Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Mendua
Panji baru saja menginjak ibukota malam itu. Berbeda jalur dari kawan-kawannya yang sudah berjalan atau berkendara menuju mess masing-masing, Panji tetap tinggal bersama kedua orangtuanya di rumah dinas Abi Rayyan.
Tapi rupanya putaran jarum jam yang menunjuk angka 8 belum cukup malam untuk keramaian di rumahnya.
Sorakan seru menggema di carport rumah perwira angkatan bersenjata ini, diantara sunyinya malam batalyon.
"Umma, Abang Arraznya!" jerit bocah perempuan yang tak asing di pendengaran Panji.
"Apa! Cuma dipegang doang juga...Seera lebay abba!" kini adu si jagoan tak mau kalah.
"Ehh---kebiasaan kalo udah berantem begini. Hayoo udah malam, kata ayah pulang." Clemira bahkan sudah menenteng dua tas sekolah kecil berwarna pink dan biru bukti jika ia sudah disini sesiang tadi.
"Dianter siapa, Tama ngga jemput kah?" dan suara bass nan dalam itu adalah om Pramudya. Sementara seruan mengaduh diantara suara beradunya koin karambol di atas papan kayu, "sahhh! Ahhh, dikit lagi padahal."
"Dijemput om Irsyad barusan." Tunjuk Clemira ke arah gawang pintu dimana bawahan Tama baru saja keluar dari toilet.
"Misi ndan." ia membungkuk ketika melintas, "ya. Hati-hati bawa mobilnya Syad. Lecet kamu ditembak Tama." Itu Langit yang berseloroh.
"Mas Tama kayanya baru balik nugas luar. Katanya masih di jalan."
"Om Njiii!" Farraz adalah sosok pertama yang notice kedatangannya, disusul tatapan-tatapan lain penghuni disana.
"Weheyy kamu ngapain ke rumah aku terus, ngga punya rumah pasti!" selorohnya yang memancing tawa si jagoan, lantas lengkingan suara cerewet tak mau kalah menyeru dari dalam, "om Njiiii!"
Ia langsung menyambut dan menggendong Farraz, "berat lah." meski kemudian menurunkannya lagi, "masa? Ayah aja gendong aku ngga keberatan. Katanya tentara....tapi loyo."
Rayyan tertawa dan menunjuk Panji, "loyo..."
"Nah, bang Toyib baru balik juga..." cibir Cle melihat adiknya itu.
"Bukan, Nji brand ambassador kue kaleng lebaran..." kini Rayyan telah menepuk-nepuk bubuk putih di tangannya untuk kemudian menjitak koin karambol.
Panji menggeleng, memang seenggak ada kerjaan itu para perwira tua ini, waktu malam bukannya dipakai ngaji kaya Abi Fath...
"Nih gue pasti masuk." Lagi, aki-aki dengan dua cucu itu mulai fokus pada koin karambolnya, bersiap mencetak poin, dimana Pramudya mengganggunya dengan mencibir.
"Masih juga nih main beginian, udah siap dihisab ngga ada niatan ngaji di masjid komplek? Sama mantan-mantan jendral?" cibir Panji membuat Rayyan menggeleng, "besok."
Eyi datang dan tertawa mendengar jawaban template sang suami, "besoknya Abi kamu itu tahun gajah, biasanya justru yang begini yang panjang umur, disisain buat liat dunia kiamat."
Hahaha! Langit tertawa, memang antara suami---istri---anak tak ada yang benar-benar waras, kalem, pendiam, "umur boleh kaya mantan jendral, tapi jiwa muda .." bahkan kini opa-opa bercucu satu itu sudah menepuk-nepuk dada dengan kepalan tangan.
"Mana oleh-oleh..." kini Yaseera menengadahkan tangannya pada Panji, yang memancing Panji untuk menaruh ranselnya di depan sang keponakan, "nih, cuciin ya..."
Hahahah! Farraz tertawa sementara wajah Seera kecut tanpa ampun, "es krim om Nji bukan ini...."
"Besok. Es krim terus nanti batuk."
