NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Setelah Pertempuran

Radio komunikasi berderak kasar. Suara statis memecah sisa dengung tembakan.

"Sektor utara bersih. Target dilumpuhkan."

Lampu taktis putih menyala terang. Memandikan dinding beton gorong-gorong dengan kilat cahaya berulang. Pasukan berseragam hitam menyebar ke segala arah. Sepatu bot mereka menginjak genangan air kotor secara konstan.

Mereka bergerak membersihkan medan tempur. Menarik mayat-mayat raksasa itu ke sudut.

Beberapa tubuh eksperimen itu masih berkedut. Jari-jari besarnya mengais lumpur. Sel-sel gila di dalam otot mereka menolak mati.

DOR.

Satu tembakan laras pendek dari personel Wawan meledak. Menghancurkan sisa tengkorak yang masih mencoba menjahit diri. Mayat itu akhirnya diam. Benar-benar diam.

Bau mesiu tumpang tindih dengan bau karat darah murni.

Wawan berdiri mematung beberapa langkah dari tumpukan daging itu. Laras senapannya masih mengepulkan asap tipis. Panas.

Tapi matanya tidak tertuju pada monster-monster cacat itu. Tatapannya terkunci rapat pada satu punggung di depannya. Punggung Fais.

Lorong basah itu mendadak hening. Pasukannya berhenti bersuara. Seolah ada berat yang menekan gendang telinga. Beban dari puluhan mayat yang baru saja dipaksa berhenti bernapas.

Fais memutar lehernya pelan. Suara retakan tulang kaku terdengar beradu. Posturnya tidak lagi sama. Bahunya tegap, otot punggungnya rileks tapi menyimpan pegas mematikan.

"Bereskan sisanya. Jangan sampai ada sel yang tertinggal dan merajut ulang," suara Fais memecah senyap.

Nada itu sangat datar. Tenang. Absolut. Sama sekali bukan suara pemuda sipil yang baru pertama kali mencium bau usus terburai.

Itu suara seorang komandan veteran. Suara seseorang yang sudah muak menginjak tumpukan mayat di medan tempur.

Wawan menarik napas panjang. Udara got terasa seperti silet di pangkal tenggorokannya.

"Siap, laksanakan. Personel sedang menyiram asam ke sisa jaringan," lapor Wawan cepat, tanpa jeda keraguan.

Insting militer Wawan meronta. Ia memakan debu mesiu lebih lama dari usianya sendiri. Ia tahu persis bedanya orang yang pura-pura tenang dan monster yang sedang bersiap menerkam.

Fais berubah. Ia benar-benar berubah lagi. Dulu ada ketenangan dingin di sana. Sekarang ada jurang hitam tak berdasar.

Tekanan keberadaannya terasa menelan cahaya lampu taktis di sekitarnya. Terlalu mematikan dari apa pun yang pernah Wawan temui di garis depan.

Wawan menurunkan senjatanya. Jari telunjuknya menjauh dari pelatuk secara sukarela.

Alih-alih merasa terancam, ada kepuasan sinting yang mekar di dadanya. Kesetiaannya tidak goyah. Menyerahkan sisa hidupnya untuk tunduk membantu Fais adalah keputusan paling rasional.

"Kau terluka, Kapten?" tanya Fais pelan. Matanya melirik sekilas ke arah lengan seragam Wawan yang robek.

"Hanya goresan. Tidak menembus otot," Wawan menjawab kaku. "Anda sendiri?"

"Bukan darahku," balas Fais singkat.

Di tempatnya berdiri, Fais kembali menatap ke depan dinding basah. Rentetan teks digital menyala liar menampar retinanya. Memotong gelapnya lorong got.

[Loyalitas Wawan bertambah.]

[Tingkat loyalitas saat ini: absolut.]

[Kemungkinan pengkhianatan: hampir mustahil.]

Fais berkedip lambat. Tidak ada perubahan otot di wajahnya. Teks itu bergeser lagi. Hadiah penyelesaian misi darurat turun tanpa aba-aba. Menghantam sistem sarafnya secara paksa.

[Pertumbuhan Probabilitas: 46,3%]

[Kecepatan x2 didapatkan]

[Pengalaman tempur 10 tahun didapatkan]

Napas Fais terhenti. Jantungnya melewatkan satu detakan kencang di rongga dada.

Dunia di sekitarnya mendadak buram. Suara tetesan air menguap hilang. Dengung radio lenyap ditelan kehampaan. Otaknya diretas paksa.

Arus informasi membanjiri sel sarafnya dalam hitungan milidetik. Bukan sekadar teori tertulis. Bukan buku panduan murahan. Ini adalah sepuluh tahun memori pertempuran brutal tingkat tinggi.

Strategi pengepungan jarak dekat. Refleks menghindar dari sudut buta. Titik paling rapuh di sendi leher manusia.

Cara bernapas lambat saat paru-paru tertembus logam panas. Cara membunuh tanpa suara menggunakan pecahan kaca kotor.

Semua mengalir deras. Terekam. Tertanam kuat menyatu menjadi memori otot murni.

Insting bertahannya meledak. Seolah ia benar-benar pernah hidup dan bernapas memakan bangkai musuh di neraka perang selama satu dekade penuh.

Fais menelan ludah. Rasa pahit logam membasahi lidahnya. Tangannya bergetar sejenak menyerap insting gila itu.

Ia meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Memaksa getaran itu berhenti. Layar merah berkedip lagi di korneanya.

[Evaluasi fisik ulang.]

[Anda dapat mengalahkan seluruh personel di barak tanpa ampun.]

Ia menutup mata sesaat. Menekan gejolak mual di lambungnya.

Tidak ada kebanggaan. Sama sekali tidak ada euforia di sana. Ia tahu persis apa arti evaluasi sistem itu.

Jika ia mau, ia mampu membantai Wawan dan seluruh prajurit elit di sekitarnya ini hanya dengan tangan kosong. Tanpa keringat berlebih.

Ia memikirkan fakta itu. Fakta yang merayap turun menyusuri tulang punggungnya. Tubuhnya, pikirannya, refleksnya. Semua bergerak terlalu jauh menjauhi kodrat.

Ia mulai berubah menjadi anomali yang bahkan orang gila seperti Wawan tidak akan pernah sanggup pahami.

Suara isak tangis tertahan menarik kesadaran Fais kembali ke lorong got.

Di sudut basah yang jauh dari lampu taktis, Alya meringkuk kaku. Pakaian usangnya basah kuyup oleh campuran lumpur dan genangan darah.

Tangannya meremas erat tubuh Reno. Wajah gadis itu luar biasa pias. Matanya cekung, menahan rasa capek kronis dan ketakutan yang menggerogoti akal sehatnya.

Anak laki-laki di pelukannya itu ada di ambang kematian. Tubuhnya hancur. Separuh daging di pinggang dan lengannya terkoyak parah akibat mutilasi paksa dari monster tadi. Darah terus merembes menembus sela-sela jari Alya.

Memang ada sel-sel yang menggeliat pelan di permukaan lukanya. Gen eksperimen di tubuh anak itu mencoba merajut serat daging yang putus.

Tapi kerusakannya terlalu parah. Kehilangan darah tidak bisa ditambal hanya dengan sisa regenerasi yang sekarat.

"Kumohon..." suara Alya serak. Ia menatap kosong ke langit-langit got. "Jangan tinggalkan aku. Reno, jangan tutup matamu."

Gadis itu ketakutan setengah mati. Tubuhnya gemetar hebat, sisa tenaganya habis terkuras hanya untuk menahan tangis agar tidak memancing musuh lain.

Fais melangkah pelan. Sepatu botnya mengoyak air kotor. Ia berhenti tepat di depan kakak beradik itu.

Alya mendongak ragu. Gadis itu mundur sedikit, mendekap adiknya lebih protektif.

Fais tidak bicara. Tidak ada omong kosong. Tidak ada kalimat penenang basi tentang bagaimana semua akan membaik.

Tangan kirinya terangkat pelan. Jari telunjuk kanannya menyentuh permukaan jam tangan hitam pekat yang melingkar erat di pergelangannya. Benda asing yang selalu menempel pada kulitnya.

Cahaya samar mulai berpendar dari layar alat itu. Tidak menyilaukan, tapi cukup terang untuk menyelimuti wajah Alya yang menganga kaget.

Sinar itu turun membungkus tubuh Reno.

Suara gemeretak halus mendadak terdengar dari tulang rusuk anak itu. Serat daging yang terbuka lebar perlahan ditarik paksa merapat layaknya benang kasat mata.

Ujung tulang yang patah mencuat kembali ke posisinya semula. Jaringan otot yang hancur merajut ulang strukturnya tanpa henti.

Luka terbuka itu menutup sempurna. Kulit pucat kembali dialiri warna merah murni. Napas anak itu yang semula terputus-putus, kini berhembus teratur.

Hitungan menit. Hanya butuh hitungan menit untuk menarik nyawa anak itu dari dasar neraka.

Alya membeku total. Napasnya putus di udara.

Matanya tak bisa lepas menatap dada adiknya. Kakak beradik ini membawa gen mutan buatan, tapi Alya tahu betul proses penyembuhan harusnya memakan waktu berhari-hari.

Membawa penderitaan gila-gilaan. Mengharuskan mereka mencari nutrisi ekstra. Tidak ada daging yang kembali utuh dalam sekejap mata seperti ini.

"D... dia hidup," bisik Alya tak percaya. Air mata kembali mengalir membelah pipinya yang berlumpur. "Kau... apa yang kau lakukan?"

Fais menarik tangannya kembali. Cahaya dari pergelangannya meredup hingga padam.

"Angkat dia. Tanah ini beracun," potong Fais datar. Mengabaikan pertanyaan gadis itu sepenuhnya.

Di belakang mereka, Wawan berdiri kaku bagai patung beton.

Rahang tentara veteran itu mengeras. Ia menatap lekat-lekat jam tangan di pergelangan Fais. Otaknya berputar keras memproses adegan absurd di depannya.

Wawan tahu sejarah perang. Ia tahu batas teknologi medis mutakhir di balik tembok tinggi Muara Tenang. Ia tahu seberapa jauh sains militer mampu merekayasa sel.

Tapi alat penyembuh itu. Sinar sialan itu meludahi semua akal sehat yang Wawan pelajari. Benda itu jelas melampaui batas kewarasan manusia.

Wawan membuang napas berat dari hidung.

Untuk pertama kalinya di malam panjang ini, ia disadarkan pada satu hal mutlak. Pemuda di depannya ini menyimpan rahasia gelap yang tak terhitung jumlahnya. Ada entitas kekuatan yang jauh lebih asing bersarang di sana.

Anehnya, kenyataan itu tidak membuat nyalinya ciut sedikit pun. Loyalitasnya justru makin mengeras.

"Bantu dia berdiri," perintah Fais tanpa menoleh, melemparkan pandangannya ke ujung lorong yang gelap.

"Siap, laksanakan," seru Wawan cepat. Ia melangkah maju mendekati Alya, mengulurkan tangan kasarnya tanpa banyak bicara.

Hawa dingin perlahan merangkak naik dari genangan air.

Alya masih terduduk di atas sisa lumpur. Tangannya memeluk leher Reno yang kini tertidur tenang. Namun pandangan matanya tak lepas dari punggung Fais.

Terpaku menatap pria yang berdiri menjulang membelakanginya.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!