NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Wiguna

Kediaman Utama Keluarga Wiguna

Ruangan besar itu dipenuhi udara panas dan ketegangan.

"APA KAMU GILA HAH?!" bentak Anin dengan mata membelalak menatap kakak sulungnya.

"Berurusan dengan Keluarga Mahesa?! Kamu mau bikin keluarga kita hancur lebur begitu saja?! Kamu sadar nggak sih siapa lawan kamu?!" teriak Anin tak habis pikir dengan kelakuan kakaknya yang begitu nekat dan ceroboh.

Di sudut ruangan, Nita hanya duduk bersandar manis di sofa mewah. Wajahnya tenang, tak sedikit pun terlihat cemas. Tangannya yang jenjang sibuk memamerkan kuku-kuku jari yang baru selesai dihias indah kemarin sore.

Siapa peduli? batinnya cuek. Kalau suamiku mau mati muda atau bikin masalah, itu urusan dia. Yang penting uangnya tetap masuk dan aku tetap nyaman.

Sementara itu, Gibran dan Rizal dua saudara laki-laki lainnya hanya bisa memijat pelipis mereka, dada mereka naik turun menahan amarah yang memuncak. Sudah bertahun-tahun mereka jengkel melihat sikap Gunawan.

Sebagai kakak tertua, bukannya memberi contoh baik dan menjadi pelindung, Gunawan justru yang paling sering membuat onar, bermain api, dan menyeret nama besar keluarga ke dalam masalah demi memuaskan nafsunya sendiri.

Di sofa utama, terbaring lemah sosok tua yang selama ini mereka hormati. Wiguna Adiyaksa.

Usianya yang sudah menginjak kepala tujuh puluh membuat tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Selang infus menancap di punggung tangannya, napasnya terdengar berat dan sesak. Mendengar pertengkaran anak-anaknya, ia hanya bisa memejamkan mata, merasa lelah dan kecewa melihat warisan yang ia bangun hampir hancur karena ulah anak sulungnya sendiri.

"Halah, nggak usah sok panik dan galak!" ejek Gunawan dengan santai sambil melipat tangan di dada. "Kamu bilang aja sebenernya kamu seneng kan? Akhirnya bisa ketemu lagi sama Langit, mantan pacar kamu itu kan?"

Mendengar itu, Rizal dan Gibran langsung saling pandang, mata mereka membesar kaget.

"Apa benar yang dikakatan Gunawan, Nin?" tanya Rizal, kakak nomor dua, dengan nada penasaran.

Anin langsung melotot, wajahnya memerah padam karena jengah.

"Apa-apaan sih?! Jangan dengerin omongan orang gila ini!" bentak Anin ketus. "Ini murni kesalahan dia, kenapa malah dia yang ngorek-ngorek borokku?! Sudah jelas aku nggak ada hubungan apa-apa lagi sama mantan! Beda sama kakak kamu itu, sudah beristri masi aja sibuk bercocok tanam di mana-mana!"

Anin berdecak kesal, "Untung Nita sabar banget, kalau aku jadi dia... udah aku bunuh aja semua wanita yang berani dia bawa pulang ke rumah!"

Ucapan Anin itu terlontar begitu saja, namun bagi Nita yang duduk diam di sudut, kalimat itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Nita terkejut hebat, hingga ia hampir tersedak ludahnya sendiri. Tangannya refleks menutup mulut, jantungnya berdegup kencang. Astaga... Kenapa dia betul banget..

"Sudahlah, jangan berantem terus!" potong Gibran mencoba menenangkan suasana. "Ini masalah harus diselesaikan segera. Anin, kamu kan yang paling pinter dan punya banyak koneksi. Apa kamu punya cara buat nutupin masalah si Gunawan ini biar nggak makin melebar?"

Anin menghela napas panjang, lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit.

"Entahlah, Kak..." jawabnya lelah. "Si brengsek ini kelakuannya udah keterlaluan. Entah berapa meter lagi lubang yang harus kita gali, berapa banyak tanah yang harus kita timbun, cuma buat nutupin bangkai masalah yang dia buat satu per satu."

