NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Tirai Keramahan

​Mobil hitam yang menjemputku dari depan kafe melaju tenang membelah jalanan kota. Aku duduk di kursi belakang, menyandarkan kepalaku pada kaca jendela yang dingin. Di sampingku, Pak Surya tampak sibuk dengan ponselnya, sesekali menghela napas panjang. Pikiranku masih tertuju pada Zaidan dan map cokelat yang tadi ia berikan.

​Paman Ardi. Nama itu terus berdengung di telingaku seperti lebah yang mengganggu. Bagaimana mungkin pria yang selalu membawakanku kue setiap hari raya, pria yang menangis paling keras saat pemakaman Ayah, adalah orang yang ingin melenyapkanku?

​"Laras, Anda baik-baik saja? Wajah Anda pucat sekali," tegur Pak Surya lembut, membuyarkan lamunanku.

​Aku memaksakan sebuah senyuman tipis. "Hanya sedikit lelah, Pak. Terlalu banyak kejutan untuk satu hari."

​"Sabar, Nak. Kita sudah di depan gerbang. Ingat pesan saya, jangan tunjukkan kalau Anda sudah tahu terlalu banyak. Kita harus tetap tenang sampai semua bukti benar-benar terkunci," pesan Pak Surya sesaat sebelum mobil berhenti tepat di depan teras rumah.

​Begitu pintu mobil terbuka, aku melihat sebuah mobil mewah berwarna perak sudah terparkir di sana. Jantungku berdesir hebat. Itu mobil Paman Ardi. Rupanya, sang serigala sudah datang untuk memantau "mangsanya" yang gagal diterkam.

​Bi Ijah menyambutku dengan raut wajah cemas. "Nyonya... ada Tuan Ardi di dalam. Beliau sudah menunggu sejak tadi."

​Aku menarik napas panjang, menguatkan pijakan kakiku. Aku harus kembali masuk ke dalam peran. Larasati yang rapuh, Larasati yang sedang berduka karena pengkhianatan suaminya. Aku duduk kembali di kursi roda yang dikeluarkan oleh Bi Ijah, membiarkan tubuhku terlihat lunglai.

​Saat pintu ruang tamu terbuka, Paman Ardi langsung berdiri dari sofa. Wajahnya menunjukkan ekspresi kecemasan yang luar biasa—akting yang dulu mungkin akan membuatku merasa terharu, namun kini hanya membuatku ingin muntah.

​"Laras! Sayang! Ya Allah, apa yang terjadi?" Ardi menghampiriku dengan langkah terburu-buru, lalu berlutut di depan kursi rodaku. Ia menggenggam tanganku dengan erat. "Paman baru saja mendengar kabar dari kantor polisi. Dimas... benarkah dia melakukan itu semua padamu? Paman benar-benar tidak menyangka pria yang Paman kenalkan padamu adalah iblis!"

​Aku menatap mata Paman Ardi. Jika aku tidak diberitahu oleh Zaidan, aku mungkin akan percaya pada binar air mata yang menggenang di sana.

​"Iya, Paman... Mas Dimas... dia jahat sekali," ucapku dengan suara bergetar, membiarkan setetes air mata jatuh ke pipiku. "Dia ingin merampas rumah ini. Dia ingin melumpuhkanku."

​Ardi menghela napas panjang, tangannya mengusap rambutku dengan lembut. "Sabar, Sayang. Paman ada di sini. Paman tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh milikmu. Paman sudah menyiapkan pengacara terbaik untuk membantu Pak Surya memperberat hukuman Dimas. Kita akan pastikan dia membusuk di penjara!"

​"Terima kasih, Paman," bisikku. "Laras tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada Paman."

​"Ssst... sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang yang penting kesehatanmu," ucap Ardi, namun matanya sempat melirik ke arah tas koper yang dibawa Pak Surya. "Oh ya, Laras... soal dokumen-dokumen peninggalan Ayahmu yang sempat dibawa Dimas... apakah sudah kembali semua?"

​Pertanyaan itu terdengar kasual, namun aku tahu itu adalah inti dari kunjungannya. Dia ingin tahu apakah surat kuasa itu sudah hangus atau masih ada celah yang bisa ia gunakan.

​"Sudah diamankan oleh polisi sebagai barang bukti, Paman," Pak Surya menyela dengan suara tegas. "Untuk sementara, aset-aset itu berada di bawah pengawasan hukum sampai kasus ini selesai."

​Raut wajah Ardi berubah sepersekian detik—sebuah kilatan kekecewaan yang sangat cepat, namun aku berhasil menangkapnya. Ia segera merubah ekspresinya kembali menjadi prihatin.

​"Oh, tentu. Itu prosedur yang benar. Baguslah kalau begitu," Ardi bangkit berdiri, merapikan jasnya. "Kalau begitu, Laras... sebaiknya kamu istirahat. Paman akan sering mampir untuk mengecek keadaanmu. Dan Ijah!" Ardi menoleh ke arah Bi Ijah yang berdiri di sudut ruangan. "Pastikan Nyonya Laras makan dengan teratur. Jangan biarkan sembarang orang masuk ke rumah ini, mengerti?"

