Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kisah masalalu
Hari Sabtu sore, langit Jakarta mendung kayak emak-emak yang mau marah karena suami pulang larut. Tapi Rania tidak peduli. Hari ini dia punya janji dengan Alfino. Di kafe sederhana dekat kompleknya. Meja kayu tua, kursi plastik warna-warni, musik jazz pelan dari speaker tua yang bunyinya kayak orang menghela napas.
Rania datang lebih dulu sengaja. Biar jantungnya tidak terlalu berdebar kayak genderang perang suku Afrika. Tapi begitu Alfino masuk kemeja putih, rambut sedikit basah karena gerimis, senyum kecil di bibir debarannya malah naik level dewa.
Alfino duduk di seberangnya, matanya teduh kayak langit setelah hujan.
"Selamat sore, Mbak Rania," ujarnya pelan.
Rania menghela napas. "Mas, tolong. Mulai sekarang panggil aku Rania aja. Gak usah pake mbak. Berasa tua," katanya setengah mengeluh.
Alfino tersenyum tipis. "Baik, Rania," ujarnya menurut.
Mereka memesan kopi dua Americano hitam pahit. Asapnya mengepul tipis, bercampur wangi parfum Alfino yang kayak hutan pinus habis diguyur hujan.
"Rania," Alfino memulai, suaranya lebih serius,
"aku ingin kita bicara serius tentang masa lalu. Biar tidak ada yang disembunyikan," ujarnya hati-hati.
Rania meneguk kopi pahit tapi pahitnya membantu dia tetap sadar. "Iya. Aku setuju," katanya pelan.
Alfino mulai bercerita, suaranya dalam, seperti membuka peti lama yang penuh kenangan.
"Dulu aku menikah dengan Sari," ujarnya perlahan.
"Kami masih muda sama-sama ambisius. Tapi lama-lama, ambisi kami berjalan ke arah yang berbeda."
Dia berhenti sebentar, menarik napas.
"Dia fokus ke karier. Ingin cepat jadi pimpinan, ingin ke luar negeri, ingin terbang tinggi. Aku... waktu itu sedang merintis usaha. Toko kecil-kecilan. Masih merangkak kayak bayi belajar jalan. Omzet naik turun kayak harga cabai," ujarnya sambil tersenyum pahit.
"Aku tidak minta dia jadi ibu rumah tangga," lanjutnya.
"Aku cuma minta perhatian minta dukungan tapi dia tidak bisa memberi itu."
Matanya sedikit menunduk.
"Ketika aku butuh semangat, dia sibuk dengan laporan. Ketika aku ingin cerita, dia lebih peduli dengan presentasi besok. Aku merintis usaha sendirian, Rania. Sendirian tanpa ada yang bilang 'kamu pasti bisa dan itu... melelahkan," ujarnya lirih.
Rania diam, menatapnya penuh empati.
"Kami bertahan lima tahun," kata Alfino lagi.
"Lalu kami memutuskan berpisah. Baik-baik. Tidak ada drama. Hanya jalan yang bercabang."
Dia tersenyum kecil.
"Sekarang dia lagi di Belanda, aku di sini, membesarkan usaha sendiri dan aku tidak menyesal," ujarnya mantap.
Rania menggigit bibir. "Berat sekali, Mas," katanya pelan.
"Sudah lewat," jawab Alfino singkat.
"Sekarang giliran kamu," ujarnya lembut.
Rania menarik napas panjang dadanya terasa sesak.
"Pacarku dulu, Rangga," katanya pelan.
"Tiga tahun aku sangat mencintainya."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Saking cintanya, aku rela naik angkot dua jam hanya untuk lihat dia tersenyum. Aku bisa masakin dia mie instan setiap hari walau tanganku melepuh kena minyak," ujarnya, suaranya sedikit bergetar.
Ia menatap kosong sejenak.
"Lalu suatu hari... dia menghilang tanpa kabar. Tanpa pesan perpisahan. Hanya... blip. Lenyap kayak ditelan bumi segitiga bermuda," katanya getir.
"Enam bulan aku menunggu, nangis setiap malam gak mau keluar kamar keluarga panik," lanjutnya.
Rania menelan ludah, berusaha menahan air mata.
"Yang paling sakit, Mas, bukan karena dia pergi," ujarnya pelan.
"Tapi karena dia tidak memberi aku kesempatan untuk memilih."
Matanya kini benar-benar basah.
"Apakah aku mau menunggu atau tidak. Apakah aku mau setia atau tidak dia memutuskan sendiri. Lalu pergi dan aku ditinggal dengan luka yang tidak pernah dia lihat," katanya lirih.
Alfino perlahan meraih tangannya.
Hangat tenang.
"Maaf, Rania maaf kamu harus melalui itu sendirian," ujarnya tulus.
Rania tersenyum tipis. "Sekarang sudah gak sakit lagi luka itu udah kering tapi bekasnya kadang gatal," katanya jujur.
"Itu kenapa aku takut," lanjutnya.
"Takut apa?" tanya Alfino pelan.
