Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.17
Pasutri baru itupun memasuki salah satu toko buku yang berada di lantai dua. Seketika, suasana menjadi lebih tenang daripada saat mereka masih berada diluar toko buku itu.
Keduanya berjalan berdampingan, menelusuri setiap lorong rak dengan langkah santai, mencari buku yang diinginkan Alisa.
Sampai akhirnya, langkah Alisa terhenti tepat di depan sebuah rak bertuliskan Fashion & Design. Mata gadis itu langsung berbinar saat melihat deretan buku-buku tentang fashion & design.
Seperti seorang anak yang baru saja dibelikan permen oleh orang tuanya. Wajahnya langsung ceria saat melihat deretan buku-buku yang sudah lama ia inginkan.
“Buku desain? Ini yang kamu cari?” tanya Harlan, menoleh ke arahnya.
Alisa mengangguk pelan, tangannya terulur, meraih salah satu buku dari rak itu. Buku yang ingin sekali ia miliki.
“Sejak remaja, aku suka sekali sama dunia fashion,” ucapnya lembut, tanpa memalingkan pandangannya dari buku itu.
Tangannya mengusap perlahan sampul buku dengan sangat hati-hati, seakan tengah mendapatkan barang berharga.
Harlan memperhatikan ekspresi itu. Ekspresi yang berbeda dari biasanya. Ada kejujuran dan juga luka di balik ekspresi itu.
“Kalau begitu… kenapa kamu kuliah manajemen? Bahkan sampai S2?” tanyanya, dengan nada suara yang dipenuhi rasa penasaran.
Alisa terdiam sejenak. Senyum tipis yang tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, berganti dengan tatapan yang sendu.
“Karena hidup itu harus realistis, Mas. Aku tidak berada di posisi yang bisa melakukan apa pun yang aku mau.” jawabnya pelan.
Ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya dengan suaranya mulai bergetar. Namun, Alisa berusaha untuk tetap tenang.
“Suka atau tidak, mau atau tidak, aku harus berjalan di jalan yang membuatku bisa bertahan. Meski itu bukan jalan yang aku inginkan, tapi… aku harus tetap berjalan disana.”
Harlan mengerutkan kening semakin dalam, jelas tidak paham dengan apa yang dijelaskan oleh Alisa.
“Tidak masuk akal. Kamu punya ayah seorang pengusaha besar yang memiliki kekayaan yang cukup untuk menanggung kehidupanmu. Tapi… kamu justru harus mengorbankan hobi dan cita-citamu hanya untuk… bertahan hidup?” ucap Harlan membuat Alisa tersenyum kecil.
Bukan senyum bahagia, melainkan senyum yang menyimpan banyak luka yang tidak bisa diungkapkan.
“Ironis memang, tapi… inilah hidup yang selama ini aku jalani, Mas.”
Ia menutup buku yang sedari tadi ia pegang, lalu memeluknya, membawa buku itu dalam dekapannya.
“Meski begitu, aku tetap bersyukur. Karena dari hidup seperti inilah… aku jadi belajar bagaimana caranya benar-benar bersyukur.” lanjutnya.
Harlan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa gadis yang ia nikahi secara mendadak itu, bukan hanya sekadar wanita lembut yang selalu terlihat tenang.
Namun, ada banyak hal yang sepertinya ia sembunyikan. Dan entah kenapa… hal itu membuat Harlan ingin mengenalnya lebih dekat lagi.
Harlan menghela nafas pelan. Tatapannya masih tertuju pada Alisa yang kini berdiri memeluk buku itu, seolah buku itu adalah barang berharga yang takut lepas dari genggaman.
“Kalau… kamu memang suka. Kenapa tidak dicoba saja? Maksudku… kamu bisa mulai dari awal.” ucap Harlan.
Alisa mengangkat kepalanya, menatap Harlan dengan tatapan penuh dengan tanya dan sedikit keterkejutan.
“Maksud Mas?” tanyanya pelan.
