Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam-malam seperti ini? Untuk apa wanita muslim sebaik Lita masih berada di rumahnya, yang tergolong bukan mahramnya. Meskipun keduanya sudah bertunangan, namun Afran tidak menyukai sikap seperti itu.
"Lita? Kamu ngapain larut malam di rumahku? Ada apa?" Afran juga menatap Ibunya.
Lita bukan menyambut dengan tatapan hangat serta senyum lembut. Tapi, wanita berjilbab itu menampilkan wajah penuh kemarahan.
"Darimana saja kamu, Mas? Udah puas senangin Janda? Kamu rela nggak jemput aku... Tapi malah senang-senang sama Janda itu dengan dalih kamu kasian sama anaknya?" cerca Lita.
Afran memejamkan mata dalam-dalam. Semetara Ibunya masih bersikap bingung. Tapi setelah calon menantunya itu memperlihatkan sepenggal Video tadi, Bu Arumi hanya dapat tertegun.
"Fran... Apa benar semua itu, Nak? Siapa Janda itu?" suara rendah itu cukup bergetar.
Afran menahan napas dalam. Tarikannya sangat berat. Ia menyentuh lengan Ibunya dengan tatapan memohon. "Mah... Itu semuanya nggak benar. Afran dapat menjelaskan-"
Lita menyambar, "Nggak bener apa, Mas? Tante Arumi sudah melihat semua kebohongan kamu. Lihat ini!" Lita mendorong ponselnya pada tubuh Afran.
Dan seperti waktu tadi, diam-diam kedekatan itu menimbulkan fitnah keji hanya karena sepenggal video dari teman Lita yang tak bertanggung jawab.
Afran terkejut melihat sepotong video itu. Video yang mana ia begitu memanjakan Tama, dan sangat akrab dengan Miranda. Lalu tatapnya beralih pada Lita. Ada perasaan geram, namun ceruk mata itu lebih ke cemas.
Bu Arumi menengahi. "Kita bicarakan saja di dalam."
Lita masih menggebu-gebu dengan emosinya. Menatap Afran sekilas, lalu melenggang masuk begitu saja.
Dan setelah cukup menceritakan semuanya, tiba-tiba perasaan wanita setengah baya itu mencelos. Kalimat; sosok kembar itu menghantam tepat ulu hatinya. Apalagi harus ada tangisan meyayat dari mulut kecil sosok yang tak berdosa. Bu Arumi mulai dapat menurunkan emosinya. Ia dapat membayangkan sebingung apa serta serba salah seperti apa sebagai Miranda.
Tiba-tiba saja mata Bu Arumi bergetar. Ia menyentuh lengan Lita. Usapannya seolah meminta wanita cantik itu untuk lebih mengerti.
"Coba bayangkan saja. Apa aku akan diam melihat seorang anak yatim itu?" suara Afran begitu rendah, napasnya berayun lirih sangat lelah.
Perlahan Lita mulai menarik napas dalam. Mencoba berdamai dengan emosinya. Bibirnya mencoba memaksakan senyum.
"Aku akan berusaha mengerti untuk mulai sekarang. Jadi, entah nanti di suatu kebetulan mana lagi jika Mas Afran bertemu keluaga Janda itu, maka aku akan siap dengan semuanya," namun air matanya luruh begitu saja.
Bu Arumi bangkit. Ia rasa kedua pasangan itu membutuhkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati. Tatapanya meminta sang Putra untuk mendekat.
Afran beralih duduk. Ia kini menyampingkan tubuhnya, sedikit banyaknya ada perasaan bersalah.
"Lita... Aku tidak pernah memiliki niat sedikit pun untuk menghianatimu. Pernikahan kita kurang 1 bulan lagi. Aku mohon jangan memperkeruh keadaan yang tak seharusnya kamu tanyakan."
Lita tersenyum menatap lurus. "Mas... Aku capek rasanya. Kamu jadi orang terlalu baik. Dan aku nggak siap dengan semua kebaikanmu untuk kelangsungan rumah tangga kita ke depan. Aku belum siap dengan semua kecemburuan yang akan aku dapatkan nanti. Untuk itu, lebih baik kita tunda saja pernikahan kita."
Deg!
Lita sudah bangkit, Afran juga mengikuti. Wajah tampan itu berubah bias, bingung harus gimana lagi menjelaskan semuanya.
"Tolong antarkan aku pulang, Mas!" lirih Lita kembali.
Afran mengambil tangan itu. "Pernikahan kita akan tetap terjadi! Jika kamu masih membutuhkan waktu, aku dapat mengerti."
