Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air mineral
Orang bilang, siapa yang tawanya paling berisik dialah orang yang paling dalam lukanya. Rex sedang menyaksikan hal tersebut.
Mereka ber empat memilih pergi dari hiruk pikuknya pesta yang penuh dengan kemunafikan. Pergi berbahagia menurut versi nya sendiri.
Pergi ke sebuah restoran barbeque. Mamang gang daging, sambil bercerita tentang kehidupan masing-masing.
“Aku baru tahu jika restoran ini menyediakan minuman beralkohol.”
“Pengecualian,” ujar Angga.
Delana menghela nafas. “Pasti karena ada tuan besar kita, iya kan?”
“No!”
“Lalu?”
“Karena ini restoran milikku,” jawab Tias.
Delana mengangguk pelan. Wajahnya memerah karena dia memang tidak kuat minum. Minum segelas saja sudah cukup untuknya kehilangan kesadaran 65%.
“Lana, kenapa kamu selalu berburuk sangka padaku?” Tanya Rex.
“Karena muka bapak tidak menunjukkan tanda-tanda kebaikan.”
Tias dan Angga tertawa.
“95%.”
Angga langsung menutup mulutnya dengan menjajalkan daging dan sayur ke mulutnya.
“Apa seburuk itu?”
“Tidak setelah kita bertemu beberapa kali.”
Hening.
“Bapak adalah orang pertama yang menganggap harga diriku penting.”
Delana memegang kepalanya yang terasa pusing.
“Ahhhh, kepalaku sakit sekali. Aku mau pulang,” rengeknya.
“Aku antar. Kalian, tetaplah di sini pulang saja naik taksi.”
“Aku ambilkan air dulu buat Delana.” Angga pergi untuk mengambil air mineral.
“Minumlah dulu.” Angga kembali dengan membawa botol air mineral yang sudah dia bukakan untuk Delana.
Gadis itu meneguknya hingga setengah botol.
“Ayo, hati-hati.”
Rex membantu Delana berjalan dengan merangkulnya gar dia tidak terjatuh.
Saat di dalam mobil, Delana merancu. Membicarakan segala hal yang sama sekali tidak dimengerti oleh Rex.
“Aaahhhh, gerah sekali.”
Rex terkejut saat gadis itu mau membuka gaun yang memang sudah sangat terbuka di bagian dadany. Rex menepikan mobilnya.
“Lana, apa yang kamu lakukan. Hentikan.”
“Panas, Pak.”
“Ac mobil saya dingin, bagaiaman kamu bisa—“
Melihat wajah dan reaksi tubuh Delana, Rex sadar ada yang tidak beres dengan gadis itu.
Setelah memakainkan jas pada tubuh Lana, Rex kembali melajukan kendaraannya menuju mention miliknya.
Delana yang sudah merasa kepanasan, melemparkan jas Rex ke sembarang tempat. Dia kembali membuka gaun nya hingga benar-benar terlepas bagian atasnya. Beruntung mereka sudah sampai di tujuan.
Rex menyuruh para ajudan dan anak buahnya yang mendekat untuk menyambut, segera mundur jauh. Dia tidak ingin ada satu orang pun yang melihat keadaan Delana.
“Lana, sadarlah.” Rex kembali membungkus Delana dengan jas miliknya. Dia menggendong tubuh Delana di atas bahunya.
Anak buah Rex hanya diam membelalak melihat bos nya membawa seorang wanita ke kediaman pribadinya.
“Wah, ada apa nih? Kenapa tiba-tiba bos bawa wanita ke sini?”
“Mungkin itu calon istrinya. Gak mungkin kalau hanya sekedar wanita biasa dibawa ke sini.”
“Tapi kayaknya wanita itu masih sangat muda.”
“Baguslah, makin muda makin ranum.”
“Jangan sembarang, nanti disleding sama bos.
Rex membaringkan Delana di atas kasur. Wanita itu terus menggeliat kepanasan.
“Ayo kita ke kamar mandi, kamu harus berendam.”
Saat Rex mencoba membangunkan Delana, gadis itu mengait leher Rex.
“Aku kenapa?” Nafasnya terdengar sangat berat. Delana tanpa malu karena kesadarannya tidak stabil, mengusap bibir Rex. Dia berusaha menciumnya namun Rex segera menghindar.
