Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: CATUR DI ATAS PAPAN YANG TAK TERLIHAT
Malam semakin larut. Gang Tebet telah kembali tidur, namun di dalam ruang kerja Aris yang berlantai dua, lampu masih menyala temaram. Ruangan itu didominasi oleh rak buku kayu jati dan sebuah meja besar yang di atasnya terhampar papan catur kuno.
Aris duduk sendirian, menggerakkan bidak kuda hitam. Di hadapannya, tidak ada lawan manusia. Hanya keheningan.
"Kau pikir dia akan langsung menyerang dengan hukum?" suara Rina memecah kesunyian. Ia masuk membawa nampan berisi teh jahe, wajahnya masih menyimpan sisa kecemasan.
Aris tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada papan catur. "Tidak, Rin. Victoria Sterling bukan petinju yang langsung melayangkan pukulan. Dia adalah grandmaster catur yang suka mengorbankan pion untuk menjebak raja. Ancamannya tadi siang? Itu hanya bluffing. Gertakan untuk mengukur seberapa kuat pertahanan mental kita."
Rina meletakkan teh, lalu berdiri di belakang Aris, memijat bahu suaminya pelan. "Lalu apa rencananya, Kak? Dia bilang akan menghancurkan reputasimu. Media Amerika sangat kejam."
Aris akhirnya menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang membuat Rina merinding karena terlalu dalam maknanya.
"Dia tidak akan menggunakan media dulu, Sayang. Dia akan menggunakan 'celah' yang dia pikir ada di diri kita. Dia mencari retakan di fondasi kita. Tapi dia lupa satu hal..."
Aris mengambil bidak ratu putih, memutarnya perlahan di antara jari-jarinya.
"...dia mengira kita bermain di papan yang sama dengannya. Dia berpikir ini soal uang vs uang, kuasa vs kuasa. Padahal, kita sedang bermain di dimensi yang berbeda."
Tiba-tiba, ponsel khusus Aris—yang nomornya hanya diketahui oleh lima orang terpenting di dunia—bergetar. Sebuah pesan singkat masuk, tanpa nama pengirim, hanya kode angka: 09-12-24-V.
Aris membacanya sekilas, lalu tertawa kecil. Tawa yang terdengar jenius sekaligus menyeramkan.
"Sudah kuduga," gumamnya.
"Apa itu, Kak?" tanya Rina penasaran.
"Dia sudah mulai bergerak. Tapi bukan menyerang kita. Dia menyerang sekutu kita," jawab Aris tenang. "Dia baru saja membeli 51% saham perusahaan supplier kain terbesar yang mensupli bahan baku untuk UMKM binaan yayasan kita. Besok pagi, ribuan ibu-ibu pengrajin di Jawa Tengah akan menerima surat pemutusan kontrak. Itu cara dia melumpuhkan kita pelan-pelan. Membuat rakyat kecil menderita, lalu menyalahkan kita karena tidak bisa melindungi mereka."
Rina terkejut, tangannya menutup mulut. "Ya Allah... itu jahat sekali. Bagaimana mungkin dia bisa secepat itu?"
"Uang memang bisa mempercepat waktu, Rin. Tapi..." Aris berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke masjid. "Dia lupa bahwa di Indonesia, hubungan bisnis bukan hanya soal kontrak di atas kertas. Ada sesuatu yang disebut 'utang budi' dan 'kepercayaan'."
Aris berbalik, matanya berbinar dengan strategi yang sudah matang di kepalanya.
"Dengar baik-baik, Rin. Besok pagi, jangan panggil pengacara. Jangan panggil direktur keuangan. Panggil Bu Lik Minah, Pak RT, dan para ketua kelompok pengrajin. Suruh mereka kumpul di masjid."
"Tapi apa yang bisa kita lakukan kalau kontraknya sudah dibeli Victoria?" tanya Rina bingung.
Aris mendekat, memegang kedua tangan Rina. "Kita akan lakukan sesuatu yang tidak pernah dipelajari di sekolah bisnis Harvard atau Wharton. Kita akan ubah skema kepemilikan. Malam ini, saya akan menghubungi jaringan pesantren dan koperasi syariah di seluruh Jawa. Kita akan alihkan pola produksi dari 'supplier tunggal' menjadi 'jaringan koperasi mandiri'. Kita liburkan peran supplier besar itu. Biarkan Victoria memegang saham perusahaan mati yang tidak lagi punya arti karena kita sudah memutus rantai ketergantungannya."
