NovelToon NovelToon
Keturunan Raja Alkemis

Keturunan Raja Alkemis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.

Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: JALAN BERDARAH MENUJU KOTA PERAK

Malam semakin pekat. Bulan bersembunyi malu di balik gumpalan awan gelap, seolah enggan menyinari perjalanan dua orang yang baru saja kehilangan tempat tinggalnya.

Chen Si—atau yang dulu dikenal sebagai Liu Si—berjalan di belakang Wu Ye. Kakinya melangkah ringan di atas akar-akar pohon dan bebatuan tajam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Berkat teknik Pijakan Tanah, tubuhnya terasa ringan seperti kapas, namun setiap injakannya memancarkan kestabilan yang kokoh.

Mereka sudah berjalan selama dua jam. Menjauh terus ke arah utara, menuju Kota Perak, kota perdagangan terbesar di wilayah tersebut. Jaraknya masih sangat jauh, setidaknya butuh waktu sepuluh hari perjalanan jika berjalan kaki biasa.

"Kakek, kita berhenti sebentar ya?" tanya Chen Si pelan. Ia melihat punggung Wu Ye yang mulai sedikit membungkuk. Walaupun Kakeknya sangat kuat, usia sudah tidak muda lagi, dan pertarungan energi tadi pasti sangat menguras tenaga.

Wu Ye menghentikan langkahnya. Mereka berada di sebuah tebing tinggi yang menghadap ke lembah luas. Dari sini, mereka masih bisa melihat titik-titik cahaya kecil di kejauhan. Itu adalah Desa Kapas.

"Kau khawatir soal desa?" tanya Wu Ye tanpa menoleh.

"Ya... Aku takut mereka akan datang dan menyakiti warga setelah kita pergi," jawab Chen Si jujur.

Wu Ye tersenyum tipis, lalu menepuk bahu cucunya. "Tenanglah. Formasi yang aku pasang bukan mainan. Bagi orang biasa, desa itu akan tetap terlihat seperti biasa. Tapi bagi orang yang memiliki niat jahat atau aura darah, desa itu akan tampak seperti kabut tebal atau hutan belantara kosong. Mereka akan lewat begitu saja tanpa menyadarinya."

Chen Si menghela napas lega. "Syukurlah..."

Namun, tiba-tiba indra penciuman Chen Si yang tajam menangkap sesuatu. Hidungnya mengerut.

"Bau apa ini... Bau darah? Dan bau asap?"

Wu Ye yang semula santai seketika menegakkan punggungnya. Matanya yang tajam memandang ke jalan setapak di bawah tebing tempat mereka berdiri.

"Ssst... Diam," bisik Wu Ye. "Ada orang lewat. Banyak orang."

Chen Si segera memejamkan mata, mengaktifkan teknik pendengarannya. Wusss... Suara derap kaki kuda, derit roda gerobak, dan bisikan-bisikan rendah terdengar jelas meski masih berjarak ratusan meter.

"Mereka bergerak cepat. Dan mereka tidak menyembunyikan aura," batin Chen Si.

Dengan gerakan cepat dan senyap seperti kucing, mereka berdua merayap turun dan bersembunyi di balik semak belukar tebal tepat di pinggir jalan utama.

Tak lama kemudian, sekelompok besar orang lewat di depan mata mereka.

Ada sekitar tiga puluh orang. Semua mengenakan baju zirah hitam mengkilap, membawa tombak dan pedang panjang. Di tengah barisan, ada beberapa gerobak besar yang tertutup kain tebal, dan di atas kuda-kuda terbaik, duduk orang-orang yang berpakaian lebih mewah dengan jubah berwarna-warni.

Namun, yang membuat jantung Chen Si berdegup kencang bukan jumlah mereka, melainkan lambang di dada mereka.

Ular Hitam Melingkar.

"Itu... Itu orang-orang Sekte Ular Hitam!" desis Chen Si, tangannya secara refleks mengepal kuat. Darahnya mendidih melihat wajah-wajah orang yang mungkin saja memiliki andil dalam kematian orang tuanya.

