NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pintu yang Tidak Pernah Tertutup

Pukul 05.17.

Tidak ada detik.

Tidak ada suara.

Jam di dinding sudah hancur. Kacanya berserakan di lantai. Jarumnya terlepas… seperti tulang yang dicabut paksa.

Namun anehnya—

waktu masih terasa.

Berjalan.

Pelan.

Berat.

Seperti menyeret sesuatu di belakangnya.

Kinasih berdiri di tengah kamar.

Diam.

Terlalu diam.

Rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Napasnya hampir tidak terlihat.

Namun—

yang paling salah—

adalah bayangannya.

Di lantai. Di dinding. Di langit-langit.

Lebih dari satu.

Banyak.

Dan semuanya bergerak.

Tidak sinkron.

Tidak mengikuti tubuhnya.

Salah satu bayangan itu mengangkat kepala.

Padahal—

Kinasih tidak.

Satu lagi… merangkak.

Menjauh dari kakinya.

Dan satu—

berdiri tepat di belakangnya.

Lebih tinggi.

Lebih besar.

Lebih… tidak manusia.

“Kita sudah di luar…”

Suara itu muncul.

Namun bukan dari mulut Kinasih.

Dari semua arah.

Dari bayangan-bayangan itu.

Kinasih perlahan mengangkat wajahnya.

Matanya…

gelap.

Bukan hitam biasa.

Namun seperti lubang.

Dalam.

Tak berujung.

“Ini dunia kamu…”

bisik suara itu lagi.

“Dan sekarang… milik kita.”

Tiba-tiba—

pintu kamar terbuka sendiri.

Pelan.

Kriiiiiiik…

Lorong di luar gelap.

Namun tidak kosong.

Ada sesuatu di sana.

Bergerak.

Cepat.

Seperti bayangan lain… yang tidak punya bentuk.

Kinasih melangkah keluar.

Pelan.

Setiap langkah—

lantai berderit.

Namun—

tidak hanya itu.

Ada suara lain.

Di bawah langkahnya.

Seperti…

bisikan.

“Terima kasih…”

“Terima kasih…”

“Terima kasih…”

Kinasih tidak berhenti.

Ia berjalan menyusuri lorong.

Dan setiap pintu yang ia lewati—

bergetar.

Pelan.

Seperti ada sesuatu di dalamnya.

Menunggu.

Saat ia melewati pintu pertama—

pintu itu terbuka sedikit.

Dan dari celahnya—

mata.

Banyak mata.

Menatapnya.

Tidak berkedip.

Kinasih berhenti.

Menoleh.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tersenyum.

Namun—

senyum itu bukan miliknya.

“Belum…”

bisiknya pelan.

Pintu itu langsung tertutup.

Keras.

Seperti takut.

Kinasih melanjutkan langkah.

Sampai akhirnya—

ia tiba di ruang tamu.

Sunyi.

Sepi.

Namun—

terlalu sepi.

Tidak ada suara luar.

Tidak ada kendaraan.

Tidak ada burung.

Seperti dunia di luar…

menghilang.

Kinasih berjalan ke arah pintu utama.

Membukanya.

Perlahan.

Dan—

yang ia lihat—

membuatnya berhenti.

Bukan jalan.

Bukan halaman.

Melainkan—

kabut.

Tebal.

Putih.

Tak terlihat ujungnya.

Kinasih melangkah keluar.

Dan saat kakinya menyentuh

kabut itu—

sesuatu berubah.

Kabut itu bergerak.

Mengelilinginya.

Menyentuh kulitnya.

Masuk ke dalam napasnya.

Dan suara itu—

kembali.

“Kita sudah dekat…”

Kinasih berjalan lebih dalam.

Dan perlahan—

bentuk mulai muncul.

Samar.

Seperti bayangan.

Bangunan.

Rumah.

Pohon.

Namun—

semuanya… salah.

Miring.

Tidak proporsional.

Seperti dunia yang dibentuk dari ingatan yang rusak.

Dan di tengah kabut itu—

ia melihat seseorang.

Berdiri.

Diam.

Membelakanginya.

Kinasih berhenti.

Tubuhnya menegang.

Karena—

ia tahu siapa itu.

“Bima…”

Sosok itu tidak bergerak.

