NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 - Mengenal Pilar-Pilar Dunia

Langit cerah membentang luas di atas pegunungan tinggi, birunya begitu jernih seolah tidak tersentuh oleh dunia di bawahnya. Kabut tipis mengalir perlahan di antara puncak-puncak yang menjulang, bergerak seperti lautan putih yang tenang, menyelimuti lereng-lereng batu yang kokoh.

Di atas lautan kabut itu, berdiri megah Sekte Pedang Langit.

Bangunan-bangunannya menjulang anggun, atap-atapnya berlapis dan memantulkan cahaya matahari dengan kilau lembut, sementara jembatan-jembatan batu menghubungkan setiap bagian sekte di antara jurang dan puncak. Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh, seolah menopang langit itu sendiri, dan aura tenang namun kuat menyelimuti seluruh kawasan, memberi kesan bahwa tempat ini bukan sekadar kediaman, melainkan pusat kekuatan yang telah berdiri dari generasi ke generasi.

Long Chen, Xiao Yan, Ye Fan, dan Han Li berjalan mengikuti Lin Feng menyusuri jalur batu yang membelah kompleks Sekte Pedang Langit, langkah mereka perlahan melambat saat pemandangan di depan terbuka begitu luas. Di hadapan mereka, puluhan murid sekte sedang berlatih dengan penuh keseriusan, memenuhi lapangan batu yang luas dengan energi yang terasa hidup.

Suara benturan pedang menggema tanpa henti, saling bersahutan seperti irama yang teratur, menciptakan gema tajam yang memantul di antara pilar dan tebing di sekitarnya. Setiap gerakan yang mereka lihat tidak sembarangan, melainkan terstruktur, disiplin, dan penuh presisi, menunjukkan latihan yang telah ditempa dalam waktu yang lama.

Sebagian murid masih berfokus pada teknik dasar, mengulang gerakan yang sama berulang kali dengan ketekunan tanpa keluhan, membangun fondasi yang kokoh. Namun di sisi lain, beberapa murid yang lebih maju telah mampu mengeluarkan aura pedang yang tajam, energi mereka memancar keluar mengikuti ayunan bilah, menciptakan tekanan halus di udara yang bahkan bisa dirasakan dari kejauhan.

Pemandangan itu membuat keempat anak itu terdiam.

Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar melihat dunia kultivasi yang sesungguhnya.

Han Li membelalakkan mata, napasnya tertahan saat melihat latihan para murid yang begitu teratur dan kuat. “Wah… mereka semua hebat…” ucapnya tanpa menyembunyikan kekagumannya, matanya terus mengikuti setiap gerakan pedang yang berkilau di udara.

Lin Feng tersenyum tipis melihat reaksi itu, jelas sudah terbiasa dengan rasa takjub dari murid baru yang pertama kali menyaksikan kekuatan seperti ini. “Sekte Pedang Langit adalah salah satu sekte aliran kebenaran terbesar di dunia ini,” jelasnya dengan nada tenang namun penuh kebanggaan.

Ia melanjutkan sambil berjalan perlahan di depan mereka, “Selain Kuil Lotus Putih, Sekte Puncak Awan, dan Akademi Cahaya Abadi, sekte ini termasuk dalam pilar utama yang menjaga keseimbangan dunia kultivasi.”

Xiao Yan melipat tangannya di depan dada, matanya masih mengamati para murid yang berlatih dengan penuh fokus sebelum akhirnya bertanya dengan nada tenang, “Jadi sesuai namanya, sekte ini memang berfokus pada pedang?”

Lin Feng mengangguk tanpa ragu. “Benar,” jawabnya singkat.

Ia kemudian mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah lapangan latihan di depan mereka, di mana para murid terus mengayunkan pedang tanpa henti. “Di sini, pedang bukan sekadar senjata,” lanjutnya dengan suara yang lebih dalam, “pedang adalah dasar dari semua teknik, jalan kultivasi, dan bahkan cara memahami dunia.”

Tatapannya menyapu seluruh area latihan.

“Segalanya dimulai dari pedang, dan segalanya juga akan kembali pada pedang.”

Lin Feng melanjutkan penjelasannya dengan tenang, langkahnya tetap mantap di depan mereka, sementara keempat anak itu mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Kuil Lotus Putih identik dengan para biksu,” ujarnya, suaranya stabil dan jelas. “Mereka berfokus pada penguatan tubuh atau body tempering, serta menguasai berbagai mantra pelindung yang membuat pertahanan mereka hampir tak tertembus.”

Ia kemudian sedikit menggeser arah pandangannya, melanjutkan tanpa jeda, “Sekte Puncak Awan dikenal sebagai ahli dalam qinggong, teknik pergerakan ringan yang membuat mereka hampir tak tersentuh. Selain itu, mereka juga unggul dalam serangan jarak jauh, menggunakan senjata seperti kipas atau jarum yang cepat dan mematikan.”

Langkahnya tetap berlanjut, sementara nada suaranya sedikit berubah saat memasuki penjelasan berikutnya.

“Sedangkan Akademi Cahaya Abadi adalah tempat para sarjana kultivator,” lanjutnya, “mereka mempelajari strategi perang, formasi, serta segel kuno yang memiliki kekuatan luar biasa. Mereka mungkin tidak selalu bertarung di garis depan, tetapi peran mereka bisa menentukan kemenangan atau kekalahan sebuah pertempuran.”

Han Li menghela napas kagum, matanya masih berbinar saat menyaksikan dunia baru yang terbentang di hadapan mereka. “Ternyata dunia ini… luas sekali…” ucapnya pelan, seolah baru menyadari bahwa apa yang selama ini ia kenal hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan.

Long Chen tidak mengatakan apa pun.

Tatapannya hanya tertuju pada para murid yang sedang berlatih, memperhatikan setiap ayunan pedang, setiap aliran energi, dan setiap teknik yang digunakan dengan ketepatan yang mengagumkan. Di dalam benaknya, hanya ada satu hal yang berulang.

Pedang.

Kekuatan.

Teknik.

Semua itu terasa begitu jauh darinya, seolah berada di dunia yang berbeda, namun pada saat yang sama… itulah yang ingin ia capai dengan segala cara.

Di sampingnya, Ye Fan tersenyum kecil, mencoba meringankan suasana. “Kalau begitu… kita akan jadi bagian dari sekte ini, ya?” tanyanya dengan nada setengah berharap.

Lin Feng mengangguk pelan. “Iya,” jawabnya singkat.

Namun ia tidak berhenti di sana.

Nada suaranya sedikit berubah, menjadi lebih serius. “Namun nasib kalian tidak akan ditentukan olehku,” lanjutnya. “Keputusan itu berada di tangan Ketua Sekte dan para pemimpin divisi.”

Keempat anak itu langsung memperhatikan dengan lebih fokus.

“Dan saat ini… mereka sedang berdiskusi tentang penentuan masa depan kalian,” tambah Lin Feng.

Tiba-tiba, langkah Lin Feng terhenti. Tubuhnya sedikit menegang, dan ekspresinya berubah seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar oleh orang lain.

Long Chen dan yang lain saling berpandangan, kebingungan terlihat jelas di wajah mereka.

“Kenapa dia… seperti bicara sendiri?” bisik Han Li pelan, berusaha tidak terdengar.

Lin Feng sedikit menoleh ke arah mereka, lalu berkata dengan nada tenang, “Kalian tunggu di sini.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Aku sedang dihubungi oleh pemimpin divisi.”

Tanpa menjelaskan lebih lanjut, ia berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan mereka berempat di tepi lapangan latihan, sementara pikirannya tampak terfokus pada komunikasi yang tidak terlihat.

Di sisi lain, Lin Feng berhenti di tempat yang sedikit lebih sepi, lalu menundukkan kepala dengan hormat, meskipun tidak ada sosok yang terlihat di hadapannya. “Ada apa, Tuan Qin Tian?” ucapnya pelan, seolah berbicara pada seseorang yang hanya bisa ia dengar di dalam pikirannya.

Sebuah suara terdengar jelas di benaknya, tenang namun penuh wibawa.

Qin Tian, pemimpin Divisi Pedang Matahari.

“Bawa keempat anak itu ke Aula Besar,” suara itu berkata tanpa basa-basi.

“Rapat telah selesai, dan mereka akan menghadap Ketua Sekte.”

Instruksi itu singkat, namun tidak memberi ruang untuk penundaan.

Lin Feng tidak ragu sedikit pun. Ia menjawab dengan tegas, “Perintah diterima.”

Koneksi itu terputus.

Lin Feng kembali dengan langkah tenang namun pasti, auranya sedikit berubah seolah membawa keputusan yang tidak bisa ditunda. Ia berhenti di depan mereka berempat dan berkata dengan jelas, “Ketua Sekte memanggil kalian. Kita akan menuju Aula Besar sekarang.”

Keempat anak itu langsung terdiam sesaat, mencerna makna dari kata-kata itu.

Han Li yang paling cepat bereaksi langsung menoleh ke kejauhan, matanya membesar saat melihat bangunan megah yang berdiri di puncak gunung, menjulang di antara lautan awan. Ia mengangkat tangannya dan menunjuk tanpa sadar. “Maksudmu… aula besar yang ada di puncak gunung itu?!” tanyanya dengan nada tak percaya.

Lin Feng mengikuti arah pandangannya sejenak, lalu mengangguk pelan. “Benar,” jawabnya singkat.

Angin gunung berhembus melewati mereka.

Dan untuk pertama kalinya, keempat anak itu benar-benar merasakan bahwa mereka sedang melangkah menuju sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.

End Chapter 11

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!