"Tenang, Si. Jangan gegabah," bisik Wu Ye dengan suara yang hampir tidak terdengar, namun tegas. "Kita tidak bisa melawan tiga puluh prajurit elit dan beberapa ahli di dalamnya. Kita tunggu mereka lewat."

Mereka menahan napas, menyembunyikan aura mereka sedalam mungkin. Wu Ye bahkan menggunakan teknik khusus untuk membuat tubuh mereka terasa seperti batu biasa bagi indra musuh.

Satu per satu prajurit lewat. Hingga akhirnya, sebuah kereta kuda yang paling indah dan besar lewat di depan tempat persembunyian mereka.

Gorden kereta terbuka sedikit. Seorang pria paruh baya dengan wajah pucat dan jenggot tipis terlihat duduk santai sambil meminum anggur. Matanya yang sipit menyapu sekeliling dengan tatapan angkuh dan dingin.

Tiba-tiba, pria itu berhenti minum. Hidungnya tergerak.

"Hem? Ada bau aneh..." gumam pria itu pelan.

Ia menolehkan kepalanya, menatap lurus ke arah semak belukar tempat Chen Si dan Wu Ye bersembunyi!

Dug! Jantung Chen Si hampir copot.

"Siapa di sana?! Keluar!!" teriak pria itu dengan suara yang tidak terlalu keras namun menusuk telinga.

Seketika, seluruh pasukan berhenti. Puluhan mata memandang ke arah semak-semak itu. Suasana menjadi hening mencekam.

 

Konfrontasi Singkat

Situasi genting. Jika mereka bertarung sekarang, peluang hidup sangat kecil. Tapi jika tertangkap, nasibnya akan lebih buruk dari mati.

Tiba-tiba, Wu Ye menyenggol lengan Chen Si pelan, lalu mengedipkan mata.

BOOM!

Tiba-tiba dari arah berlawanan, dari dalam hutan, meledak suara ledakan keras dan asap hitam mengepul tinggi! Ada juga suara jeritan dan auman binatang buas yang dibuat-buat.

"Ada musuh! Di sebelah sana!" teriak salah satu pengawal.

Pria di dalam kereta itu mengernyitkan dahi. "Huh? Ternyata hanya binatang buas atau perampok bodoh. Lanjutkan perjalanan! Kita tidak punya waktu untuk hal sepele!"

Kereta kuda itu pun kembali bergerak, meninggalkan tempat itu.

Setelah memastikan semua orang sudah pergi cukup jauh, Chen Si dan Wu Ye keluar dari persembunyian. Napas mereka lega namun masih cepat.

"Fuuh... hampir ketahuan," kata Chen Si sambil mengusap keringat dingin di dahinya. "Tapi Kakek, tadi ledakan itu..."

"Itu hanya trik kecil menggunakan kembang api dan catatan suara," jawab Wu Ye santai, tapi wajahnya kembali serius. "Pria di kereta tadi... dia adalah Elder Racun, salah satu pemimpin tinggi Sekte Ular Hitam. Kalau dia benar-benar serius memeriksa, kita pasti sudah ketahuan."

"Jadi mereka sekuat itu?"

"Dunia luar sangat luas, Nak. Di Desa Kapas kita mungkin adalah raja, tapi di dunia persilatan, kita masih kecil. Elder Racun tadi sudah mencapai tingkat "Puncak Bumi", satu langkah lagi menuju tingkat Langit. Jauh di atas kita saat ini."

Chen Si menunduk. Rasa rendah diri dan semangat bertemu di hatinya. "Aku harus menjadi lebih kuat. Jauh lebih kuat."

"Benar. Sekarang, kita tidak bisa lewat jalan utama lagi. Kita akan memotong hutan belantara 'Hutan Rimba Hitam'. Jalannya berbahaya, penuh binatang buas dan racun, tapi itu satu-satunya jalan untuk membuang kejauhan dari mereka."

 

Hutan Rimba Hitam

Mereka berbelok arah, memasuki kawasan hutan yang jauh lebih lebat dan gelap. Pohon-pohon di sini sangat besar dan tinggi, sehingga sinar bulan pun sulit menembus. Suasananya lembap dan sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan suara air sungai yang jauh.

