat Arga… bukan dari cerita orang lain, bukan dari masa lalunya, tapi dari apa yang ia lakukan sekarang.

“Aku gak minta kamu percaya langsung,” tambah Arga. “Aku cuma… mau buktiin.”

Sunyi beberapa detik.

Kayla menarik napas pelan.

“Aku gak benci Kak Arga,” katanya akhirnya.

Arga menatapnya.

“Tapi aku juga gak mau balik ke posisi yang sama,” lanjut Kayla.

Arga mengangguk pelan. “Aku ngerti.”

“Aku lagi fokus sama diri aku,” kata Kayla lagi, kali ini lebih lembut.

“Iya… aku tahu,” jawab Arga.

Tidak ada drama.

Tidak ada paksaan.

Hanya dua orang yang sama-sama belajar… dengan cara masing-masing.

Kayla tersenyum kecil. Bukan senyum lama yang penuh harapan, tapi senyum yang tenang.

“Semoga Kak Arga benar-benar berubah ya,” katanya.

Arga juga tersenyum.

“Iya. Semoga.”

Kayla lalu berjalan pergi.

Dan kali ini…

ia tidak merasa sakit.

Tidak juga bingung.

Ia hanya merasa… cukup.

Sementara Arga berdiri di tempatnya, melihat Kayla menjauh. Untuk pertama kalinya, ia tidak mengejar. Karena ia tahu beberapa hal tidak bisa diperbaiki dengan kata-kata. Tapi dengan waktu. Dan dari kejauhan, cerita mereka belum selesai bukan lagi tentang siapa yang mengejar siapa, tapi tentang dua orang yang sama-sama belajar menjadi lebih baik dengan cara mereka sendiri.

Hari-hari Kayla di SMP mulai terasa lebih stabil. Ia sudah terbiasa dengan rutinitasnya—belajar, latihan drumband, dan mempersiapkan diri untuk lomba matematika. Hubungannya dengan Arga pun kini berada di titik yang… tenang. Tidak dekat, tapi juga tidak lagi penuh luka. Mereka seperti dua garis yang pernah bertemu, lalu berjalan sejajar dengan jarak yang cukup.

Namun tanpa Kayla sadari ada seseorang yang mulai memperhatikannya.

Namanya Reyhan.

Kakak kelas 2 SMP.

Dikenal cukup pintar, pendiam, dan pemain basket inti di sekolah.

Reyhan pertama kali memperhatikan Kayla saat pengumuman seleksi matematika.

Bukan karena semua orang membicarakannya…

tapi karena cara Kayla berdiri di depan kelas. Tenang. Tidak berlebihan. Tapi kuat. Sejak saat itu, tanpa sadar, Reyhan mulai sering melihat ke arah Kayla. Di koridor di kantin bahkan saat latihan drumband. Suatu sore, saat Kayla sedang duduk sendiri di bangku taman sambil membaca buku matematika, seseorang datang mendekat.

"Kayla, ya?"

Kayla menoleh. Sedikit kaget.

"Iya…?"

Reyhan berdiri di depannya. Dengan sikap tenang.

"Aku Reyhan. Kelas 2."

Kayla mengangguk pelan.

"Oh… iya, Kak."

Reyhan melirik buku di tangan Kayla.

"Belajar terus ya."

Kayla tersenyum kecil.

"Iya… lagi persiapan lomba."

Reyhan mengangguk.

"Keren."

Beberapa detik hening.

"Aku sering lihat kamu," kata Reyhan tiba-tiba.

Kayla sedikit bingung.

"Maksudnya…?"

Reyhan tersenyum tipis.

"Bukan yang aneh-aneh. Maksudnya… kamu kelihatan beda dari yang lain."

Kayla tidak langsung menjawab.

"Aku suka cara kamu fokus sama tujuan kamu," lanjut Reyhan.

Kalimat itu tidak seperti yang biasa Kayla dengar. Tidak berlebihan. Tidak menggoda. Tapi tulus.

"Makasih, Kak…" jawab Kayla pelan.

Reyhan mengangguk.

"Aku gak mau ganggu kamu," katanya.

"Tapi… kalau kamu butuh bantuan, atau teman belajar… aku sering di perpustakaan."

Kayla sedikit terkejut. Namun ia mengangguk.

"Iya, Kak."

Reyhan tersenyum kecil.

"Lanjut belajarnya ya."

Lalu ia pergi. Kayla duduk diam beberapa saat. Perasaan itu berbeda. Tidak membuatnya bingung. Tidak membuatnya tertekan. Justru terasa ringan. Dari kejauhan seseorang melihat itu.

Arga.

Ia berdiri di koridor, memperhatikan interaksi singkat itu. Dan untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang tidak ia duga. Bukan marah. Tapi takut kehilangan. Sementara itu, Kayla kembali membuka bukunya. Namun kali ini, ia sempat tersenyum kecil. Tanpa ia sadari ceritanya mulai memasuki bab yang baru. Bukan hanya tentang luka dan pembuktian. Tapi tentang pilihan. Dan mungkin tentang seseorang yang datang dengan cara yang berbeda.

1
Ditzz
semangat buat kakaknya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!