Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.
Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .
Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.
Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak diundang
Pagi yang menyusul setelah malam yang menyakitkan itu terasa begitu mencekam. Matahari masuk melalui celah gorden, namun tidak memberikan kehangatan sedikit pun di dalam kamar utama keluarga Subroto. Danu terbangun dan Sekar sudah tidak ada di ranjang.
Ia hanya melihat ranjang disebelahnya sangat rapi, terlalu rapi, seolah tidak pernah ada manusia yang tidur di sana.
Danu turun ke lantai bawah dan mendapati Sekar sedang berada di area belakang, sedang membantu Mbok Sum mencuci kain-kain dapur secara manual dengan tangan, padahal di rumah itu ada mesin cuci yang canggih. Sekar berjongkok, persis seperti posisinya bertahun-tahun lalu saat ia masih menjadi buruh serabutan.
Danu berdiri di ambang pintu dapur, menatap punggung Sekar yang bergerak ritmis mengucek kain. Hatinya seperti diiris sembilu.
"Sekar, berhenti!" Suara Danu berwibawa, namun ada getaran lelah di sana.
Sekar tersentak, ia segera berdiri dan mengelap tangannya yang basah pada kain daster lusuhnya. Ia menunduk, tidak berani menatap mata suaminya.
"Maaf, Mas. Sekar hanya ingin membantu Mbok Sum. Sayang kalau air dan listrik terbuang hanya untuk kain sedikit"
"Masuk ke dalam dan sarapan!" Perintah Danu. Ia tidak ingin berdebat di depan para pekerja rumah tangga.
Sekar menurut tanpa suara. Ia berjalan di belakang Danu, menjaga jarak tepat tiga langkah, persis seperti seorang pelayan yang mengikuti tuannya. Di meja makan, Bu Subroto sudah duduk dengan anggun, sedang menyesap tehnya.
"Duduklah, Sekar!" Ucap Danu sambil menarik kursi untuk Sekar.
Baru saja Sekar hendak duduk, suara bel rumah berbunyi dengan nyaring. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang dengan wajah bingung.
"Maaf Mas Danu, ada tamu. Katanya ada janji dengan Ibu"
Belum sempat pelayan itu menyelesaikan kalimatnya, sosok wanita dengan gaun kerja berwarna krem yang sangat elegan masuk ke ruang makan. Langkah kakinya yang mengenakan high heels terdengar tegas di atas lantai marmer.
"Selamat pagi!" Ucap Lidya dengan senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya.
Sekar seketika membeku. Ia merasa seluruh tubuhnya lemas. Kehadiran Lidya di hotel semalam sudah cukup menghancurkannya, dan kini wanita itu berani menginjakkan kaki di rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya.
"Lidya! Akhirnya kamu datang!" Sambut Bu Subroto dengan wajah yang cerah, kontras dengan wajah Danu yang menggelap seketika.
"Duduklah, ayo sarapan bersama kami!"
"Terima kasih, Tan" Lidya duduk tepat di sebelah Bu Subroto, berhadapan langsung dengan Sekar. Ia meletakkan tas bermereknya di atas meja dengan sengaja.
"Maaf ya Danu, aku datang pagi-pagi. Tante Subroto bilang dia tertarik dengan proposal investasi butik yang aku tawarkan kemarin, jadi aku pikir lebih baik kita bahas sambil sarapan"
Danu meletakkan sendoknya dengan dentingan yang keras di atas piring porselen.
"Ibu, ini ruang makan pribadi. Urusan bisnis bisa dilakukan di kantor atau di ruang tamu nanti"
"Danu, jangan kaku begitu. Lidya ini sudah seperti keluarga sendiri kan?" Sahut Bu Subroto tanpa merasa bersalah. Ia melirik Sekar yang hanya terdiam menatap piring kosongnya.
"Sekar, ambilkan air minum untuk Lidya. Masa tamu datang didiamkan saja"
"Baik Bu" Sekar langsung berdiri.
"Sekar duduk!" Bentak Danu. Suaranya menggelegar, membuat Mbok Sum yang di dapur sampai menjatuhkan tutup panci.
"Ada pelayan yang bertugas mengambil air. Istriku tidak akan melayani siapa pun di meja makan ini!"
Lidya tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merendahkan.
"Wah, Danu, kamu protektif sekali. Tapi tidak apa-apa, aku mengerti. Sekar mungkin sudah terbiasa melayani orang, jadi dia refleks saja ingin membantu. Ya kan, Sekar?"
Sekar tetap berdiri, tangannya yang tersembunyi di bawah meja bergetar hebat. Ia melihat jam tangan kulit cokelat di pergelangan Danu, dan ia melihat jam tangan emas bertahtakan berlian di tangan Lidya. Perbedaan itu begitu nyata.
"Mas, tidak apa-apa. Biar Sekar ambilkan" Bisik Sekar, suaranya nyaris hilang. Ia lebih memilih bergerak daripada harus duduk dan ditatap dengan hina oleh Lidya.
Sekar berjalan menuju dapur dengan langkah gontai. Di sana, ia memegang pinggiran meja dapur dengan erat, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Ia mendengar percakapan di meja makan kembali berlanjut.