"Kata abba yang bikin batuk itu merokok, makan permen sama makanin dedak ayam." Jawab Seera, Rayyan menjempoli cucu perempuannya itu, "bener cucu abba."
Panji berdecak, ck!
"Emang sesat nih abi. Ngajarin anak aku..." Clemira mencebik.
"Ahhh cape ahh!! Kelonin aku yukkk, pengen bobo .." ajaknya pada Seera.
"Ihhhh, kaya aku dikelonin bunda!" tawa Seera.
Ia melengos ke dalam setelah salam pada umi, meski masih samar terdengar gerutuan kakanya, Cle... yang mengomeli Abi Ray sebab bedak milik anak-anaknya justru dipakai bermain karambol.
"Abi ihhh, ini sampe habis begini bedak Seera..."
Benar, ia terlalu lelah bertugas. Jika tugas luar begini, sudah pasti ia akan kencan terlebih dahulu dengan kasurnya, hoamm....
Sampai pagi menjelang, Panji mendengar sayup-sayup adzan berkumandang mengisi pendengarannya.
Ada umi yang masih sibuk mengikat rambut, mencepol satu atas sambil mengerjakan tugas harian ibu-ibu. Lantas bibirnya mencebik sebal kala pacar ibunya itu mengganggunya dengan memeluk dari belakang, cihhh! Dunianya diciptakan emang ngga jauh-jauh dari pasangan bucin itu.
"Mi, bilang dong pacarnya. Udah tua jangan begitu, malu kalo diliat cucu..." cibirnya.
"Ngga usah di dengerin sayang, jomblo abadi. Sirik tanda tak mampu. Lagian Seera sama Arraz belum datang lagi." Kecupan terakhir Rayyan sarangkan di tengkuk Eyi dan ia bergegas menikmati kopi paginya di meja.
Di usia yang sudah tak muda lagi itu, memang kedua orangtuanya kadang tak sadar tempat untuk mesra mesraan begitu, melebihi anak muda yang tengah kasmaran.
Meski tak ia pungkiri lebih senang melihat mereka begitu, tak jarang keduanya itu layaknya ABG labil yang masih berpacaran dan tak punya buntut, bertengkar meributkan hal sepele dan tak penting di depan anak-anaknya terutama Panji, berujung baikan dan mesra-mesraan lagi.
Ngga inget sudah ada uban. Apa memang begitu kehidupan berumah tangga?
Eyi tersenyum, "jangan bilang kamu putus lagi, hubungan rumit? Makin jauh, Ucel udah siap jadi bapak loh. Ini yang paling tua pacar aja masih ngambang, mau dicariin jodoh?"
Rayyan terkekeh hampir tersedak kopi miliknya, "kaya botol plastik, ngambang....tenang, sayang ngga usah buru-buru. Stok wanita di muka bumi masih bejibun. Bibit unggul Abang ngga akan kebuang percuma. Umur anak kita baru menginjak kepala tiga, belum mau menginjak kepala orang." Ia menyendok nasi lalu berpindah ke gorengan jagung.
"Siapa pacar kamu sekarang? Ajak main ke rumah lah..." ujar Rayyan, "kalo bisa langsung ketemu umma, kira-kira ACC engga, kalo Yang Mulia Umma sudah ACC, udah ngga usah dilamain...."
Eyi menaikan kedua alisnya terkejut, "gampang banget kaya ngawinin anak ayam. Jangan langsung ke umma lah. Kesini dulu, ini Nji lagi mau cari calon mantu buat Eyi bukan calon indukan kambing, kalo zonk, Abang sama Eyi yang malu...Panji bawa-bawa hadiah ciki ke rumah umi." Ia tak terima jika harus langsung berhadapan dengan sang mertua. Setidaknya ia dulu yang menyeleksi layak ataukah tidak untuk diboyong ke keluarga besar mereka.
"Minimal cewek baik-baik. Beneran sayang dan mau terima profesi Panji. Cewek jaman sekarang susah loh yang mau sama prajurit. Takut ditinggal nugas...takut di luar dia jajan. Takut kdrt, lebih milih cari aman."
