NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Siksaan dalam Sunyi

BAB 16: Siksaan dalam Sunyi

​Jarum jam dinding di atas pintu jati ruang kerja CEO telah bergeser melewati angka dua belas siang. Bunyi bel tanda istirahat makan siang sayup-sayup terdengar dari lantai bawah, diikuti oleh pemandangan di balik dinding kaca transparan yang perlahan mulai sepi. Satu per satu karyawan administrasi meninggalkan kubikel mereka, menyisakan koridor luar yang sunyi. Namun, bagi Luna Maharani, jam istirahat bukanlah sebuah penyelamat. Ruangan tertutup ini justru terasa semakin menyempit, menjelma menjadi sebuah sangkar emas yang kedap udara.

​Luna duduk diam di balik meja kerja barunya. Postur tubuhnya yang biasanya tegak kini tampak sedikit membungkuk, menyiratkan beban batin yang teramat berat. Blus sutra dusty rose yang membungkus tubuh ringkihnya tampak sedikit kusut di bagian dada, tempat di mana tangan Devano sempat menguncinya beberapa jam lalu. Di atas kepala, sanggul rendahnya masih dihiasi jepit rambut perak berbentuk bunga kecil yang kini terasa seperti mahkota duri.

​Sepasang mata bulat Luna yang melankolis menatap kosong ke arah permukaan meja kerja kayunya yang bersih. Kilau sayu di matanya memancarkan kedukaan yang teramat dalam, seolah dia adalah sesosok raga yang jiwanya telah direnggut paksa. Kedua tangan kuning langsatnya yang dingin saling meremas di atas pangkuan, menahan rasa perih yang menjalar dari pergelangan tangannya yang sempat memerah akibat cengkeraman kasar Devano.

​Di seberang ruangan, Devano masih duduk di kursi kebesarannya. Pria dengan tinggi seratus delapan puluh lima sentimeter itu tampak sama sekali tidak terusik oleh kedatangan jam makan siang. Kemeja hitam formalnya yang melekat pas di dada bidangnya memberikan kesan dingin yang tak tersentuh. Rahang perseginya yang kokoh bergerak samar saat dia mengunyah permen karet mint, sebuah usaha untuk mengusir sisa-sisa aroma melati milik Siska yang tadi sempat mengotori ruang udaranya.

​Mata elang Devano yang kelam sesekali melirik ke arah Luna. Ada kepuasan sadis yang terselubung di balik tatapannya melihat bagaimana wanita yang dia benci itu kini tampak begitu layu, hancur, dan tidak berdaya di bawah pengawasannya.

​Tok... Tok... Tok...

​Pintu jati besar itu terbuka sedikit. Rania, yang kini sudah mengganti lipstik merahnya menjadi lebih segar untuk makan siang, melongokkan kepalanya ke dalam. Matanya sempat melirik sinis ke arah Luna sebelum melemparkan senyuman manis yang dipaksakan kepada Devano.

​"Permisi, Tuan Devano. Menu makan siang Anda dari restoran Jepang langganan Anda sudah diantarkan oleh kurir. Apakah mau saya hidangkan di meja sofa sekarang?" tanya Rania dengan suara yang dibuat-buat semanja mungkin.

​Devano tidak mendongak. "Bawa masuk. Letakkan saja di meja rapat," jawabnya singkat dan dingin.

​Rania melangkah masuk dengan anggun, membawa nampan berisi kotak bento mewah yang menebarkan aroma gurih daging sapi wagyu panggang dan nasi hangat. Saat melewati meja Luna, Rania sengaja memperlambat langkahnya. Dia menunduk sedikit, lalu berbisik dengan nada mengejek yang teramat pelan, hanya untuk didengar oleh telinga Luna.

​"Kasihan sekali... diletakkan di dalam ruangan bos bukan karena disayang, tapi karena mau diawasi seperti maling," cibir Rania tajam, sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan setelah meletakkan makanan Devano.

​Klek. Pintu kembali tertutup.

​Aroma makanan mewah itu seketika memenuhi ruangan, memicu rasa perih di lambung Luna yang sejak pagi belum diisi sebutir nasi pun karena terburu-buru mengurus ibunya yang mengeluh sakit dada. Perutnya berbunyi samar, sebuah reaksi biologis yang tidak bisa dia kontrol. Luna menggigit bibir bawahnya yang dipoles warna nude alami, berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan menundukkan kepala semakin dalam.

