NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: JEJAK DI BALIK HUJAN

Pagi itu, cuaca di luar tampak mendung, seolah-olah langit sedang menyimpan rahasia besar yang siap tumpah kapan saja. Gendis meminta izin kepada Ibu Rahayu untuk pergi ke pasar tradisional dengan alasan ingin mencari rempah-rempah khusus yang tidak ada di supermarket untuk ramuan teh herbal sang mertua.

"Hati-hati, Gendis. Mintalah sopir untuk mengantarmu," ucap Ibu Rahayu sambil menatap menantu keduanya itu dengan sayang.

Gendis tersenyum manis, senyum yang selalu berhasil meluluhkan kekakuan Ibu Rahayu. "Tidak usah, Bu. Saya ingin jalan santai saja. Pasar dekat sini, saya rindu menghirup udara pagi sambil memilih sayuran segar. Lagipula, saya tidak ingin merepotkan sopir Mas Baskara."

"Kamu ini memang terlalu rendah hati," puji Ibu Rahayu. "Baiklah, tapi jangan lama-lama ya."

Gendis mengangguk patuh. Begitu keluar dari gerbang rumah mewah itu, langkah kakinya yang tadinya pelan dan anggun berubah menjadi cepat dan pasti. Ia tidak pergi ke pasar. Sebaliknya, ia berjalan menuju halte bus yang cukup jauh, lalu berganti taksi online untuk menuju ke sebuah pinggiran kota yang kumuh dan padat penduduk.

Di sebuah rumah tua dengan cat yang sudah mengelupas, Gendis berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah alamat yang ia cari selama berbulan-bulan. Alamat Pak Subrata, mantan orang kepercayaan ayahnya yang dulu menghilang setelah kasus korupsi itu meledak.

Gendis mengetuk pintu kayu yang sudah rapuh itu. Tok, tok, tok.

Seorang pria tua dengan rambut memutih dan wajah yang penuh keriput membuka pintu. Matanya yang rabun menyipit, menatap Gendis dengan penuh kecurigaan. "Cari siapa, Neng?"

Gendis melepaskan kacamata hitamnya, membiarkan air mata menggenang di pelupuk matanya. "Pak Subrata... ini saya. Larasati. Anak Pak Hardianto."

Pria tua itu tertegun. Gelas plastik yang ia pegang jatuh ke lantai, membasahi sandal jepitnya yang tipis. Bibirnya bergetar, ia menarik Gendis masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru, lalu mengunci pintu rapat-rapat.

"Laras? Kamu... kamu masih hidup, Nak?" suara Pak Subrata parau, penuh dengan rasa bersalah yang terpendam selama sepuluh tahun.

Gendis memeluk pria tua itu, tangisnya pecah. Di sini, ia tidak perlu bersandiwara menjadi Gendis yang manis. Di sini, ia adalah Larasati, anak yang hancur karena ketidakadilan.

"Pak... tolong saya. Saya butuh bukti itu. Bukti bahwa Ayah dijebak oleh keluarga Pratama dan Baskara," bisik Gendis di sela isaknya.

Pak Subrata menunduk, bahunya terguncang. "Bapak minta maaf, Laras. Saat itu Bapak takut. Mereka mengancam nyawa keluarga Bapak jika Bapak bicara. Tapi... Bapak menyimpan satu salinan dokumen audit yang asli. Dokumen yang menunjukkan bahwa aliran dana itu sebenarnya masuk ke rekening Tuan Pratama, bukan ayahmu."

Gendis merasa seolah-olah ada secercah cahaya di kegelapan yang pekat. "Di mana dokumen itu, Pak?"

"Bapak menyimpannya di dalam brankas tua di gudang bekas pabrik tekstil ayahmu yang sekarang sudah disegel. Hanya ada satu kunci, dan Bapak memberikannya pada ibumu sebelum beliau meninggal," jelas Pak Subrata.

Gendis teringat kalung perak sederhana yang selalu dipakai ibunya hingga saat terakhir. Di dalam liontin kalung itu, ada sebuah kunci kecil yang dulu ia anggap hanya hiasan. Ternyata, itu adalah kunci menuju kebenaran.

"Terima kasih, Pak. Bapak sudah melakukan hal yang benar," ucap Gendis sambil menggenggam tangan Pak Subrata yang kasar.

Sementara itu, di rumah besar, Maya tidak tinggal diam. Ia merasa ada yang aneh dengan kepergian Gendis yang mendadak "ingin ke pasar". Ia segera masuk ke kamar Gendis saat Ibu Rahayu sedang tidur siang.

Maya menggeledah setiap sudut kamar itu. Ia membuka laci, memeriksa bawah bantal, hingga membongkar tas tangan Gendis. Namun, ia tidak menemukan apa pun selain pakaian sederhana dan Al-Qur'an kecil.

"Sial! Di mana dia menyembunyikan rahasianya?" geram Maya.

Pandangan Maya kemudian tertuju pada sebuah kotak kecil yang diletakkan di atas meja rias. Itu adalah kotak perhiasan pemberian Ibu Rahayu yang berisi kalung mutiara. Maya membukanya, berniat merusak kalung itu karena rasa iri. Namun, di bawah bantalan kain beludru kotak tersebut, ia menemukan sesuatu yang terselip.

Sebuah foto usang.

Maya menarik foto itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu adalah foto seorang pria paruh baya yang sangat ia kenal: Tuan Hardianto. Di belakang foto itu tertulis kalimat pendek dengan tinta yang sudah memudar:

“Untuk putriku tersayang, Larasati. Jangan pernah menyerah pada kebenaran.”

Tangan Maya gemetar hebat. Foto itu terjatuh ke lantai. "Jadi benar... dia anak Hardianto. Dia datang ke sini bukan untuk Baskara, dia datang untuk menghancurkan kami semua!"

Rasa takut yang luar biasa menyergap Maya. Ia tahu, jika identitas Gendis terbongkar sekarang, Baskara mungkin akan merasa bersalah karena masa lalu ayahnya dan justru semakin melindungi Gendis. Ia harus menyusun rencana yang lebih kejam. Ia tidak boleh hanya membongkar identitas Gendis, ia harus membuat Gendis terlihat seperti penjahat yang ingin mencelakai keluarga mereka.

Maya segera mengambil ponselnya. "Halo, Detektif? Batalkan pencarian identitas. Aku sudah punya buktinya. Sekarang, aku ingin kamu mencari seseorang yang bisa memalsukan bukti bahwa Gendis mencoba meracuni Ibu Rahayu. Kita akan menjebaknya sebelum pesta itu dimulai."

Sore harinya, Gendis kembali ke rumah dengan wajah yang tampak lelah namun tenang. Ia membawa tas belanjaan berisi rempah-rempah asli untuk menutupi jejaknya. Begitu masuk ke ruang tengah, ia berpapasan dengan Maya yang sedang berdiri di dekat tangga.

Maya menatap Gendis dengan senyum yang sangat aneh—senyum yang penuh dengan kebencian namun juga kemenangan.

"Lama sekali di pasarnya, Gendis? Sampai-sampai aku sempat... 'merapikan' kamarmu tadi," ucap Maya dengan nada menyindir yang sangat tajam.

Gendis membeku sejenak, namun ia segera menguasai diri. Ia tahu Maya pasti telah menemukan sesuatu. "Maaf, Mbak Maya. Tadi pasar sangat ramai. Kenapa Mbak harus repot-repot merapikan kamar saya?"

Maya melangkah mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Gendis. "Kamu manis sekali saat bersujud, Larasati. Tapi aku lebih suka melihatmu membusuk di penjara karena mencoba menyakiti mertuamu sendiri."

Darah Gendis terasa berdesir dingin. Maya sudah tahu namanya. Maya sudah tahu tujuannya. Namun, Gendis tidak menunjukkan ketakutan. Ia justru membalas tatapan Maya dengan sorot mata yang sama tajamnya.

"Mbak Maya bicara apa? Nama saya Gendis. Dan saya tidak akan pernah menyakiti Ibu Rahayu yang sudah seperti ibu kandung saya sendiri," jawab Gendis dengan suara yang tetap lembut namun penuh penekanan.

"Kita lihat saja nanti, jalang kecil," desis Maya sebelum berlalu pergi.

Gendis segera masuk ke kamarnya. Ia melihat kotak perhiasannya sedikit bergeser. Ia memeriksanya, dan foto ayahnya sudah tidak ada di sana. Gendis terduduk di lantai, memeluk lututnya.

"Dia sudah tahu," gumam Gendis. "Permainan ini menjadi semakin berbahaya."

Gendis tahu ia tidak punya banyak waktu lagi. Ia harus segera mengambil dokumen di gudang tekstil tua itu malam ini juga. Ia tidak bisa menunggu hingga pesta dimulai. Jika Maya bergerak lebih dulu untuk memfitnahnya, maka semua rencananya akan hancur berantakan.

Malam itu, saat seluruh rumah sudah terlelap, Gendis mengenakan pakaian serba hitam. Ia menyelinap keluar lewat balkon, seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan malam. Hujan mulai turun dengan deras, membasahi bumi Jakarta yang penuh dengan intrik.

Di bawah guyuran hujan, Gendis berlari menuju gudang tua milik ayahnya. Setiap langkahnya adalah detak jantung ayahnya yang menuntut keadilan. Setiap tetes air hujan yang membasahi wajahnya adalah air mata ibunya yang kini ia ubah menjadi kekuatan.

"Aku tidak akan membiarkanmu menang, Maya," bisik Gendis di tengah deru angin malam. "Meskipun aku harus masuk ke dalam neraka yang kau buat, aku akan memastikan kau ikut terbakar bersamaku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!