Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Malam itu, di sebuah kota kecil dua jam dari hiruk pikuk Los Angeles, suasana terasa jauh lebih tenang.
Sander baru saja merebahkan tubuhnya di kasur setelah menutup sesi video call panjang dengan Audrey. Senyum masih tersisa di wajahnya.
Suara Audrey yang mengatakan "aku merindukanmu" adalah obat paling ampuh bagi rasa lelahnya sebagai siswa kelas 12 yang tengah menghadapi ujian semester.
Sander menatap langit-langit kamarnya, membayangkan masa depan di mana ia menyusul Audrey ke universitas yang sama. Namun, keheningan itu pecah oleh getaran ponsel yang beruntun. Pesan masuk dari teman sekolahnya yang juga memiliki kenalan di Los Angeles.
Sander mengernyit saat membuka sebuah foto. Itu adalah foto candid dari sebuah pesta mewah—pesta di penthouse malam itu.
Di sana, Audrey terlihat berdiri di antara kerumunan orang-orang yang tampak glamor dan liar. Audrey mengenakan gaun hitam satin yang pas di tubuh, gaun milik Vivian yang mengekspos bahunya dan memberikan kesan dewasa yang belum pernah Sander lihat sebelumnya.
Pesan di bawahnya berbunyi: "Brother... hebat banget cewek lu, Audrey, masuk pertemanan KENSINGTON VALERIO."
Sander membalas dengan cepat: "Siapa dia?"
"Masa lo nggak tahu Kensington? Search aja di Google atau medsos, dia legenda di LA."
Sander segera mengetik nama itu di kolom pencarian. Detik berikutnya, layar ponselnya dipenuhi oleh artikel dan foto-foto seorang pria dengan rahang tegas dan mata dingin yang mengintimidasi.
Judul-judul artikelnya membuat darah Sander berdesir kencang: Pewaris Valerio: Antara Bisnis dan Balap Liar, Kensington Valerio: Playboy Kampus yang Tak Pernah Terikat, hingga berbagai gosip tentang kebiasaannya meniduri gadis-gadis fakultas yang berbeda setiap minggu.
Sander menatap foto Audrey lagi. Kekasihnya yang polos, yang selalu bercerita tentang tumpukan buku hukum, kini berdiri di lingkungan yang sama dengan pria predator itu. Rasa kecewa dan takut menggelegak di dadanya. Kenapa Audrey tidak jujur soal pesta itu? Kenapa dia tidak meminta izin untuk memakai gaun seterbuka itu?
Dengan jemari yang gemetar karena amarah, Sander mengetik pesan:
"Drey, kamu bohong. Kamu bilang lingkungan pertemananmu baik-baik saja kecuali Vivian yang merokok. Aku baru tahu kamu masuk ke lingkaran elit kampus, dan yang paling populer adalah Kensington Valerio. Berhenti berteman dengan mereka. Aku nggak suka kamu di sana."
Send.
Di asrama, Audrey yang sedang mencoba fokus pada tugas Hukum Pidana tersentak saat ponselnya bergetar. Ia membaca pesan Sander dengan jantung yang berdegup kencang. Bagaimana Sander bisa tahu? Siapa yang mengirimkan foto itu?
Ia merasa sesak. Ia tidak bermaksud berbohong, ia hanya tidak ingin Sander khawatir berlebihan. Namun, melihat nada pesan Sander yang posesif, Audrey memilih untuk tidak membalasnya sekarang. Ia tahu jika ia membalas, mereka akan berakhir dengan pertengkaran hebat di telepon, dan ia tidak punya energi untuk itu. Audrey mengabaikan ponselnya, meski pikirannya kini terbagi.
...****************...
Keesokan harinya, kehidupan kampus berjalan seperti biasa bagi orang lain, namun terasa seperti medan perang bagi Audrey. Odetta, seperti biasa, datang dengan berita-berita terbaru sambil mengunyah roti lapisnya di samping Audrey.
"Drey, kau tahu? Foto-foto pesta yang waktu itu jadi konsumsi publik di grup angkatan sekarang. Kau terlihat sangat berbeda dengan gaun itu. Banyak yang bertanya-tanya bagaimana mahasiswi beasiswa sepertimu bisa masuk ke lingkaran Kensington," bisik Odetta.
Audrey hanya mendengus. Lingkaran elit itu—Vivian, Marco, dan si dingin Kensington—tampak duduk di meja sudut kantin seperti biasa.
Vivian melambai padanya, namun Audrey hanya membalas dengan senyum tipis. Ia sedang tidak ingin berurusan dengan mereka, terutama setelah pelecehan dan kesalahpahaman kemarin.
