Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Dua
Satu wanita berusaha melarikan diri dari masa lalu yang menghancurkannya.
Satu pria justru semakin terobsesi untuk menemukannya, apa pun yang terjadi.
Akhirnya Hana sampai di kampung. Ia berdiri diam di depan rumah lamanya.
Rumah sederhana itu masih sama seperti yang ia ingat. Cat dindingnya sedikit pudar, pagar bambu itu berderit pelan saat didorong, dan halaman kecil di depannya dipenuhi tanaman yang dulu ibunya rawat dengan penuh cinta.
Namun ada satu hal yang berbeda, suasananya terasa sepi. Tidak ada suara ibu yang memanggil dari dalam. Tidak ada aroma masakan hangat yang menyambutnya pulang.
Hana menarik napas panjang. “Ini rumah … tapi rasanya bukan rumah lagi,” gumamnya pelan.
Belum sempat ia melangkah masuk, pintu rumah sebelah terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar dengan wajah penasaran.
“Hana?”
Suara itu membuat Hana menoleh cepat. “Bu Asih .…”
Wanita itu langsung mendekat dengan langkah cepat, wajahnya penuh keterkejutan. “Ya Allah, Nak! Itu kamu benar-benar kamu?” Ia memegang lengan Hana, seolah memastikan ini bukan mimpi.
Hana tersenyum kecil, meski matanya terlihat lelah. “Iya, Bu … ini aku.”
Bu Asih menatapnya dari atas sampai bawah. “Kamu sendirian? Suamimu mana?”
Pertanyaan itu membuat Hana terdiam sejenak. Ada jeda kecil sebelum ia menjawab.
“Aku … sudah berpisah, Bu.”
Wajah Bu Asih langsung berubah. Kaget, tapi juga penuh rasa iba. “Astaga … ya ampun, Nak .…”
Hana hanya menunduk pelan. “Makanya aku pulang ke sini.”
Tanpa banyak tanya lagi, Bu Asih langsung sigap. “Ya sudah, ayo masuk dulu. Kamu pasti capek.”
Ia membantu Hana mengangkat koper besar yang dibawanya. “Berat juga ini … kamu bawa apa aja sih?”
Hana tersenyum tipis. “Sisa hidup aku, Bu.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi maknanya dalam.
Bu Asih hanya menghela napas pelan, lalu membuka pintu rumah yang selama ini ia jaga. “Masih aku bersihin kok tiap minggu. Walau nggak sempurna, tapi setidaknya masih layak.”
Begitu pintu terbuka, aroma khas rumah lama langsung menyambut. Sedikit pengap, tapi penuh kenangan. Hana melangkah masuk perlahan. Matanya menyapu setiap sudut ruangan.
Sofa lama masih di tempatnya. Lemari kayu masih berdiri kokoh. Bahkan foto keluarganya masih tergantung di dinding. Dadanya terasa sesak.
“Terima kasih, Bu …,” ucapnya lirih.
Bu Asih tersenyum hangat. “Sudah, nggak usah sungkan. Kamu anggap saja Ibu ini ibumu sendiri.”
Ia meletakkan koper Hana di dalam kamar. “Kamu duduk dulu. Ibu ambilkan minum sama makanan ya.”
Hana langsung menggeleng cepat. “Nggak usah, Bu. Aku tadi sudah beli makanan di jalan.”
“Tetap aja,” balas Bu Asih tegas. “Makanan warung sama masakan rumah itu beda. Kamu pasti butuh yang hangat.”
“Bu, serius, nggak perlu—”
“Sudah, kamu diam saja. Anggap ini aku lagi manja sama kamu.”
Hana akhirnya menyerah. Ia hanya tersenyum kecil. “Iya, Bu." Beberapa menit kemudian, Bu Asih kembali dengan nampan berisi teh hangat dan beberapa lauk sederhana.
“Nih, makan dulu. Jangan ditolak lagi ya.”
Hana menerima dengan pelan. “Terima kasih, Bu.'
Ia duduk di meja makan kecil, mencicipi sedikit demi sedikit. Entah kenapa, rasanya berbeda. Lebih hangat. Lebih menenangkan.
Bu Asih duduk di depannya, memperhatikan dengan penuh perhatian. “Pelan-pelan aja makannya. Nggak usah dipikirin yang berat-berat dulu.”
Hana mengangguk. Tapi matanya mulai berkaca-kaca. “Bu .…”
“Iya, Nak?”
“Aku capek…” Suara itu lirih, hampir seperti bisikan.
Bu Asih langsung menggenggam tangannya. “Iya … Ibu tahu. Kamu pasti capek banget.”
Air mata Hana akhirnya jatuh juga.
“Semua nggak berjalan seperti yang aku harapkan, Bu .…”
Bu Asih mengusap punggung tangannya pelan. “Hidup memang nggak selalu sesuai rencana, Nak. Tapi bukan berarti semuanya berakhir.” Hana terdiam, mendengarkan.
