Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Sore ini Maira pulang ke rumah nya dengan menggunakan taksi online, ketika tiba di halaman rumah nya dia melihat motor milik Nia terparkir di halaman rumah.
Dari depan pintu, Maira mendengar Mama Wina dan Nia sedang berbicara. Entah kenapa tiba - tiba rasa penasaran muncul di hati Maira, dia ingin tahu apa yang tengah mereka bicarakan. Maira sengaja berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka, dia menguping pembicaraan antara Mam Wina dan Nia.
"Sekarang Maira benar - benar tidak bisa di harapkan lagi, tidak ada guna nya dia menjadi istri nya Azam jika dia tidak berguna!" Mama Wina berkata pada Nia.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Ma? Maira sudah tidak bisa kita andal kan!" Tedengar Nia bertanya pada Mama Wina.
"Dia harus keluar dari rumah ini, ini adalah rumah putra ku. Azam bekerja keras untuk membeli rumah ini, enak saja dia mau ikut tinggal di sini!" Mama Wina kembali berkata.
"Kita tidak bisa mengusir Maira dari sini bu, Maira masih istri nya Azam!" Terdengar lagi suara Nia.
"Kamu benar juga, Mama akan minta Azam menceraikan wanita itu, mana dia mandul lagi!" Ujar Mama Wina.
Mendengar Mama Wina yang menuduh nya Mandul, hati Maira semakin terluka. Mereka memang bemum mempunyai anak karena Azam yang menunda nya, Azam mengatakan pada Maira bahwa karena saat ini mereka masih banyak tanggungan. Termasuk Nia dan Ayu, setelah kematian Damar.
'Jadi Mama menuduh ku mandul, aku belum hamil karena aku sengaja pake alat kontrasepsi, mas Azam yang meminta nya. Enak saja bilang aku mandul!' Maira mengepal kan tangan nya dengan geram.
"Ma, kalu Azam dan Maira bercerai dan aku tinggal di sini, maka pasti akan ada fitnah Ma. Orang- orang pasti menuduh ku yang menyebabkan mereka bercerai, aku tidak mau dituduh seperti itu, Ma!" Terdengar suara Nia lagi.
Kedua nya terdiam beberpa saat, Maira pun masih berdiri di depan pintu. Dia masih penasaran dengan kelanjutan pembicaraan kedua orang itu.
"Nia, bagai mana kalau kau dan Azam menikah saka sekarang. Dengan begitu Maira tidak bisa lagi menguasai uang nya Azam!" Tiba - tiba Mama Wina memberikan usul yang tidak Maira duga.
"Aku dan Azam menikah, Mah?" Nia tampak nya masih belum percaya dengan usul Mama Wina.
"Iya kenapa tidak, dengan begitu Azam bisa bertanggung jawab seratus persen pada mu dan Ayu. Maira tidak bisa lagi merendahkan dan menghina mu hanya numpang makan di rumah ini!" Mama Wina berkata pada menantu nya.
"Kalau aku sih mau aja menikah dengan Azam, tapi apa Azam nya mau, Ma?" Tanya Nia ragu.
"Kalau hal itu kamu tenang saja, biar Mama yang akan bicara sama Azam. Azam pasti mau jika Mama yang bicara!" Mama Wina berkata dengan yakin.
"Punya istri seperti Maira juga tidak berguna, jika Maira tidak terima maka dia bisa pergi dari rumah ini!" Ujar Mama Wina lagi.
Maira saat ini masih berada di depan pintu, dia ingin mendengar lebih lanjut rencana mereka.
'Silahkan jika mas Azam mau menikahi Mbak Nia, semua nya tergantung mas Azam. Aku akan mundur dan tidak akan mempertahankan rumah tangga ini jika mas Azam nekat mengikuti perintah Mama untuk menikah dengan mbak Nia!' Maira meneguhkan hati nya.
Pada saat yang bersamaan, sebuah ojek online berhenti di depan rumah. Azam turun dari ojek online itu, dan Maira bergegas masuk. Dia tidak ingin ketahuan jika dia menguping pembicaraan Mama Wina dan juga Nia.