Rina ternganga. "Tapi... itu butuh koordinasi ribuan orang dalam semalam. Mustahil."
Aris tersenyum, kali ini dengan keyakinan penuh. "Bagi logika manusia, itu mustahil. Tapi bagi jaringan ukhuwah (persaudaraan) yang sudah saya bangun selama sepuluh tahun terakhir di balik layar? Itu hanya urusan beberapa telepon. Victoria berpikir dia membeli 'perusahaan'. Dia tidak tahu bahwa dia sedang mencoba membeli 'roh' dari sebuah komunitas. Dan roh tidak bisa dibeli."
Aris kembali ke papan catur. Dengan satu gerakan cepat, ia menggerakkan benteng hitam ke posisi yang tampaknya aneh, tapi sebenarnya mematikan bagi lawan.
"Lihat ini, Rin. Dalam catur, kadang kamu harus membiarkan ratumu dimakan agar kamu bisa melakukan skakmat. Biarkan Victoria merasa menang besok pagi saat kontrak diputus. Biarkan dia pesta pora merayakan kemenangannya. Saat dia lengah, saat dia merasa kita sudah lumpuh, kita akan muncul dengan wajah baru: Kemandirian total. Kita buktikan bahwa tanpa dia, rakyat justru lebih sejahtera."
"itu... itu jenius, Kak," bisik Rina, matanya berkaca-kaca karena bangga. "Tapi apakah tidak terlalu berisiko? Jika gagal..."
"Jika gagal, saya akan turun tangan pribadi menanggung semua kerugian finansialnya. Sampai rupiah terakhir," potong Aris tegas. "Itu harga yang pantas untuk membayar harga diri umat. Lagipula..."
Suara Aris merendah, penuh misteri.
"...saya punya kartu as yang bahkan Victoria tidak tahu keberadaannya. Perusahaan supplier yang dia beli itu? Sebenarnya memiliki utang raksasa pada bank syariah yang saya kendalikan secara tidak langsung melalui yayasan. Begitu dia resmi mengakuisisi, dia juga mewarisi utangnya. Dan besok pagi, tepat saat dia merasa jadi pemilik, bank akan menarik seluruh kreditnya karena klausul tersembunyi yang hanya diketahui saya. Dia bukan sedang membeli aset, Rin. Dia sedang membeli jerat tali gantung untuk lehernya sendiri."
Rina terdiam. Strategi Aris begitu berlapis, begitu dalam, seolah ia sudah melihat sepuluh langkah ke depan sementara lawannya baru satu langkah.
"Kau takut?" tanya Aris lembut, melihat wajah Rina yang pucat.
"Aku takut pada kecerdasanmu yang kadang menakutkan," jawab Rina jujur, lalu tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Tapi aku juga tahu, semua kecerdasan itu kau gunakan untuk kebaikan."
Aris memeluk Rina erat. "Kecerdasan tanpa hati nurani adalah kejahatan tertinggi. Saya belajar itu dari kesalahan masa lalu saya sendiri. Malam ini, kita tidak tidur. Kita akan menelepon kawan-kawan di Jawa. Siapkan kopi, Sayang. Kita akan mainkan permainan terbaik dalam hidup kita."
Di luar, angin malam berhembus kencang, menggoyangkan daun-daun pohon mangga di halaman. Seolah alam pun menahan napas, menunggu langkah selanjutnya dari sang strategis ulung ini.
Sementara itu, di hotel bintang lima pusat Jakarta, Victoria Sterling sedang menuangkan sampanye mahal, tertawa puas bersama pengacaranya, merasa sudah memenangkan babak pertama. Ia tidak tahu bahwa di gang sempit Tebet, seekor singa sedang mengasah kukunya, menyiapkan perangkap yang akan mengubah kemenangan semunya menjadi kekalahan telak yang akan dikenang sepanjang sejarah bisnis dunia.
,
Permainan sesungguhnya baru saja dimulai. Dan di papan catur kehidupan ini, Aris tidak pernah bermain untuk seri. Dia hanya tahu satu hasil: Skakmat.
Bersambung...