Panji, dengan kaos yang masih kusut itu sudah duduk di sebrang Rayyan, pusing mendengarkan keduanya berdebat pasal calon pendamping. Entahlah ia malas membahas Mayra. Terakhir ia dan Mayra----
Dan hari ini ia akan menyambangi kampus UNJANA, kampus pacarnya itu sekaligus dimana Gala sedang menuntut ilmu.
"Iya." Tanpa mendebat Panji menyanggupinya. Toh Mayra perempuan berpendidikan dan lahir dari keluarga yang bisa dibilang adem ayem.
Tanpa mengabari terlebih dahulu sebelumnya, ia melakukan motor trail miliknya ke arah UNJANA siang itu. Biasanya jam-jam makan siang Mayra baru selesai mengikuti sesi materi, cocok juga untuk makan siang bersama seraya membicarakan hal serius.
**Panji** ❤️🔥
*Sayang, aku ada di depan*.
Ivy masih memperhatikan kuku-kukunya, "ini gue mumpung lagi haid, bagusnya bunga sakura atau bunga Lily ya motifnya?"
"Lagi pada happening bikin abstrak loh Vy...coba deh cocok kayanya." Angguk Mayra, berjalan diantara fakultas pendidikan dan FP MIPA.
Dan Ivy sempat terkejut dengan kehadiran seseorang dari belakang, pasalnya bukan hanya menyasar pada Mayra saja melainkan, lelaki itu nyosor di tengah-tengah antara dirinya dan Mayra, "sayang."
"Bang ke ihhh!" umpat Ivy refleks, ia bahkan menjauh dan mendorong bahu Zein pelan yang malah terkekeh memeluk Mayra dari belakang. Keduanya itu---*ishh ngga punya malu*! Tempat umum nih, bukan kamar.
Mayra tertawa melihat aksi kekasihnya itu dan refleks sang teman.
"Sorry." Senyumnya seperti ada makna terselubung, dan Ivy sungguh tak suka.
"Ck, Lo kalo mau begitu posisi Lo langsung ke May dong, ah gimana sih! Kaget gue!" omel Ivy. Pasalnya Zein cukup membuatnya sebal karena telah ikut mencolek pinggangnya juga, dasar cowok mesum! Bisa-bisanya Mayra memiliki kekasih semesum itu.
"Jadi jalan sekarang?" alis Zein naik turun.
"Jadi."
Alis Ivy berkerut melihat mereka, jijik deh ah! Ia sudah bergidik.
Namun tiba-tiba, langkah Mayra tersentak, "mampus..."
"Kenapa?" kompaknya dan Zein.
Mayra menurunkan ponsel dan menariknya sejenak.
"Vy, tolongin gue..."
"Cowok gue yang tentara itu tiba-tiba datang..."
"Hah?! Lo---" Ivy melirik Panji di belakang Mayra, benar mereka menepi, hampir merapat diantara tanaman rambat yang ada di taman kampus dengan sesekali Ivy menepis dahan dan daunnya yang mengenai badan, *ishhh risih*!
"Lo punya cowok berapa May?" tanya Ivy sewot.
Mayra malah meringis, "nanti gue ceritain, tapi...please! Ini orang psycho udah di depan. Gue sebenernya udah pengen putus sih, tapi---"
"May, baby..." panggil Zein membuat May dan Ivy ikut menoleh, "ntar dulu! Babyy Lo masih ada urusan sama gue elah!" omel Ivy.
"Ngga mau ahhh!" cebik Ivy.
"Please, gue tau lo bisa diandalkan zeyenggg..." wajah Mayra memelas memasang tampang menyedihkan membuat Ivy menggaruk kepalanya mendadak gatal.
"Gue mesti bilang gimana? Repot amat sih, ya udah sih ngga usah ditemuin..."
"Tapi dia pasti cari Lo."
"Hah?!" Ivy kembali terkejut dengan kenyataan jika Mayra telah memberikan nomornya pada Panji dan rupanya Mayra sering beralasan sedang bersama Ivy selama ini pada Panji jika sedang tak ingin menemui perwira itu.
.
.
.
aaaahhh sok nyesek we kalo ngabayangkeun hal seperti ini th aku mh 😭😭
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati