Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.
Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Panggung Pembuktian
Suasana di ruang rapat utama lantai teratas gedung Al-Fatih Group pagi itu terasa begitu dingin dan mencekam. Sebuah meja oval besar dari kayu jati premium tampak dikelilingi oleh jajaran direksi, perwakilan investor asing, serta para pemegang saham utama perusahaan. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa kali ini bukan sekadar agenda formalitas belaka, melainkan medan pertempuran tak kasat mata yang akan menentukan masa depan mega proyek CBD Menteng.
Tante Sofia duduk di salah satu kursi utama dengan dagu yang mendongak angkuh. Di samping kirinya, Karina duduk tegak seraya menghadapi laptop yang menyala. Ia telah menyiapkan berkas-berkas analisis risiko yang sudah dipoles sedemikian rupa untuk menyudutkan kepemimpinan Farhan.
Farhan melangkah masuk ke ruangan dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Ia segera mengambil posisi di ujung meja sebagai pimpinan rapat, lalu membuka diskusi dengan ketukan palu yang berwibawa.
"Terima kasih atas kehadiran para investor dan pemegang saham sekalian," suara bariton Farhan memecah keheningan. "Hari ini kita akan mengesahkan struktur pendanaan final untuk proyek CBD Menteng. Saya persilakan tim analis untuk memaparkan evaluasi risiko terakhir sebelum kita melakukan voting."
Tante Sofia memberikan isyarat mata yang sangat tipis kepada Karina. Dengan cekatan, Karina langsung berdiri dan mengambil alih podium presentasi.
"Selamat pagi, rekan-rekan direksi dan para investor dari Singapura," sapa Karina dengan senyum formal yang memancarkan rasa percaya diri semu. Layar proyektor di belakangnya menampilkan grafik-grafik rumit mengenai proyeksi keuangan. "Berdasarkan evaluasi makroekonomi terbaru yang saya lakukan, saya menemukan adanya potensi bias personal dalam pengambilan keputusan alokasi anggaran proyek ini."
Karina menjeda kalimatnya sejenak, sengaja mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan untuk membangun ketegangan. "Kepemimpinan Pak Farhan belakangan ini terlalu banyak dipengaruhi oleh penasihat domestik yang tidak memiliki latar belakang korporasi properti berskala makro. Hal ini berisiko menimbulkan kerugian hingga belasan persen bagi para pemegang saham karena analisis pasar yang digunakan terlalu bersifat lokal dan subyektif. Oleh karena itu, mewakili beberapa investor, kami menyarankan adanya restrukturisasi wewenang dalam kendali proyek CBD ini."
Bisik-bisik langsung berdengung di antara para investor Singapura. Beberapa di antara mereka tampak mengangguk-angguk kecil, mulai terpengaruh oleh narasi yang dibangun Karina. Tante Sofia tersenyum penuh kemenangan dari kursinya, merasa di atas angin karena berhasil memojokkan keponakannya sendiri.
Farhan tetap duduk tenang tanpa ekspresi, meski rahangnya tampak mengeras mendengar tuduhan terselubung itu. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk membela diri, daun pintu ruang rapat yang besar itu tiba-tiba terbuka dari luar.
Bunyi derap langkah kaki yang tegas dan ritmis terdengar memasuki ruangan. Semua orang spontan menoleh ke arah sumber suara.
Andini Larasati melangkah masuk dengan begitu anggun. Ia mengenakan setelan blazer formal berwarna putih gading dengan potongan yang sangat elegan, dipadukan dengan jilbab sutra senada yang menutup dada. Di belakangnya, Sarah berjalan sembari membawa koper dokumen yang tebal. Kehadiran Andini seketika mengubah atmosfer ruangan yang semula tegang menjadi penuh dengan aura wibawa yang menekan.
"Maaf atas keterlambatan saya, Pimpinan Rapat," suara Andini mengalun jernih, memotong segala spekulasi yang ada di dalam ruangan.
Tante Sofia langsung berdiri dari kursinya dengan raut wajah masam. "Andini! Ini adalah rapat internal RUPS para pemegang saham dan investor luar negeri. Orang luar yang tidak punya kapasitas kepemilikan saham ataupun kepentingan hukum tidak berhak berada di ruangan ini! Farhan, tolong tertibkan istrimu!"
Andini sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Ia justru berjalan mendekati meja oval, lalu memberi isyarat kepada Sarah untuk membuka dokumen yang dibawa.
"Saya berada di sini bukan sekadar sebagai seorang istri, Tante Sofia," ujar Andini dengan nada suara yang tenang namun sarat penekanan yang mematikan. "Saya hadir di sini sebagai pemilik sah dari lima belas persen saham privat Al-Fatih Group yang baru saja saya akuisisi minggu lalu melalui perusahaan konsorsium Nadir Label."
Andini menggeser dokumen sertifikat kepemilikan saham berkekuatan hukum tetap ke tengah meja, tepat di hadapan para investor Singapura dan Tante Sofia.
Wajah Tante Sofia seketika berubah pucat pasi, sementara Karina yang masih berada di podium langsung membeku dengan mulut setengah terbuka. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Andini memiliki kekuatan finansial dan strategi taktis untuk membeli saham privat perusahaan dalam waktu sesingkat itu.
Andini kemudian berjalan mendekati podium dan menatap Karina lurus-lurus dari jarak dekat. "Dan mengenai analisis risiko yang Nona Karina sebutkan tadi... mari kita buka data yang sesungguhnya."
Andini mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya, lalu menyambungkannya ke sistem proyektor, menggantikan presentasi Karina dalam sekejap.
"Model analisis makro yang Nona Karina bangga-banggakan dari London itu sama sekali tidak relevan dengan regulasi tata ruang terbaru yang dikeluarkan pemerintah daerah bulan lalu," papar Andini dengan kelancaran dan ketajaman berpikir seorang CEO papan atas. "Jika kita memaksakan memotong anggaran operasional sebesar lima belas persen seperti usulan Nona Karina, proyek CBD Menteng justru akan terkena penalti hukum dan pembekuan izin karena melanggar amdal lokal. Jadi, siapakah yang sebenarnya sedang membawa risiko kerugian bagi perusahaan di sini?"
Layar proyektor menampilkan data perbandingan hukum yang sangat akurat, lengkap dengan pasal-pasal regulasi yang dilewatkan oleh Karina dalam risetnya.
Para investor Singapura langsung memeriksa berkas dari Andini dengan cermat. Salah satu perwakilan investor asing itu kemudian berdiri dan bertepuk tangan kecil. "Analisis yang luar biasa, Ibu Andini. Data Anda jauh lebih matang dan menyelamatkan investasi kami dari cacat hukum. Kami menyatakan tetap mendukung penuh kepemimpinan Pak Farhan."
Satu per satu suara pemegang saham ikut menyatakan dukungannya, membuat mosi tidak percaya yang dirancang Tante Sofia mentah secara total.
Farhan menatap istrinya dengan binar kebanggaan yang tak terbendung. Di dalam ruangan itu, Andini tidak hanya berhasil melindungi suaminya, tetapi juga menumbangkan kesombongan para perusak dengan kapasitas otaknya sendiri.
Karina melangkah turun dari podium dengan tubuh gemetar menahan malu yang luar biasa, sementara Tante Sofia hanya bisa terduduk lemas di kursinya. Ia menyadari bahwa takhta keangkuhannya telah runtuh sepenuhnya di tangan seorang Andini Larasati.