NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Keesokan siangnya, suasana dapur yang biasanya tenang berubah menjadi zona perang. Maya, dengan celemek sutra motif bunga-bunga dan kacamata yang diletakkan di atas kepala, tampak sangat ambisius. Ia memutuskan untuk memasak "Kepiting Saus Kecap Spesial Cinta" demi merayakan kepulangannya.

"Dafa! Bi Mina! Sini lihat!" teriak Maya penuh semangat. Di hadapannya, sebuah mangkuk raksasa berisi tumpukan kepiting berenang di dalam cairan cokelat bening yang meluap-luap.

Bukannya saus kental yang menggoda, penampakan masakan itu lebih mirip kepiting yang sedang ikut lomba renang di kolam air kecap. Karena takut kurang bumbu, Maya menuangkan tiga botol kecap dan seember air agar "semua orang kebagian kuahnya."

"Nyonya... itu, kepitingnya kenapa kelihatan seperti sedang snorkeling?" bisik Dafa dengan wajah pucat pasi.

"Ini teknik baru, Dafa! Namanya Kepiting Hidroponik. Kuahnya banyak supaya kita bisa sekalian mandi kecap!" jawab Maya tanpa dosa sambil mengaduk masakan itu dengan centong sayur raksasa.

Melihat kepiting-kepiting malang itu "berenang" di mangkuk, Bi Mina mendadak memegang perutnya. "Aduh, Nyonya... tiba-tiba perut saya melilit. Sepertinya saya harus ke apotek beli obat."

Bahkan Dion, yang biasanya paling setia pada Mamanya, perlahan mundur teratur. "Mama, Dion tadi sudah kenyang makan angin di taman..."

Namun, suara bar-bar Maya menggelegar. "Gak ada yang boleh pergi! Duduk semua di meja makan! Mas Arlan! Turun sekarang atau semua kartu kredit ini aku potong jadi dua!"

Arlan turun dengan langkah gontai. Ia melihat meja makan sudah dipenuhi penghuni rumah yang duduk dengan wajah pasrah seperti narapidana menunggu eksekusi. Di tengah meja, mangkuk kepiting "berenang" itu seolah menatap mereka dengan penuh dendam.

Ayo, Mas Arlan! Cobain pertama!" Maya menyodorkan satu sendok penuh kuah cokelat yang aromanya... entahlah, seperti campuran kecap dan parfum mahal Maya.

Arlan menelan ludah. Ia menatap mata Maya yang berbinar penuh harap. Ia tahu, jika ia menolak, "surga palsu" ini bisa runtuh. Dengan tangan gemetar, Arlan mencicipi kuah itu.

Rasanya? Seperti menelan air laut yang dicampur gula jawa satu ton. Asin, manis, dan amis bertabrakan di lidahnya.

"Gimana, Mas? Enak kan? Sampai mau nangis gitu makannya?" tanya Maya bangga.

Arlan memejamkan mata, berusaha keras tidak memuntahkannya. Ia menoleh ke arah Dafa yang mencoba sembunyi di balik punggung Bi Mina.Kalau aku menderita, kalian semua harus menderita, batin sang Naga Es yang licik.

"Enak... enak sekali, Sayang," ujar Arlan dengan suara serak. "Tapi, rasa enak ini tidak boleh aku nikmati sendiri. Dafa! Sini kamu! Kamu kan sudah bekerja keras bantu aku bersih-bersih rumah kemarin. Makan ini! Tiga mangkuk!"

Dafa terbelalak. "Tuan, saya... saya sedang diet garam!"

"Makan, Dafa. Atau gajimu saya dietkan juga," ancam Arlan dingin.

"Ayo Dafa, makan dong! Ini kepiting mahal lho, satu kilonya bisa buat beli ban mobil kamu!" tambah Maya sambil menyendokkan kuah banjir itu ke piring Dafa.

Tak berhenti di situ, Arlan menatap Bi Mina dan para pelayan lainnya. "Kalian semua, duduk. Tidak ada diskriminasi di rumah ini. Kita semua harus merasakan... mahakarya istriku."

Dion pun tak luput dari sasaran. "Dion, jagoan Papa, ayo makan. Supaya kamu kuat seperti kepiting ini."

Satu persatu, mereka menyuapkan "Kepiting Renang" itu ke mulut masing-masing. Suasana meja makan menjadi sunyi, hanya terdengar suara tegukan air putih yang sangat sering.

"Gimana Bi Mina? Dafa? Dion?" tanya Maya antusias.

