NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: ANTARA HIDUP DAN DENDAM

​Lampu neon di koridor lantai sepuluh Rumah Sakit Medika berkedip sekali, menciptakan bayangan yang memanjang dan tampak menari di atas lantai pualam yang dingin. Suasana sunyi senyap, hanya desisan mesin pendingin ruangan dan detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sebuah tragedi. Di dalam ruang ICU, Aaliyah masih menggenggam tangan ayahnya yang lemah, sementara di luar, badai kebencian sedang bersiap untuk menerjang.

​Zayn Al-Fatih berdiri di depan pintu kaca otomatis, kedua tangannya tersembunyi di balik saku jas hitamnya yang masih lembap. Matanya yang setajam elang menyapu setiap sudut lorong. Ia bisa merasakan kehadiran bahu-membahu yang tak terlihat. Insting bisnisnya yang tajam kini telah berubah total menjadi insting seorang pemburu yang sedang melindungi sarangnya.

​(Zayn membatin: Aku tahu kau di sini, Sultan. Bau busuk ambisimu tercium bahkan melalui aroma pembersih lantai rumah sakit ini. Kau pikir kau bisa menyentuh mereka? Selama darah masih mengalir di tubuhku, kau tidak akan pernah bisa melangkahi garis ini. Aaliyah... maafkan aku jika malam ini aku harus kembali menjadi pria yang kejam. Aku melakukannya agar kau tidak perlu lagi melihat kekejaman dunia ini. Aku akan menjadi dinding yang memisahkanmu dari iblis yang mencoba merenggut kebahagiaanmu.)

​Zayn memberikan isyarat kecil kepada dua pengawal pribadinya yang berjaga di dekat lift. Mereka segera berpencar, menempati posisi strategis. Tak lama kemudian, pintu lift berdenting.

​Ting.

​Seorang pria dengan jaket hoodie gelap dan topi yang ditarik rendah melangkah keluar. Langkah kakinya berat, sedikit pincang, namun penuh dengan niat membunuh yang nyata. Pria itu mengangkat wajahnya perlahan, memperlihatkan luka parut di telinga kiri dan mata yang merah karena amarah dan keputusasaan. Itu Sultan.

​Sultan melempar tas kecil yang ia bawa ke lantai, lalu menarik sebuah pistol dari balik pinggangnya. Ia tidak lagi peduli pada kamera pengawas atau saksi mata. Baginya, hidupnya sudah berakhir saat aset Baskoro dibekukan, dan ia ingin membawa Zayn serta Aaliyah bersamanya ke neraka.

​"Zayn Al-Fatih!" suara Sultan parau, bergema di lorong yang sunyi. "Keluar kau, pengecut! Mana wanita jalangmu itu?! Aku ingin dia melihat bagaimana pahlawannya mati bersimbah darah!"

​Zayn melangkah maju dengan tenang, menjauh dari pintu ICU agar Aaliyah tidak mendengar keributan ini. Wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun rasa takut yang terpancar.

​"Kau melarikan diri hanya untuk menyerahkan nyawamu di sini, Sultan?" tanya Zayn, suaranya dingin dan stabil. "Kau sudah kalah. Secara bisnis, secara hukum, dan secara moral. Menyerahlah sebelum aku kehilangan kesabaranku."

​Sultan tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar sangat gila. "Kalah? Aku tidak akan pernah kalah selama aku bisa menghancurkan apa yang paling kau cintai! Kau pikir aku tidak tahu? Kau mencintai Aaliyah, bukan? Si Raja Es yang membenci agama, kini berlutut di depan seorang Hafizah! Betapa lucunya takdir ini!"

​(Sultan membatin: Lihatlah wajah sombongnya! Dia selalu mendapatkan segalanya. Harta, kekuasaan, dan sekarang cinta sejati? Tidak! Aku tidak akan membiarkan dia menang! Jika aku harus hancur, maka dia harus merasakan kehilangan yang lebih perih daripada kematian itu sendiri! Aaliyah... kau adalah kunci untuk menghancurkan Zayn, dan aku akan memutar kunci itu sampai patah!)

​Di dalam ruang ICU, Aaliyah tersentak mendengar suara teriakan di luar. Meskipun samar, ia mengenali suara Sultan yang penuh kebencian. Jantungnya berdegup kencang, ia segera berdiri dan menatap ke arah pintu kaca yang tertutup tirai tipis.

​(Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah... Sultan? Dia di sini? Dia datang untuk membunuh kami? Zayn... di mana Zayn? Ya Rabb, lindungilah pria itu. Jangan biarkan dia terluka karena membela hamba yang penuh dosa ini. Ayah... Ayah jangan takut, Aaliyah ada di sini. Hamba mohon, Ya Allah... jangan biarkan darah tumpah di tempat suci ini. Berikanlah Zayn kekuatan untuk menghadapi kegelapan ini.)