​Devano bangkit dari kursi kerjanya. Langkah kakinya yang tegap dan berat terdengar mendekati meja rapat tempat kotak bento itu berada. Pria itu membuka tutup kotak makanan, membiarkan uap panas masakan merayap di udara ruangan. Namun, alih-alih langsung memakannya, Devano justru menoleh ke arah Luna.

​"Kemari, Asisten Luna," perintah Devano, suaranya baritonnya yang berat memecah kesunyian dengan begitu mutlak.

​Luna mengembuskan napas pendek yang terasa sesak. Dia bangkit dari kursinya dengan keanggunan yang tersisa, lalu berjalan lambat mendekati meja rapat, berhenti dengan jarak dua langkah aman dari tubuh tegap Devano.

​"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" lirih Luna, matanya yang melankolis menatap lurus ke arah lantai marmer, tidak berani menatap wajah tampan pria yang kini berstatus sebagai pencabut harga dirinya itu.

​Devano memperhatikan wajah pucat Luna dari dekat. Dia bisa melihat bagaimana bibir tipis gadis itu sedikit kering dan tubuhnya tampak sedikit bergetar menahan lapar. Senyuman tipis yang penuh dengan intrik manipulatif kembali terukir di sudut bibir sang CEO.

​"Tuangkan teh ocha hangat ini ke dalam cangkir saya," ujar Devano sembari menunjuk botol termos kecil di samping bento.

​Luna mengangguk patuh. Dia melangkah maju, meraih termos tersebut dengan tangannya yang gemetar. Dengan sangat hati-hati dan anggun, dia menuangkan cairan hijau pekat itu ke dalam cangkir keramik putih milik Devano. Setelah selesai, dia berniat mundur kembali ke tempatnya.

​Namun, sebelum Luna sempat menggeser kaki, Devano tiba-tiba mengulurkan tangannya. Jari-jari kokohnya meraih sebuah sumpit, mengambil sepotong daging wagyu tebal yang masih mengepulkan asap, lalu mengarahkannya tepat ke depan bibir tipis Luna.

​Luna terbelalak, sepasang mata bulatnya menatap potongan daging itu, lalu beralih menatap mata elang Devano dengan pandangan penuh ketakutan dan kebingungan.

​"Makan," ucap Devano pendek, nadanya datar namun sarat akan perintah yang tidak boleh dibantah.

​"T-Tuan... tidak usah. Saya bisa makan nanti saat jam istirahat saya," tolak Luna dengan suara yang bergetar. Dia merasa ini bukanlah sebuah kebaikan, melainkan sebuah bentuk penghinaan baru. Dia tidak ingin diberi makan seperti seekor hewan peliharaan yang sedang dikasihani setelah dipukuli.

​Mendengar penolakan Luna, rahang Devano seketika mengetat. Sorot matanya berubah menjadi sedingin es. Dia memajukan tubuh bidangnya, menekan sumpit itu lebih dekat hingga menyentuh bibir Luna yang bergetar.

​"Jangan pernah membantah perintah saya, Luna Maharani," desis Devano dengan nada suara yang merendah dan mengancam batin. "Kamu pikir aku memberimu makanan ini karena aku kasihan padamu? Jangan bermimpi. Aku hanya tidak ingin asisten pribadiku pingsan di dalam ruanganku dan membuat orang luar—termasuk pahlawanmu, Dika—mengira aku menyiksamu secara fisik. Buka mulutmu dan makan sekarang, atau aku akan menyuapimu dengan cara yang jauh lebih kasar dari ini."

​Air mata perih kembali merebak di pelupuk mata melankolis Luna. Hatinya menjerit menahan rasa terhina yang teramat luar biasa. Di dalam ruangan tertutup ini, Devano benar-benar memotong seluruh sayap harga dirinya sebagai seorang wanita. Dengan air mata yang akhirnya menetes membasahi pipi kuning langsatnya, Luna perlahan membuka bibir tipisnya, menerima suapan daging dari pria yang paling dia takuti sekaligus pria yang paling mengunci hatinya dalam luka.

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!