NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luapan Kemarahan Judika

"Juandra!!" teriak Jovina histeris, dan langsung berlari menghampiri dan memeluk tubuh suaminya yang sudah lemah tak berdaya. "Kenapa... kenapa kau lakukan ini?! Seharusnya kau tidak perlu menyelamatkanku! Aku sudah jahat padamu, aku sudah meninggalkanmu!" isak Jovina tak terkendali.

Juandra tersenyum lemah. Tangan gemetar mengusap pipi istrinya yang basah oleh air mata.

"Karena... aku mencintaimu, dan kau adalah ibu dari anak-anakku."

^^^

Segera setelah itu, mereka masuk ke dalam taksi menuju rumah sakit. Sementara pengemudi mobil yang menabrak sudah diamankan oleh warga sekitar.

"Kau harus bertahan, Juandra. Demi aku, demi Judika dan Chandra. Kau tidak boleh pergi meninggalkan kami," pinta Jovina sambil terus memegang erat tangan suaminya.

Juandra tersenyum mendengar ucapan itu, merasa bahagia mendengar istrinya masih peduli padanya. Perlahan, kelopak matanya terasa semakin beratnsampai akhirnya tertutup rapat.

"JUANDRA! JUANDRA, BANGUN! JANGAN TIDUR!!" teriak Jovina panik sembari menepuk lembut pipi suaminya berharap dia sadar kembali.

***

Sesampainya di rumah sakit, Juandra langsung dibawa masuk ke ruang UGD. Jovina duduk terdiam di luar ruangan. Dadanya terasa sesak dan sakit luar biasa. Penyesalan mulai menyelimuti hatinya.

Seandainya dia tidak bersikap dingin. Seandainya dia mau mendengar dan memberi kesempatan. Mungkin hal buruk ini tidak akan pernah terjadi.

Dengan tangan gemetar, Jovina menekan nomor telepon putra sulungnya. Panggilan tersambung tidak lama kemudian.

"Halo, Bu? Ada apa menelpon di jam begini?" suara Chandra terdengar dari seberang sana.

"Halo, Can. Kau masih di sekolah?" tanya Jovina dengan suara parau.

"Iya, Bu. Ada apa? Kenapa suara ibu aneh gini?"

"Ibu sekarang ada di rumah sakit, Can."

"APA?! Kenapa?! Ibu sakit apa? Atau kenapa?!" teriak Chandra panik.

"Bukan Ibu, tapi Ayahmu. Ayahmu kecelakaan. Ini semua salah Ibu." Jovina mulai menangis lagi. "Ibu tidak sengaja bertemu dengan Ayahmu. Dia minta maaf, minta Ibu kembali, tapi Ibu menolak dan pergi. Saat Ibu mau menyeberang jalan, ada mobil yang datang cepat, dan Ayahmu... dia mendorong Ibu, dan dia yang yang tertabrak."

"Rumah sakit mana, Bu?!"

"Severance Hospital. Tolong kabari adikmu, Can. Dia harus tahu keadaan Ayahnya."

***

Di Sekolah Harfa..

"Baik, Bu. Aku segera kesana."

Tutt..

Tutt..

Chandra mematikan telepon. Matanya langsung memanas. "Ayah," gumam Chandra pelan. Air mata akhirnya tumpah juga.

"Can, ada apa? Kenapa menangis?" tanya Bima yang baru saja datang menghampiri.

"Ayah... Ayah kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit. Dia menyelamatkan Ibu sampai dirinya sendiri jadi korban," jawab Chandra dengan suara terputus-putus karena menangis.

"Bima, Kevin. Temani aku ke Sekolah Harmoni. Aku harus ketemu Judika. Dia harus tahu soal Ayah," kata Chandra sambil langsung berdiri dan bergegas pergi.

"Ayo, kita ikut," jawab Kevin langsung menyusul.

Ketiganya segera pergi menuju Sekolah Harmoni, tempat Judika bersekolah.

***

Sekolah Harmoni..

Chandra , Bima dan Kevin tiba di halaman sekolah. Semua siswa menatap tajam dan penasaran, karena mereka tahu bahwa Sekolah Harmoni dan Harfa selama ini dikenal sebagai sekolah yang sering bersaing dan tidak akur. Tapi Chandra dan kedua temannya tidak peduli. Mereka datang bukan untuk berkelahi, tapi untuk menyampaikan kabar penting.

"Chandra?"

Arjuna yang kebetulan sedang berjalan, melihat kedatangan mereka dan langsung mendekat. Diikuti oleh Jericko, Tamma, Nathan, Yongky dan Hendy yang baru saja keluar dari kelas.

"Kau datang kesini ada keperluan apa, Chandra?" tanya Nathan tegas.

"Aku mau ketemu adikku, Judika," jawab Chandra singkat.

"Tapi Judika sedang pergi bersama dokter Yihan," kata Hendy.

Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan. Sosok yang sedang dibicarakan itu tiba-tiba muncul dari arah gerbang sekolah.

"Nah, itu Judika sudah kembali!" seru Tamma sambil menunjuk ke depan.

Semua mata langsung tertuju ke arah yang ditunjuk. Terlihat jelas wajah tampan Judika yang berseri-seri. Senyum bahagia terukir lebar di bibirnya, senyum yang jarang sekali mereka lihat belakangan ini.