"Takut jatuh cinta lagi takut kecewa lagi takut terlalu cepat lalu hancur lagi," ujarnya apa adanya.
Alfino menggenggam tangannya lebih erat.
"Aku tidak bisa janji tidak akan pernah membuatmu kecewa," katanya jujur.
"Tapi aku bisa janji tidak akan pernah pergi tanpa kabar. Tidak akan menghilang begitu saja," ujarnya tegas.
Rania menatapnya matanya berair.
"Mas... sampai sekarang kita belum punya status," katanya ragu.
"Aku minta kita jalan bareng tanpa status dulu. Tanpa label. Tanpa tekanan. Tapi serius," ujarnya.
Alfino mengangguk. "Baik aku setuju," katanya tanpa ragu.
"Dan panggil aku Rania gak usah pake mbak," tambahnya lagi.
Alfino tertawa kecil. "Baik, Rania," ujarnya hangat.
Sore itu hujan turun gerimis tipis membasahi kaca jendela. Mereka ngobrol ringan tertawa. Menikmati kopi dan suara rintik hujan yang jatuh pelan.
Sebelum pulang, Alfino mengambil sebuah bungkusan besar dari samping kursinya.
"Ini untuk keluarga," ujarnya santai.
Rania membuka perlahan matanya langsung membesar.
"Panci anti lengket... wajan... spatula... celemek batik..." gumamnya tak percaya.
"Mas, ini mah seharga kulkas dua pintu!" katanya kaget.
"Anggap saja terima kasih," ujar Alfino ringan,
"karena keluargamu sudah menerimaku," tambahnya.
Rania geleng-geleng, masih tak percaya.
"Lo ini kebangetan baiknya," katanya sambil menatapnya lekat.
Alfino hanya tersenyum, sedikit mengangkat bahu. "Biasa aja," ujarnya santai, tapi matanya tetap hangat menatap Rania.
Malam itu dirumah Rania, dia pulang dengan membawa pintu plastik besar.
Ibu sudah menunggu di sofa, matanya tajam kayak elang. "Apa lagi itu? Jangan-jangan pisau dapur?"
Rania buka, panci, wajan spatula celemek.
"BRENG!" Ibu nyaris jatuh.
"Ini merek iklannya di TV! yang diskonnya gak pernah gue dapet!"
Bapak manggut-manggut. "Mas Alfino orangnya perhatian."
Naufal nimbrung dari pojokan. "Wah, Mas Alfino ini juara. Dari durian, parcel, perhiasan, jam tangan, sekarang alat masak. Entar kasih kambing? Kasih rumah?"
Rania mencolok Naufal. "Diem lo!"
Bapak bertanya, "Rania, kamu dengan Mas Alfino itu sudah apa? Udah pacaran?"
Rania menghela napas. "Belum apa-apa, Pa...kami jalan bareng tapi tidak ada status."
"TIDAK ADA STATUS?!" Ibu berhenti memegang panci.
"Udah sering ketemu, dikasih hadiah, diantar jemput, tapi tidak ada status?"
Naufal yang dari tadi nyengir, akhirnya meledak.
"Mbak, gue mau kasih tahu, hubungan lo tuh STRES."
Rania memelototi. "Maksud lo?"
"Stres itu singkatan dari statusnya belum jelas tapi sudah serius tingkat dewa. Lo tuh udah kayak mikirin suami, tapi gak ngaku pacaran. STRES, MBAK. STRES." Ucap Naufal
Ibu manggut-manggut. "Naufal benar."
Bapak juga. "Naufal benar."
Rania mau nangis campur marah. "PAK, IBU, NAUFAL, AKU CUMA MAU JALAN BARENG TANPA BEBAN."
Naufal nyengir. "Ya udah tapi jangan nangis kalau nanti Mas Alfino diambil orang. Soalnya om-om kayak gitu langka. Hanya satu sejagat. Kayak cenderawasih."
"Hah?"
"Iya. Burung langka. Dilindungi undang-undang."
Rania melempar bantal tapi Naufal sudah lari kebelakang sofa.
---
Di kamar, Rania rebahan, kipas angin berputar lambat, bunyinya kayak jangkrik kelelahan.
Ponsel getar Alfino "Selamat malam, Rania. Keluarga tidak ribut?"
Rania balas "Ribut Naufal bilang hubungan kita stres."
Alfino "Stres?"
Rania "Statusnya belum jelas tapi sudah serius tingkat dewa."
Alfino "Hahaha dia lucu, tapi aku setuju. Aku tunggu kamu siap tidak perlu buru-buru."
Rania tersenyum, dia lihat jam tangan di pergelangan kilauan berlian kecil di angka 12.
"Alfino, kenapa sih lo sempurna banget?"
Dia buka buku catatan tulis satu kalimat:
"Hari ini kita saling bercerita tentang masa lalu yang tidak mudah. Lalu kita sepakat tidak terburu-buru. Tapi keluarganya yang terburu-buru dan adikku bilang hubungan kita stres. Mungkin dia benar tapi stres yang manis."
Dia matikan lampu lalu tidur dengan senyum.