Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain di balik layar
Di siang hari yang panas, sepanas istri tua yang di tinggal sang suami pergi ke istri muda
Aris sedang mengamati hiruk-pikuk pengadilan, Aris melihat seorang pemuda bernama Bimo.
Bimo terlihat hancur saat ayahnya, seorang pria jujur yang difitnah dalam kasus korupsi proyek pembangunan, dijatuhi hukuman penjara.
Aris melihat keputusasaan di mata Bimo—kemarahan yang terpendam dan keinginan untuk membalas dendam yang meluap-luap.
Kemudian Aris mendekati Bimo di sebuah taman pengadilan yang sepi. Aris menawarkan bantuan cuma-cuma. Aris mengaku memiliki akses ke data-data yang terkubur dan membuat ayahmu bisa di tolong dalam kasus ini.
"Ayahmu dipenjara karena hukum dimanipulasi. Jika kau ingin keadilan, jangan gunakan emosimu," ujar Aris,
"Gunakan otakmu. Aku akan membiayai kuliah hukummu dan memberikanmu akses ke informasi yang tak dimiliki siapa pun, asalkan kau bekerja untuk kantor konsultan independen milikku, sebagai pengacara."
Bimo menerima tawaran tersebut karena ia tidak punya pilihan lain
***
Tahun-tahun berlalu, Bimo tumbuh menjadi pengacara muda yang brilian dan disegani karena keberaniannya membela kaum tertindas.
Di balik keberhasilan Bimo, Aris adalah otak di belakang layar. Setiap kali Bimo menangani kasus yang buntu, Aris akan turun tangan. Ia akan datang ke TKP, mengaktifkan gelang peraknya, dan "melihat" apa yang terjadi satu jam yang lalu.
Aris kemudian akan memberikan bukti-bukti kunci kepada Bimo. "Ada bukti pembelian online, istri tua membeli obat dosis tinggi, untuk meracuni suaminya, bungkus paket ada di tempat sampah rumahnya," bisik Aris melalui earphone tersembunyi.
Aris benar-benar bergerak di balik layar. Ia tidak pernah muncul di ruang sidang, tidak pernah bertemu klien secara langsung, dan tidak pernah membiarkan namanya tercatat dalam dokumen legal.
Namun, posisi di balik layar ini justru memberikan Aris keuntungan besar. Karena ia tidak pernah dikenal publik, ia bebas bergerak menembus barikade polisi, masuk ke kantor-kantor pemerintahan, dan melakukan observasi tanpa ada yang mencurigai bahwa pria pendiam di sudut ruangan itu adalah kunci utama dari setiap kemenangan hukum yang sensasional.
Aris menikmati perannya. Ia kini bukan sekadar detektif, melainkan dalang yang menggerakkan keadilan. Ia merasa puas melihat kebenaran terungkap melalui tangan Bimo, sementara ia tetap menjadi "hantu" yang memegang kendali atas waktu.
***
Suatu sore yang gerimis, seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh masuk ke kantor tersebut. Namanya Sari, seorang asisten rumah tangga yang baru saja kehilangan pekerjaannya—dan mungkin kebebasannya. Wajahnya pucat, tangannya gemetar saat ia meletakkan surat panggilan dari kepolisian. Ia dituduh membunuh majikannya, seorang pengusaha properti kaya, dengan meracuni minuman sang majikan.
"Saya tidak melakukannya, Pak Bimo," isak Sari. "Saat kejadian, saya sedang di dapur menyiapkan makan malam. Tapi polisi menemukan sidik jari saya di gelas itu. Mereka bilang itu bukti mutlak."
Aris, yang duduk di ruang tersembunyi di balik dinding partisi kaca buram, mengamati dari balik monitor kecil. Ia melihat keputusasaan di mata wanita itu. Aris mengangguk pelan, memberikan kode kepada Bimo melalui earphone kecil.
Bimo, yang kini telah tumbuh menjadi pengacara hebat dengan setelan jas rapi, menatap Sari dengan penuh empati. "Tenang, Bu Sari. Ceritakan detailnya, tepat jam berapa kejadian itu diklaim terjadi?"
Setelah Sari memberikan keterangannya, Bimo segera menyusun strategi. Aris tidak membuang waktu. Ia menyelinap keluar melalui pintu belakang, mengenakan jaket penyamaran, dan menuju ke rumah mewah mendiang majikan Sari di kawasan elit Jakarta Selatan.
Setibanya di sana, ia memastikan lingkungan sepi. Dengan sekali tekan, gelang peraknya memancarkan cahaya biru redup. Aris masuk ke dalam "lorong waktu" dan kembali ke momen satu jam sebelum pembunuhan terjadi.
Ia berdiri di sudut ruang makan, menjadi hantu yang tak kasat mata. Ia melihat majikan Sari sedang berbicara dengan seseorang melalui video-call holografik. Aris mendekat, mencoba mendengarkan percakapan tersebut, namun ia justru melihat sesuatu yang lebih krusial: seorang pria berjas rapi yang masuk ke ruang makan saat majikan itu lengah. Pria itu dengan tenang menuangkan bubuk tak berwarna ke dalam gelas kopi, lalu menghapuskan sidik jari aslinya dan dengan sengaja memegang gelas itu di bagian yang sebelumnya disentuh Sari saat mencucinya, memanipulasi sidik jari.
Aris melihat wajah pria itu dan juga melihat ada CCTV di rumah tetangga sebelah yang menghadap ke TKP dengan jelas. Ia kemudian kembali ke masa sekarang, setelah durasi satu jamnya habis.
Aris segera mengirimkan koordinat dan hasil rekam visual yang ia ambil dengan kamera tersembunyi ke tablet milik Bimo. Aris juga memberikan catatan kecil: Pelaku adalah asisten pribadi korban. Motif: perebutan warisan. Sidik jari Sari dipalsukan menggunakan sarung tangan silikon.
Bimo, yang sedang berada di ruang sidang darurat, menerima data tersebut. Tanpa ragu, ia memutar arah argumennya.
"Yang Mulia, klien saya adalah korban dari rekayasa yang sangat rapi," suara Bimo menggema di ruang sidang. Ia kemudian memutar bukti rekaman yang telah "ditemukan" oleh tim investigasinya (Aris). "Sidik jari di gelas itu adalah hasil manipulasi, dan pria yang berdiri di samping Anda, Asisten Pribadi korban, adalah orang yang meletakkan racun tersebut tepat satu jam sebelum insiden terjadi."
Wajah sang asisten pribadi memucat. Ia mencoba melarikan diri, namun polisi yang sudah diberi instruksi oleh Bimo segera meringkusnya.
Sari dibebaskan hari itu juga. Di kantor, Sari menangis bahagia, berkali-kali berterima kasih kepada Bimo. Aris hanya menonton dari balik kaca, tersenyum kecil. Ia tidak membutuhkan pujian. Baginya, melihat kebenaran terungkap dan melihat orang yang tidak bersalah kembali menghirup udara kebebasan adalah kepuasan tertinggi.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor