Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Lantai Gudang
Ketegangan di ruang penyimpanan barang lelang itu mencapai titik didih yang mematikan. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip menambah kesan horor pada siluet Stella yang berdiri dengan kunci tajam di tangannya. Nora berdiri mematung, dadanya sesak oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bukan takut untuk dirinya sendiri, melainkan untuk satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari ibunya.
"Jangan, Stella... Aku mohon," bisik Nora, suaranya nyaris hilang.
"Kau selalu mendapatkan perhatian lebih karena kau tampak 'menderita', Kak," desis Stella. "Mari kita buat kau benar-benar menderita."
Dengan satu gerakan cepat dan penuh kebencian, Stella menghujamkan kunci itu ke atas kanvas The Silent Bloom. Suara kain kanvas yang robek terdengar seperti jeritan di telinga Nora. Stella tidak berhenti di sana; ia menarik kunci itu ke bawah, menciptakan robekan panjang yang menghancurkan wajah abstrak sang ibu dalam lukisan tersebut.
Nora terjatuh berlutut. "TIDAK!"
Ia merangkak mendekati lukisan itu, tangannya yang gemetar menyentuh robekan kasar tersebut. Air mata tumpah tak terbendung. "Ibu... maafkan aku... maafkan aku..." Nora terisak, dunianya terasa runtuh seketika. Harta yang baru saja ia tebus dengan harga diri dan seluruh uangnya, kini hancur di tangan adiknya sendiri.
Namun, telinga Stella menangkap langkah kaki yang mendekat dari lorong. Ia tahu itu adalah Adrian. Dalam sekejap, raut wajah jahat Stella berubah total. Ia menjatuhkan kuncinya, lalu dengan kekuatan penuh, ia melayangkan tangannya sendiri ke pipinya.
Plak!
Stella menampar dirinya sendiri begitu keras hingga ia terhuyung dan jatuh ke lantai. Ia segera mengacak-acak rambutnya dan mulai menangis histeris. Saat pintu terbuka lebar dan sosok Adrian Thorne berdiri di sana dengan wajah kelam, Stella berteriak seolah-olah sedang diserang.
"Ampun, Kak Nora! Ampun! Aku tidak sengaja!" teriak Stella sambil memegangi pipinya yang mulai memerah.
Adrian masuk ke ruangan dengan aura predator yang siap menerkam. Ia melihat Stella tergeletak di lantai dengan pipi merah, lalu melihat Nora yang berdiri dengan wajah sembap di depan lukisan yang robek.
"Apa yang terjadi di sini?!" suara Adrian menggelegar, membuat udara di ruangan itu terasa membeku.
Nora gelagapan, ia berdiri dengan tubuh gemetar. "Adrian... dia... dia merusak lukisan ibuku! Dia sengaja melakukannya!"
Stella merangkak mendekati kaki Adrian, memegang ujung celananya dengan wajah memelas. "Adrian, aku hanya ingin melihat lukisannya... aku tersandung dan tidak sengaja memegang kanvasnya hingga robek. Kak Nora marah besar... dia menamparku berkali-kali! Lihat pipiku, Adrian!"
Nora, yang sudah kehilangan akal sehatnya karena duka dan kemarahan atas pengkhianatan ini, tidak sanggup lagi menahan diri. Melihat akting Stella yang begitu menjijikkan, Nora melangkah maju dan melayangkan tamparan keras tepat ke arah Stella di hadapan Adrian.
PLAK!
Tamparan itu begitu kuat hingga sudut bibir Stella pecah dan mengeluarkan sedikit darah. Adrian terbelalak. Di matanya, Nora baru saja membuktikan "kebuasan" yang selama ini Stella ceritakan.
"CUKUP!" Adrian menangkap pergelangan tangan Nora, mencengkeramnya begitu kuat hingga Nora meringis. "Kau sudah gila, Nora? Di depan mataku kau berani menyentuhnya?"
"Dia merusak lukisanku, Adrian! Dia menghancurkan segalanya!" teriak Nora histeris.
"Itu hanya benda mati!" balas Adrian kejam. "Sedangkan kau baru saja melukai adikmu sendiri!"
Kemarahan Adrian telah mencapai puncaknya. Bayangan bahwa Nora adalah "racun" kembali menguasai pikirannya. Ia menoleh ke arah dua pengawal pribadinya yang berdiri di depan pintu.
"Seret dia keluar," perintah Adrian dingin. "Bawa dia ke gudang tua di dermaga barat. Ikat dia di sana."
Nora tertegun. "Adrian? Apa yang kau lakukan? Aku mengandung—" Kalimat Nora terpotong saat salah satu pengawal membekap mulutnya.
"Lakukan!" bentak Adrian.
Dua pengawal itu membawa Nora keluar dengan kasar. Stella, yang masih berada di lantai, merangkul kaki Adrian sambil mengaduh kesakitan. Adrian membantunya berdiri, membiarkan Stella bersandar di dadanya. Stella menyembunyikan senyum licik di balik bahu Adrian saat ia melihat Nora diseret menjauh.
Gudang di dermaga itu pengap dan berbau karat. Nora diikat di sebuah kursi kayu tua di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu pijar yang redup. Adrian berdiri beberapa meter di depannya, bayangannya memanjang dan tampak mengerikan.
"Kau butuh pelajaran, Nora," ujar Adrian pelan, sebuah nada tenang yang lebih menakutkan daripada teriakan. "Selama ini aku terlalu lembut padamu hingga kau lupa siapa tuan di rumah ini."
Adrian menoleh pada pengawalnya. "Tampar dia. Biar dia merasakan apa yang dirasakan Stella."
Dua pengawal itu saling pandang. Mereka ragu. Selama lima tahun, mereka melihat bagaimana Adrian memuja Nora, bagaimana mereka hidup seperti sepasang kekasih.
"Tuan... apakah Anda yakin? Nona Nora..."
"Apakah aku harus mengulangi perintahku?" Adrian menatap mereka dengan mata yang berkilat haus darah. "Atau kalian yang ingin menggantikan posisinya?"
Terdesak oleh rasa takut, salah satu pengawal melangkah maju. Dengan ragu, ia melayangkan tamparan ke wajah Nora.
"Lebih keras!" perintah Adrian.
Tamparan demi tamparan mendarat di wajah Nora. Sudut bibirnya pecah, pipinya membiru. Nora tidak berteriak. Ia hanya menatap Adrian dengan tatapan kosong, seolah jiwanya sudah meninggalkan tubuhnya saat lukisan ibunya robek tadi.
"Beri dia pelajaran yang tidak akan dia lupakan," ujar Adrian sebelum ia berbalik arah. "Hajar dia, tapi jangan sampai membunuhnya. Aku tidak ingin melihat wajahnya sekarang."
Adrian melangkah keluar dari gudang, di mana Stella sudah menunggu di dalam mobil dengan kompres es di pipinya. Stella segera memeluk lengan Adrian saat pria itu masuk. "Adrian... kepalaku pusing sekali... terima kasih sudah membelaku."
Adrian hanya diam, matanya menatap lurus ke depan. Ia merasa ada sesuatu yang salah di dadanya, namun ego dan manipulasi Stella selama bertahun-tahun telah membutakannya.
Di dalam gudang, setelah Adrian pergi, kekerasan itu berlanjut. Pengawal yang takut pada amukan Adrian mulai memukuli perut dan punggung Nora. Nora meringkuk sebisanya dalam ikatan itu, mencoba melindungi perutnya, namun tendangan keras mendarat di pinggangnya.
"Cukup... tolong..." bisik Nora lemah.
Setelah hampir setengah jam, salah satu pengawal merasa instruksi Adrian sudah cukup dilaksanakan. Mereka membuka ikatan tali yang mengunci tubuh Nora. Begitu tali terlepas, tubuh Nora yang sudah tak berdaya jatuh berdentum ke lantai semen yang dingin.
Ia pingsan seketika.
Dua pengawal itu tidak menyadari ada sesuatu yang terjadi. Mereka hanya melihat Nora yang babak belur. Mereka tidak memperhatikan bahwa di bawah gaun hitam Nora, dari celah pahanya, cairan merah pekat mulai merembes. Darah itu mengalir perlahan, menodai lantai gudang yang kotor, menjadi saksi bisu atas dua nyawa yang kini sedang berjuang di ambang kematian akibat perbuatan ayah mereka sendiri.
"Ayo pergi. Tuan sudah menunggu di mansion," ujar salah satu pengawal.
Mereka mematikan lampu, mengunci pintu gudang dari luar, dan meninggalkan Nora Leone sendirian dalam kegelapan yang total. Di tengah kesunyian dermaga, darah terus merembes, membawa serta harapan-harapan kecil yang baru saja mekar di rahim Nora, terkubur dalam kedinginan gudang yang sunyi.