Dafa tersenyum kecut, matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa aneh di lidahnya. "Luar biasa, Nyonya... rasanya sampai ke ginjal."

"Aku suka semangat kalian!" Maya bertepuk tangan girang. "Karena kalian suka, besok aku masak lagi ya! Aku mau coba masak lobster saus cokelat stroberi!"

Glek.

Seluruh penghuni meja makan tersedak bersamaan. Arlan langsung meraih tangan Maya, mencoba menggagalkan ide gila berikutnya. "Sayang, besok jangan masak ya. Besok kita keluar saja, kita beli restoran kepitingnya sekalian supaya kamu tidak capek."

"Beneran, Mas? Beli restorannya?" Maya langsung memeluk Arlan. "Wah, Mas Arlan emang paling pengertian! Ya udah, malam ini habisin ya kepitingnya! Jangan ada yang sisa! Aku akan jadi koki di restoran ku sendiri dan kalian yang pertama harus mencoba resep-resep terbaik ku."

Mendengar kata-kata terakhir Maya, seisi ruangan mendadak merasa seolah-olah baru saja dijatuhi hukuman mati untuk kedua kalinya. Menghabiskan kepiting "hidroponik" malam ini saja sudah berat, apalagi menjadi kelinci percobaan seumur hidup di restoran milik Maya.

Arlan menatap Dafa yang sudah mulai terlihat teler karena kebanyakan asupan kecap.

Dafa menatap mangkuknya dengan pandangan kosong, sementara Dion mulai pura-pura sibuk mengajak bicara kaki kepitingnya.

Arlan langsung memutar otak. Ia tahu, membiarkan Maya menjadi koki adalah ancaman nasional bagi kesehatan lambung mereka.

"Sayang," Arlan mengusap bahu Maya dengan lembut, suaranya dibuat semanis mungkin. "Menjadi koki itu capek. Kamu harus bangun pagi, kena asap dapur, nanti kulit kamu yang selembut sutra ini bisa kusam. Mas nggak tega."

"Ih, nggak apa-apa Mas! Kan aku bisa beli skincare yang paling mahal satu pabriknya sekalian pakai kartu Mas Arlan," jawab Maya santai sambil menyendok kan kepiting saus kecap ke dalam mangkuk Dafa membuat Dafa semakin frustasi. "Pokoknya besok aku mau bikin Lobster Saus Cokelat Stroberi Berendam Madu. Pasti booming!"

Dafa tersedak tulang kepiting. "Nyonya... itu makanan atau bahan eksperimen pembuatan permen karet?"

Maya melotot centil ke arah Dafa. "Dafa! Itu namanya fusion food! Kamu itu seleranya cuma gorengan pinggir jalan sih, jadi nggak paham seni!"

Malam itu, "Kepiting Renang" tersebut benar-benar harus dihabiskan. Akibatnya, rumah besar keluarga Dirgantara berubah menjadi ramai... bukan karena tawa, melainkan karena suara pintu kamar mandi yang bergantian terbuka dan tertutup.

Dafa ditemukan sedang duduk lemas di koridor sambil memeluk botol obat sakit perut. "Tuan... tolong saya. Saya rela disuruh bersihin seluruh kaca gedung kantor pusat asalkan jangan makan lobster stroberi besok," keluhnya saat Arlan lewat yang juga wajahnya sudah pucat pasi.

Arlan hanya bisa menepuk bahu Dafa dengan simpati. "Sabar, Dafa. Ini demi kebahagiaan nyonyamu. Anggap saja ini latihan fisik."

Keesokan paginya, Arlan bangun lebih awal. Ia melihat Maya sudah bersiap dengan celemeknya, untuk bertarung di dapur.

"Maya, Sayang..." Arlan menghalangi pintu dapur.

"Minggir Mas! Aku mau masak nasi goreng buat sarapan!" Maya tampak sangat bersemangat, tangannya sudah memegang pisau dapur dengan gaya bar-bar.

Arlan memberi kode pada Dafa. Dengan gerakan cepat, Dafa pura-pura tersandung dan "tidak sengaja" mematikan aliran listrik dan gas di seluruh rumah.

"Yah! Kok mati lampu? Kok kompornya mati?!" teriak Maya frustrasi.

"Tidak usah buat sarapan sayang,aku dan Dafa sarapan di kantor saja nanti. Kamu istirahat saja,bukannya pagi ini kamu mau ajak Dion jalan-jalan ya sebelum Dion mulai sibuk sekolah."

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!