“Ya… sebagai langkah awal, kamu bisa mulai dengan ambil kursus desain, misalnya, lalu pergi ke berbagai peragaan busana agar kamu bisa lebih mendalami ilmu dan menambah pengalaman di bidang fashion.” lanjut Harlan yang terlihat antusias mendukung hobi dan cita-cita Alisa untuk menjadi seorang fashion designer.
Alisa terdiam. Mencoba mencerna ucapan Harlan. ‘Mencobanya’ kalimat yang sederhana tapi tidak sesederhana itu, saat dilakukan.
Karena pada kenyataannya, Alisa pernah gagal meski sudah berusaha keras mewujudkan mimpinya itu.
“Aku… tidak yakin, Mas. Aku tidak yakin kalau aku bisa,”
“Apa yang membuat kamu tidak yakin?”
“Dulu… aku pernah mencoba, tapi semua itu gagal. Aku takut, jika aku tidak bisa menyelesaikannya dan kembali berakhir dengan kegagalan.”
Harlan tidak langsung menjawab. Ia paham betul kemana arah pembicaraan Alisa. Ia hanya melangkah sedikit lebih dekat, berdiri di samping Alisa, mensejajarkan diri dengannya.
Harlan membuka tas selempang yang menempel di dadanya, mengambil dompetnya yang tersimpan di dalam sana, lalu meraih tangan Alisa dan menyimpan dompet itu di telapak tangan gadis itu.
“Ini…” tanya Alisa menatap bingung kearah dompet yang ada di tangannya.
“Dompet,” jawab Harlan singkat.
“Iya. Aku tahu ini dompet. Tapi… kenapa Mas memberikannya kepadaku?”
“Biar kamu yakin, kalau mulai sekarang, sudah tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan. Isi dompet ini akan menyelesaikan semua masalah yang kamu hadapi. Sama, satu lagi….”
Harlan menjeda ucapannya sejenak, lalu mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Kemudian, ia simpan tepat di atas dompet yang masih ada di tangan Alisa.
“Ini… dua benda ini, mulai sekarang setengah hak miliknya ada di tangan kamu. Jadi, masih adakah yang perlu kamu khawatirkan?”
Alisa terdiam membeku. Bagaimana tidak, saat ini, di tangannya ada dua benda yang bernilai ratusan juta, ah tidak. Mungkin juga miliaran.
Meski kedua benda itu tidak berbentuk uang. Namun, kedua benda itu memiliki nilai yang cukup fantastis.
Perlahan, ia mengangkat pandangannya, menatap lurus ke arah Harlan. Menatap pria itu dengan tatapan bingung dan tanya yang tidak bisa ia ucapkan saking shocknya.
Beberapa detik kemudian, Alisa pun mulai tersadar. Ia bergegas mengembalikan kedua benda itu ke tangan Harlan.
“Tidak, Mas. Ini… terlalu berlebihan,” ucapnya pelan. Mencoba menenangkan dirinya dari keterkejutan.
Berbeda dengan Harlan yang terlihat sangat tenang, seolah apa yang ia lakukan bukanlah hal yang besar dan mengejutkan.
“Ini tidak berlebihan, Alisa. Aku cuma mau melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang suami, dengan memindahkan rasa khawatir kamu… ke aku.” jawabnya santai.
Kalimat itu membuat dada Alisa terasa hangat, tapi juga menyesakkan di saat yang bersamaan.
“Tidak, Mas… ini terlalu cepat. Kita, masih butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain sampai akhirnya Mas bisa benar-benar percaya sama aku,”
“Tapi aku percaya sama kamu, Alisa,”
“Percaya, sama aku? Secepat itu? Memangnya, Mas tidak takut?”
“Takut soal apa?”
“Kalau aku… memanfaatkan Mas?”
Harlan tersenyum tipis. Terlihat jauh lebih santai saat menanggapi Alisa yang terlihat panik dan takut.
“Memanfaatkan aku? Memanfaatkan seseorang hanya untuk kepentingan pribadi. Memangnya, kamu yakin, bisa melakukan itu?” tanya Harlan dengan nada yang santai, namun tegas.
Hening. Suasana di antara mereka kembali hening. Alisa tidak bisa menjawab pertanyaan Harlan.
Ia hanya menunduk dalam. Entah apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan itu.