Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Langkah Lexington Valerio terhenti tepat di ambang pintu mahoni ruang kerja Briella. Ia tidak langsung keluar.
Sebaliknya, ia berbalik perlahan, memindai sekeliling ruangan dengan tatapan seorang kurator yang sedang menilai sebuah karya seni yang ia ciptakan sendiri.
Matanya menyusuri garis-garis simetris plafon, pencahayaan tersembunyi yang memberikan efek glow sempurna pada kulit pasien, hingga tata letak ruang tunggu yang memaksimalkan privasi sekaligus kemewahan.
"Klinik ini sangat fungsional," ucap Lexington datar, suaranya bergema di ruangan yang tiba-tiba terasa sempit. "Kau menggunakan cetak biru dan rancangan yang kubuatkan untukmu lima tahun lalu, Briella. Semua sistem sirkulasi udara, pencahayaan presisi untuk meja bedahmu, bahkan struktur estetika fasad depan... itu semua rancanganku."
Briella membeku. Napasnya tertahan di kerongkongan. Ia memang tidak pernah mengganti desain itu.
Dulu, saat mereka masih bersama, Lexington yang terobsesi dengan presisi teknik menghabiskan waktu berbulan-bulan merancang "Klinik Impian" untuk Briella sebagai hadiah kelulusan.
Lexington menyunggingkan senyum yang tidak sampai ke mata. "Tapi kau lupa satu hal kecil. Kau lupa membayar jasaku. Sebagai seorang pengusaha dan insinyur, aku tidak suka jika ada pekerjaan yang tidak diselesaikan secara finansial. Kau memakai otakku untuk membangun bisnismu, Bri."
Darah Briella mendidih. Rasa sakit di hatinya akibat hinaan "perempuan ceroboh" tadi kini berganti menjadi kemarahan murni yang membakar. Ia melangkah maju, keluar dari balik meja kerjanya, menantang tatapan Lexington dengan dagu terangkat.
"Kau perhitungan denganku sekarang, Lex?" Briella tertawa sumbang, sebuah tawa yang penuh dengan luka yang dipaksakan menjadi tameng. "Kau ingin menghitung jasa? Baik, mari kita berhitung."
Ia mendekat, berdiri tepat di depan dada bidang pria itu, mengabaikan debaran jantungnya yang menggila.
"Kau hitung saja berapa malam kau meniduriku selama bertahun-tahun kita bersama. Apa aku pernah mengirimkan tagihan kepadamu? Apa aku pernah meminta bayaran atas setiap inci tubuhku yang kau nikmati setiap malam? Tidak! Itu gratis. Aku memberikannya dengan sukarela karena aku pikir itu cinta," suara Briella bergetar, namun ia tidak berhenti.
"Belum lagi sarapan yang kusiapkan untukmu setiap pagi selama bertahun-tahun. Kopi yang kupastikan suhunya tepat agar lidahmu yang berharga itu tidak terbakar saat kau sibuk dengan maket-maket sialanmu. Aku memberikan waktu, tenaga, dan perasaanku tanpa meminta satu sen pun. Jadi, jangan berani-berani bicara soal perhitungan jasa padaku, Lexington Valerio. Stop menjadi pengecut yang bersembunyi di balik angka!"
Hadiyan, yang berdiri di luar pintu, tampak mematung. Ia belum pernah melihat seseorang berani membentak Lexington dengan fakta sebrutal itu.
Wajah Lexington menegang. Rahangnya mengeras, dan sorot matanya yang tadi dingin kini berkilat dengan gairah kemarahan yang gelap. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memangkas jarak hingga Briella bisa merasakan panas tubuh pria itu.
"Pelayanan gigolo sepertiku, di mana lagi kau akan menemukannya, Briella?" bisik Lexington, suaranya serak dan berbahaya. Ia merunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Briella, membiarkan napasnya menyapu kulit leher gadis itu.
"Ingat ini... aku memuaskanmu setiap malam. Aku tahu setiap titik yang membuatmu memohon, setiap sentuhan yang membuatmu lupa cara bernapas. Jika kau ingin menganggap itu sebagai pertukaran jasa, maka kau masih berutang padaku, karena kepuasan yang kuberikan jauh melampaui harga kopi dan sarapan yang kau buat."
Briella terkesiap, tangannya secara refleks terangkat untuk menampar wajah sombong itu, namun Lexington dengan sigap menangkap pergelangan tangannya di udara.
Cengkeramannya kuat, namun tidak menyakiti—sebuah dominasi yang sangat familiar bagi Briella.