“Lana, sadarlah.” Rex menarik tangan Delana untuk membawanya ke kamar mandi.
“Nggak mau, aku maunya kamu. Hehehe. Ayolah, tolong aku kali ini saja.”
“Aku gak mau.”
Rex berusaha menyingkirkan tangan Delana yang terus saja menggerayangi tubuhnya.
Entah kekuatan dari mana, Delana menarik kemeja Rex hingga beberapa kancingnya terlepas. Gadis itu terlihat begitu bahagia melihat dada Rex yang bidang.
Rex hanya bisa pasrah saat Delana membuka bajunya.
“Lalu apa sekarang?” Tanya Rex.
Delana memeluk tuh Rex, dia mencium leher Rex, lalu dada nya.
“Hentikan, Lana. Ayo ke kamar mandi.”
Dengan tenaganya yang besar, Rex memeluk Delana dan menggendongnya menuju kamar mandi. Delana seperti anak kucing yang enggan kena air. Dia memberontak di dalam bathtub sambil disiram pakai shower oleh Rex.
Lama kelamaan tubuh Delana melemah. Seiring dengan air yang memenuhi bathtub, rasa panas di tubuh Delana pun menghilang.
Gadis itu memejamkan matanya. Dia tertidur.
Rex kebingungan, di mention yang begitu besar ini, tidak ada satupun pelayan ataupun anak buahnya yang perempuan. Mau tidak mau dia sendiri yang membuka pakaian Delana. Menggendongnya, lalu menidurkan nya di ranjang.
Setelah memastikan Delana terlelap, Rex turun guna menemui anak buahnya. Dia meminta mereka membelikan pakaian untuk Delana.
“Minta Tias untuk mengantar kalian.”
“Siap, Bos.”
Rex kembali ke atas. Delana masih tertidur lelap. Rex sendiri merasa kepalanya sedikit berat, tubuhnya pun butuh istrihat. Akhirnya dia pun tertidur di sisi Delana.
Saat dini hari tiba, Delana terbangun karena merasa tenggorokannya kering. Saat dia duduk, dia terkejut mendapati tubuhnya tidak mengenakan pakaian sehelai pun.
Delana panik.
Kepanikan Delana bertambah saat dia melihat Rex ada di samping nya bertelanjang dada.
“Apa, apa yang sudah dia perbuat? Ada apa ini? Apa benar-benar sudah terjadi, aku sudah tidak oerawan lagi? Tidak, ini tidak mungkin.”
Kepanikan Delana membuat Rex ikut terbangun.
“Ada apa berisik sekali.” Tanya Rex dengan suara parau.
“Apa yang bapak lakukan padaku? Bapak mengambil kesempatan saat aku tidak sadarkan diri? Kenapa? Kenapa gak bilang aja baik-baik, kenapa harus dengan cara seperti ini?”
Rex memijat kepalanya yang terasa berat.
“Memangnya kalau aku bilang baik-baik, kamu mau melakukannya?”
Delana terperangah. Skak mat. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Rex.
“Kenapa kamu bangun?”
“Aku haus,” jawabnya gagap.
Reka membuka selimutnya, dan turun dari ranjang.
Delana sedikit lega saat melihat Rex masih memakai celana panjang. Dia berharap Rex memang tidak melakukan apapun padanya.
“Ini.”
Setelah memberikan gelas berisikan air, Rex duduk di samping Delana.
“Jangan takut, kita tidak melakukan apapun. Kamu masih perawan.”
“Masa?”
“Ada apa? Sepertinya kamu tidak terima kalau kamu masih perawan.”
“Bukan, maksdunya nggak gitu.”
Rex menghela nafas.
“Aku bukan pengecut yang mengambil kesempatan saat lawan sedang lemah.”
Pria itu bangun, dan kembali berbaring di samping Delana.
“Tidurlah, jangan buat kegaduhan karena kepalaku terasa berat.”
Rex kembali tidur membelakangi Delana.
Jika dirasa-rasa, Delana memang tidak merasa ada yang aneh di area kewanitaan nya. Tidak sakit atau pun perih sama sekali.
Oke, kali ini dia mengakui kalau dia sudah salah faham. Meski dia butuh penjelasan kenapa dia dalam keadaan telanjang bulat.