Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Gilang mendekat.
Langkahnya terkontrol, sedikit lebih cepat.
“Bu,” ucapnya singkat.
Ibunya menoleh. “Sudah?”
Gilang mengangguk. “Sudah. Kita pulang aja, ya.”
Ibunya mengangguk pelan.
Gilang langsung berdiri di belakang kursi roda, siap mendorong.
Di saat itu, matanya sempat bertemu dengan Valeria.
Hanya sekilas.
Dingin.
Seolah tidak saling kenal.
Valeria membalas tatapan itu… sama datarnya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada tanda apa-apa.
Ia sedikit menyingkir.
“Permisi, Bu,” ucapnya sopan.
Ibunya mengangguk. “Iya, Nak.”
Gilang tidak berkata apa-apa lagi.
Ia langsung mendorong kursi roda ke depan.
Wildan berjalan di sampingnya.
Mereka melewati Valeria begitu saja.
Tidak ada yang menoleh.
Langkah mereka menjauh.
Semakin jauh.
Sampai akhirnya hilang di tikungan lorong.
Valeria masih berdiri di tempatnya.
Diam.
Matanya mengikuti arah mereka pergi.
Beberapa detik.
Lalu ia mengerutkan kening pelan.
“…Ibunya?” gumamnya hampir tak terdengar.
Ia terdiam lagi.
Seperti mencoba menyusun sesuatu di kepalanya.
Tatapan Gilang barusan.
Cara dia menghindar.
Dan wanita itu,
Valeria menarik napas pelan.
Wajahnya tetap tenang, tapi pikirannya jelas tidak.
Beberapa detik kemudian, ia berbalik.
Langkahnya kembali menuju ruang dokter.
Lebih pelan dari sebelumnya, berjalan menuju poli kandungan.
Valeria duduk di kursi tunggu poli kandungan.
Tangannya menggenggam ponsel, tapi tidak benar-benar ia lihat. Pandangannya kosong, sesekali melirik ke arah pintu masuk.
Sudah beberapa menit ia menunggu.
Ia membuka layar ponsel.
Tidak ada pesan baru.
Valeria menarik napas pelan, lalu mengetik sesuatu.
“Kamu di mana?”
Pesan itu terkirim.
Beberapa detik.
Belum dibaca.
Ia menahan napas sejenak, lalu mencoba menelepon.
Satu kali.
Dua kali.
Tidak diangkat.
Valeria menurunkan ponselnya pelan ke pangkuan.
Rahangnya mengeras sedikit.
“Katanya mau datang…” gumamnya pelan.
Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap lurus ke depan. Wajahnya tetap tenang, tapi jemarinya mulai gelisah memainkan ujung tasnya.
Seorang perawat keluar dari dalam ruangan.
“Bu Valeria?” panggilnya.
Valeria langsung menoleh.
“Iya.”
“Silakan masuk dulu, Bu. Dokternya sudah menunggu.”
Valeria ragu sebentar.
Matanya kembali melirik ponsel di tangannya.
Masih tidak ada kabar.
Ia menarik napas pendek, lalu berdiri.
“Suami saya belum datang,” katanya singkat.
Perawat itu mengangguk. “Tidak apa-apa, Bu. Bisa konsultasi dulu.”
Valeria diam sejenak.
Lalu akhirnya mengangguk kecil.
“Baik.”
Ia melangkah masuk ke dalam ruangan.
Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Valeria duduk di kursi pemeriksaan. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, tapi jemarinya saling menggenggam lebih erat dari biasanya.
Dokter membuka berkas di depannya, lalu menatap Valeria dengan tenang.
“Silakan, Bu. Ada yang ingin dikonsultasikan?”
Valeria menarik napas pelan.
“Saya… sudah menikah beberapa tahun,” katanya hati-hati. “Siklus haid saya teratur. Saya juga sudah beberapa kali cek sebelumnya… katanya tidak ada masalah.”
Dokter mengangguk, mendengarkan.
“Tapi sampai sekarang… saya belum hamil,” lanjut Valeria, suaranya sedikit lebih pelan. “Saya jadi bingung… sebenarnya yang salah di mana.”
Ruangan itu hening sejenak.
Dokter menutup berkasnya perlahan.
“Kalau dari sisi Ibu, sejauh ini hasilnya memang baik,” jawabnya tenang. “Siklus teratur, pemeriksaan sebelumnya juga normal. Itu tanda yang bagus.”