Melihat pemandangan itu, hati Chandra terasa nyeri sekaligus hangat. "Aku merindukan senyum manis itu. Rindu sekali," batin Chandra.

"Judika!" panggil Chandra dengan suara bergetar.

Mendengar namanya dipanggil, Judika langsung menoleh. Saat matanya bertemu dengan sosok yang selama ini dia benci, senyum di wajahnya langsung lenyap diganti tatapan tajam dingin.

Tanpa berkata apa-apa, Judika langsung membuang muka dengan kasar, lalu melangkah pergi seolah tidak melihat siapa-siapa.

"Judika! Ayah kecelakaan! Sekarang ayah ada di rumah sakit! teriak Chandra sekuat tenaga.

Deg..

Langkah kaki Judika berhenti seketika. Jantungnya berdetak kencang seolah mau meledak. Kepalanya berputar hebat.

"Ayah kecelakaan? Tidak mungkin... tidak mungkin itu benar" batin Judika. Tubuhnya bergetar hebat.

Perlahan Judika membalikkan badan. Dia menatap Chandra dengan pandangan yang bercampur antara marah, takut, dan tidak percaya.

"Chandra Wiguna! Tolong jaga mulutmu! Jangan pernah berani menyebarkan berita palsu tentang ayahku! Kau pikir aku akan percaya omong kosongmu?!" bentak Judika. Suaranya bergetar menahan gejolak di dalam dada.

"Kakak tidak berbohong, Judika. Ayah kecelakaan. Sekarang dirawat di Rumah Sakit Severance Hospital. Ayah kecelakaan demi menyelamatkan Ibu," jawab Chandra dengan suara parau. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes juga.

"TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN! AYAHKU BAIK-BAIK SAJA! AYAH!!" teriak Judika histeris. Matanya mulai memanas dan kabur oleh air mata.

Melihat keadaan adiknya yang hancur seperti itu, Chandra tidak tahan lagi. Dia segera menghampiri dan menarik tubuh adiknya ke dalam pelukan erat, berusaha menenangkan sekaligus berbagi beban yang sama beratnya.

"Lepaskan aku!! Kau pikir dengan pelukan murahan ini aku akan luluh? Hahahaha! Dalam mimpi!" Judika mendorong tubuh Chandra sekuat tenaga. Wajahnya dipenuhi amarah yang meledak-ledak.

"Judika," lirih Chandra. Suaranya nyaris tidak terdengar.

"Kau dengar baik-baik, Chandra Wiguna! Mulai hari ini, detik ini juga! Kau bukan kakakku dan aku bukan adikmu! Ikatan apa pun sudah putus sejak hari kau dan perempuan itu pergi meninggalkanku sendirian! Lebih baik aku mati sekarang juga dari pada harus mengakui orang sepertimu sebagai keluarga!" teriak Judika sekuat tenaga. Sebelum akhirnya berbalik badan dan pergi menjauh, diikuti oleh Jericko, Tamma dan yang lainnya yang hanya bisa menatap sedih.

Beberapa langkah berjalan, Judika berhenti lagi. Dia menoleh ke belakang, menatap tajam ke arah Chandra yang masih berdiri kaku di tempat.

"Kalau sampai ayahku kenapa-kenapa. Kalau sampai dia pergi selamanya. Aku tidak akan pernah sekali pun memaafkan ibumu. Tidak akan pernah!"

Setelah mengucapkan kalimat itu, Judika kembali melangkah pergi. Namun suara Chandra yang terdengar parau namun tegas kembali memecah suasana.

"Dia juga ibumu, Judika! Perempuan yang sudah mengandungmu, melahirkanmu, dan menyusuimu! Bagaimana kau bisa bilang dia bukan siapa-siapa?!"

Judika berhenti. Punggungnya bergetar hebat. Detik kemudian dia berbalik lagi, matanya sudah memerah sempurna. Suara teriakannya bergema memenuhi seluruh halaman sekolah.

"AKU TIDAK PEDULI! PEREMPUAN ITU BUKAN SIAPA-SIAPAKU! DIA IBUMU, JADI URUSLAH DIA SENDIRI! BILANG PADANYA! JAUHI AKU! JANGAN PERNAH MENDEKAT, JANGAN PERNAH MENGURUSI URUSANKU LAGI! DIA TIDAK PUNYA HAK APA PUN ATASKU! TIDAK PERNAH MEMILIKI, DAN TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI!"

1
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
Himme
Benci banget sumpah.. yang satu egois dan satunya emosian💢
whiteblack✴️
aku benci banget kakaknya gampang emosian maen tangan pula apa lagi ibunya egois sekali/Panic/
whiteblack✴️
lebih baik judika belajar untuk ikhlas aja..siapa tau hari" nya bisa menyenangkan kembali...
Himme
Kasihan Judika.. lagian itu si Chandra dan ibunya egois nya kebangetan💢
Himme
Part yang paling aku hindari/Sob/
whiteblack✴️
chan loe egois dan gampang emosi/Panic/ .. enggak sadar kesalahan loe huh/Angry/
whiteblack✴️
pertempuran ego+ hati= suara mulut pedas akan segera di mulai/Scare/
whiteblack✴️
hemmm...tuw kan Judika marah besar...ama ibunya..../Grievance/....sepertinya butuh waktu untuk berdamai semuanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!