"Dasar cewek nggak tahu terima kasih!" maki Gunawan tak terima. "Aku kakak tertua kalian, kalian harusnya hormat sama aku!"

"Punya otak nggak sih Kak?!" potong Anin tajam. "Hormat itu didapat, bukan dipaksa! Kalau kelakuanmu aja bejat kayak gini, mana mungkin kami bisa hormat!"

Wiguna Adiyaksa yang mendengar pertengkaran itu akhirnya menghela napas panjang, suaranya terdengar serak dan lemah namun cukup membuat ruangan hening seketika.

"Cukup!" teriak Wiguna. "Jangan berisik, kepala saya sakit."

Semua anaknya langsung diam. Anin, Gibran, Rizal, bahkan Gunawan pun menunduk.

"Kalian ini... satu sama lain tidak ada yang bisa menjaga nama baik keluarga," ucap Wiguna pelan. Matanya menatap tajam ke arah Gunawan. "Kau benar-benar membuat saya kecewa, Gunawan. Kau sudah punya istri, punya anak, harta berlimpah... tapi kenapa nafsumu tidak pernah bisa dikendalikan?"

Gunawan hanya mendengus kesal, membuang muka tak mau menatap ayahnya

"Dan kau, Anin..." Wiguna mengalihkan pandangan tajamnya ke arah putri tunggalnya. Suaranya berat dan penuh wibawa yang menekan.

"Benarkah kau... masih menjalin hubungan dengan Langit?" tanyanya lagi.

Pertanyaan itu membuat Anin menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya pucat pasi mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan.

Ya, benar. Dulu Anin dan Langit pernah sangat saling mencintai. Hubungan mereka begitu serius, bahkan cincin pertunangan hampir saja melingkar di jari manis Anin. Mereka adalah pasangan yang dipandang sempurna, cinta yang tulus tanpa memandang status.

Namun, impian itu harus kandas karena satu hal Penolakan Wiguna Adiyaksa.

Sang ayah sama sekali tidak menyukai Keluarga Mahesa. Bukan karena mereka buruk, tapi justru sebaliknya. Keluarga Mahesa berdiri begitu kokoh, kekuasaan mereka begitu tinggi dan kuat, hingga Wiguna merasa mustahil untuk bisa menjadikan mereka boneka atau mengendalikan mereka sesuai keinginannya.

Karena itu, dengan tangan besi ia memisahkan mereka. Wiguna memaksa Anin menikah dengan Hendra, pria dari keluarga kaya yang kekayaannya juga tidak kalah dengan keluarga Mahesa, dan yang paling penting mudah untuk dikendalikan.

Anin harus menelan pil pahit, meninggalkan cinta sejatinya demi nama baik dan ambisi keluarga yang tak pernah ia minta.

"Ayah..." suara Anin bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. "Itu sudah masa lalu. Aku sudah menikah dengan Hendra. Aku sudah menjadi istri orang. Tidak ada hubungan apa-apa lagi antara aku dan Langit selain dendam."

Wiguna menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan.

"Kalau begitu masalah ini semakin rumit..." gumamnya pelan. "Langit Mahesa bukan hanya lawan bisnis, dia juga luka lama yang belum sembuh. Jika dia membenci kita sekarang, itu campuran antara dendam cinta dan dendam kekuasaan."

"Dan kau Gunawan..." Wiguna menatap putra sulungnya dengan tatapan mematikan. "Kau benar-benar sudah gila. Berani-beraninya kau menyentuh wanita yang ternyata sudah diakui oleh Langit. Kau baru saja membangunkan raksasa yang sedang tidur!".

****

Anin akhirnya menuruti keinginan ayahnya, menikah dengan Hendra Candra Winata. Pernikahan yang awalnya terasa kaku, perlahan berubah menjadi manis. Hendra adalah pria yang lembut, setia, dan sangat mencintai Anin dengan tulus.

Dari rahim Anin, lahirlah seorang bayi perempuan yang sangat cantik jelita. Mereka memberinya nama Gladys Candra Wiguna.

