Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompres Malam Hari
Florence belum pulih seutuhnya. Demamnya memang telah surut, tetapi raganya masih rapuh. Santapnya tak lebih dari tiga empat suapan sehari. Ucapannya pun seperlunya, dan hanya untuk Reginald. Kepada Lucifer, tak sepatah pun ia lontarkan.
Namun malam itu, Florence tertidur. Lelap, untuk pertama kali dalam sepasang pekan. Ia tak lagi meringkuk dicekam gentar. Hanya luruh oleh letih.
Dan sebab itu, Lucifer berani mengingkari sumpahnya sendiri.
Pukul 02.17 dini hari. Koridor lantai tiga diselimuti kelam. Hanya pendar lampu tidur yang remang. Lucifer tegak di ambang pintu kamar Florence. Pada jemarinya tersandar baskom kecil berisi air bening dan kain bersih. Reginald yang mestinya berjaga telah ia pulangkan. “Malam ini bagianku,” ujarnya. Tak satu pun berani menyanggah.
Ia membuka pintu. Engselnya kelu. Tiga hari lalu ia sudah memerintahkan agar diminyaki.
Ruangan itu senyap. Hanya embusan napas Florence yang berirama. Gadis itu membelakangi pintu, menghadap jendela. Selimutnya tersibak, menampakkan belikat yang masih terlampau tirus.
Lucifer melangkah mendekat. Tak bersuara. Ia bersimpuh di samping peraduan. Bukan di kursi. Di lantai. Seakan tempatnya memang di bawah, bukan setara.
Dahi Florence menghangat. Panasnya belum sepenuhnya reda. Lucifer mencelupkan kain ke air, memerasnya, lalu meletakkannya pada kening itu. Geriknya kaku. Waspada. Seolah Florence terbentuk dari pualam retak yang sekali tersentuh akan luluh menjadi abu.
Florence mengernyit samar, lantas desahnya kembali tenteram. Sejuk dari kain itu melipur.
Lucifer tak lekas beranjak. Ia tetap bersimpuh. Menatap paras Florence yang terpejam. Tak ada ngeri di sana kini. Tak ada muak. Hanya damai yang ringkih. Damai yang bisa pecah jika Florence terjaga dan mendapati siapa yang berada di sisinya.
Saat itulah, iblis itu ditaklukkan oleh insan di dalam dirinya. Insan yang lama ia pendam hidup-hidup.
Dan saat menatap kening yang ia kompres, ingatan itu menikam. Malam di pulau. Ombak yang memecah di karang. Tangannya yang menarik paksa. Suara Florence yang pecah memohon ampun. Gaun yang terkoyak di genggamannya. Napas Florence yang tercekat ketika kehormatan itu ia renggut tanpa belas. Mata gadis itu yang meredup, bukan karena nikmat, tapi karena sesuatu di dalam dirinya mati malam itu.
Lucifer menutup matanya sesaat. Rahangnya mengeras. Jemarinya yang tadi meletakkan kain kini gemetar, lalu ia genggam erat pergelangan tangannya sendiri. Seakan ingin meremukkan tangan yang pernah menoreh luka itu. Kukunya menancap kulit hingga meninggalkan bulan sabit merah. Hukuman kecil. Tindakan sia-sia untuk dosa yang tak terperi.
Suaranya lolos. Perlahan. Bergetar. Bukan untuk Florence. Untuk dirinya. Untuk Langit yang telah lama ia mungkiri.
“Aku tahu,” bisiknya. Kepalanya merunduk, tak kuasa menatap wajah itu saat menuturkan lara. “Aku tahu ini takkan pernah mampu menebus dosaku… yang merenggut kehormatanmu.”
Kata kehormatan itu menggerus lidahnya bagai beling. Hina. Sebab yang ia rampas bukan hanya itu. Ia rampas rasa selamat. Ia rampas keyakinan. Ia rampas sisa pendar asa Florence pada dunia.
“Langit tahu,” lanjutnya. Semakin lirih, nyaris ditelan sunyi. “Langit tahu semua ini pangkalnya dariku. Sejak aku menyeretmu ke pulau itu. Sejak aku tak sanggup mengekang tanganku malam itu.”
Ia mengangkat pandang sedikit. Menatap Florence. Di pipinya tergurat jejak tangis yang kering. Bahkan dalam lelap, Florence berduka.
“Jika bisa kutukar,” gumam Lucifer. “Nyawaku dengan satu hari tanpa ingatan itu di benakmu… sudah kulakukan. Tapi aku tak bisa. Tak mampu memutar waktu. Tak mampu menjelma orang lain.”
Tak ada air yang jatuh dari matanya. Iblis tak layak meratap. Namun suaranya… suaranya remuk. Luluh. Seperti lelaki yang baru sadar telah membinasakan satu-satunya jiwa yang membuatnya ingin menjadi manusia.
“Kujaga kau,” ikrarnya. Bukan untuk Florence. Untuk dirinya. “Takkan kujamah. Takkan kupaksa. Takkan lagi… takkan kujadikan diriku sebab kau binasa.”
Ia terdiam. Mengangkat kain di dahi Florence yang mulai suam. Ia celupkan lagi, peras, dan letakkan kembali. Sehalus yang bisa dilakukan tangan yang terbiasa menggenggam ajal. Lalu ia merogoh sakunya. Sebuah belati kecil. Bukan untuk Florence. Untuk dirinya. Ia goreskan ujungnya pada telapak tangannya sendiri, dangkal, sekadar agar perih itu nyata. Agar malam ini tak hanya Florence yang berdarah. Darahnya menetes ke baskom, mencampur air dingin dengan merah yang pekat. Ini tanganku. Tangan yang bersalah.
Sebelum berdiri, ia melakukan hal yang tak pernah ia bayangkan. Ia menunduk hingga keningnya menyinggung tepi peraduan, dekat dengan jemari Florence yang berada di luar selimut. Tak menyentuh. Hanya mengiba. Sedekat doa.
Seperti pendosa yang memohon ampunan pada bidadari yang takkan pernah memberinya.
“Tidurlah,” bisiknya. Terakhir. “Bermimpilah indah. Yang tak ada aku di dalamnya.”
Ia bangkit. Merengkuh baskom yang airnya kini bernoda. Melangkah keluar tanpa bunyi. Menutup pintu. Perlahan.
Di dalam, Florence tak benar-benar tenggelam dalam lena. Demam membuat tidurnya dangkal. Ia mendengar. Sayup-sayup. Tak semua. Namun dua kalimat itu tertangkap.
“…merenggut kehormatanmu.”
“…Langit tahu semua ini pangkalnya dariku.”
Matanya tetap terkatup. Napasnya tetap beraturan. Tetapi di balik kelopak itu, embun kembali menggenang.
Sengatnya pada Lucifer meluruh. Bukan karena maaf yang diucap langsung padanya. Melainkan karena pengakuan dosa yang tak ditujukan untuk telinganya. Dan karena tindakan itu. Luka yang ia torehkan pada dirinya sendiri. Darah yang menetes tanpa Florence melihat.
Iblis itu sesal. Sungguh sesal. Dan sesalnya terdengar… fana. Perih. Telanjang.
Florence tetap tak mampu mengampuni. Mungkin takkan pernah. Malam itu telah memahat neraka baru di dadanya. Namun untuk pertama kali, ia percaya bahwa penjaga sangkarnya pun terbakar di neraka yang sama.
Dan entah mengapa, itu membuat sangkarnya terasa… sedikit kurang beku. Hanya sedikit. Setipis sejuk kain basah di keningnya.