Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 14
“Kamu sudah pulang, Nak? Bagaimana mereka menyambutmu?” Kepulangan Alya disambut hangat oleh Tyo yang sedari tadi menunggunya di ruang tamu.
“Papa kenapa belum tidur?” tanya Alya, cukup terkejut melihat Tyo masih terjaga menantinya pulang.
Matanya sempat melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Belakangan ini kesehatan Tyo menurun, bahkan dokter menyarankan agar ia lebih banyak beristirahat.
“Papa belum bisa tidur kalau kamu belum pulang,” jawab Tyo lembut, membuat hati Alya menghangat.
Melihat semua pengorbanan Tyo selama ini untuknya, Alya akhirnya mengurungkan niat untuk memberitahukan soal perjanjian kontrak itu. Awalnya ia berniat jujur malam ini, tetapi melihat kondisi sang ayah, Alya memilih mengubur semuanya sendiri.
“Sekarang Alya sudah pulang, ayo Alya antar Papa ke kamar,” ajaknya pelan. Namun, Tyo justru menggeleng.
“Nanti dulu. Sini duduk,” ujar Tyo sambil menepuk kursi di sebelahnya. “Ceritakan sama Papa, apa saja yang terjadi di sana.”
Alya menatap ayahnya beberapa saat sebelum akhirnya duduk di sampingnya.
“Mereka baik. Baik banget, Pah. Om Ethan dan Tante Isabella nyambut Alya dengan ramah. Mereka bahkan nyiapin banyak makanan buat Alya,” ucapnya antusias.
Tiba-tiba Alya teringat sesuatu. Ia segera mengeluarkan sebuah toples kue kering dari dalam tasnya.
“Nih! Alya sampai hampir lupa. Tante Isabella juga titip ini buat Papa. Kebetulan banget, kan? Ini kue kesukaan Papa.”
Tyo menerima toples itu dengan wajah penuh suka cita.
“Syukurlah kalau kamu disambut baik sama mereka,” ucapnya penuh rasa lega. “Papa jadi tenang.”
“Papa nggak perlu khawatirin Alya terus,” balas Alya lembut. “Yang penting sekarang Papa fokus sembuh dulu supaya bisa kembali beraktivitas seperti biasa.”
“Kamu ini anak Papa,” sahut Tyo sambil menjawil pelan hidung mancung putrinya. “Mana mungkin Papa nggak khawatir?”
Alya tertawa kecil. Setelah itu, pandangannya berkeliling ke seluruh rumah yang terasa begitu sepi.
“Mama sama Kakak belum pulang?” tanyanya heran.
Tyo menggeleng pelan. “Belum sama sekali. Mama dan kakakmu bahkan nggak angkat telepon dari Papa.”
Alya terdiam.
‘Sebenarnya Mama sama Kakak pergi ke mana, sih? Sudah beberapa hari belum juga pulang,’ batinnya dipenuhi tanda tanya.
“Oh iya,” ujar Tyo tiba-tiba. “Besok Papa sudah bisa kembali ke kantor. Semua utang Papa sudah diurus sama asistennya Max. Bukan cuma itu, Max juga menanam modal di bisnis baru yang bakal Papa jalankan.”
Tyo tersenyum tipis sebelum melanjutkan, “Katanya, untuk berjaga-jaga supaya Papa nggak tertipu lagi, Max sendiri yang akan turun tangan membantu.”
“Max? Turun sendiri?” Alya membelalak tak percaya.
Tyo mengangguk membenarkan.
Alya pun tercengang.
‘Benar-benar menepati janji… Gue nggak tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan, tapi gue cuma berharap semua kebenaran cepat terungkap. Gue memang nggak ngerti soal bisnis, tapi entah kenapa masalah Papa terasa ada yang janggal,’ batin Alya gelisah.
“Kalau begitu sekarang Papa istirahat, ya,” ucap Alya kemudian. “Biar besok pagi badan Papa segar. Dan ingat pesan Alya, meskipun nanti sudah mulai kerja lagi, kesehatan tetap harus dijaga. Jangan gampang percaya sama orang lain.”
Tyo terkekeh pelan mendengar nasihat putrinya itu.
“Iya, Dokter Alya,” candanya lembut.
**
**
“A-ah… nikmat sekali, Ella…”
Suara erangan itu membuat Ella semakin mempercepat gerakannya.
Di sofa yang hanya diterangi lampu remang-remang, dua insan itu larut dalam permainan penuh gairah dan ambisi tersembunyi.
“Aku sudah memanjakan Om seperti ini,” bisik Ella manja. “Masa bayaranku nggak ditambah?”
Pria yang dipanggil “Om” itu tertawa pelan. Ia mengubah posisi duduknya, kini mengambil alih kendali permainan.
“Aku akan bayar lebih malam ini…” ucapnya dengan napas berat. “Asalkan kamu terus memuaskanku sampai pagi.”
Ella tersenyum puas mendengarnya. Keringat membasahi tubuh keduanya, sementara malam semakin larut bersama nafsu yang terus membara.
Klik!
“Video sudah saya kirimkan, Tuan.”
...****************...
BRUK!
“Hei! Bisa jalan yang benar nggak? Mata kamu ke mana?” bentak seseorang.
“Maaf… saya nggak sengaja.”
Pria itu mendadak terdiam sesaat.
“Kau… Tyo?”