Valeria menunduk sedikit.
“Tapi kehamilan itu bukan hanya satu faktor,” lanjut dokter. “Ada banyak hal yang memengaruhi. Kondisi suami juga perlu diperiksa, pola hidup, tingkat stres…”
Valeria tidak langsung menjawab.
Tatapannya kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penjelasan medis.
Dokter melanjutkan dengan nada lebih pelan.
“Dan satu hal lagi, Bu… dalam dunia medis, kami bisa menjelaskan banyak hal. Tapi tetap ada bagian yang di luar kendali kita.”
Valeria mengangkat sedikit wajahnya.
Dokter tersenyum tipis.
“Rahim itu… sering disebut sebagai ‘wilayah Tuhan’. Maksudnya, sebaik apa pun kondisi secara medis, tetap ada kehendak yang tidak bisa kita atur sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi terasa berat.
Valeria terdiam.
Beberapa detik.
Pandangannya jatuh ke lantai.
Tanpa sadar, napasnya tertahan sebentar.
Di kepalanya, potongan-potongan kejadian beberapa hari terakhir muncul begitu saja.
Wajah Romeo.
Sentuhan tangannya.
Keputusan-keputusan yang ia ambil… dengan alasan yang ia yakini sendiri.
Ia menelan ludah pelan.
Kalau rahim adalah “wilayah Tuhan”…
Lalu apa yang selama ini ia lakukan?
Valeria memejamkan mata sebentar.
Ada perasaan yang tidak nyaman—bukan takut, bukan juga sekadar bersalah.
Lebih ke arah… sadar.
Sadar bahwa mungkin, tanpa ia akui, ia sedang melawan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia membuka mata lagi, menatap meja di depannya.
Tangannya masih terlipat rapi, tapi kali ini lebih kaku.
“Jadi…” suaranya pelan, “saya harus bagaimana, Dok?”
Dokter menatapnya dengan tenang.
“Kita jalani yang bisa dijalani. Periksa dari kedua sisi, jaga kondisi tubuh… dan sisanya, kita serahkan.”
Valeria mengangguk kecil.
Tidak ada jawaban lain.
Hanya satu kalimat yang terus terulang di kepalanya—
wilayah Tuhan.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan diketuk cepat.
“Permisi, Dok.”
Pintu terbuka, dan Dimas masuk dengan napas sedikit terengah. Keringat tipis terlihat di pelipisnya, kemejanya masih rapi tapi jelas ia datang terburu-buru.
“Maaf, Dok. Saya terlambat,” katanya, lalu menoleh ke Valeria. “Maaf…”
Valeria menatapnya sebentar.
“Iya,” jawabnya singkat.
Dimas duduk di kursi di sampingnya, masih mencoba menenangkan napas.
Dokter melihat mereka berdua, lalu berkata tenang, “Baik. Kita lanjut saja. Karena dari hasil Ibu sebelumnya tidak ada masalah, maka pemeriksaan selanjutnya perlu dari pihak suami.”
Valeria langsung menoleh ke Dimas.
Tatapannya tidak menekan, tapi jelas menunggu.
“Jadi… bisa kita lakukan sekarang?” tanya dokter.
Dimas diam sejenak.
Tangannya bertumpu di lutut, jemarinya saling mengait. Ia tidak langsung menjawab, hanya menarik napas pelan.
Valeria memperhatikan.
Ada jeda yang cukup lama.
“Mas…” panggilnya pelan.
Dimas akhirnya mengangguk.
“Iya… bisa,” jawabnya singkat.
Nada suaranya tidak sepenuhnya mantap.
Valeria menangkap itu.
Ada keraguan di sana.
Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Sebaliknya, ia justru menarik napas kecil—lebih ringan dari sebelumnya.
Setidaknya… Dimas tidak menolak.
“Itu sudah cukup,” katanya pelan.
Dimas menoleh sedikit, seolah ingin memastikan.
Valeria mengangguk kecil.
Dokter lalu berdiri. “Baik. Nanti akan saya arahkan ke pemeriksaan awal dulu, Pak.”
Dimas ikut berdiri, meski gerakannya masih terasa sedikit kaku.
Valeria bangkit pelan dari kursinya.
Pandangan mereka sempat bertemu sebentar.
Tidak ada senyum dan tidaka ada kehangatan.
Tapi setidaknya,
Valeria merasa sedikit lega.
Akhirnya, mereka benar-benar mulai menghadapi ini.