"Assalam mu'alaikum!" Maira mengucap kan salam sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Mama Wina dan Nia yang berada di ruang tamu hanya menoleh pada Maira, tidak ada dari mereka yang menjawab salam dari Maira.
Kedua nya hanya memandang Maira dengan tatapan sinis, Maira tidak perduli dia langsung berjalan masuk ke dalam kamar nya.
Pada saat yang sama, Azam masuk ke dalam rumah. Dia langsung duduk di sofa tidak jauh dari Mama Wina Dan Nia.
"Lara belum pulang, Ma?" Tanya Azam pada Mama nya.
"Belum, dia memang tidak pernah pulang lebih cepat!" Jawab Mama Wina.
"Jangan di biasanya, Ma. Lara itu anak perempuan, Ma. Gimana kalau terjadi sesuatu sama dia!" Azam mengingatkan Mama nya.
"Kamu jangan doakan yang jelek - jelek untuk adik mu!" Mama Wina memukul lengan Azam dengan keras.
"Aduh, sakit Ma!" Azam mengaduh karena pikiran dari Mama Wina cukup keras.
"Kamu tuh, kurang ajar banget mendoakan hal buruk tentang adik mu!" Mama Wina masih tidak terima.
"Bukan gitu, Ma. Aku cuma tanya saja, karena mulai besok aku akan pakai motor saja ke kantor. Jika tidak hari aku pake ojek online, bisa jebol kantong ku!" Azam berkata pada Mama nya.
"Kenapa kamu gak pake mobil saja, buat apa punya mobil jika hanya di simpan di garasi!" Mama Wina protes pada Azam.
"Ma, mau bawa mobil aku gak punya uang buat beli bahan bakar. Maira tidak mau mengisi bahan bakar nya lagi!" Jelas Azam pada Mama nya.
"Buat apa kamu punya istri seperti Maira, sebaik nya kamu ceraikan saja dia!" Mama Wina Mulai menghasut Azam.
"Ma, aku masih mencintai Maira!" Jawab Azam memberikan alasan.
"Alah, buat apa ngomongin cinta kalau tidak berguna, sebaik nya kau menikah saja dengan Nia, dengan begitu Maira tidak bisa menghalangi kamu untuk memberikan uang mu pada Nia dan Ayu!" Mama Wina mulai mengutarakan keinginan nya.
"Maksud Mama?" Azam langsung bertanya pada Mama Wina.
Azam bergantian melihat Mama nya dan Nia secara bergantian, sedangkan Nia hanya diam dengan kepala yang tertunduk.
"Azam, jika Nia menikah dengan pria lain, maka Mama kasihan sama Ayu. Cucu Mama akan mendapat kan ath tiri yang belum tentu sayang pada nya, tapi jika kau menikahi Nia, maka Mama tidak perlu khawatir akan masa depan cucu Mama!" Mama Wina berkata pada Azam.
Azam terdiam dan berusah mencerna setiap ucapan sang Mama, memang benar juga apa yang di katakan oleh Mama Wina. Tapi bagaimana mana dengan Maira, apakah wanita itu mau dimadu?.
"Lalu bagai mana dengan Maira, Ma? Aku yakin Maira tidak akan mau di madu!" Azam bertanya pada Mama nya.
"Jangan fikirkan Maira, Zam. Dia wanita mandul dan tidal berguna, jika dia tidak mau menerima Nia sebagai adik madu nya maka kau bisa langsung ceraikan saja Maira!" Mama Wina kembali menghasut Azam.
Azam memiji pelipis nya, dia merasa pusing saat ini. Azam ingin menuruti keinginan Mama nya, dengan menikahi Nia. Tapi Azam yakin Maira tidak akan setuju, angsuran rumah ini baru berjalan selama 3 tahun. Dan yang membayar semua itu adalah Maira, semua uang gaji nya sudah habis untuk Nia, Mama Wina dan juga Lara.
Jika Azam nekat menikahi Nia, maka sudah pasti Maira akan menghentikan pembayaran angsuran rumah ini. Tapi jika dia tidak menikahi Nia, maka kasihan Nia dan Ayu akan selalu di rendahkan oleh Maira.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH