NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Keana yang Terabaikan

​Dinding kaca ruang Intensive Care Unit (ICU) ini terasa sekokoh jeruji besi penjara dengan pengamanan tingkat maksimum. Di balik kaca berembun itu, pria yang mempertaruhkan nyawanya demi napasku sedang terbaring tak berdaya. Tubuh tegap Ghazali yang selalu dibalut setelan jas mahal kini hanya ditutupi oleh selimut tipis rumah sakit. Selang intubasi terpasang di mulutnya, mengambil alih tugas paru-parunya, sementara tangan kanannya dibungkus perban tebal menyerupai mumi akibat luka bakar kimia yang menggerogoti hingga ke jaringan otot.

​Aku menempelkan telapak tanganku pada permukaan kaca, mencoba merasakan kehangatan yang tidak akan pernah sampai.

​“Kertas cerainya palsu, Keana. Kau masih milikku.”

​Bisikan terakhirnya di bawah guyuran hujan itu terus berulang di kepalaku, menyayat setiap inci kewarasanku. Kami telah membuang ego kami, kami telah menemukan alamat yang benar untuk cinta ini, namun waktu dengan kejam merenggut kesempatan kami untuk sekadar saling menggenggam.

​Dua orang petugas polisi berseragam lengkap dari unit Bareskrim berdiri tegap menghalangi pintu geser ICU. Senapan laras panjang tersandang di dada mereka.

​"Biarkan saya masuk, setidaknya lima menit," pintaku untuk yang ketujuh kalinya. Suaraku parau, serak oleh isak tangis yang sudah mengering. "Saya seorang dokter di rumah sakit ini. Dan saya adalah istri sahnya. Saya punya hak hukum untuk melihat kondisi kritis suami saya!"

​Salah satu petugas menatapku dengan sorot mata dingin yang tidak mengandung simpati sedikit pun. "Maaf, Dokter Keana. Status Jaksa Ghazali saat ini adalah tersangka utama kasus pembunuhan berencana dan perusakan barang bukti. Berdasarkan instruksi langsung dari atasan, tersangka berada dalam status penahanan isolasi penuh. Tidak ada yang diizinkan masuk tanpa surat izin resmi dari penyidik utama. Termasuk istrinya sendiri."

​Penolakan itu menamparku dengan keras. Aku terabaikan. Di rumah sakit yang merupakan teritorialku sendiri, di tempat di mana aku biasanya memiliki otoritas absolut atas tubuh manusia, kini aku hanyalah seorang warga sipil yang tidak memiliki akses kepada suamiku sendiri. Narasi yang dibangun Maia Anindita telah berhasil mengubah Ghazali menjadi monster di mata negara, dan mengubahku menjadi istri dari seorang pembunuh.

​Suara langkah kaki tergesa-gesa memecah ketegangan di lorong ICU. Adrian berlari kecil menghampiriku. Wajahnya yang pucat karena masih dalam masa pemulihan kini dipenuhi oleh kilat adrenalin. Di tangannya, ia menggenggam sebuah map plastik berisi beberapa lembar kertas print-out berlogo laboratorium toksikologi.

​"Dokter," napas Adrian memburu. Ia menarik lenganku menjauh dari jangkauan pendengaran kedua polisi tersebut. "Spektrometri massa sudah selesai membaca sampel tulang os femur itu."

​Jantungku berdegup kencang. "Bagaimana hasilnya?"

​Adrian membuka lembaran pertama. Ia menunjuk sebuah grafik kromatogram yang menunjukkan lonjakan tajam pada satu titik koordinat spesifik. "Kurvanya tidak bisa berbohong, Dok. Ekstraksi pelarut organik pada sumsum tulang tersebut menunjukkan konsentrasi glikosida jantung yang sangat masif. Ini adalah Digoxin, senyawa aktif murni dari tanaman Digitalis."

​Tanganku gemetar saat menyentuh kertas itu. Fakta ilmiah ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa kakek mertuaku tidak mati karena serangan jantung alami, melainkan karena pembunuhan sistematis dengan racun.