"Danu, aku dengar proyek perumahanmu sukses besar semalam" Suara Lidya terdengar merdu.
"Tapi aku kasihan melihatmu semalam. Kamu tampak, kurang serasi. Kalau saja aku yang ada di sana, aku bisa memperkenalkanmu pada kolega dari Singapura yang kebetulan hadir"
"Aku tidak butuh kolegamu, Lidya. Dan aku tidak butuh penilaianmu soal siapa yang pantas berada di sampingku" Jawab Danu dingin. Dia tidak tau kenapa Lidya berubah begitu banyak, dulu Lidya tidak seperti itu.
"Oh ya? Lalu kenapa semalam istrimu pulang sendirian? Apa dia merasa, tidak nyaman berada di antara orang-orang yang levelnya jauh di atasnya?" Lidya menusuk tepat di ulu hati Sekar yang sedang mendengarkan dari balik sekat dapur.
"Aku tahu kamu pria yang sangat bertanggung jawab, Danu. Tapi sampai kapan kamu mau mengorbankan masa depan sosialmu demi seorang, penimbang paku?"
Danu berdiri dari kursinya. Wajahnya merah padam karena amrahanya.
"Cukup! Keluar dari rumahku, Lidya! Sekarang!"
Bu Subroto ikut berdiri.
"Danu! Apa-apaan kamu? Lidya itu tamu Ibu!"
"Aku tidak peduli! Siapa pun yang datang ke rumah ini hanya untuk menghina istriku, tidak pantas berada di bawah atap yang sama denganku!" Danu berteriak, amarahnya benar-benar di puncak.
Lidya berdiri dengan anggun, ia sama sekali tidak terlihat takut. Ia justru menatap Danu dengan tatapan penuh kerinduan yang manipulatif.
"Kamu sedang emosi, Danu. Aku tahu kamu hanya lelah. Aku akan pergi sekarang, tapi jangan lupakan kalau hatimu tidak bisa berbohong sesering mulutmu" Lidya melangkah pergi, namun sebelum keluar, ia sempat menoleh ke arah dapur dan melihat ujung daster Sekar yang menyembul. Ia tersenyum sinis, tahu bahwa misinya untuk meracuni pikiran Sekar telah berhasil sepenuhnya.
Setelah kepergian Lidya, suasana rumah menjadi kacau. Bu Subroto marah-marah dan masuk ke kamarnya, sementara Danu segera berlari menuju dapur. Ia menemukan Sekar sedang berdiri mematung sambil memegang gelas kosong, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
"Sayang..." Danu mencoba meraih bahu istrinya.
Sekar menghindar. Ia mundur satu langkah, menatap Danu dengan pandangan yang penuh rasa sakit dan kekaguman yang kini bercampur dengan keputusasaan.
"Mas Danu... Mas tidak perlu berteriak seperti itu demi saya. Mas Lidya benar. Mas hanya menyiksa diri Mas sendiri untuk membela orang yang memang tidak punya tempat di dunia Mas"
"Aku tidak menyiksa diri, Sekar! Aku menghargaimu"
"Menghargai karena tanggung jawab, kan?" Sekar tersenyum pahit di tengah tangisnya.
"Mas Danu memakai jam tangan ini hanya untuk membuktikan pada Mbak Lidya kalau Mas sanggup hidup tanpa dia. Mas menggunakan saya untuk melawan masa lalu Mas. Tolong, Mas, lepaskan saya dari beban ini"
Sekar meletakkan gelas itu dan berlari menuju kamarnya, mengunci pintu dari dalam. Danu berdiri di dapur yang sepi, menatap tangannya yang masih melingkar jam tangan kulit murahan itu.
Ia menyadari bahwa kehadirannya, pembelaannya, dan bahkan pemberiannya kini dirasakan Sekar sebagai bentuk paksaan tanggung jawab.
Danu memukul meja dapur dengan keras. Ia merasa sangat bodoh karena tidak bisa menjelaskan bahwa Lidya benar-benar sudah tidak ada artinya. Namun, sifat dewasanya yang kaku membuatnya tidak tahu bagaimana cara merayu hati wanita yang sedang hancur.
Jarak di antara mereka kini bukan lagi soal kasta, melainkan soal bayang-bayang masa lalu yang sengaja dipelihara oleh Lidya dan ibunya sendiri untuk menghancurkan Sekar.
Malam itu, Danu tidur di luar kamar mendengarkan isak tangis Sekar dari balik pintu yang terkunci. Ia menyadari bahwa untuk mendapatkan Sekar kembali, ia harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar membentak orang lain, ia harus membuktikan bahwa Sekar adalah tujuannya, bukan sekadar tanggung jawabnya.
*
*
Sabar dulu yaaaaa.... jangan pada emosi dulu🤣🤣🤣🫣🫣🫣🫣🫣
Besok, Danu bakal ambil keputusan yang besar untuk dirinya dan Sekar, jadi sabar yaaaa😘😘😘
Bu Subroto pagi2 udah nyanyi aja kaya kaleng rombeng, ganggu. bener tuh sana nikmati kesendirianmu di rmh yg memwah.
kalau gk ada orang kecil,maka orang besarpun gk akan bisa hidup tanpa bantuan orang kecil..😡