Lita menarik tanganya. Sejenak, ia angkat tangan itu. Cincin berlian ia usap, tatapanya sangat dalam. Namun siapa sangka gerakanya melebihi cara kerja isi kepalanya.
Tak!
Afran kali ini syok. Bunyi cincin tergeletak diatas meja kaca itu menimbulkan kesan menyayat. "Aku kembalikan cincin ini, Mas!"
Dan tiba-tiba keadaan malai tegang sekaligus senyap.
Afran hanya mampu memandangi cincin itu dengan kekosongan. Sementara Lita sudah bersiap mengambil tas dan berjalan keluar.
*
Mobil Afran sudah tiba di kediaman calon mertuanya. Lita sudah bersiap turun, begitu juga Afran.
Tiba-tiba kalimat Lita keluar, "Mas Afran tidak perlu turun! Pulang saja, ini sudah malam!"
Bak genangan air, kalimat itu tak mampu melewati telinga satunya. Ia menggenang dari otak Afran, mengalir menembus celah hatinya.
Mungkin kekasihnya membutuhkan waktu untuk semua ini. Mobil Afran kembali melaju. Bukan untuk pulang, namun pria itu memilih singgah di suatu tempat sejenak.
Pukul 11 malam, tempat angkringan di pinggir jalan sangatlah ramai pengunjung. Dua mobil mewah menepi. Dua pria tampan itu berjalan, salah satunya memesan dan satu temanya duduk.
"Pak, kayak biasanya 2. Sama nasi juga," ucap pria bernama Rafael.
Setelah memesan, Rafael menghampiri temanya. "Masih mikirin masalah Mas Dewa?"
Ezar duduk pun tak lepas dari pemandangan menyakitkan tadi. Bagaimana Miranda dapat tersenyum kepada Afran. Senyum yang dulu selalu Miranda suguhkan untuknya. Bukan wajah bengis yang kini Ezar dapatkan.
Hembusan napas berat itu membuat Rafael cukup bersimpati. Sebagai sahabat, orang yang banyak tahu tentang jalan hidup Ezar, Rafael juga tahu seberantakan apa sahabatnya saat dulu di tinggalkan oleh Miranda. Beberapa bir, arak, semua yang berbau minuman keras, barang haram itu hampir membuat Ezar tak bernyawa saking frustasinya.
Jika bukan karenanya juga, sabahatnya itu sudah mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Pada saat itu, mental Ezar dibantai kejam oleh rasa patah hatinya.
"Aku nggak bisa terima dengan semua ini, Raf! Dia dapat tersenyum manis kepada semua pria, tapi sangat kejam kepadaku."
Rafael dapat mengerti. Hembusan asap nikotin itu sudah mengempul di udara. "Kenapa sampai saat ini kamu nggak cari kebenaranya, Zar? Aku nggak yakin wanita selugu Miranda berani membawa pria lain masuk rumah. Apalagi rumah Majikannya sendiri."
Ezar menegakan cara duduknya. Sesapan asap rokok itu cukup membuat pikiranya sedikit tenang. Kalimat Rafael bukan untuk pertama kalinya. Hampir setiap bertemu, sahabatnya itu selalu berkata yang sama.
Tapi bagi Ezar, kepercayaan kepada sang Ibu membuat pedoman hidupnya lebih kekal. Semua ucapan Ria bak sihir yang sudah mengikat pikiran putranya.
"Tapi aku lebih percaya dengan bukti video itu, Raf-" Ezar mendongak terkejut, kalimatnya melemah.
Sebuah mobil menepi, pria yang turun itu reflek membuatnya bangkit. Rafael juga mengikuti arah pandangnya. Matanya terbuka lebih lebar.
"Zar, Zar... Itu bukanya Arya, suaminya Miranda?" celetuknya tanpa mengalihkan pandangan pada Afran yang berjalan mendekat gerobak untuk memesan kopi juga.
Tangan Ezar sudah terkepal. Jantungnya berpacu kuat, bak banteng yang melihat kain merah. Kakinya sudah bergerak.
Rafael sadar dan menghentikan. "Eh... Mau kemana?"
Ezar membuang rokoknya, menginjak penuh rasa emosi menatap pria di sebrang itu dapat bersikap dengan begitu tenang.
"Aku mau kasih pelajaran pada Bajingan itu!" ucapnya berapi-api.
"Eh, Zar... Ini di tempat umum. Citra kamu sebagai Presdir akan turun jika orang-orang tahu," Rafael sudah menghadang langkah sahabatnya. "Brow... Pikir yang nalar. Jangan apa-apa kegabah sama emosi."
Rahang tegas itu sudah mengatup kuat. Mungkin jika tidak ada Rafael, dirinya sudah menghabisi Afran saat ini juga.