Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 27 - Jam 2 Dini Hari
Davion terpaku di tempatnya.
Untuk sesaat pria itu hanya menatap Aluna tanpa berkedip, seolah otaknya terlambat memproses apa yang sedang dilihatnya sekarang.
Aluna berdiri di hadapannya dengan robe satin tipis yang membalut tubuh rampingnya, sangat tipis hingga siluet lingerie hitam di baliknya terlihat samar dan justru membuat imajinasi bekerja jauh lebih liar.
Rambut panjang Aluna tergerai lembut di bahu, wajahnya merah merona, namun kedua matanya menatap Davion dengan keberanian yang belum pernah pria itu lihat sebelumnya.
“Dav...” panggil Aluna pelan.
Karena Davion hanya diam, Aluna memberanikan diri melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai akhirnya tubuh mereka hanya terpisah sejengkal saja.
Begitu dekat hingga aroma tubuh Aluna yang lembut dan wangi langsung memenuhi indra penciuman Davion, menusuk kesadarannya begitu saja.
Davion menunduk sedikit, menatap wanita itu dengan sorot mata menggelap.
Sementara Aluna, meski seluruh tubuhnya gemetar hebat di dalam, ia tetap memaksa dirinya bertahan. Dengan tangan kecil yang sedikit bergetar ia mengangkat jemarinya, lalu mulai menyentuh dasi Davion.
Davion tak bergerak.
Ia membiarkan Aluna melepas ikatan dasinya perlahan.
Setelah itu Aluna membantu melepaskan jas luar Davion dengan gerakan canggung namun hati-hati, lalu menggantungnya di sisi sofa.
“Aku sudah menyiapkan makan malam,” ucap Aluna lirih setelah selesai, suaranya jauh lebih tenang dibanding debar jantungnya sendiri. “Kamu mau makan dulu atau bagaimana?”
Davion menatapnya lama.
Tatapan itu begitu tajam sampai membuat napas Aluna sedikit tercekat.
“Jadi... Kamu benar-benar akan menggunakan tubuhmu, Aluna?” tanya Davion yang akhirnya buka suara.
Pertanyaan itu membuat pipi Aluna kembali memanas. Namun kali ini ia tidak menunduk malu seperti sebelumnya.
Ia justru mengangkat wajahnya dan menatap Davion lurus.
“Apa salahnya?” jawab Aluna pelan. “Kamu adalah suamiku.”
Kalimat sederhana itu membuat rahang Davion menegang. Sialnya, jawaban Aluna yang tanpa malu-malu itu justru terasa jauh lebih menggoda daripada rayuan murahan mana pun.
Aluna kemudian mundur satu langkah kecil, berusaha tetap terlihat tenang. “Pergilah mandi dulu. Aku juga sudah menyiapkan air hangat untukmu.” Senyum kecil terbit di bibirnya. “Setelah itu kita makan malam bersama.”
Davion menatapnya beberapa detik lagi. Lalu tanpa berkata apa-apa ia berbalik menuju kamarnya sendiri.
Jujur saja jika ia tinggal lebih lama di sana, ia tak yakin masih mampu menjaga akalnya tetap waras.
Di bawah guyuran air dingin yang akhirnya ia pilih dibandingkan air hangat, Davion mengusap wajahnya kasar.
Bayangan Aluna terus muncul di kepalanya.
Wajah merahnya.
Tubuhnya yang terbalut renda hitam.
Cara wanita itu menatapnya sambil berkata, kamu adalah suamiku.
“Brengsek,” desis Davion pelan.
Entah sejak kapan wanita licik itu mulai tahu bagaimana membuat pikirannya kacau seperti ini.
Tak lama kemudian Davion keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumah yang lebih santai.
Begitu keluar, Aluna langsung menghampirinya dengan wajah berbinar kecil.
“Ayo makan,” ajaknya lembut.
Davion mengikuti tanpa banyak bicara. Meja makan sudah tertata begitu indah. Lilin kecil menyala di tengah meja, bunga-bunga segar mempermanis suasana, dan makanan tertata rapi seperti makan malam pasangan sungguhan.
Namun sebelum memulai makan malam, Aluna lebih dulu mengambil sedikit makanan dari piring Davion lalu mencicipinya lebih dulu.
“Supaya kamu yakin tidak ada racun,” ucapnya dengan tersenyum.
Davion menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. 'Wanita ini benar-benar...' Davion bahkan tak mampu mendeskripsikannya. Namun entah kenapa, semakin lama justru semakin sulit untuk diabaikan.