Tyo mengangkat wajahnya. “Oh, ternyata kau, Farid. Maaf, tadi aku benar-benar nggak sengaja menabrakmu.”
Farid menatap Tyo dari atas sampai bawah dengan sorot mata meremehkan.
“Nggak masalah,” ujarnya dingin. “Tapi, ngapain kau di sini?”
“Oh… aku cuma mau mengambil beberapa barangku yang tertinggal,” jawab Tyo seadanya. “Sayang kalau harus beli baru lagi.”
Pagi itu Tyo memang datang ke kantor lamanya. Gedung yang dulu ia bangun dengan susah payah kini sudah bukan miliknya lagi akibat kesalahan fatal yang pernah ia lakukan.
Karena Max memberinya modal untuk memulai semuanya dari awal, Tyo merasa tak ada salahnya mengambil kembali barang-barang pribadinya yang masih tertinggal di sana.
Menurut informasi yang ia dapat, semua barangnya disimpan di gudang. Daripada dibiarkan terbengkalai, lebih baik ia mengambilnya kembali.
“Oh…” Farid menyeringai tipis. “Kupikir kau sudah membusuk di penjara.”
Farid adalah mantan sekretaris Tyo dulu. Saat mengetahui Tyo bangkrut dan terlilit utang, pria itu mengambil kesempatan dengan membeli perusahaan Tyo dengan harga murah.
Kini, perusahaan itu resmi menjadi miliknya. Dialah bos baru di tempat tersebut.
Tyo hanya tersenyum canggung. Ia terlalu lelah untuk meladeni ucapan Farid.
Namun, Farid rupanya belum puas.
“Tunggu dulu, Tyo.”
Ia sengaja menekankan nama itu, seolah ingin menunjukkan bahwa kedudukan mereka kini telah terbalik.
“Kudengar sekarang kau punya perusahaan baru,” lanjut Farid sambil menyilangkan tangan di dada. “Hebat juga. Baru beberapa hari jatuh, tapi sudah bisa bangkit lagi.”
Ia tersenyum sinis.
“Sayang sekali… kau nggak sempat merasakan dinginnya lantai penjara.”
Tyo terdiam.
“Padahal aku ingin sekali melihatmu menderita di sana,” lanjut Farid sambil tertawa kecil. “Ah, tapi tenang saja. Aku cuma bercanda.”
Sorot matanya justru menunjukkan kebencian yang nyata.
“Semoga sukses merintis dari awal lagi.”
Setelah mengatakan itu, Farid pergi begitu saja tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Tyo hanya mampu menarik napas panjang sambil mengusap dadanya pelan, mencoba menahan sesak yang muncul di hatinya.
Padahal dulu, selama menjadi sekretarisnya, Farid dikenal sebagai sosok yang sopan dan penuh hormat. Tak disangka perubahan keadaan justru membuat pria itu berubah begitu jauh.
Tyo hanya bisa berharap kesombongan Farid tidak akan menjadi awal kehancurannya sendiri.
Ia kembali melangkah memasuki gedung yang dahulu menjadi miliknya. Lorong-lorong kantor itu kini dipenuhi wajah asing. Tak ada lagi orang-orang lamanya.
Namun Tyo tak peduli. Tujuannya hanya satu—mengambil barang-barangnya dan pergi.
Sementara itu, dari kejauhan, Farid masih memperhatikan Tyo dengan tatapan penuh dendam.
“Padahal aku sudah menjatuhkanmu…” gumamnya pelan penuh amarah. “Nggak kusangka kau bisa bangkit secepat ini.”
Rahangnya mengeras.
“Awas saja kau, Tyo. Kali ini aku pastikan kau nggak akan pernah bisa bangkit lagi. Akan kubuat hidupmu hancur… sehancur-hancurnya.”
Farid lalu pergi meninggalkan area kantor dengan mobil mewahnya.
Di balik sebuah pohon, seorang pria berpakaian serba hitam memperhatikan semua itu tanpa luput sedikit pun. Bahkan percakapan mereka tadi berhasil direkamnya dengan jelas.
Begitu targetnya pergi, pria itu segera menghubungi seseorang.
“Target sudah pergi, Tuan.”
“Awasi terus setiap gerak-geriknya,” perintah suara di seberang telepon dingin dan tegas. “Laporkan apa pun yang dia lakukan di luar sana.”
“Siap!”
Klik!
“Apa sebenarnya rencanamu?” tanya seorang pria lain yang sejak tadi berdiri di ruangan itu. “Kenapa kau sampai menaruh mata-mata di sekitar mereka?”
“Tidak ada.” Jawaban itu terdengar santai. “Aku cuma ingin mata-mata itu berguna.”
“Hei, ayolah! Jangan bercanda.”
“Aku nggak bercanda.” Ia menyandarkan tubuh dengan tenang. “Mereka kubayar. Daripada menganggur, lebih baik bekerja, kan?”
Pria satunya mengembuskan napas kasar sambil memutar mata malas.
“Terserah kau saja. Tapi kalau nanti ada masalah, jangan menyeretku.”
Ia pergi begitu saja meninggalkan ruangan.
Sementara pria yang tersisa hanya menatap gemerlap kota dari balik jendela tinggi dengan sorot mata penuh ambisi.
“Aku nggak akan membuang waktu…” gumamnya pelan. “Semakin cepat, semakin baik.”