​Aaliyah meraba ponselnya di dalam saku, namun ia teringat pesan Zayn untuk tidak keluar. Ia mendekat ke pintu, mencoba mendengarkan pembicaraan mereka dengan napas yang tertahan.

​"Letakkan senjatamu, Sultan," perintah Zayn lagi. "Kau hanya akan menambah penderitaan Sabrina dan ayahmu jika kau melakukan ini."

​"Jangan sebut nama mereka!" bentak Sultan sembari menodongkan pistol tepat ke arah jantung Zayn. "Mereka lemah! Mereka membiarkan dirimu menang! Tapi aku... aku akan memastikan sejarah Al-Ghifari berakhir di lantai ini!"

​Sultan menarik pelatuk.

​KLIK.

​Senjata itu macet. Ternyata air hujan dan lumpur saat ia melarikan diri telah merusak mekanisme pistol murahan yang ia beli di pasar gelap. Sultan memaki dengan keras, lalu ia membuang pistolnya dan mencabut sebilah pisau komando yang sangat tajam. Ia menerjang Zayn dengan amarah buta.

​Zayn tidak menghindar. Ia justru maju menyambut serangan itu. Perkelahian fisik yang brutal pecah di koridor rumah sakit. Zayn menggunakan teknik bela diri militer yang efisien, menangkis setiap tikaman pisau Sultan dengan tangan kosong. Pukulan-pukulan Zayn mendarat telak di wajah dan perut Sultan, namun pria itu seolah tidak merasakan sakit, terus merangsek maju seperti binatang buas yang terluka.

​(Zayn membatin: Kau tidak akan lewat, Sultan! Setiap pukulan yang kuberikan adalah untuk setiap air mata yang jatuh dari mata Aaliyah! Setiap rasa sakit yang kau rasakan adalah untuk setiap fitnah yang kau sebarkan tentang keluarganya! Aku tidak akan berhenti sampai kau tidak bisa lagi berdiri tegak di depan wanita yang kucintai!)

​Zayn berhasil memelintir tangan Sultan yang memegang pisau. Terdengar bunyi krak yang memilukan saat tulang pergelangan tangan Sultan patah. Pisau itu jatuh ke lantai dengan denting yang nyaring. Zayn kemudian memberikan tendangan putar yang membuat Sultan terlempar menabrak meja resepsionis perawat hingga hancur berkeping-keping.

​Sultan tergeletak di lantai, terbatuk darah, namun matanya masih menyiratkan kebencian yang dalam. Ia merayap menuju tas yang tadi ia lempar. Zayn mendekat untuk meringkusnya, namun Sultan berhasil membuka tas itu dan mengeluarkan sebuah granat asap dan detonator kecil.

​"Jika aku mati, semua orang di lantai ini ikut mati!" teriak Sultan dengan sisa tenaganya. "Ini adalah bom rakitan yang sudah kupasang di dalam tas ini! Berhenti di sana, Zayn!"

​Zayn membeku. Ia tahu Sultan tidak bercanda. Orang yang sudah kehilangan segalanya adalah orang yang paling berani melakukan hal gila.

​Tepat pada saat itu, pintu ICU terbuka. Aaliyah keluar dengan wajah yang ditutupi niqab, namun matanya memancarkan ketenangan yang luar biasa. Ia berjalan perlahan mendekati mereka, mengabaikan peringatan Zayn.

​"Aaliyah! Masuk!" teriak Zayn panik.

​Aaliyah tidak berhenti. Ia menatap Sultan yang terkapar di lantai dengan tatapan penuh iba, bukan kebencian.

​"Tuan Sultan," suara Aaliyah lembut, namun mampu menembus kebisingan di lorong itu. "Apakah kehancuran kami benar-benar akan memberikanmu kedamaian? Lihatlah dirimu... kau adalah pria yang cerdas, kau memiliki masa depan. Mengapa kau biarkan dendam memakan jiwamu sampai habis?"

​Sultan tertegun melihat kehadiran Aaliyah. Tangannya yang memegang detonator gemetar. "Diam kau! Kau wanita pembawa sial! Gara-gara kau, keluargaku hancur!"

​"Keluargamu hancur karena kebohongan mereka sendiri, bukan karena saya," jawab Aaliyah, kini ia berdiri hanya tiga meter dari Sultan. "Saya sudah memaafkan kalian. Saya sudah memaafkan Sabrina, Tuan Baskoro, dan juga Anda. Allah Mahapengampun, Tuan Sultan. Tidakkah Anda ingin memulai hidup baru yang lebih tenang?"