Nama Candra diambil khusus dari nama sang ayah, sebagai bukti cinta Hendra terhadap buah hati tercintanya. Keluarga kecil mereka tampak begitu bahagia, hingga suatu hari...

Hendra tanpa sengaja mendengar percakapan mengerikan antara Wiguna dengan salah satu anak buah kepercayaannya di ruangan tertutup.

"Pastikan bayi itu tidak hidup lama. Aku tidak mau ada keturunan yang mewarisi darah keluarga lain yang terlalu kuat. Habisi saja sebelum dia besar," begitu titah Wiguna yang terdengar dingin dan kejam.

Hendra terkejut setengah mati. Bagaimana bisa seorang kakek tega membunuh cucunya sendiri?

Tanpa membuang waktu, ia segera berlari menemui Anin. Wajahnya pucat dan panik.

"Cepat kemas barang, Nin! Kita harus pergi sekarang juga!" pinta Hendra gemetar. "Kita harus pindah ke cabang luar negeri, aku sudah bilang mereka butuh bantuan di sana. Cepat, sayang, bawa Gladys!"

Anin bingung namun menuruti suaminya. Sayangnya, Wiguna tahu segalanya. Mata-matanya ada di mana-mana. Rencana pelarian mereka sudah diketahui bahkan sebelum mereka sempat keluar dari bandara.

Mereka baru saja turun dari pesawat, hendak masuk ke mobil, saat Hendra berhenti sejenak menatap istrinya.

"Nin, dengarkan aku... Ayahmu... dia ingin membunuh Gladys. Aku dengar sendiri dia menyuruh anak buahnya..."

Belum selesai kalimat itu terucap...

DOR! DOR!

Tembakan menderu keras. Tubuh kekar Hendra tersentak, darah segar memuncrat membasahi baju dan tubuh Anin.

Ia tergeletak lemah di depan mata istrinya. Anin menjerit histeris memeluk suaminya yang meregang nyawa. Dengan sisa tenaga, Hendra mendorong tubuh Anin.

"Lari... selamatkan anak kita..." bisiknya lemah sebelum mata nya terpejam selamanya.

Anin yang dilanda keputusasaan dan ketakutan terbangun dari lamunan, dengan cepat ia menggendong bayi mungil Gladys, berlari sekencang-kencangnya menyelamatkan diri dari kejaran orang-orang ayahnya yang mulai mengepung mereka.

Setelah kejadian mengerikan itu, Anin berlari sejauh mungkin di tengah hujan badai, menggendong bayi mungilnya dengan sisa tenaga yang ada. Namun, rasa lelah, trauma, dan keputusasaan akhirnya membuatnya jatuh pingsan di pinggir jalan, tak sadarkan diri.

Ketika ia akhirnya terbangun dan membuka matanya kembali, dunia di sekitarnya terasa asing.

Kepalanya terasa sangat berat, pikirannya kacau balau. Ia terlihat linglung, matanya kosong menatap langit-langit ruangan.

Ia masih bisa mengingat wajah suaminya, Hendra. Ia masih ingat betul wajah bayi cantiknya, Gladys. Ia ingat bahwa ia memiliki suami dan anak yang sangat ia cintai.

Namun... ada satu hal yang hilang begitu saja dari ingatannya.

Ia lupa di mana ia meninggalkan mereka.

Ia lupa di persimpangan mana ia berhenti, di sudut mana ia menyembunyikan bayinya, atau ke arah mana ia berlari saat kejadian itu. Memori tentang tempat dan waktu terhapus begitu saja oleh pikiran bawah sadarnya sebagai bentuk pertahanan diri dari trauma yang terlalu menyakitkan.

"Suamiku... anakku... di mana kalian?" gumamnya pelan, matanya menatap kosong, air mata terus mengalir tanpa suara.

Ia ingat wajah mereka, tapi ia tidak tahu di mana harus mencarinya. Sejak hari itu, hidup Anin hancur berkeping-keping. Ia kembali ke keluarga, namun jiwanya hilang, terus mencari bayi yang entah ada di mana.

Apakah Anin dapat menyelesaikan masalah yang di buat oleh Gunawan?

Apakah akan ada CLBK?

1
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!