Mereka makan dalam suasana tenang. Sesekali Aluna mencuri pandang ke arah Davion, jantungnya tak pernah berhenti berdebar sejak tadi. Sementara gaun malam yang ia kenakan, membuatnya merasa sedikit kedinginan.
Ketika makan malam selesai, Davion bangkit lebih dulu dari kursinya. Namun dengan cepat Aluna menahan pergelangan tangannya.
Deg! yang jantungnya berdegup justru Aluna, bukan Davion. "Dav... Aku serius," ucap Aluna lirih, Davion menatapnya dengan lekat.
Seperti menunggu pergerakan yang akan dilakukan oleh Aluna lebih dulu, karena sungguh kali ini Davion tak ingin mengambil kendali.
Secara perlahan Aluna bangkit dari duduknya tanpa melepaskan tangan Davion. Saat melihat tak ada penolakan dari sang suami, Aluna pun memeluk Davion dengan erat, ia menggantungkan kedua tangannya tepat di leher sang suami.
Memeluk dan mencium aroma tubuh Davion yang sangat menenangkan.
Selama ini sekalipun Aluna tak pernah memiliki hubungan dekat dengan pria manapun, hanya Davion lah satu-satunya pria yang ada di dalam hidupnya. Dan rasanya kini Davion pun telah ada di dalam hatinya pula.
Tak peduli telah sebanyak apapun Davion menyakiti, namun Aluna selalu bisa memahami kenapa Davion bersikap sejauh itu.
Jika ada kesempatan mungkin Aluna akan mempertahankan pernikahan mereka. Tapi tidak, Aluna pun menyadari satu hal, bahwa kebencian Davion padanya adalah sesuatu yang tak bisa diperbaiki lagi.
Saking bencinya Davion bahkan menganggapnya anjing.
Dalam pelukan ini, sejenak Aluna merasakan ketenangan. Namun tak lama kemudian dia pun sedikit melerai pelukannya sendiri dan mencium bibir Davion dengan lembut.
Ciuman kaku yang ia paksakan untuk menjadi ciuman yang dalam.
Awalnya tak ada respon apapun yang Davion berikan, tapi beberapa detik kemudian Aluna merasakan Davion mulai memeluk pinggangnya, mengangkat tubuhnya dalam gendongan seperti bayi koala.
Aluna semakin memperdalam ciumannya dan Davion melangkahkan kaki menuju ruang tengah, sampai akhirnya ia duduk di sofa dan Aluna berada di atas pangkuannya.
Tanpa ada kata, Davion akhirnya membalas ciuman Aluna tersebut. Kali ini Davion benar-benar hanya diam dan Aluna yang memulai semuanya, bahkan Aluna melepaskan baju Davion hingga bagian atasnya tellanjang sempurna. Dada kotak-kotak itu ia sentuh dengan kedua tangannya yang lembut.
"Kamu seperti jallang," ucap Davion, entah kenapa kalimat ini lolos begitu saja dari mulutnya.
Aluna tergugu, kini mereka telah menyatu dan Aluna reflek tediam saat mendengar kalimat tersebut. Aluna hendak melepaskan diri namun Davion menahan pinggangnya dengan kuat.
Di detik berikutnya Davion bahkan mencium bibir Aluna lebih dulu dan menjatuhkan tubuh sang istri di sofa.
Aluna tak mampu berkutik lagi, hentakan demi hentakan dia dapatkan dari Davion, tapi kali ini rasanya tak sekasar kemarin. Davion mulai melakukannya dengan lembut.
Tanpa sadar Aluna mendessah pelan saat pelepasan pertama ia dapatkan. Tak hanya dessahan, bahkan Aluna mencakar leher Davion hingga tergores merah.
"Ah, Dav, maafkan aku," pinta Aluna, nafasnya masih terengah-engah.
"Kamu sengaja melakukannya?"
"Tidak," balas Aluna dengan cepat, namun Davion sungguh tak ingin mempercayainya.
Davion segera mengangkat tubuh Aluna dan membawanya menuju kamar, ia baringkan di ranjangnya dan kembali di hentak kuat.
Entah berapa lama sampai akhirnya Davion mendapatkan kepuasan yang sempurna, tepat jam 2 dini hari Aluna sudah tertidur pulas. Sementara Davion masih duduk bersandar di kepala ranjang.
Ada bisikan yang memintanya untuk mengusir Aluna dari kamar ini, namun pada akhirnya Davion biarkan. "Tak ada salahnya tidur dengan bonekaku."
petama utk piano,semoga sukses
kedua,utk lepas dari keluarga miles..
ketiga,lepas dari davion😍😍