"Jangan gunakan tangan doktermu untuk melakukan hal ceroboh seperti ini," ucap Lexington dingin. Ia melepaskan tangan Briella dengan sentakan kecil. "Simpan tenagamu. Besok pengacaraku akan datang bukan untuk membahas desain klinik ini, tapi untuk membahas komentar 'tidak berdaya' yang kau unggah. Aku ingin melihat bagaimana kau membuktikan kata-katamu di depan hukum, Dokter Zamora."
Lexington berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Suara langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran Briella.
Begitu pintu tertutup, lutut Briella terasa lemas. Ia ambruk di kursi kerjanya, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Bukan hanya ia telah memprovokasi pria paling berpengaruh di industri otomotif, tapi ia juga telah membuka kembali kotak pandora berisi kenangan yang seharusnya tetap terkunci.
"Brengsek... pria Valerio brengsek," isaknya pelan.
Di luar, di dalam lift pribadi klinik, Lexington berdiri diam. Matanya menatap bayangan dirinya di dinding lift yang mengkilap.
"Dia benar-benar berani sekarang," gumam Hadiyan, mencoba memecah kesunyian. "Tapi Lex, soal komentar itu... apa kau benar-benar akan menuntutnya?"
Lexington tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya di dalam saku jas.
Kata-kata Briella tentang "menidurinya selama bertahun-tahun secara gratis" terus berputar di kepalanya seperti mesin yang mengalami overheat.
Ada bagian dari dirinya yang merasa terhina, tapi ada bagian lain yang jauh lebih dalam—bagian yang merindukan bagaimana gadis itu memanggil namanya di tengah malam.
"Biarkan dia merasa takut sebentar lagi," ucap Lexington akhirnya saat pintu lift terbuka. "Dia butuh pelajaran tentang konsekuensi dari kecerobohannya. Dan aku adalah guru yang sangat sabar."
Sementara itu, di dalam kantornya, Briella segera menyambar ponselnya. Ia menghubungi Belle dengan jari gemetar.
"Belle... dia datang. Lexington datang ke klinik," ucap Briella begitu panggilan tersambung.
"Apa?! Lalu apa yang terjadi? Kau tidak memukulnya kan?" suara Belle terdengar panik.
"Lebih buruk dari itu. Kami beradu argumen tentang... tentang malam-malam kami dulu. Dan dia mengancam akan menuntutku. Belle, aku bisa kehilangan segalanya. Kliniku, izin praktikku... semuanya."
"Tenang, Bri. Dengar, kau punya aku. Kita akan cari pengacara terbaik di California. Tapi sekarang, kau harus tetap tenang. Jangan unggah apa pun lagi. Jangan tanggapi komentar netizen. Aku akan ke sana sekarang."
Setelah menutup telepon, Briella menatap meja bedahnya yang terlihat dari balik kaca transparan ruang kerjanya.
Ruangan itu dirancang oleh Lexington dengan sangat sempurna, setiap sudutnya diperhitungkan untuk mempermudah gerakannya.
Ia membenci kenyataan bahwa bahkan setelah lima tahun, ia masih hidup di dalam kerangka bangunan yang diciptakan oleh pria yang telah menghancurkan hatinya.
Briella berdiri, berjalan menuju dinding yang memajang foto sebelum dan sesudah pasien-pasiennya yang paling sukses.
"Kau bilang aku ceroboh, Lex?" gumamnya pada kegelapan yang mulai merayap di sudut ruangan. "Mari kita lihat seberapa ceroboh aku saat aku memutuskan untuk menghancurkanmu kembali."
Namun jauh di lubuk hatinya, Briella tahu satu kebenaran yang menakutkan: Lexington Valerio bukan sekadar mantan kekasih. Dia adalah candu yang ia benci, dan pertemuan hari ini membuktikan bahwa dosis sekecil apa pun dari pria itu sudah cukup untuk membuat dunianya yang tertata rapi kembali menjadi puing-berdebu.
...----------------...
Malam itu, Los Angeles diguyur hujan tipis. Di sebuah apartemen mewah, Lexington berdiri di balkon, membiarkan air hujan membasahi wajahnya. Ia memegang sebuah foto lama yang sudah agak kusam di bagian pinggirnya—foto Briella yang sedang tertidur di meja kerjanya yang berantakan, dikelilingi buku-buku anatomi.
"Kau tetap gadis yang sama, Briella Zamora," bisiknya lirih. "Berisik, ceroboh, dan selalu tahu cara membuatku kehilangan kendali."
Ia meremas foto itu, namun tidak membuangnya. Ia menyimpannya kembali ke dalam laci terkunci di mejanya.
Besok akan menjadi hari yang panjang bagi mereka berdua. Sebuah perang yang dimulai dari satu komentar emosional, kini berubah menjadi pertarungan harga diri antara dua orang yang pernah saling memiliki segalanya, namun berakhir dengan saling asing yang penuh luka.
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya