Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Beberapa hari berlalu
BRAK!
"AKU BUTUH BERKAS ITU! KENAPA LAMA SEKALI?" suara Devon terdengar meninggi.
"Aku sedang berusaha, kamu seharusnya sabar!" kata Calista, dengan menenangkan Devon.
"Sabar? Sampai kapan? Kamu sudah janji, jangan lupa!"
"Aku tahu, tapi aku sedang mencari cara untuk mendekati Rayandra lagi, jadi berikan aku waktu kembali," jelas Calista dengan nada memohon.
"Sampai kapan? Acara itu akan di adakan lusa, dan aku butuh berkas itu secepat mungkin!" tegas Devon dengan ultimatum kuat yang membuat Calista menganggyk patuh.
"Akan aku usahakan mendapatkan berkas itu secepat mungkin," bujuknya dengan nada pelan.
Devon menarik napas, dia membiarkan Calista memeluknya erat, emosinya masih belum stabil sebab kesal karena menurut dia Calista terlalu lamban.
Devon menarik Calista kasar hingga pelukan itu terlepas, dia menatap sang kekasih datar,"Lakukan tugasmu dan bawa berkas itu secepat mungkin!"
Calista menatap kepergian Devon dengan khawatir, di takut Devon meninggalkan dia jika sedang marah seperti ini."Aku harus temukan cara agar berkas itu dapat aku dapatkan!" bisik Calista dengan suara gemetar menahan gelombang marah.
...****************...
Sedangkan di sisi lain.
"Hey, ada apa ini?" tanya Elvara saat melihat beberapa wanita membawa sesuatu di tangannya.
"Selamat siang, Nyonya," sapanya ramah.
"Siang, kalian siapa?" Elvara memastikan.
"Nyonya kami dari toko perhiasan dan butik gaun mewah langganan keluarga Mahatara, dan kami datang atas perintah Tuan Muda Rayandra dan juga Tuan Muda Ardhanaya," jelas salah satu dari beberapa orang itu.
"Rayandra? Memang akan ada acara apa sampai-sampai memanggil kalian?" Elvara bertanya kembali penuh selidik.
"Kamu tinggal duduk, dan pilih perhiasannya! Lalu untuk apa banyak bertanya?" suara serak dari Rayandra terdengar dan itu mengalihkan fokus mereka semua termasuk Elvara.
"Aku bukannya tidak mau pilih, hanya saja ini terlalu mendadak dan juga tidak ada pemberitahuan darimu kita akan kemana, jadi apa salah kalau bertanya?" Elvara menatap Rayandra dengan bola memutar malas.
"Kau dan aku akan ke pesta perayaan ulang tahun rekan bisnis ku, jadi apa bisa sekarang kamu pilih saja!" titahnya dengan nada tegas.
"Ayasha, apa dia akan ikut?"
"Pilih saja, Vara! Untuk apa bertanya tentang hal lain?" sentak Rayandra kesal.
"Kak," panggil Ayasha, dia berjalan mendekat dan segera memeluk lengan Elvara.
"Apa kamu akan ikut ke pesta?" bisik Elvara. Dia melirik sedikit Rayandra yang menatapnya dengan wajah datar dan tatapan tajam.
"Iya, Ardhanaya sudah memberitahu aku dan itu sebabnya aku di minta kesini untuk memilih perhiasan," jelasnya.
Ayasha tadi sedang tidak bersama Elvara, sebab dia sedikit memiliki pekerjaan lain yang harus ia kerjakan sebab bagaimana pun itu pekerjaannya.
"Bagus, jadi ayo kita pilih!" kata Elvara semangat.
Ayasha mengangguk, dia dan Elvara segera berderap memilih beberapa perhiasan dan gaun yang akan keduanya kenakan pada acara pesta.
Ayasha dan Elvara duduk di sofa dengan para pelayan itu menjelaskan semua yang mereka bawa untuk menyenangkan kedua nyonya Muda dari Mahatara itu.
Sedangkan Rayandra dan Ardhanaya hanya bisa diam, menyeruput teh mereka dengan tenang dan elegant sambil menunggu kedua istri mereka berdua memilih gaun dan perhiasan yang cocok.
"Lihat, Yasha! Gaun ini akan sangat cocok dengan perhiasan tadi, bagaimana menurut kamu?" Elvara memilih satu gaun mencocokkannya dengan pilihan Ayasha.
"Ambil yang itu!" suara Rayandra terdengar.
Elvara dan Ayasha mengangguk, menjadi orang kaya memang menyenangkan mereka bisa membeli apapun yang mereka suka tanpa harus memikirkan hal lain lagi.
"Kak, lihat Giok ini, cantik sekali ini akan cocok dengan gaun polos mu tempo hari!" Ayasha menyentuh dua Giok unik dengan warna berbeda itu.
"Ambil yang itu juga!" hingga suara Ardhanaya memberikan perintah.
Keduanya saling tatap, mereka bahagia sebab tinggal menunjuk apa yang mereka mau, maka sang ATM hidup itu akan langsung membayar tanpa ragu.
...****************...
Kediaman Adinata
Ruangan itu terasa begitu sunyi setelah kunjungan Melinda. Hardian duduk terpaku, pikirannya bergolak hebat bukan karena kenangan lama yang tiba-tiba mengusik, tapi ucapan Melinda yang menusuk hati, membakar amarah dalam dadanya.
“mas, ada apa denganmu?” Nindi menyentuh bahunya dengan lembut, wajahnya penuh kekhawatiran.
Hardian tersentak, menoleh dan menangkap senyum hangat sang istri yang penuh kepedulian. “Sini, duduk,” Hardian menggerakkan tangan ke sofa, nadanya berat.
Nindi mengikut, duduk di sampingnya dengan mata yang makin menyiratkan kecemasan. “Ada apa, sayang? Kau terlihat gelisah, seperti ingin bicara sesuatu yang penting.”
Hardian menggenggam tangan Nindi, sentuhannya lirih namun penuh getar. “Apa kamu benar-benar bahagia... dalam pernikahan kita?”
Nindi menatapnya dengan mata membelalak, kebingungan merayapi wajahnya. “Tentu saja, sayang. Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Ada apa denganmu hari ini?”
Hardian menghela napas panjang, matanya menatap dalam-dalam ke arah istrinya, seolah mencari jawaban yang tersembunyi di balik senyum lembut itu.
"Tadi Melinda tanya padaku soal anak... Apa kamu sedih sampai sekarang belum di kasih anak? Apa kamu sangat menginginkannya" Suaranya berat, penuh harap sekaligus takut akan jawaban yang akan ia terima.
Nindi menunduk, dadanya sesak. Namun kemudian ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap suaminya dengan mata yang penuh kasih dan kesabaran. "Istri mana yang tidak ingin memiliki anak dari suaminya, Mas? Aku juga sangat ingin," ucapnya lirih, suara yang pecah antara harapan dan kenyataan.
"Tapi apa daya... sampai detik ini, Tuhan belum menitipkan karunia itu pada kita. Aku sudah belajar ikhlas, meski rasa rindu ini tak pernah hilang." Matanya berkaca-kaca, tangan kecilnya meraih tangan suaminya dengan lembut.
"Sebenarnya, aku yang harus bertanya padamu, Mas... Kamu juga pasti ingin punya anak lagi, kan? Maafkan aku yang belum mampu memberikannya untukmu. Aku... sangat berharap suatu saat nanti, doa kita dikabulkan." Hening sesaat menyelimuti ruangan.
Mereka saling menatap, membawa rasa sakit dan harapan yang sama dalam diam. Sebuah luka yang belum sembuh, namun juga janji tanpa kata yang terus terpatri di hati mereka.