.
.
Sore harinya, Audrey pulang ke asrama dengan keadaan lesu. Kepalanya nyut-nyutan karena tugas makalah yang menumpuk. Ia menutup pintu kamarnya, berharap bisa tidur satu jam sebelum kembali berperang dengan buku-bukunya.
Namun, tepat pukul sembilan malam, pintu kamarnya diketuk dengan keras.
Audrey bangkit dengan malas. "Vivian, kalau kunci mu tertinggal lagi, aku akan—"
Kalimatnya terhenti saat pintu terbuka. Di ambang pintu, berdiri seorang pemuda dengan jaket varsity dan wajah yang tampak lelah namun penuh tekad.
"Sander? Kau... kau kemari?" tanya Audrey dengan mata membelalak kaget. Ia melirik jam dinding. Ini sudah malam, dan Sander menempuh perjalanan luar kota sendirian.
Sander tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung melangkah maju dan memeluk Audrey erat-erat, membenamkan wajahnya di leher kekasihnya. "Aku kangen," ucap Sander lirih. "Dan aku khawatir, Drey. Aku nggak bisa tenang di rumah setelah lihat foto itu."
Audrey menghela napas, rasa bersalahnya timbul melihat wajah lelah Sander. "Harusnya kau bilang kalau mau datang, San. Kau tidak langsung pulang, kan? Ini sudah sangat malam."
Sander menggeleng. Malam itu, untuk pertama kalinya, Sander menginap di asrama putri (dengan sembunyi-sembunyi melalui bantuan Vivian yang ternyata sedang pergi ke arena boxing).
Sander tidur di lantai menggunakan selimut tambahan, sementara Audrey di ranjangnya. Meski canggung, kehadiran Sander memberikan rasa aman yang sempat hilang dari Audrey.
Pagi harinya, kegemparan terjadi di koridor asrama. Berita menyebar lebih cepat dari api yang membakar jerami. Seseorang melihat seorang pemuda keluar dari kamar Audrey Hepburn dengan mengenakan seragam SMA yang masih rapi.
Rumor itu sampai ke telinga lingkaran elit di kantin pagi itu. Marco tertawa terbahak-bahak hingga hampir tersedak kopinya.
"Anjir! Pantas saja si Audrey masih perawan," seru Marco sambil memukul meja. "Pacarnya ternyata masih anak SMA! Dia benar-benar menyembunyikan 'berondong' di kamarnya semalaman penuh. Gila, Audrey yang terlihat suci ternyata seleranya anak di bawah umur."
Teman-teman yang lain ikut bersorak dan memberikan komentar-komentar pedas. "Mungkin dia butuh yang mudah diatur," sahut yang lain.
Di sudut meja itu, Kensington Valerio terdiam. Ia tidak ikut tertawa. Ia juga tidak tampak marah. Wajahnya setenang air di danau yang dalam. Namun, saat Marco menyebutkan kata 'perawan' dan 'anak SMA', sebuah senyum tipis yang sangat berbahaya muncul di sudut bibirnya.
Kensington menyesap espressonya perlahan. Pikirannya melayang pada novel-novel cinta yang ia baca.
Dalam sebagian besar cerita romansa, sosok second lead—pria kedua—biasanya berakhir dengan kekecewaan. Mereka adalah pihak yang kalah, yang hanya bisa menonton sang tokoh utama bahagia dengan pasangannya yang "baik dan setia".
Kensington meletakkan cangkirnya. Matanya berkilat dengan kegelapan yang pekat.
Sander, si bocah SMA yang setia, batin Kensington.
Ia merasa tertantang. Baginya, menghancurkan hubungan yang dianggap "suci" adalah sebuah hiburan yang belum pernah ia coba sebelumnya.
Jika dalam buku-buku itu second lead tidak pernah menang, maka Kensington akan mengubah narasinya. Dia bukan pemeran utama dalam kisah Audrey sekarang, tapi dia akan menjadi pihak yang memenangkan akhir ceritanya.
"Anak SMA, ya?" gumam Kensington lirih, nyaris tak terdengar di antara tawa Marco. "Mari kita lihat seberapa kuat 'cinta monyet' itu bertahan menghadapi badai yang akan kubuat."
Kensington berdiri, merapikan jaketnya. Ia punya rencana. Dan rencana itu dimulai dengan memastikan bahwa Audrey Hepburn menyadari bahwa "kesetiaan" seorang bocah SMA tidak akan cukup untuk melindunginya dari pria seperti dirinya.
Permainan baru saja naik ke level yang lebih brutal, dan Kensington Valerio sudah siap menjadi pemenang tunggalnya.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