​(Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah... hamba menyerahkan nyawa hamba pada-Mu. Jika ini adalah saat terakhir hamba, biarlah hamba pergi sambil mencoba menyelamatkan satu jiwa yang tersesat ini. Zayn... maafkan hamba karena tidak patuh. Hamba tidak tahan melihatmu bertaruh nyawa sendirian di sini. Berikan hamba kekuatan untuk menyentuh nuraninya yang tertutup debu dosa.)

​Zayn menatap Aaliyah dengan napas tertahan. Ia siap menerjang jika Sultan melakukan gerakan mencurigakan. Namun, ia melihat sesuatu yang aneh. Mata Sultan yang tadinya penuh api, kini mulai meredup, digantikan oleh genangan air mata.

​"Memaafkan...?" bisik Sultan. "Setelah apa yang aku lakukan padamu? Setelah aku membakar pesantrenmu?"

​"Bangunan bisa dibangun kembali, Tuan Sultan. Tapi jiwa yang hancur karena dendam sulit untuk diperbaiki," Aaliyah mengulurkan tangannya secara simbolis. "Berikan detonator itu pada Tuan Zayn. Jangan biarkan tempat ini menjadi tempat kematian, di saat ayah saya sedang berjuang untuk hidup di dalam sana."

​Keheningan yang mencekam menyelimuti lorong. Sultan menatap detonator di tangannya, lalu menatap wajah Aaliyah, dan terakhir menatap Zayn yang sudah bersiap menerkam.

​Perlahan, Sultan melepaskan detonator itu. Ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil di lantai rumah sakit. Kekuatan jahat yang selama ini menopangnya tiba-tiba runtuh seketika saat berhadapan dengan ketulusan Aaliyah.

​Zayn segera bergerak cepat, mengamankan tas tersebut dan menendangnya jauh ke ujung lorong. Pengawal Zayn segera meringkus Sultan dan memborgol tangannya dengan sangat kuat.

​Zayn mengatur napasnya yang memburu. Ia menatap Aaliyah, lalu tanpa berkata apa-apa, ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang sangat erat. Zayn menyembunyikan wajahnya di bahu Aaliyah, tubuhnya gemetar karena rasa lega yang luar biasa.

​"Kau gila... kau benar-benar gila, Aaliyah..." bisik Zayn, suaranya pecah. "Bagaimana jika dia menekan tombol itu? Aku hampir mati karena takut kehilanganmu tadi."

​Aaliyah membalas pelukan Zayn dengan lembut, meskipun ia tetap menjaga jarak yang sopan. "Allah melindungi kita, Zayn. Terima kasih telah menjadi perisaiku."

​(Zayn membatin: Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Kau adalah cahaya yang paling terang yang pernah kutemui. Di tengah ancaman bom sekalipun, kau masih sempat memikirkan keselamatan jiwa musuhmu. Aaliyah... aku tidak hanya mencintaimu, aku menghormatimu dengan segenap jiwaku. Mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun yang berani menyentuhmu. Aku bersumpah.)

​Polisi segera datang dan membawa Sultan pergi. Lorong rumah sakit kembali sunyi, namun kali ini kesunyiannya membawa kedamaian. Zayn dan Aaliyah kembali ke depan ruang ICU.

​Tiba-tiba, lampu indikator di atas pintu ICU berubah menjadi hijau. Dokter keluar dengan wajah yang jauh lebih cerah dari sebelumnya.

​"Nona Aaliyah... Tuan Kyai sudah sadar sepenuhnya. Beliau ingin bertemu dengan Anda... dan juga pria yang telah menjaganya," ucap Dokter sembari menoleh ke arah Zayn.

​Aaliyah dan Zayn saling pandang. Ada binar kebahagiaan di mata mereka yang mulai bersatu dalam ikatan takdir yang tak terduga.

​Namun, di sudut lain rumah sakit, seorang pria misterius dengan setelan jas abu-abu sedang memperhatikan mereka dari kejauhan melalui teropong kecil. Ia berbicara melalui handsfree di telinganya.

​"Sultan sudah tertangkap. Rencana B dimulai. Beritahu media bahwa Aaliyah Humaira dan Zayn Al-Fatih terlibat skandal cinta terlarang di rumah sakit. Kita hancurkan reputasi mereka dengan cara yang lebih halus."

​Sinetron kehidupan ini masih jauh dari kata berakhir. Saat satu musuh jatuh, musuh yang lebih licik dan kuat sedang mempersiapkan jaring-jaring fitnah baru.

1
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!