NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.16 tuntutan keluarga Regan

Pagi ini di rumah Regan yang terlihat sangat mewah itu telah berkumpul di ruang meja makan, Bu Clara mama Regan dan Pak Jimmy papa Regan dan juga Regan sendiri yang sedang menikmati sarapan pagi ini.

Di atas meja makan besar yang berukuran dua meter itu sudah tersaji berbagai macam hidangan makanan yang di masak oleh bibik pembantu rumah tangga keluarga Regan.

Pak Jimmy duduk di kursi tengah meja makan sedangkan Bu Clara duduk di depan sebelah kanan suaminya dan Regan sendiri duduk di seberang meja makan berhadapan dengan mamanya.

"Oh ya Regan bagaimana kabar Ratih, sudah lama dia tidak berkunjung ke sini," ucap Bu Clara sambil memasukkan sendok yang berisi nasi dan lauk itu ke dalam mulutnya.

"Dia lagi sibuk ma," Regan mengunyah makanannya.

"Sibuk apa sih sampai lupa tidak mengunjungi calon mertuanya," Bu Clara menghentikan makannya menatap Regan kesal.

"Ya. Nanti aku akan ajak Ratih ke sini," Regan berusaha meredam kekesalan mamanya.

"Hari pernikahan kamu sudah semakin dekat, jangan sampai Ratih melakukan hal macam-macam yang bisa mencoreng nama baik keluarga kita," Pak Jimmy ikut menyela.

Regan menipiskan bibirnya mendengar perkataan dari papanya. Sebenarnya dia sudah merasa was-was semenjak kehadiran Dimas yang memegang perusahaan tempat Ratih bekerja.

"Dim. Kamu kok diam, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Bu Clara menatap Regan penuh selidik.

"Gak ma, gak apa-apa. Kalau begitu aku berangkat ke kantor dulu Ma, Pa ," Regan beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang meja makan itu.

Regan berjalan menuju ke garasi depan tempat di mana mobilnya dia parkir di sana.

Setelah sampai di garasi dengan segera Regan masuk ke dalam dan buru-buru dia mengeluarkan handphone nya dari saku jasnya.

"Nanti malam aku jemput kamu jam tujuh, mama ingin ketemu sama kamu," pesan terkirim ke Ratih.

Setelah memastikan WhatsApp yang dia kirim ke nomer Ratih sudah masuk, Regan segera memegang kemudi mobilnya dan melaju dengan kencang di jalanan yang sudah mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor.

...----------------...

Sementara itu di dalam ruangan kantor Ratih terlihat Ratih sedang memperhatikan layar ponselnya yang barusan menyala akibat ada sebuah pesan yang masuk.

Ratih membaca pesan yang di kirim oleh Regan padanya, Ratih mendengus kesal setelah membaca pesan itu.

"Kenapa Rat?" tanya Cindy yang kebetulan menoleh padanya saat itu.

"Gak apa-apa," ucap Ratih datar.

Tapi dasar Cindy yang selalu kepo akhirnya dia terus kejar Ratih untuk bercerita," gak apa-apa apanya, tadi aku lihat wajah kamu langsung berubah jadi masam setelah kamu membuka ponselmu. Emangnya Regan membuat kamu kesal lagi?" Cindy sudah seperti ahli nujum saja yang bisa menebak apa yang telah terjadi.

"Mamanya Regan ingin ketemu sama aku, Regan mengajak aku nanti malam ke rumahnya," Ratih menoleh pada Cindy.

"Hmmmmmm mau ngapain lagi si Mak Lampir itu. Eh ngomong-ngomong kamu kok betah sih Rat punya calon mertua kayak gitu, kalau aku yang jadi calon menantunya...begh...sudah aku rujak itu Mak Lampir," Cindy mengepalkan kedua tangannya kelihatan sekali kalau dia sangat kesal dengan mamanya Regan itu.

"Aku berhutang budi pada keluarga mereka," gurat wajah Ratih memperlihat kan ada beban berat di sana.

"Halahhh. Alasan yang klasik, hutang kan bisa di bayar dengan uang Rat," ucap Cindy ketus.

"Tapi mereka menginginkan aku, kalau tidak mereka akan menyakiti keluargaku," Ratih menarik nafas panjang.

"Huhhh, mesti mereka mencari kelemahannya di sana. Dasar pengecut," ucap Cindy geram.

"Siapa yang pengecut Cin?" tiba-tiba saja Dimas sudah berdiri di belakang mereka berdua.

Wajah Ratih mendadak pucat pasi dia takut kalau tadi dia mendengar percakapan dirinya dengan Cindy.

"Eh Pak Dimas. Emmm itu pak, teman..teman saya... yang pengecut." Cindy meringis menatap Dimas.

"Hmm." Dimas melirik ke arah Ratih yang tidak mau melihat ke arahnya. Dimas tersenyum di salah satu sudut bibirnya kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Cindy dan Ratih.

Ratih mendongakkan kepalanya saat tau kalau Dimas sudah benar-benar keluar dari ruangan mereka.

"Ya Tuhan...semoga saja Dimas tidak mendengar perbincangan aku dengan Cindy tadi," batin Ratih cemas.

"Rat, kenapa tiba-tiba Pak Dimas tadi sudah berdiri di belakang kita?" Cindy melotot menatap Ratih.

"Aku juga gak tahu Cin, tiba-tiba saja dia sudah muncul di sini."

"Untung saja tadi kita gak lagi ngomongin Pak Dimas," Cindy terkekeh.

"Hm," jawab Ratih pendek.

"Eh tapi tadi kamu kok seperti orang ketakutan banget sih waktu Pak Dimas datang dan melontarkan pertanyaan nya padaku. Kenapa Rat?" Cindy memiringkan wajahnya melihat wajah Ratih yang sempat terdiam sesaat.

"Emmm enggak kok aku gak apa-apa," Ratih berusaha menyembunyikan kekhawatirannya dari Cindy.

Cindy memonyongkan bibirnya mendengar jawaban Ratih yang kurang pas baginya.

...----------------...

Malam ini di sebuah meja makan di rumah Regan sudah tersaji berbagai menu makan malam untuk keluarga tersebut.

Ratih duduk bersebelahan dengan Regan sementara pak Jimmy duduk di ujung meja makan sedangkan Bu Clara duduk berhadapan dengan Ratih dan Regan.

"Oh ya Rat, bagaimana kabar ayahmu?" tanya pak Jimmy di tengah-tengah mereka menikmati acara makan malam itu.

"Baik om," Ratih menghentikan makannya menjawab pertanyaan papanya Regan itu.

"Pernikahan kamu dan Regan sudah semakin dekat, Tante gak mau mendengar hal-hal yang akan mengacaukan acara pernikahan kalian nanti," tegas dan terkesan mengintimidasi ucapan yang di lontarkan mamanya Regan pada Ratih.

"Iya Tante," jantung Ratih sempat terhenti untuk beberapa detik tadi sebelum menjawab pertanyaan Bu Clara. Ratih takut kalau-kalau Bu Clara tahu sesuatu tentang Dimas tapi buru-buru Ratih menepis kekhawatirannya dengan memenangkan dirinya.

Ratih mengunyah kembali makanannya.

"Kata Regan kamu kenal dengan pimpinan kamu yang baru itu. Apa benar itu?" kembali Bu Clara melontarkan pertanyaan yang membuat jantung Ratih berdegup lebih kencang.

Ratih menghentikan mengunyah makanannya, untuk sesaat dia tidak segera menjawab pertanyaan dari calon mertuanya itu.

Kenapa mamanya Regan ngomong seperti itu. Apa Regan bercerita sesuatu tentang Dimas pada mamanya.

"Rat, kamu belum jawab pertanyaan mama tadi," Regan menatap tajam ke arah Ratih yang duduk di samping nya.

Ratih kemudian bersuara menjawab pertanyaan Bu Clara tadi.

"Enggak kok Tante, saya tidak mengenal Pak Dimas. Saya kenal Pak Dimas juga pas dia sudah menjadi pimpinan perusahaan kami," Ratih mencoba setenang mungkin menjawab pertanyaan dari calon mertuanya itu.

"Awas ya kalau sampai tante dengar kamu ada sesuatu dengan pimpinan kamu yang yang baru itu," ancam Bu Clara membuat Ratih sedikit shock.

"Ma... sudahlah jangan terlalu mencurigai Ratih seperti itu. Lagian siapa yang berani melawan aku, apalagi cuma seorang Dimas yang levelnya jauh berada di bawahku," Regan tersenyum menyeringai menoleh pada Ratih.

Ratih diam mendengar perkataan Regan, di dalam hatinya dia mengumpat Regan yang sangat sombong dan congkak itu.

Nikmatnya menu makan malam ini terasa seperti pil pahit yang Ratih telan karena sejak tadi yang dia dengar hanyalah perkataan-perkataan yang membuat hatinya geram dan meradang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!