​"Baik, Tuan," jawab Bi Ijah pelan.

​Setelah Ardi pergi dengan mobil peraknya, suasana ruang tamu terasa dingin. Aku bangkit dari kursi roda, membuat Bi Ijah terkesiap.

​"Nyonya, jangan berdiri dulu, nanti capek..."

​"Aku tidak apa-apa, Bi. Aku harus kuat," aku berjalan menuju jendela, menatap mobil Ardi yang menjauh. "Pak Surya, apakah Bapak merasa ada yang aneh dengan tawaran bantuan Paman Ardi?"

​Pak Surya meletakkan tasnya di meja, wajahnya tampak serius. "Sejujurnya, Laras... dia terlalu bersemangat ingin membantu urusan aset. Dan satu lagi, pengacara yang dia rekomendasikan tadi... itu adalah rekan dekat dari firma hukum yang sering menangani kasus sengketa lahan."

​Aku mengepalkan tangan. "Zaidan benar. Paman Ardi adalah dalang yang sebenarnya. Dimas hanya alat."

​"Kita harus sangat hati-hati, Laras. Ardi bukan Dimas. Dia punya kekuasaan, punya uang, dan punya pengaruh besar di kota ini. Jika dia tahu kita sedang menyelidikinya, dia bisa bertindak lebih nekat dari sekadar memberi obat saraf," Pak Surya mengingatkan.

​Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Aku duduk di depan laptop, bukan untuk melanjutkan bab novelku, melainkan untuk mempelajari setiap detail tentang Ardiantoro. Aku mulai menyadari pola-polanya. Setiap kali ada perusahaan kecil yang bangkrut di sekitar sini, Ardi selalu muncul sebagai "pahlawan" yang membeli aset mereka dengan harga murah. Dan sekarang, dia mengincar rumah ini—benteng terakhir kenangan orang tuaku.

​Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke email pribadiku. Pengirimnya anonim, namun aku tahu itu dari Zaidan.

​[Anonim]: "Cek laci bawah meja kerja ayahmu yang terkunci. Ada sesuatu yang tidak sempat Dimas temukan karena dia terlalu fokus pada sertifikat tanah. Pakai kunci kecil yang ada di dalam kalung ibumu."

​Aku tertegun. Kalung Ibu? Aku segera berlari menuju laci perhiasan. Sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk buku kecil yang bisa dibuka. Di dalamnya, terselip sebuah kunci yang ukurannya sangat mikro.

​Dengan tangan gemetar, aku turun ke ruang kerja Ayah di lantai bawah. Ruangan itu masih beraroma kayu cendana dan buku lama. Aku berlutut di bawah meja jati besar milik Ayah, mencari lubang kunci yang dimaksud.

​Klik.

​Sebuah sekat rahasia terbuka di bagian paling bawah laci. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian berwarna hitam dan sebuah flashdisk tua. Aku membuka buku harian itu secara acak, dan mataku terpaku pada tulisan tangan Ayah yang rapi.

​"14 Juni 2023. Ardi mulai menekan lagi soal lahan belakang. Dia mengancam akan membongkar rahasia masa lalu jika aku tidak menyerahkan rumah ini. Aku tidak takut padanya, tapi aku takut pada apa yang bisa dia lakukan pada Larasati..."

​Air mataku tumpah membasahi kertas itu. Ayah sudah tahu sejak lama. Ayah sudah berjuang melindungiku sendirian selama ini dari sahabatnya sendiri.

​"Maafkan Laras, Ayah... Laras terlambat tahu," isakku pelan.

​Aku membawa buku harian dan flashdisk itu ke kamarku. Saat aku hendak menutup pintu, aku mendengar suara gemerisik dari arah halaman belakang. Aku mematikan lampu kamar dan mengintip dari balik tirai.

​Di bawah temaram lampu taman, aku melihat sesosok pria berpakaian hitam sedang mengendap-endap di dekat gudang belakang. Dia membawa sesuatu yang tampak seperti jerigen.

​Jantungku berpacu hebat. Apakah Ardi sudah mulai bertindak? Apakah dia ingin membakar rumah ini beserta isinya agar jejak rahasia Ayah hilang selamanya?

​Aku segera meraih ponsel, namun tanganku membeku saat melihat bayangan pria itu mendekat ke arah jendela lantai bawah. Ini bukan lagi sekadar sandiwara harta. Ini adalah ancaman nyawa.

​"Bi Ijah! Jangan buka pintu!" teriakku dalam hati, mencoba mencari cara untuk melawan tanpa membuat pria di bawah sadar bahwa aku sedang mengawasinya.

​Permainan ini baru saja naik ke level yang jauh lebih berbahaya. Dan kali ini, tidak ada naskah yang bisa menjamin aku akan tetap hidup sampai bab terakhir.

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!