​"Ini buktinya, Adrian," bisikku, air mata kelegaan merebak di pelupuk mataku. "Dengan ini, kita bisa menghancurkan alibi Maia dan Nyonya Ratna. Kita bisa membersihkan nama Ghazali!"

​"Tapi, Dok..." Adrian menelan ludah, suaranya kembali dipenuhi keraguan yang menyesakkan. "Apa yang dikatakan pengacara iblis itu semalam benar. Bukti ini tidak memiliki chain of custody (rantai komando) yang sah. Kita tidak punya surat tugas penyitaan, tidak ada saksi dari kepolisian saat pengambilan sampel, dan tulang itu diambil dari properti pribadi tanpa izin penggeledahan. Dalam hukum acara pidana, ini adalah Fruit of the Poisonous Tree—buah dari pohon beracun. Hakim akan membuang hasil lab ini ke tempat sampah sebelum sidang pembuktian dimulai."

​"Hukum macam apa yang melindungi pembunuh berdarah dingin hanya karena selembar surat administrasi?!" desisku marah, meremas tepi map plastik tersebut. "Mereka telah menyekapmu dan nyaris membunuh Ghazali!"

​"Dokter Keana Elvaretta."

​Sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa menginterupsi kami. Aku dan Adrian menoleh. Direktur Utama RS Bhayangkara, Dr. Haris, berjalan ke arah kami dengan dikawal oleh Kepala HRD rumah sakit. Wajah pria paruh baya itu tampak muram dan tidak bersahabat.

​"Selamat pagi, Dokter Haris," sapaku, mencoba mempertahankan profesionalismeku dengan meluruskan postur tubuh.

​Dr. Haris tidak membalas sapaanku. Ia melirik sekilas ke arah ruang ICU, lalu menatapku dengan sorot mata yang penuh penghakiman. "Saya baru saja menerima telepon dari pihak Kejaksaan Agung dan Bareskrim Polri. Berita mengenai suami Anda sudah bocor ke berbagai media massa pagi ini. Rumah sakit kita sedang dikepung oleh puluhan wartawan di lobi utama."

​"Saya mengerti, Dok. Ini memang situasi yang sulit, tapi saya—"

​"Ini bukan sekadar situasi sulit, Keana. Ini adalah krisis reputasi," potong Dr. Haris tajam. "Manajemen rumah sakit tidak bisa mentolerir keberadaan seorang Kepala Departemen Forensik yang berstatus sebagai istri dari tersangka pembunuhan berencana, terlebih kasus ini melibatkan konspirasi di tubuh penegak hukum."

​Darahku berdesir dingin. Aku mundur selangkah, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. "Dokter Haris... Anda tahu persis dedikasi saya untuk rumah sakit ini. Saya tidak pernah mencampuradukkan urusan pribadi dengan hasil Visum et Repertum!"

​"Mungkin benar," Dr. Haris membetulkan letak kacamatanya dengan dingin. "Namun, di mata publik, independensi dan netralitas lab forensik kita sudah cacat karena keberadaan Anda. Atas desakan dari dewan pengawas, mulai detik ini, Anda dibebastugaskan dari seluruh kewajiban medis di RS Bhayangkara. Anda diskors tanpa batas waktu yang ditentukan. Akses Anda ke laboratorium, kamar mayat, dan seluruh fasilitas medis rumah sakit telah dicabut."

​"Anda tidak bisa melakukan ini!" Adrian berteriak maju, wajahnya merah padam membela kehormatanku. "Dokter Keana adalah aset terbaik yang dimiliki forensik kita! Dia baru saja—"

​"Diam, Adrian," potongku pelan. Aku menahan lengan asistenku. Mataku menatap lurus ke arah Direktur Rumah Sakit. Rasa sakit karena diabaikan oleh orang yang kucintai mungkin sangat perih, tapi ditikam dari belakang oleh institusi tempatku mengabdi selama bertahun-tahun, rasanya seperti dikuliti hidup-hidup.

​Ghazali benar. Dunia ini dikendalikan oleh kebohongan yang elegan dan citra publik.

​"Saya mengerti, Dokter Haris," ucapku, melepaskan ID Card kepegawaianku dari leher dan menyerahkannya ke tangan Kepala HRD dengan gerakan yang sangat terukur. "Jika rumah sakit ini lebih peduli pada citra publik daripada menegakkan keadilan ilmiah bagi mereka yang mati, maka saya memang sudah tidak memiliki tempat di sini."

​Dr. Haris hanya mengangguk kaku, berbalik, dan melangkah pergi tanpa mengucapkan rasa simpati sedikit pun.

​Aku kembali terabaikan. Diasingkan. Terisolasi seutuhnya dari sistem yang selama ini melindungiku. Maia dan Nyonya Ratna telah menyusun konspirasi ini dengan sangat brilian; mereka tidak hanya memenjarakan Ghazali, tapi mereka juga memotong seluruh akses kekuatanku. Tanpa jubah dokter forensik di rumah sakit ini, aku hanyalah seorang wanita biasa yang tidak memiliki kekuatan hukum apa pun.

​"Dok, lalu kita harus bagaimana?" suara Adrian bergetar, keputusasaan mulai menenggelamkan keberaniannya.

​Aku menunduk menatap map berisi hasil spektrometri massa di tanganku. "Mereka mengusirku karena mereka takut pada reputasi dan media massa, bukan?" bisikku, sebuah ide gila yang sangat nekat mulai terbentuk di kepalaku.

​Aku menatap Adrian dengan kilat mata yang tak lagi bisa dibendung. "Jika hukum tidak mau menerima bukti medis ini, dan jika rumah sakit tidak mau melindungi kebenaran ini... maka aku akan memberikan bukti ini kepada satu-satunya entitas yang tidak peduli pada rantai komando hukum."

​"Maksud Dokter?"

​"Hubungi Leo Sastra, pengacara perceraianku," perintahku tajam, auraku berubah dari seorang istri yang berduka menjadi seorang panglima perang yang kehilangan kesabarannya. "Katakan padanya untuk turun ke lobi utama rumah sakit sekarang juga. Dan pastikan semua wartawan yang mengepung lobi itu menyalakan kamera siaran langsung mereka."

​"Tapi Dok, itu bunuh diri karier! Anda bisa dituntut balik atas pasal pencemaran nama baik oleh keluarga Mahendra!"

​"Karierku sudah mati hari ini, Adrian. Dan suamiku sedang berjuang melawan kematian di balik kaca itu," aku menunjuk ke arah ruang ICU. "Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Jika Maia ingin bermain dengan narasi publik, maka mari kita lihat siapa sutradara yang lebih kejam."

​Lobi RS Bhayangkara dipenuhi oleh lautan manusia yang saling berdesakan. Puluhan mikrofon, kamera televisi, dan kilatan flash menyala bersahutan layaknya badai petir di dalam ruangan tertutup. Saat aku turun dari eskalator dengan didampingi Leo Sastra, kerumunan wartawan itu seketika meledak dalam teriakan pertanyaan yang saling tumpang tindih.

​"Dokter Keana! Benarkah suami Anda meracuni kakeknya sendiri?!"

"Apakah ada keterlibatan Anda dalam menyembunyikan bukti autopsi staf ahli kejaksaan?!"

"Bagaimana tanggapan Anda mengenai gugatan cerai yang batal secara sepihak?!"

​Aku melangkah maju menembus garis batas keamanan yang dibuat seadanya oleh satpam rumah sakit. Aku tidak menunduk. Aku tidak menutupi wajahku dengan tas atau menangis layaknya istri tersangka yang rapuh. Aku berdiri tegak, masih mengenakan jas lab putih kebanggaanku, meskipun aku tahu jas ini baru saja dicabut otoritasnya.

​Leo Sastra berdiri di sampingku, mengangkat tangannya untuk meminta ketenangan. Pengacara litigasi kawakan itu tahu persis bagaimana cara memanipulasi perhatian massa.

​"Rekan-rekan media, harap tenang! Klien saya, Dokter Keana Elvaretta, akan memberikan pernyataan resmi satu kali saja. Tidak ada sesi tanya jawab setelah ini," suara Leo Sastra menggema melalui pengeras suara portabel yang ia bawa.

​Kerumunan seketika terdiam, menyisakan suara klik rana kamera yang berpacu cepat. Ratusan lensa kini membedah ekspresi wajahku, menanti kejatuhan mental seorang istri Jaksa Penuntut Umum.

​Aku menatap lurus ke arah puluhan lensa kamera yang menyala merah—tanda bahwa siaran ini ditayangkan secara langsung ke jutaan pasang mata di seluruh negeri.

​"Selamat pagi," suaraku mengudara dengan ketenangan es, persis seperti saat aku mendiktekan laporan autopsi di depan mahasiswa kedokteran. "Nama saya Keana Elvaretta. Saya adalah spesialis forensik, dan saya adalah istri sah dari Jaksa Ghazali Mahendra."

​Aku menarik napas dangkal, membiarkan keheningan mengunci perhatian mereka selama dua detik.

​"Pagi ini, suami saya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pembunuhan berencana terhadap kakeknya dan staf ahlinya. Kepolisian mengklaim memiliki bukti berupa kuitansi dan rekaman suara," aku mengangkat map plastik berisi hasil laboratorium ke udara, mempertontonkannya di depan kilatan kamera. "Namun sebagai ahli forensik yang membedah kebenaran, saya berdiri di sini untuk menyatakan bahwa seluruh narasi penegak hukum hari ini adalah sebuah rekayasa kotor yang dirancang untuk melindungi pembunuh yang sesungguhnya!"

​Gumaman kaget langsung meledak di antara wartawan. Beberapa dari mereka mulai berebut maju.

​"Di tangan saya, terdapat hasil uji laboratorium toksikologi menggunakan mesin Spektrometri Massa," suaraku meninggi, memotong kegaduhan. "Dokumen ini membuktikan adanya konsentrasi mematikan dari senyawa Digoxin—ekstrak racun tanaman Digitalis—pada sumsum tulang mendiang kakek mertua saya. Racun ini diberikan secara bertahap selama berbulan-bulan untuk memicu gagal jantung buatan. Dan suami saya, Ghazali Mahendra, sama sekali tidak memiliki akses medis terhadap racun tersebut."

​"Jika bukan suami Anda, lalu siapa pembunuhnya, Dok?!" teriak salah seorang wartawan dari barisan depan.

​Aku menatap langsung ke arah kamera utama, membayangkan wajah Maia dan Nyonya Ratna yang mungkin sedang menonton siaran ini dari kenyamanan sofa kulit mereka.

​"Otak dari pembunuhan ini adalah individu yang memiliki kendali penuh atas rumah tangga Mahendra, dan eksekutornya adalah wanita yang saat ini bertindak sebagai pelapor utama kepolisian—Maia Anindita!"

​Suaraku menggema di lobi, memecahkan tabu yang selama ini menyelimuti nama besar Mahendra. "Mereka menjebak suami saya dengan bukti palsu! Malam tadi, suami saya nyaris kehilangan nyawanya karena terkena paparan Asam Hidrofluorik murni demi mencoba menyelamatkan barang bukti tulang beracun ini dari ruang bawah tanah rumah mereka sendiri! Luka bakar kimia yang menghancurkan tangan kanan suami saya di ruang ICU saat ini bukanlah 'kecelakaan kerja' seperti yang diklaim pengacara Maia, melainkan bukti nyata dari percobaan pembunuhan yang mereka lakukan pada kami!"

​Lobi rumah sakit benar-benar berubah menjadi kekacauan. Wartawan saling dorong, meneriakkan pertanyaan yang semakin liar.