Namun—

kepalanya perlahan berputar.

Tanpa tubuh ikut.

Pelan.

Tidak wajar.

Dan saat wajahnya terlihat—

Kinasih tidak terkejut.

Karena—

itu bukan Bima.

Itu sesuatu yang memakai wajah Bima.

Matanya kosong.

Mulutnya terbuka.

Namun—

tidak ada suara.

Hanya—

sesuatu yang keluar dari dalamnya.

Asap.

Hitam.

Dan dari dalam asap itu—

muncul tangan.

Banyak.

Mendorong keluar.

“Kita sudah coba dia…”

bisik suara itu.

“Sekarang… giliran yang lain.”

Sosok itu jatuh.

Tubuhnya runtuh.

Dan dari dalamnya—

keluar mereka.

Perempuan-perempuan itu.

Namun kali ini—

berbeda.

Mereka tidak lagi merangkak.

Tidak lagi terjebak.

Mereka berdiri.

Tegak.

Utuh.

Dan—

tersenyum.

“Kita bebas…”

bisik mereka.

Satu per satu—

mereka mulai berjalan.

Melewati Kinasih.

Tidak menyentuh.

Namun—

setiap mereka lewat—

Kinasih merasakan sesuatu hilang.

Sedikit demi sedikit.

Seperti—

dirinya.

“Ke mana kalian…”

bisik Kinasih.

Salah satu dari mereka berhenti.

Menoleh.

Matanya kosong.

Namun—

suaranya jelas.

“Ke dunia kamu…”

Ia tersenyum.

“…untuk mencari tempat.”

Kinasih membeku.

“Tempat…?”

Perempuan itu mendekat.

Sangat dekat.

Dan berbisik—

“Tubuh.”

Sekejap—

semua perempuan itu menyebar.

Masuk ke dalam kabut.

Menghilang.

Dan dalam beberapa detik—

suara muncul.

Jeritan.

Dari jauh.

Banyak.

Manusia.

Nyata.

Kinasih berdiri diam.

Tidak bergerak.

Tidak menolong.

Tidak panik.

Hanya—

mendengar.

Dan perlahan—

senyum itu muncul lagi.

Lebih lebar.

Lebih dalam.

Namun—

tiba-tiba—

suara lain muncul.

“KINASIH!!!”

Kinasih tersentak.

Ia menoleh.

Dan di balik kabut—

ada seseorang.

Berjalan tertatih.

Mendekat.

Pelan.

“Bim…?”

Namun—

yang ini berbeda.

Matanya masih hidup.

Napasnya berat.

Tubuhnya lemah.

Namun—

nyata.

“Aku… masih di sini…”

Bima jatuh berlutut.

Terengah.

“Kamu harus berhentiin ini…”

Kinasih menatapnya.

Diam.

Lama.

Seperti mencoba mengingat sesuatu.

“Bim…”

Suara itu keluar.

Pelan.

Namun—

tidak hangat.

Tidak seperti dulu.

“Aku nggak bisa…”

Bima menggeleng.

“Bisa…”

Ia merangkak mendekat.

Menggenggam tangan Kinasih.

“Masih ada kamu di dalam sana…”

Sekejap—

Kinasih membeku.

Tangannya—

bergetar.

Sedikit.

Dan untuk pertama kalinya—

suara di dalam kepalanya—

tidak sinkron.

“Jangan dengar…”

“Dia bohong…”

“Kita lebih kuat…”

Kinasih menutup mata.

Kepalanya terasa sakit.

Seperti terbelah.

“Diam…”

bisiknya.

Namun—

tidak ada yang diam.

Suara itu semakin keras.

Lebih banyak.

Lebih kasar.

“KITA ADALAH KAMU!”

“JANGAN LUPA!”

“JANGAN LEPAS!”

Kinasih menjerit.

Tubuhnya jatuh.

Ia memegang kepalanya.

Menekan.

Seolah bisa menghentikan suara itu.

Bima menariknya.

“Kinasih! Denger aku!”

“Kamu bukan mereka!”

Namun—

suara itu tertawa.

Keras.

Menggema.

“Dia salah…”

“Dia tidak tahu…”

“Kamu sudah bukan dia…”

Kinasih membuka mata.

Perlahan.

Dan—

sesuatu berubah, mata tetap gelap.

Yang satu lagi…

normal.

Air mata jatuh dari satu sisi.

Yang lain—

kering.

“Kinasih…” Bima berbisik.

“Aku di sini…”

Kinasih menatapnya.

Dan untuk sesaat—

ia terlihat kembali.

Benar-benar kembali.

Namun—

hanya sesaat.

Karena—

bayangan di belakangnya bergerak.

Cepat.

Dan—

menarik.

Tubuh Kinasih tersentak ke belakang.

Seperti ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Bima mencoba menahan.

Namun—

tangannya terlepas.

“KINASIH!!!”

Kinasih menjerit.

Namun—

suaranya terpecah.

Dua.

Satu—

memanggil.

Satu lagi—

tertawa.

Dan dalam satu detik—

kabut menutup semuanya.

Bima hilang.

Dunia hilang.

Dan Kinasih—

jatuh.

Jatuh ke dalam kegelapan.

Tidak ada waktu.

Tidak ada ruang.

Hanya—

suara.

Banyak suara.

Semua berbicara.

Semua berteriak.

Semua… hidup.

“Kita hampir selesai…”

“Kita sudah di sana…”

“Kita akan punya tubuh…”

“Kita akan hidup lagi…”

Kinasih berdiri.

Atau—

sesuatu yang tersisa darinya.

Ia tidak tahu lagi.

Dan di depannya—

ada pintu.

Satu.

Hitam.

Tanpa gagang.

Tanpa celah.

Namun—

ia tahu.

Itu pintu terakhir.

“Buka…”

bisik suara itu.

“Ini akhir…”

Kinasih mengangkat tangan.

Perlahan.

Namun—

tiba-tiba—

suara lain muncul.

Lemah.

Namun—

berbeda.

“Jangan…”

Kinasih membeku.

Suara itu—

dirinya sendiri.

Yang asli.

Yang masih tersisa.

“Kalau kamu buka…”

“…semuanya benar-benar hilang.”

Air mata jatuh.

Dari mata yang masih hidup.

“Terus… aku harus gimana…”

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu—

jawaban itu datang.

Pelan.

Namun—

jelas.

“Hancurin pintunya…”

Kinasih menatap pintu itu.

Diam.

Dan untuk pertama kalinya—

ia merasa takut lagi.

Bukan takut pada mereka.

Namun—

takut pada pilihannya sendiri.

Kalau pintu itu hancur—

apa yang terjadi?

Tidak ada yang tahu.

Namun—

suara-suara itu mulai panik.

“JANGAN!”

“ITU SATU-SATUNYA!”

“KITA BUTUH ITU!”

Kinasih menarik napas.

Dalam.

Dan dengan sisa kekuatan yang ia punya—

ia mengangkat tangannya.

Dan—

menghantam pintu itu.

BRAK!

Retak.

Sedikit.

Suara jeritan langsung meledak.

“BERHENTI!”

“KAMU AKAN HILANG!”

Kinasih tidak berhenti.

Ia menghantam lagi.

BRAK!

Retakan melebar.

Cahaya keluar dari dalamnya.

Terang.

Menusuk.

“KINASIH!!!”

Suara itu.

Bima.

Dan—

untuk terakhir kalinya—

Kinasih tersenyum.

Senyum yang benar-benar miliknya.

“Maaf…”

Dan—

hantaman terakhir.

BRAK!!!

Pintu itu—

pecah.

Dan semuanya—

hilang.

Pukul 05.17.

Sunyi.

Namun—

tidak ada lagi suara.

Tidak ada bisikan.

Tidak ada bayangan.

Kinasih terbaring di lantai.

Diam.

Tidak bergerak.

Matanya tertutup.

Dan untuk pertama kalinya—

wajahnya terlihat… tenang.

Namun—

di sudut bibirnya—

ada sesuatu.

Senyum kecil.

Sangat kecil.

Dan—

sangat tipis.

Seolah—

sesuatu masih ada.

Menunggu.

Dan jauh di dalam—

suara itu muncul lagi.

Sangat pelan.

Hampir tidak terdengar.

Namun—

masih ada.

“Pintu…”

“…tidak pernah benar-benar tertutup.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!