Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
Seorang wanita berdiri tak bergerak, tubuhnya terperangkap dalam dekapan dingin sosok di belakangnya. Laras pistol yang menempel di pelipisnya membuat kepalanya sedikit miring, seolah dipaksa tunduk pada keadaan.
Cahaya senja menembus melalui celah ruangan, jatuh tepat ke wajahnya yang pucat… terlalu pucat, hingga hampir menyatu dengan warna dinding di belakangnya.
Tak ada suara yang keluar dari bibirnya yang membiru. Nafasnya tertahan, nyaris tak meninggalkan jejak di udara.
Matanya terbuka lebar.
pupilnya gelap dan pekat, berpadu dengan coklat muda di bagian tengahnya. Bulu matanya panjang dan lentik, namun tipis, mempertegas sorot tatapannya yang rapuh di bawah tekanan yang mencekam itu.
Pupil gelapnya bergetar pelan, menyatu dengan coklat muda di bagian tengah irisnya. Bulu matanya sangat panjang, namun tampak rapuh…
Dengan pelan, tatapannya bergerak.
Ke belakang.
Dinding di balik meja resepsionis dilapisi panel kayu vertikal, dengan logo Bank XX terpampang di tengahnya. Di depannya, meja panjang berwarna putih dengan aksen kayu membentang rapi, terbagi menjadi empat loket layanan dengan komputer yang masih menyala.
Di balik meja itu, empat petugas perempuan berseragam berusaha menyembunyikan diri. Tubuh mereka meringkuk, seolah semakin kecil akan membuat mereka tak terlihat.
Di sisi lain, deretan kursi tunggu berwarna hijau muda tampak berantakan. Beberapa orang bersembunyi di baliknya, tubuh mereka gemetar.
Sebagian bahkan tak mampu bertahan… seseorang terlihat telah pingsan, tergeletak di lantai yang dilapisi keramik putih mengkilap.
Tiba-tiba, sorot mata wanita itu berubah.
Ketakutan yang semula memenuhi wajahnya seakan membeku di tengah jalan… lalu perlahan menghilang, digantikan sesuatu yang jauh lebih dingin.
Dalam satu gerakan cepat, tubuhnya berputar. Lengan pria di belakangnya langsung terpelintir ke arah berlawanan. Sebelum reaksi sempat terjadi, lututnya ditendang, membuat pria itu jatuh berlutut dengan suara erangan tertahan.
Pria itu menatapnya dengan tajam, amarah menyala di matanya.
“Apa yang kamu lakukan?!” bentaknya.
“Cut!” teriak sutradara, memecah ketegangan seketika.
Keheningan langsung menyebar di lokasi syuting.
Pria yang terjatuh itu masih meringis, sementara beberapa kru saling berpandangan, jelas tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Adegan itu tidak ada di naskah.
Seharusnya wanita itu hanya terjatuh… bukan melawan.
Namun yang membuatnya terdiam bukan hanya karena kesalahan itu… melainkan cara gadis itu melakukannya. Gerakannya begitu elegan, mengalir tanpa ragu, dan tegas di setiap titik.
Itu bukan gerakan spontan biasa… melainkan seperti seseorang yang benar-benar terlatih dalam bela diri.
Semua kru dan aktor lain menatap dengan kaget, saling bertukar pandang penuh heran.
Tapi… bukankah seharusnya dia sedang berperan sebagai wanita lemah yang akan ditembak mati?
Lalu apa barusan itu?
Gerakan yang terlalu cepat, terlalu rapi, dan… terlalu keren!
Sutradara mengerutkan kening, jelas tidak puas.
“Zoya,” suaranya tegas, “bukankah sudah dijelaskan? Kamu hanya perlu melawan sebentar, lalu jatuh. Adegan itu berakhir dengan tembakan.”
Ia berhenti sejenak, menahan napas.
“Kenapa kamu melakukan itu tadi?”
Zoya masih berdiri di tempatnya mengerutkan kening. Wajahnya yang dirias dengan tone kuning kusam tampak semakin berkerut, membuat ekspresinya terlihat kurang nyaman dipandang.
Ehem…
Sutradara langsung memalingkan wajah sejenak, tak tega melihat hasil riasan yang kurang rapi itu, lalu kembali bertanya,
“Ada apa denganmu?”
Karena sebelumnya Zoya adalah seorang influencer, dan ini merupakan pengalaman syuting pertamanya, sutradara masih berusaha bersikap sabar dan cukup ramah padanya.
Zoya menatap aktor yang baru saja dibantu berdiri itu, lalu berkata tanpa ragu,
“Dia meraba-rabaku.”
Seketika suasana menjadi hening.
Sutradara: “…”
Dunia hiburan memang dikenal tidak selalu bersih. Di balik sorotan kamera, insiden “memanfaatkan adegan” seperti itu bukan hal baru… sering terjadi, terutama pada wanita pendatang baru yang belum memiliki jaringan kuat.
Banyak artis memilih diam, menahan diri demi menjaga kelancaran karier.
Namun Zoya berbeda.
Ia berdiri di sana tanpa ragu, tanpa mencoba menutupi apa yang baru saja terjadi… sesuatu yang jarang dilakukan orang di posisinya.
Di balik layar, kenyataan itu sering kali lebih kejam daripada yang terlihat.
Bahkan ketika ada yang berani bersuara, respons publik tidak selalu berpihak. Alih-alih didengar, justru banyak yang menyerang balik di media sosial.
>“Kalau kamu tidak menggodanya, kenapa dia harus melecehkanmu?”
>“Kalau kamu sendiri memakai pakaian seksi, mana mungkin hal seperti itu terjadi?”
Komentar-komentar seperti itu dengan cepat menyebar, mengaburkan inti persoalan dan mengalihkan kesalahan pada korban… terlebih jika yang dituduh adalah sosok senior yang punya pengaruh besar di industri.
Belum lagi tekanan dari para penggemar mereka yang ikut menyerang, mengirim pesan bernada ancaman, hingga meneror kehidupan pribadimu.
Di sisi lain, ada juga risiko balasan dari aktor yang dituduh… terutama jika ia memiliki pengaruh besar di industri. Perlahan, jalur karir mu bisa dibuat sulit: kehilangan peluang kerja, nama yang sengaja dibatasi di proyek tertentu, hingga pintu-pintu audisi yang tiba-tiba tertutup tanpa penjelasan.
Di dunia entertain ini, keberanian untuk berbicara sering kali datang dengan harga yang sangat mahal.
Opini publik yang ekstrim seperti itu bukan hal baru… dan sudah berkali-kali terbukti dalam berbagai kasus. Korban seringkali justru berubah menjadi bahan konsumsi publik, dibedah, dihakimi, lalu dilupakan begitu saja setelah sensasi mereda.
Di tengah kondisi seperti itu, banyak artis…. bahkan yang saat ini sudah lama berada di puncak karier… akhirnya memilih diam. Bukan karena tidak tahu benar atau salah, tetapi karena sadar ada konsekuensi yang bisa menghancurkan karir mereka perlahan.
Itulah sebabnya, sosok seperti Zoya terasa begitu berbeda.
Menurut rumor, Zoya dikenal sebagai wanita yang lembut dan cenderung tenang… lebih sering terlihat kalem di depan kamera maupun di balik layar.
Tapi barusan…
Cara dia bergerak sama sekali tidak cocok dengan citra itu. Cepat, presisi, dan tanpa keraguan… seperti seseorang yang terbiasa menghadapi situasi fisik secara langsung.
Itu membuat banyak orang di lokasi syuting mulai bertanya-tanya…