“Kamu masih punya waktu. Masih punya kesempatan buat mulai lagi.”
Wanita itu tersenyum lembut. “Yang penting sekarang, kamu istirahat dulu. Tenangkan diri.” Hana mengangguk pelan.
“Setelah ini, kamu mandi. Habis itu tidur. Jangan pikirkan apa-apa dulu.”
“Iya, Bu…”
Bu Asih berdiri. “Ibu pamit dulu ya. Kalau ada apa-apa, panggil saja.”
Hana ikut berdiri. “Terima kasih banyak, Bu…”
Wanita itu menepuk bahunya pelan. “Kamu kuat, Hana. Ingat itu.”
Setelah Bu Asih pergi, rumah kembali sunyi. Namun kali ini, tidak sesepi sebelumnya. Hana menatap sekeliling. Lalu menarik napas dalam.
“Aku harus memulai lagi .…”
**
Di sisi lain kota, suasana sangat berbeda. Pintu ruang kerja Arsaka terbuka cepat.
Han masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tidak seperti biasanya—tegang, pucat, dan jelas gugup.
“Pak .…”
Arsaka yang sedang membaca dokumen langsung menoleh. Alisnya sedikit berkerut.
“Kenapa wajahmu begitu?”
Han menelan ludah. “Ada … masalah, Pak.”
Arsaka meletakkan dokumennya perlahan. “Masalah apa?”
Hening sejenak. Han tampak ragu. Tapi akhirnya ia bicara. “Hana … sudah tidak ada di kontrakan, Pak.”
Kalimat itu seperti bom waktu. Arsaka mendengar seperti petir di siang hari.
Arsaka tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap Han tajam. “Maksudmu?”
“Menurut pemilik kontrakan … kemarin dia pamit. Dia pergi, Pak.”
Detik itu juga, suasana ruangan berubah drastis. Sunyi … tapi mencekam.
“Apa?” Suara Arsaka rendah. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.
Han menunduk sedikit. “Kami datang pagi ini untuk memastikan, tapi dia sudah tidak ada. Barang-barangnya juga sudah dibawa semua.”
Arsaka berdiri perlahan. “Dan kamu baru melaporkan sekarang?” Nada suaranya naik sedikit.
Han langsung menegang. “Kami sudah mencoba mencari informasi tambahan dulu, Pak—”
“Tidak ada alamat baru?” potong Arsaka tajam.
“Belum, Pak.”
Itu cukup. Arsaka tiba-tiba memukul meja dengan keras. Han refleks terkejut.
“Bagaimana bisa kalian kehilangan satu orang?!” suara Arsaka meninggi, penuh amarah yang selama ini tertahan.
“Maaf, Pak—”
“Maaf?” ulangnya dengan nada dingin. “Kamu pikir ini cukup diselesaikan dengan kata maaf?”
Han terdiam. Tidak berani membalas. Arsaka berjalan mondar-mandir dengan langkah cepat. Rahangnya mengeras.
“Lima minggu …,” gumamnya. “Dan sekarang dia hilang begitu saja?”
Ia berhenti, menatap Han tajam. “Dengarkan aku baik-baik.”
Han langsung berdiri lebih tegak.
“Bagaimanapun caranya, kalian harus temukan dia.”
“Baik, Pak.”
“Aku tidak peduli kalian harus bongkar semua data, tanya semua orang, atau bayar siapa pun.”
Ia mendekat, menatap Han tepat di mata. “Cari alamatnya.”
Han mengangguk cepat. “Siap, Pak!”
Arsaka menghela napas berat, tapi amarahnya belum mereda. “Mulai sekarang, ini prioritas utama.”
“Siap, Pak!”
“Dan satu lagi—” Arsaka menambahkan, suaranya kembali dingin. “Jangan sampai aku dengar kata ‘tidak tahu’ lagi.”
Han menelan ludah. “Tidak akan, Pak.”
Hening. Arsaka berbalik, menatap jendela. Tangannya mengepal.
“Hana …,” gumamnya pelan.
Kali ini bukan hanya rasa penasaran. Ada sesuatu yang lebih dalam.
Dan ketika sesuatu itu sudah muncul, Arsaka bukan tipe orang yang akan berhenti di tengah jalan.
Di belakangnya, Han berdiri kaku. Ia tahu kali ini bukan sekadar perintah biasa. Ini obsesi sang bos. Dan ketika Arsaka sudah terobsesi … semua orang akan terseret.
Selamat Pagi. Mama mau bilang, kalau novel ini adalah misi dari editor Noveltoon. Jadi jika ada kesamaan jalan cerita dengan novel lain, itu bukan sengaja. Tema dan alur telah ditentukan editor, mama hanya mengembangkan saja. Terima kasih. Lope-lope sekebon jengkol. 😍😍
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....