Chen Si berjalan di depan, memimpin jalan. Berkat bakat alamnya, ia bisa merasakan mana tanaman beracun dan mana yang aman.

"Kakek, hati-hati di sebelah kanan. Itu tanaman 'Gigi Naga', kalau tersentuh kulit bisa bengkak sebesar kepala," peringatan Chen Si.

"Bagus, indramu semakin tajam."

Mereka berjalan terus hingga tengah malam. Akhirnya, mereka menemukan sebuah gua kecil yang kering dan tersembunyi di balik akar pohon besar.

"Mari kita istirahat di sini sampai pagi," kata Wu Ye.

Mereka masuk ke dalam gua. Wu Ye mengambil beberapa batu kering dan dengan sedikit energi, ia menyalakan api unggun kecil. Cahaya api menerangi wajah keduanya.

Keheningan menyelimuti mereka. Chen Si menatap nyala api, lalu tiba-tiba bertanya.

"Kakek... Apa sebenarnya yang ada di dalam kotak kayu itu? Kenapa mereka rela membunuh begitu banyak orang hanya untuk itu?"

Wu Ye menatap kotak kayu cendana yang selalu ia bawa. Ia terdiam lama, seolah beradu pikir dalam hatinya. Akhirnya, ia menghela napas panjang.

"Sekarang saatnya kau tahu sebagian kebenaran, Si."

Wu Ye perlahan memutar kunci ukiran naga pada kotak itu. Klik. Suara halus terdengar. Ia membuka tutupnya perlahan.

Di dalamnya, tidak ada emas, tidak ada permata.

Hanya ada dua benda.

Pertama, sebuah gulungan perkamen tua yang memancarkan cahaya keemasan samar.

Kedua, sebuah botol kecil giok berisi cairan berwarna merah darah yang berputar-putar sendiri seolah hidup.

"Gulungan ini adalah 'Kitab Sembilan Langit', resep asli untuk membuat Elixir Keabadian yang sesungguhnya. Bukan sekadar ramuan obat awet muda, tapi ramuan yang bisa membuat manusia melampaui batas, menjadi dewa."

"Lalu cairan itu?" tanya Chen Si terpesona.

"Itu adalah 'Darah Naga Asli', bahan utama yang sudah dikumpulkan oleh leluhurmu selama ratusan tahun. Tanpa ini, resep itu hanyalah tulisan biasa."

Wu Ye menutup kotak itu kembali dengan hati-hati.

"Inilah harta terbesar dunia, Si. Tapi ingat... Harta sebesar ini tidak membawa kebahagiaan. Ia hanya membawa perang, kematian, dan pengkhianatan. Selama kau memegang ini, kau tidak akan pernah punya teman sejati, kecuali orang yang benar-benar tulus sepertiku."

Chen Si mencerna setiap kata itu. Ia memegang kotak itu dengan kedua tangan. Rasanya berat, sangat berat, bukan karena ukurannya, tapi karena beban sejarah dan takdir yang ada di dalamnya.

"Aku mengerti, Kek. Aku akan menjaganya dengan nyawaku."

"Tidurlah. Besok perjalanan masih panjang. Dan di luar sana, bukan hanya Sekte Ular Hitam yang mengincar kita. Ada banyak kekuatan gelap yang juga sedang memburu jejak Raja Alkemis."

Chen Si mengangguk. Ia membaringkan tubuhnya, namun matanya tidak bisa terpejam cepat. Ia menatap langit-langit gua, membayangkan wajah orang tuanya, membayangkan Desa Batu yang terbakar, dan membayangkan hari di mana ia akan berdiri di puncak dunia.

'Tunggu aku... Semua yang telah menyakiti kami... Aku akan datang membalasnya satu per satu.'

1
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
😇😇😇😇😇😇😇😇😇
Tamima II
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪 bantai....
Tamima II
😂😂😂😂😂😂😂👍👍👍👍👍
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍👍👍
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
mengejar cahaya
terimakasih saran nya nanti saya perbaiki.🙏🙏🙏
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh akan ada pembantaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!