Bunga adalah gadis yang di juluki si Bodoh, ia di paksa nikah dengan seorang lelaki pilihan papanya yaitu Muis yang dimana sahabat masa kecilnya.
Hari-hari pernikahan mereka di lalui, Muis mengira gadis itu beneran bodoh dan seperti kekanak-kanakan namun di balik itu Bunga tidak seperti yang di duga. Ia menikah dengan Muis karena ia ingin membalas dendam kepada keluarganya itu,
— Stupid Wife —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Kecewa
Bunga mengintip sang suami yang sedang bermain ponsel, karena tadi keduanya sedang menonton di ponsel Muis. Apalagi tadi ia sempat baca pesan Muis dan Areta yang entah kenapa membuatnya terbakar
Ia menarik paksa ponsel Muis, membuat lelaki tersebut tercengang " Bang, kita lagi nonton loh kenapa abang malah ngetik! " Gerutu Bunga ia sekilas melihat isi pesan tersebut. Yang pada terakhirnya Muis mengirimkan foto transaksi nya ke Areta berhasil,
Gadis itu bergegas membuka aplikasi, dimana ia suka sekali menonton berbagai kegiatan orang. Muis menggeleng kan kepalanya ia sedikit terkejut dengan gadis itu yang tetiba menjatuhkan kepalanya di dada bidangnya, dengan lembut lelaki itu mengusap kepalanya
" 𝘈𝘳𝘦𝘵𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶𝘢𝘯. 𝘔𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘦 𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘶𝘪𝘴 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘫𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘫𝘶𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘪 . 𝘑𝘢𝘫𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘫𝘶𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘵𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘶𝘳" Batin Bunga
Tak terasa pelupuk mata lelaki tersebut, menutupkan matanya membuat Bunga tersenyum senang ia bergegas membuka — Aplikasi Whatsapp dan meng-klik kontak kaka nya.
Areta
𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘶𝘪𝘴 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘦𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯!
Bunga mencebik tajam, membaca pesan yang belum sempat suaminya baca tersebut
" Masak?, sejak kapan dia bisa masak?. Bukannya selama ini yang masak bibi?.. Dasar Ipar adalah mautt! " Cebik Bunga
Ia tersenyum senang, ternyata yang di kirim adalah nomor rekening milik nya. Yang di pegang kakanya itu, adalah kartunya jadinya ia bisa sentiasa membeku kan ATM tersebut karena sedari ia berusia lima belas tahun yang seharusnya Raihan mengasih kartu debit ke kedua anaknya. Malah mengasih dua kartu itu ke Areta namun atas nama Bunga,
Dengan alasan Kuno "𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩, 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶. 𝘕𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘫𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 1000 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘬! "
Bunga, beranjak dengan hati-hati memastikan suaminya tidak bangun ia bergegas ke teras rumah tersebut angin malam menyapanya membuatnya mengigil untung ia memakai mantel.
" 𝗛𝗮𝗹𝗼 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁 𝗺𝗮𝗹𝗮𝗺. 𝗔𝗱𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗯𝗮𝗻𝘁𝘂? " Tanya seorang wanita yang ada di negara lain itu,
" 𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁 𝗺𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗺𝗯𝗮𝗸, 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗕𝘂𝗻𝗴𝗮 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗶𝗻𝗴𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗽𝗼𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗹𝗮𝘂 𝗸𝗮𝗿𝘁𝘂 𝗱𝗲𝗯𝗶𝘁 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗱𝗶 𝗯𝗲𝗸𝘂 𝗸𝗮𝗻" Pinta Bunga dengan suara formal dan sopan
" 𝗢𝗵, 𝘆𝗮 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝘁𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁𝗸𝗮𝗻. 𝗡𝗮𝗺𝗮 𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗻𝘆𝗮? "Bunga menyebutkan nama panjangnya, lalu malam itu ATM nya langsung di blokir ia tersenyum ingin melihat langsung rasanya Areta tantrum namun sayangnya ia tidak bisa melihat itu.
" Sayang minum teh hangatnya, habis itu kita berangkat " Kata Muis kepada Bunga yang sedang asik memakan takoyaki, untuk sarapan kali ini
" Nanti! " Sahut Bunga sembari menikmati setiap suapan yang ia makan tersebut, Muis tersenyum bahagia tetiba sebuah suara muncul di pikirannya " 𝘖𝘣𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘢"
Muis mengklik kontak seseorang, ia beranjak dari duduknya ia membiarkan gadis itu makan membuat Bunga memicing kan matanya rasa penasaran nya ingin sekali menguping pembicaraan suaminya. Namun jiwa malas nya melekat jadi ia memilih makan daripada menguping " 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘨𝘶𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘉𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘥𝘰𝘴𝘢! "
Sementara itu di teras Muis, sedang berbicara dengan dokter alih bedah yang biasa membedah pasiennya yang memiliki penyakit otak seperti Bunga.
“𝗵𝗮𝗹𝗼 𝗯𝗿𝗼, 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘂 𝗱𝗮𝘁𝗲𝗻𝗴 𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗱𝗶 𝗛𝗶𝗿𝗼𝘀𝗵𝗶𝗺𝗮 𝗸𝗮𝗻?. 𝗟𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴 𝗮𝗷𝗮 𝗸𝗲 𝗠𝗮𝘁𝘀𝘂𝘆𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗶𝘀𝗮𝗻𝗮 𝗹𝗼 𝗹𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴 𝗮𝗷𝗮 𝗸𝗲 𝗸𝗹𝗶𝗻𝗶𝗸 𝗴𝘂𝗲 " Kata Rian teman baik Muis yang berprofesi dokter bedah itu,
" 𝗬𝗮, 𝗻𝗮𝗻𝘁𝗶 𝗴𝘂𝗲 𝗯𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗱𝘂𝗹𝘂 𝗸𝗲 𝗕𝘂𝗻𝗴𝗮 𝗻𝘆𝗮 "
" 𝗢𝗸𝗲, 𝗴𝘂𝗲 𝘁𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂! "
Muis kembali ke meja makan disana gadis itu masih berkutat dengan makanan penutup, yaitu puding caramel khas Jepang Muis menatap gadis itu lekat.
" 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘯𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘪𝘬𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘯 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘶-𝘮𝘢𝘭𝘶𝘪𝘯! " Batin Muis tetiba ia menggeleng kan kepalanya senyuman Bunga dan kata-kata polos Bunga menyusup masuk ke otaknya,
" 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘮𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪. "
" Dek! " Panggil Muis membuat Bunga menoleh dengan bibir yang berantakan bekas ia makan. " Ada yang mau abang bicarakan! " Tangan Muis mengambil beberapa helai tisu lalu menyeka bekas makanan tersebut.
" Apa? " Tanya Bunga dengan mata polos
" Abang, mau kamu di operasi otak kamu. Agar kamu bisa menjadu normal kembali! " Ungkap Muis dengan suara berat
Gadis itu terdiam sejenak, bibirnya bergetar tidak percaya menatap Muis dengan tatapan kecewa. Ia pikir Muis akan menerimanya apa ada nya namun ternyata Muis sama saja,
" Abang mau kamu sembuh! "
" Abang, jahat abang sama kaya semuanya! " Bunga beranjak dari duduknya menatap penuh kemarahan. Tangannya mengepal di balik tubuhnya " Bang, aku memang bodoh tapi aku masih punya perasaan!.. Abang dengan entengnya berkata seperti itu aku kecewa! " Ungkap Bunga lalu berlari entah kemana membuat Muis terpaku
" Sayang! "