​Leo Sastra tersenyum tipis di sampingku, ia tahu bahwa kami baru saja menjatuhkan bom atom di tengah konstelasi hukum nasional.

​"Pihak kepolisian menolak hasil laboratorium ini karena dalih cacat prosedur administrasi," aku melanjutkan dengan nada yang sarat akan penghinaan terhadap birokrasi yang bobrok. "Jika hukum formal di negara ini memilih untuk buta terhadap sains dan lebih melindungi kertas prosedur daripada nyawa manusia, maka saya menyerahkan dokumen ini kepada pengadilan publik! Biarkan masyarakat yang menilai, siapa yang sesungguhnya membusuk di balik jubah kekuasaan!"

​Aku meletakkan salinan hasil lab tersebut di atas meja resepsionis lobi, membiarkan para jurnalis berebut untuk memotret grafik mematikan itu.

​Tiba-tiba, suara dering telepon yang sangat nyaring memotong adrenalin yang memompa di telingaku. Aku merogoh saku jas lab-ku. Panggilan masuk dari Adrian.

​Aku mengangkatnya, masih di tengah kerumunan blitz kamera. "Ada apa, Adrian? Aku sudah menyelesaikan—"

​"Dokter Keana! Anda harus lari dari lobi sekarang juga!" suara Adrian di seberang telepon terdengar sangat histeris, diwarnai suara pecahan barang dan teriakan pria berseragam di latar belakang.

​"Adrian? Apa yang terjadi?!"

​"Tim penyidik khusus dari Bareskrim baru saja mendobrak masuk ke laboratorium kita! Mereka memiliki surat perintah penyitaan dari kejaksaan! Mereka menghancurkan mesin spektrometri kita dan merampas paksa sisa serpihan tulang kakek Ghazali!" teriak Adrian dengan napas tersengal, sepertinya ia sedang disudutkan.

​"Tidak mungkin! Atas dasar apa mereka merusaknya?!"

​"Mereka berdalih itu adalah barang bukti ilegal yang mengancam keamanan negara! Dan, Dok—" suara Adrian terputus oleh suara gebrakan pintu yang mengerikan. "Seseorang dari Kejaksaan Agung baru saja menandatangani surat perintah penahanan untuk Anda! Mereka sedang turun ke lobi untuk menangkap Anda atas tuduhan pencurian mayat dan penyebaran hoaks di media massa!"

​Darahku seolah membeku di dalam nadiku. Sistem korup itu bergerak jauh lebih cepat dan lebih kejam dari yang kuperkirakan. Nyonya Ratna tidak hanya memiliki koneksi; ia adalah pemilik dari rantai makanan itu sendiri.

​"Dokter," suara Adrian melemah, dipenuhi kengerian yang membuat lututku kehilangan tenaganya. "Ada satu hal lagi. Perawat ICU baru saja menekan tombol Code Blue darurat..."

​"Apa maksudmu, Adrian?" bisikku, mataku membelalak ngeri menatap langit-langit lobi, seolah mencoba menembus lantai menuju ruang ICU di atas sana.

​"Monitor EKG Jaksa Ghazali... dia baru saja mengalami henti jantung kedua. Tubuhnya menolak penawar kalsium itu."

​Ponselku terlepas dari genggaman, jatuh berdebum ke atas lantai marmer lobi. Di tengah kerumunan wartawan yang berteriak, di bawah sorotan jutaan pasang mata publik, aku berdiri mematung layaknya patung es.

​Bukti fisikku telah dirampas dan dimusnahkan. Kebebasanku tinggal menghitung menit sebelum borgol polisi mengunci pergelanganku. Dan pria yang baru saja berjanji untuk memberikan alamat cintanya padaku, kini sedang direnggut paksa oleh malaikat maut.

​Aku telah memberikan perlawanan terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang dokter forensik, namun malam ini, rasanya kematian benar-benar telah memenangkan seluruh permainannya.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!